Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Teror yang menakutkan


__ADS_3

Saat Farel sudah berangkat kerja, aku memilih masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu, baru saja aku mengisi daya ponsel yang diberikan Farel. Benda pipih berwarna putih benar-benar mati total, karena lama disimpan Farel. Padahal aku sudah tidak sabar ingin bertanya tentang kabar anak-anakku.


Saat aku meletakkan di atas nakas, suara ketukan terdengar dari daun pintu.


‘Siapa?’ Batinku bertanya, tubuh ini menegang ketakutan.


“Siapa?” tanyaku dengan suara takut-takut.


“Ini aku, buka pintunya”


Aku membukanya tetapi yang terjadi ... Mas Virto berdiri di sana. Tubuh ini nyaris tumbang di buatnya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanyaku panik.


"Cepat keluar dari sini, hidupmu dalam bahaya," ujar Virto menyeret tanganku dan membawa ke kamar Eyang.


"Ada apa?" tanya orang itu, ia terkejut, kebetulan ia sedang berganti pakaian.


"Maaf Eyang, ada seseorang yang mencari Ririn, mereka preman" ujar Virto dengan sikap waspada sebuah tongkat ia pegang, kami bersembunyi di balik lemari.


Tidak lama kemudian terdengar suara ketukan di pintu, Virto memberi isyarat untuk suster agar tidak memberitahukan keberadaan ku.


"Maaf, apa Ibu Ririn ada?" Terdengar suara laki-laki dari luar bertanya pada suster.


"Maaf, bapak siapa?" tanya suster.


"Kami, di suruh Pak Farel menjemput istrinya ke rumah sakit, Pak Farel kecelakaan"


Perawat dan aku hampir terkecoh , aku pikir Farel beneran kecelakaan. Tetapi Virto memberi isyarat kalau itu kebohongan, kalau saja lelaki berbadan tegap itu tidak ada saat itu, mungkin aku sudah percaya begitu saja, saat mereka mengaku suruhan Farel. Lalu siapa mereka?


"Aduh maaf. Nona tidak ada di sini, mungkin di rumah utama,” ujar suster saat melihat kode dari Virto.


Ketiga orang itu berjalan meninggalkan kamar eyang, kini aku menyadari kalau hidupku dalam bahaya. Apa yang dikatakan eyang


benar.

__ADS_1


“Tetap di sini jangan membuka pintu, aku akan melihat anak-anak dulu, Marisa memang wanita yang gila, ia mengancam akan menyakiti anak-anak, aku harus menyelamatkan mereka juga. Ririn dengar ... jangan keluar dari pintu tunggu aku sampai datang," ujar Virto.


“Aku ingin ke kamar, aku ingin mengambil ponsel untuk menelepon Farel, aku akan memberitahukan semua ini padanya, dia harus tahu apa yang terjadi saat ini, aku butuh dia," ucapku panik.


“Rin, tidak ada waktu untuk itu, jangan membuka pintu atau kamu dalam bahaya. Sus tolong kunci pintu," pinta Virto, lalu ia keluar dari jendela.


“Apa yang terjadi Eyang?” tanyaku gelisah.


“ Sus, tolong pinjamkan aku ponselmu, aku harus memberitahukan Farel,” kataku dengan tubuh gemetaran menahan rasa takut.


“Maaf Non, ponsel saya ada di kamar, ponsel eyang masih rusak, karena ke jemur ke kolam kemarin saat kalian foto-foto,” ucapnya menjelaskan.


Hidupku memang benar-benar sangat sial hari ini, saat aku membutuhkan alat komunikasi itu, tak satupun dari kami bertiga yang memilikinya.


Ponsel milik eyang terjebur ke dalam kolam renang mini, tempat eyang biasa berendam, karena kami memakai berfoto Selfi sama eyang. Sedangkan ponsel milik suster ketinggalan di kamarnya, sedangkan ponsel pemberian Farel tadi, ketinggalan di kamar lagi diisi daya, apa ini satu kebetulan atau suratan takdir kembali mempermainkan hidup ini?


Kami tidak bisa keluar untuk mengambilnya.


“Kemarilah Nak,”ucap eyang dengan wajah lembut.


“Eyang apa yang harus aku lakukan? Farel tidak bisa aku hubungi”


“Eyang, aku sudah bilang, aku tidak akan melarikan diri akan menyerahkan semuanya sama yang di atas,” ucapku dengan yakin, karena aku tahu Farel dan bapak mertuaku akan melindungiku dari putri mereka.


“Rin, jangan jadikan hidupmu dalam penyesalan, berserah hidup pada Allah itu memang bagus, tetapi Allah juga memberikan kita pilihan yang akan kita jalani”


“Kenapa aku harus melarikan diri Eyang, Farel sudah menempatkan dua penjaga di sini”


“Rin, tubuhku memang sudah tua, tetapi mataku dan pikiranku, bisa melihat semuanya. Pengawas yang di tempatkan Farel, justru mereka yang datang tadi mencarimu”


“A-a-apa yang terjadi Eyang?”


“Sayang, pergilah dari sini, selamatkan putra dalam kandungan mu lahirkan dengan selamat. Biarkan cinta yang akan menemukanmu nanti, jika anakmu lahir beri dia Nama Haikal Adnan Taslan, itu nama kakek Farel, lindungi dia dengan baik.”


Eyang membuka lacinya dan memberikan padaku semua perhiasannya dan membungkus dalam sapu tangan, dan satu atm lengkap dengan pin atmnya.

__ADS_1


”Dengan uang ini, aku berharap kamu bisa hidup dengan baik”


“Apa Eyang mengusirku,” kataku dengan putus asa.


“Aku menyelamatkanmu Rin, aku menyelamatkan keutuhan keluarga ini”


“Apa maksudnya Eyang”


“Rin, jika Marisa menyakiti anakmu dan kamu, apa kamu pikir Farel akan tinggal diam, ia juga akan membunuh kakaknya, aku tidak ingin ada air mata kesedihan lagi di rumah ini sayang, aku tidak ingin melihatmu terluka dan aku juga tidak ingin melihat Marisa terluka, kalian semua keluargaku,lebih baik aku saja yang sudah tua ini mati, dari pada melihat kalian saling menyakiti,” ujar eyang.


Saat aku menatap wajahnya, bulu kudukku merinding, aku melihat seakan-akan Eyang tidak panjang umur lagi. Tubuhnya tampak bersinar, seolah-olah ada sosok bercahaya berdiri di belakangnya, jiwanya seakan-akan ingin keluar dari raganya, tangannya tidak berhenti menyentuh tasbih di tangannya.


“Eyang, aku mencintaimu, lebih dari apapun ,” ucapku memeluk tubuhnya, bahkan saat aku memeluknya, aku bahkan mencium aroma yang berbeda dari tubuhnya, aroma yang tidak bisa aku jabarkan dengan kata-kata.


‘Apa eyang akan pergi? Kenapa dia tampak sangat berbeda, aku belum siap kehilangan wanita tua ini Ya Allah’ ucapku dalam hati.


“Rin, aku berharap dan berdoa yang terbaik untuk kamu nanti, siapapun yang akan jadi jodoh kamu biarlah dia menemukanmu nanti. Tolong pergilah dari sini, pergi sejauh mungkin lahirkan anakmu dengan selamat. Pergilah suster akan mengantarmu melalui pintu belakang,” ucap Eyang meminta suster membawaku keluar dari pintu belakang.


“Tidak Eyang, aku tidak akan meninggalkan Farel, aku sudah berjanji padanya,” ucapku menolak.


“Marisa bahkan mengancam ingin menyakiti anak-anaknya, agar Virto kembali padanya, Perasaan cinta pada Virto membuatnya nekat Ririn”


“Farel akan datang Eyang, aku hanya perlu bersembunyi di sini”


“Farel tidak akan datang secepat itu. Pergilah sekarang cepat!”


Tok … Tok …!


Kami semua terdiam.


“Terlambat Rin,” ucap Eyang menatapku.


Bersambung ....


JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA, KASIH BANYAK HADIAH, IYA KAKAK, AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI

__ADS_1


“ Kasih donk komentar kalian tapi Untuk Babnya juga, iya, Terima kasih.


Jangan lupa follow IG @sonat.ha


__ADS_2