Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Marah besar


__ADS_3

Apa yang aku lakukan karena keadaan mendesak.


“Pak Bayu aku minta maaf aku-”


Farel memegang pundak ku lalu ia berkata;


“KAMU IKUT AKU PULANG!


“Aku masih bekerja Pak Farel, ini jam kerjaku”


Saat aku melirik kiri -kanan, ternyata kami jadi tontonan banyak orang termasuk tamu hotel.


‘Oh iya ampun, ini sangat memalukan …. Karierku sama Pak Bayu dalam masalah besar’ Aku menunduk, karena malu.


“JANGAN MEMANCINGKU LEBIH MARAH LAGI RIRIN!” ucap Farel menggertak giginya.


‘Ini orang menakutkan bangat kalau marah’ ucapku dalam hati.


“Tapi, ini masih pagi Pak Farel, ini masih jam kerjaku, tolong …. Bapak pulang saja duluan,” ucapku dengan suara pelan.


“Kenapa …!? Agar kamu bisa bermesraan dengan si tiang listrik itu?”


“Namanya Bayu Pak Farel”


“Aku tidak perduli siapapun namanya, mau Bayu kek, Babu kek, aku gak peduli, aku hanya ingin kamu pulang bersamaku sekarang juga. Titik!”


Aku melotot tajam padanya, sebagai aksi perlawanan.


“Jangan melotot seperti itu, kamu tidak mau kan!


Hidup lelaki mirip batang kelapa itu aku hancurkan”


“Hadeeeh … tadi tiang listrik, sekarang batang kelapa, ini orang senang bangat sih menghina fisik orang lain,” Aku bergumam pelan, ternyata Farel mendengar.


Tidak ingin Bayu dalam masalah, aku memilih menurut.


Ayah Farel memilki jabatan tinggi di kepolisian, mendengar nama ayahnya dan jabatannya, aku yakin, pemilik hotel dan restauran akan merasa takut jika berurusan dengan polisi.


Aku akan sangat merasa bersalah jika Bayu sampai dipecat.


“Baiklah, tapi berjanji jangan menyak-”


“Kamu masih berani membela si kurus itu di depanku,” ucap Farel dengan rahang mengeras, menahan emosi yang hampir meledak.


“Tidak dengar dulu-”


“Ririn kamu yang harus mendengarkan aku!”


Lagi-lagi lelaki yang sedang dilanda kemarahan ini memotong kalimatku, ia tidak memberi mulut ini menuntaskan perkataan ku, lelah hati ini jadinya’ …


“Pak Farel begi-”


“Dasar wanita keras kepala! Aku tidak ingin menyakitimu. Jadi berhentilah untuk membantah”

__ADS_1


Dengan wajah yang masih menegang, ia menggendong tubuh ini.


“Oh My God.


Pak Farel, turunkan aku, aku malu,” bisikku menenggelamkan wajah ini di dada bidangnya.


Banyak mata yang melihat kami, dan banyak kamera juga yang diarahkan ke arah kami.


Menyadari hal itu, aku semakin menenggelamkan wajahku di dada Farel, ku tutupi wajah ini dengan kedua telapak tangan, karena suasana mendadak jadi ramai.


Ia terus berjalan dengan kedua tangan mengangkat tubuhku yang beratnya hampir satu Ton.


Tetapi Farel bisa mengangkat tubuhku, berjalan santai melewati orang -orang yang menonton pertunjukan yang disajikan Farel tadi.


Hingga tiba di parkiran, saat tiba di samping mobilnya, ia menurunkan tubuhku.


‘Oh, malunya’ Aku melirik kanan-kiri-depan belakang. Berharap tidak ada orang yang mengikuti kami.


Mendadak diri ini bertingkah seperti artis papan atas, karena menghindari semua orang dan menyembunyikan wajahku dengan tas tangan milikku.


“Ayo masuk,” pinta Farel dengan nada tegas.


“Pak Farel dengar aku-”


“Nanti jelaskan di rumah, setelah kita tiba, saat ini, aku tidak ingin mendengar apa-apa darimu.


Kamu cukup diam saja”


“Kok jadi marah-marah begitu sih,” kataku memasang wajah kesal.


“Apa aku harus marah dan berteriak di sini? Hatiku lagi panas karena kamu bakar tadi, jadi …. Kamu cukup diam! Cepat masuk mobil!”


Pintanya dengan nada tegas, terlihat seperti bos yang memerintah anak buahnya.


‘Ini orang, suami bukan, pacar bukan sudah berani membentak-bentak ku.


Kamu pikir kamu siapa?’


“Ririn cepatlah!”


Tidak ingin jadi perhatian banyak orang, aku masuk ke dalam mobil sport mewah milik Farel, setelah aku selidiki bersama Bayu, keluarga Farel bukan orang biasa, ayahnya punya jabatan penting di kepolisian, bukan hanya pejabat, keluarga ini juga memiliki beberapa villa mewah di Bali yang disewakan.


Melihat sikap arogan Farel dan kesombongan kakaknya, aku percaya kalau keluarga Farel bukan orang sembarangan.


Tetapi apa iya? Aku harus tunduk dan menurut padanya karena kaya?


Dalam Mobil, aku diam, memilih melihat kearah pantai yang kami lewati, pikiranku tertuju pada Bayu, tidak seharusnya tadi aku meminta Bayu menikah denganku, kalau ia dipecat bagaimana dengan ibu dan putrinya.


Bayu tulang punggung keluarga.


‘Aku berharap Pak Bayu baik-baik saja’


Saat aku menatap terus menerus kearah jendela, tiba-tiba Farel menutupnya.

__ADS_1


“Jangan menatap jendela terus yang ada nanti lehermu patah,” ujar Farel.


Aku memilih diam menyandarkan kepala di jok mobil dan menutup mata.


“Kenapa?Kamu sedih karena gagal menikah dengan si jangkung itu?”


Aku memilih diam, lelah berdebat dengannya buang-buang tenaga rasanya.


“Ririn, aku bicara denganmu!”


“Iya aku sedih”


Ia tertawa menyeringai, menatap sinis padaku


“Cekk selera payah, kalau tidak suami orang duda kere lah yang kamu rayu,” ucapnya merendahkan.


‘Bayu jauh lebih baik darimu’ ucapku dalam hati.


Tetapi aku balas berdebat dengannya, hingga akhirnya mobil Farel berhenti di Villa tempat kami menginap tadi malam, kembali ke villa mewah itu membuatku merasa pusing.


Farel berjalan mendahuluiku, lalu ia membuka pintu dengan menempelkan jari telunjuknya.


Teeed …!


Pintu terbuka, ia masuk dengan langkah buru-buru, menuangkan segelas air putih dan menenggaknya sampai habis, aku masih berjalan ragu.


“Sekarang katakan apa maksudnya tadi?" ucapnya saat aku mendekat.


“Tidak ada yang perlu dijelaskan,” ujar ku bersikap malas.


“Tidak, kamu harus menjelaskan padaku Ibu Ririn, kenapa kamu merayu lelaki kurus itu tadi?”


“Aku tidak merayunya Pak, aku memintanya menikah denganku”


“Sama saja, apa serendah itu hidupmu, memegang tangan lelaki lain, membiarkan dia menyentuhmu?”


“Iya, Aku memang rendah, aku memang pelacur, aku rasa, aku tidak perlu menjelaskannya lagi, kan Bapak sudah tahu itu. Makanya itu, Jangan menikah denganku.


“Berhenti memanggilku dengan sebutan Bapak, Bapak …Ririn, aku bukan Bapakmu!”


Teriaknya marah. Pundaknya naik turun .”Haaa!”


Farel meninju dinding dengan kuat, membuat kepalan tangannya terluka, tidak sampai di situ saja, ia juga melampiaskan kemarahannya dengan menyapu tangannya ke atas meja makan, semua barang-barang diatas meja pecah, piring dan gelas hancur, berhamburan di lantai.


”HAAA” Ia berteriak keras melampiaskan kemarahannya.


“KAMU HANYA MILIKKU. INGAT ITU,”


Ucapnya menunjukku pakai jari. Aku hanya diam, membiarkan ia meluapkan kemarahannya, bersikap tenang, kunci pertahanan ku dan menangis bukanlah tipe ku. Aku hanya diam menonton semua kekacauan yang ia sebabkan.


Bersambung …


JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA

__ADS_1


share kasih review, kasih hadiah juga boleh …. Agar cerita ini bisa naik level. Terimakasih Kakak. Kalau bisa naik level kita akan update tiga sampai empat bab perhari. Terimakasih salam sehat untuk kita semua.


Jangan lupa follow IG @sonat.ha


__ADS_2