
Farel akhirnya di bawa keluar dari ruang operasi, saat pemindahan dari ruang bedah ke ruang perawatan, aku sengaja mengikut ketiga perawat yang mendorong ranjang Farel, dari awal kelakuan keduanya sudah membuatku geram, tatapan matanya pada Farel dan dan saling berbisik-bisik membuatku mengikuti dengan diam-diam.
Dalam lift obrolan para perawat itu membuatku mulai merasa jengkel.
“Saat tidur dr. Farel sangat tenang seperti bayi besar, pengen aku cium jadinya,” ucap seorang perawat. Di sambut tawa dari rekannya.
“Saat kita bertugas dengannya, dia terlalu dingin, malah menakutkan, tegas dan irit bicara,” timpal rekan yang di sebelahnya.
Mereka berdua bahkan tidak menyadari kalau mereka berdua bergosip dengan suami wanita yang membelakangi mereka.
“LIhat dia sangat tampan, dan sangat lucu”
“Pelankan suaramu bagaimana kalau ia terbangun.”Perawat itu mengingatkan rekanya.
“Seandainya dr. Farel memintaku istri keduanya aku mau, siapa yang menolak pesona dia,” ujar perawat wanita itu lagi.
“Isss, kenapa sih wanita harus mengukur semua dari tampang,” ujar si lelaki berdecak kesal melihat rekan kerjanya yang mengagumi wajah tampan Farel.
Aku hanya mendengus kecil, mendengar obrolanku mereka berdua, mereka berdua terlalu asyik tentang Farel bahkan dari yang kecil maupun hal yang besar, termasuk tentang istrinya yang meninggalkan Farel, hingga menyebabkan Farel yang kecelakaan. Bahkan mereka juga membahas tentang tunangan Farel.
Aku hanya diam mendengar mereka bergosip membuatku mengetahui beberapa hal, termasuk wanita yang pernah jadi tunangan Farel yang masih mencintai Farel hingga saat itu.
Dari kedua perawat itu juga, aku mengetahui kalau dr. Alya Lusiana sudah pernah menikah. Namun hanya bertahan satu tahun, lalu sisanya ia habiskan waktunya mengikuti Farel kemanapun ia pergi, bahkan Farel bekerja di rumah sakit Bali. Alya juga mengikutinya, ia meninggalkan rumah sakit mewah orang tuanya di Jakarta.
__ADS_1
Pantas saja, saat aku bertemu Farel di bandara Bali wanita itu juga ada, hal itulah yang membuatku selalu kabur dari Farel, kini aku mengetahuinya. Aku belum sempat bertanya tentang hal itu pada Farel, tetapi kali hati ini tenang, kalau Farel suamiku, tidak akan aku biarkan lagi, wanita itu, mengekor pada suamiku lagi.
Tiiing
Pintu lift terbuka dan aku keluar di susul kedua perawat lelaki dan perempuan itu dengan sangat hati-hati.
“Rin, suami di tempatkan di ruangan ini, tidak apa-apa iya,”ucap dr. Lesa.
Kedua perawat tukang gosip itu langsung pucat pasi, mereka menyadari wanita yang mereka gosippin tadi, ada bersama mereka di dalam lift. Sejujurnya perawat seperti kedua orang ini sangat tidak pantas bekerja di bagian medis. Karena tidak bisa menjaga kerahasian pasien, bahkan sesama tenaga medis juga mereka jadikan bahan gosip, bagaimana kalau tadi aku wartawan, akan hancur reputasi rumah sakit mereka.
Aku sengaja menatap sinis pada mereka berdua, itu caraku menandakan sikap tidak suka dengan kelakuan kedua penggosip itu. Jika aku jahat bisa saja aku meminta dr. Lesa memecat keduanya atau melaporkan kedua tukang gosip itu. Tetapi aku tidak mau jahat seperti itu.
Aku berharap tatapan sinis dariku menyadarkan keduanya kalau apa yang mereka lakukan tadi salah,
Cara dia menatap suamiku dan cara dia mengagumi Farel, menurutku sikap yang berlebihan dan tidak sopan, secara Farel adalah atasannya, bagaimana kalau Farel bisa mendengarnya di bawah alam sadarnya.
“Ya, ampun tampannya dokter ini, mau dong jadi ibu dari anak yang fotonya Dokter pegang” Ucap perawat itu, saat dalam lift.
Melihatku menatap mereka dengan tatapan sinis , mereka berdua tampak sangat gugup bahkan beberapa kali salah memakaikan selang infus di tangan Farel.
“Baik Mbak,” jawabku.
“Ada apa? Apa ada yang masalah?” dr. Lesa.
__ADS_1
“Tidak ada Mbak, hanya tadi bertemu dengan beberapa perawat tidak sopan, bukanya di setiap rumah sakit ada pelatihan untuk perawat untuk, tata krama , kesopanan?” tanyaku.
“Tentu ada, ada apa?” tanya dr. Lesa ia melihatku tampak marah.
“Tidak apa-apa Mbak. Sudah lupakan,” ucapku sengaja mendekati Farel mencium pipinya.Kedua orang itu semakin gugup. Saat dr. Lesa lagi menerima telepon, saat itulah batinku meronta ingin memberinya pelajaran.
Menarik napas panjang semakin dipikirkan semakin aku marah.
“Sini kamu,” pintaku ke duanya.
“I-I-iya Bu saya minta maaf , saya salah,” ucap wanita itu dengan suara terbata-bata.
“Aku marah, aku ingin melaporkan tadi, tetapi aku bukan orang jahat”
“Sa-saya minta maaf Bu,” ucap ketiga perawat itu dengan terbata-bata.
Bersambung ….
KASIH BANYAK HADIAH juga AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAllP HARI
Baca juga:
“Menikah Dengan Brondong”
__ADS_1
Follow ig sonat.ha dan
Fb Nata