
Saat duduk menunggu, tidak lama kemudian tiba-tiba rombongan dokter berjubah putih itu datang ke arah kami, aku merasakan jantung ini serasa mau copot karena yang datang dr Lesa kakak perempuan Farel dan kakak iparnya dan abang Farel dr. Burak, karena hampir seluruh anggota keluarga Farel, berprofesi dokter hanya Marisa yang beda jalur, ia seorang guru padahal semua saudara-saudaranya berprofesi dokter.
Jantung semakin berdetak lebih cepat saat melihat wanita yang dulu tunangan Farel ikut dalam rombongan itu, aku merasa keningku berkeringat, seakan- akan aku merasa akan dibawa ke tempat penjagalan. Para dokter itu semakin mendekat, melihat dr. Lesa kakak perempuan Farel yang wajahnya sangat mirip dengan Marisa membuat perutku merasa mual, menahan perasaan grogi itu.
“Fa-Fa-Farel kakakmu datang,” ucapku terbata-bata.
“Hmmm … biarkan saja,” ucap Farel.
Farel hanya membuka mata dan tidak mengangkat kepalanya, kepala itu masih nemplok di pundakku, membuatku semakin merasa tidak enak. Aku takut kakak perempuan Farel meneriakiku seperti yang di lakukan Marisa padaku, aku taku mereka semua menghakimiku dianggap penyebab meninggalnya eyang dan Marisa. Tubuhku bergetar dan aku menggenggam kepalan tanganku dengan kuat.
“Selamat datang kembali dr. Farel. Apa anda sudah siap?” tanya kakak perempuannya menatap Farel dan berganti menatapku.
Mereka semua berdiri di depan kami berdua, bukannya Farel mengangkat kepalanya, ia semakin cuek dan bodoh amat menutup matanya kembali menghiraukan sang kakak yang bertanya padanya.
“Farel, dokter bertanya”
“Biarkan aku tidur begini, aku mengantuk,” ucapnya dengan santai membuatku merasa jengkel.
“Jangan main-main bukanya kamu sudah berjanji tadi,” bisikku.
“Aku ngantuk Rin,” ujarnya bersikap bodoh amat dengan tatapan semua dokter yang datang menghampirinya, Farel terlihat seperti anak sultan karena segerombolan dokter datang membujuknya.
Merasa jengkel aku mengarahkan satu tanganku ke pinggangnya dan mencubit dengan keras.
“Auuu sakit!” Ia melotot padaku.
“Bangun, kamu mau di periksa atau tidak?” tanyaku melotot tajam padanya.
Semua dokter yang berdiri itu menahan tawa melihat perlakuanku pada Farel.
“Tapi sakit Rin …” ucapnya sikapnya kembali manja.
‘Hadeh ada apa sih dengan orang ini, ini sangat memalukan’ ucapku ingin berdiri.
“Jangan berdiri duduk saja.” Farel menarik tanganku.
“Farel kamu mau diperiksa atau tidak?” tanyaku menatap tegas.
Para dokter itu hanya saling menatap melihat sikapku.
“Mau, tapi di sini dengan kamu”
__ADS_1
“Farel ini ruang tunggu , kamu ingi-”
“Tidak apa-apa ambilkan peralatannya,” ucap dr Lesa, ia mengalah demi kesembuhan sang adik.
Aku tidak tahu apa yang terjadi antara dia dan saudara-saudaranya, tetapi aku bisa melihat sikap tidak suka di tunjukkan Farel, saat melihat sang kakak dan kakak iparnya.
Entah apa yang dipikirkan Farel, sampai mau di periksa di ruang tunggu semua pasien dan para dokter hanya bisa diam dan melihatnya. Sang kakak tampak tenang melakukan pemeriksaan pada Farel, wajah mereka semua tegang.
‘Suasana apa ini apa yang terjadi pada mereka’ ucapku dalam hati.
Bahkan saat dr. Lesa ingin menyuntik lengan Farel, lagi-lagi ia membuat drama.
“Berikan padaku,” ucap Farel meminta jarum suntik itu dari tangan kakak perempuannya.
Ia menyuntikkan jarum suntik itu ke tangannya sendiri wajahnya tampak,
Mataku melotot panik saat ia melakukannya sendiri, aku takut jarum suntik dan takut melihat darah juga tetapi Farel ….
“Darah kamu akan diambil Rel,” ucap sang kakak dengan suara lembut.
Lagi-lagi ia melakukanya sendiri bahkan terlihat mengambilnya dengan asal, meneteskan cairan merah membuat semua dokter itu hanya menghela napas saat melihat sikap Farel, aku tidak tahu apa yang terjadi tetapi satu hal yang pasti sang kakak tampak sangat khawatir melihat sang adik.
Abang lelaki Farel dr. Burak, terlihat sangat tegang ia melipat tangan di dada, hanya bisa berdiri dengan diam saat melihat Farel membuat drama sebelum pemeriksaan.
Aku hanya diam mencoba membaca situasi itu, tetapi sekeras apapun otak kecilku berpikir, bahkan berputar-putar bagai baling-baling kipas aku tidak menemukan jawaban dari pertanyaanku.
Ada apa dengan mereka? Itu pertanyaan yang muncul di kepalaku.
“Rel, kita akan melakukan pemeriksaan lebih rinci”
“Kita akan rontgen,” ucap kakak ipar Farel, ia datang dari samping suaminya dr. Burak.
“Kakak. Berhenti sampai di sini, aku sudah bilang pada kalian semua jangan re-”
Aku meremas kuat telapak tangannya membuatnya kembali meringis.
“Baik kita akan melakukan pemeriksaan,” ucap Farel setelah melihatku menatapnya dengan penuh kemarahan.
Aku tidak perduli dengan tatapan para semua dokter padaku, termasuk wanita yang pernah jadi tunangannya dan aku tidak perduli apa yang mereka pikirkan. JIka kakaknya berusaha keras membuatnya agar sehat, maka aku sebagai istri juga akan melakukan hal yang sama.
*
__ADS_1
Walau dengan berat hati dan berbagi penolakan Farel akhirnya di bawa ke ruangan khusus dan ia mau melepaskan tanganku.
Setelah lepas dari Farel aku duduk di depan ruangan pemeriksaan, baru juga menjatuhkan panggul di sofa, Josua datang dan berdiri memberi hormat padaku.
“Mbak Ririn, terimalah hormatku, terimakasih karena telah menyelematkan hidupku, sebagai wujud terimakasiku terimalah ini,”ucapnya menyodorkan minuman dingin dan menundukkan kepalanya.
Lelaki muda berkulit gelap itu memang selalu bersikap ceria.
“Eh, apa-apaan sih Jo, sudah sini duduk,” ucapku menepuk sofa.
Sering berkomunikasi beberapa hari ini, melalui pesan chating, tentang Farel membuat hubunganku dengannya menjadi akrap.
“Iya Mbak Ririn, itu memang tulus ungkapan dari hatiku, kalau saja Mbak tidak membawanya ke sini, kami semua anak magang akan terkena masalah besar,” ucapnya menghela napas.
“Ada apa dengan saudara Farel?” tanyaku penasaran.
“Mbak Ririn gak tahu hubungan dr. Farel dengan saudaranya dan mbak Alya tidak baik.” Alya adalah mantan tunangan Farel
“Kenapa?” tanyaku.
“Aku tidak tahu persisnya, tapi Mbak Ririn kan istrinya”
“Kamu tahu kan kalau aku dan Farel empat tahun lebih berpisah benar-benar tidak tahu tentang dia sama sekali,” ucapku menunduk, sebenarnya merasa malu karena bertanya seperti itu pada Josua.
“Pokoknya hubungan mereka tidak baik dr. Farel tidak pernah pulang ke rumah lagi dia tinggal di apartemen sendirian.
“Sejak kapan,” tanyaku terkejut. Aku memang seorang istri pajangan sampai-sampai tidak tahu apa-apapun tentang Farel.
“Sepertinya sudah hampir dua tahun, apa satu tahun , iya aku tidak tahu pastinya,” ucap Josua.
Semua yang yang aku dengar tentang Farel membuatku semakin sedih, aku tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi pada Farel setelah meninggalkannya. Aku berharap Farel sehat kembali agar aku bisa memperbaiki kesalahan yang pernah aku lakukan padanya. Aku berharap dia mau dengan ikhlas menerima pengobatan.
Bersambung …
KASIH BANYAK HADIAH juga AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI
Baca juga:
“Menikah Dengan Brondong”
Follow ig sonat.ha dan
__ADS_1
Fb Nata.