Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Tidak mudah menyerah.


__ADS_3

Aku tahu, kalau Farel bukan orang yang mudah menyerah, sekali ia mencoba tidak berhasil, maka ia akan mencoba cara yang lain.


Tetapi hati ini, bertanya;


‘Apa istrinya tidak ikut dengannya? Apa dia tidak marah?'


Karena aku tidak melihat wanita itu saat melewati bilik kursinya tadi.


Baru juga ingin memejamkan mata, mencoba untuk tidur, tetapi ia sudah berdiri lagi di sampingku dengan tiba-tiba. Saat aku ingin duduk mau minum, aku kaget nyaris pingsan di buatnya, lampu dalam bilik kursiku remang, sesosok mahluk tinggi besar berdiri di samping kursiku.


“Astaghfirullahaladzim," ucapku menyebut dengan kaget, kedua tangan ini memegang dada.


Aku merasa semakin jengkel. Membuatku kaget, tetapi ia tidak merasa bersalah, dengan santainya ia bertanya;


“Kamu seorang desainer …?”


‘Farel Taslan kamu tidak pernah berubah …. Orang mah permisi dulu gitu, kalau datang, ini mah, muncul tiba-tiba seperti setan. Sundal bolong aja kasih tanda kalau dia ada , dengan tawanya yang cekikikan.


Lah …. kamu membuatku ingin pingsan, karena muncul tiba-tiba’ gerutuku dalam hati.


“Ah, Bapak bagaimana sih, membuat saya kaget, saya ingin tidur, saya sangat lelah,” ujarku kesal membalikkan tubuh membelakanginya.


Tetapi Farel dengan cepat meraih tas tangan milikku yang aku letakkan di meja lipat di samping ranjang. Lalu membawa ke bilik kursi miliknya yang berada di bagian belakangku, tepatnya di room A. Kursi yang seharusnya aku tempati berada tepat di belakang Farel.


Bilik kursi milik Farel lebih luas dan muat untuk dua orang yang di lengkapi meja kerja dan sekatnya bisa ditinggikan dan diturunkan dan bisa di kunci, tentunya lebih nyaman.


Farel masuk ke bilik kursinya membawa tas milikku. Aku tahu, apa yang ia incar, sudah pasti, ponselku, ia ingin tahu tentang anaknya.


“Apa yang anda inginkan?” tanyaku dengan wajah serius, aku mengikutinya sampai ke kursinya, lalu ia menarik tanganku masuk ke bilik dan memaksaku duduk di sisi ranjang, sepertinya ia tadi, bersiap ingin tidur, saat ia kekamar mandi.


“Buka kunci ponselmu,” pinta Farel, setelah ia menumpahkan semua isi tas di atas meja.


“Untukku apa?” tanyaku pura-pura tenang dan masih bersikap tidak mengenalnya. Hidup dalam kepura-puraan ternyata sangat menyiksa . Berpura-pura tidak mengenal Farel sungguh menguras energiku.


“Untuk tahu semua tantang kamu”

__ADS_1


Untung semua foto tentang Haikal aku hapus dan menyembunyikan semua tentang dirinya, lalu aku menyimpan ponsel itu ke dalam koper dan menganti ponselku dengan ponsel kerja.


Aku tidak ingin ia marah, masih dengan sikap pura-pura tenang, aku membuka kode ponsel dan memberikan padanya , aku yakin, ia tidak akan menemukan apapun di sana, semua yang ada di galeri ponselku foto model desain pakaian yang aku rancang.


Matanya sibuk meneliti tidak menemukan apa-apa di ponsel itu, kali ini ia mengeledah isi tasku, entah apa yang ia cari, tetapi matanya sibuk mencari dan meneliti semuanya bahkan isi dalam dompet.


“Apa Anda sudah puas?” tanyaku saat ia mengeledah semuanya, tetapi tidak menemukan apa-apa.


Aku memasukkan semua barang-barang ku dalam tas itu lagi.


“Tetapi kamu Ririn. Istriku,” ucapnya tegas, terdengar seperti membaca sebuah pengumuman.


“Aku tidak mengenal Bapak. Maaf,” ucapku datar.


“Baiklah, kamu tidak mengenalku, lalu bagaimana dengan anakku. Bagaimana dengan anakku yang kamu bawa kabur? Kamu meninggalkanku empat tahun yang lalu, saat kamu mengandung anakku. Dimana dia? Tanya Farel menatap wajahku dengan rahang mengeras, matanya tampak berkaca-kaca.


“Aku tidak mengerti apa yang bapak bicarakan,” kataku berdiri.


Dengan sikap tegas, ia memegang kedua pundakku mendorongnya hingga aku duduk kembali.


‘jangan lemah Rin, jangan menyerah, bagaimana kalau lelaki ini dan istrinya dan keluarganya ingin mengambil anakmu. Berjuanglah untuk mempertahankan anak tampan itu, seakan-akan ada suara yang lain memperingatkan.


“Pak, jika bapak merasa ada yang salah atau saya melakukan kesalahan mari kita selesaikan dengan baik. Kalau tidak, mari kita bawa ke kantor polisi,’ ucapku berkata tenang, menatap wajah Farel dengan tatapan berani.


“A-a-apa? Apa kamu yakin?” tanya Farel dengan mata melotot.


“Iya, karena saya tidak mengenal Bapak,” ucapku santai. Terlihat santai dari luar, padahal aku ingin terkencing celana, menahan tekanan dari dalam dada ini.


Farel terdiam, sepertinya ia memikirkan cara yang lain.


“Baiklah,” ucapnya membiarkan aku pergi.


Tetapi aku yakin, ia tidak akan membiarkanku begitu saja.


Dalam bilik kursi tempat dudukku, aku merasakan tanganku berkeringat dingin, aku berharap pesawat terbang ini cepat tiba di Paris. Karena Sinta sudah menungguku di sana.

__ADS_1


Masih banyak waktu untuk sampai di bandara Charles de Gualle Paris.


‘Hadeeeh, seandainya aku punya tongkat sihir, aku akan mengubah Farel jadi semut, lalu aku memasukkannya ke dalam plastik dan kusimpan di tas ini, berada satu pesawat dengan Farel membuatku ingin mati lemas, karena jantung ini berdetak tidak stabil, sejak bertemu dengan Farel. Apalagi kalau sudah melihat tatapannya yang terus menyelidiki’


Aku duduk, mata ini tidak bisa terpejam lagi, boro-boro diajak tidur, bahkan bernapas saja terasa sesak. Aku duduk dengan gelisah membolak-balikkan majalah di tangan, berharap pikiran ini beralih dari Farel. Tetapi pesona lelaki tampan itu dan tatapannya membuatku susah mengalihkan pikiran ini.


Saat duduk dengan diam, tiba-tiba mataku tidak sengaja menoleh ke kursi samping. Farel menatapku dengan tenang, entah bagaimana cara lelaki itu membujuk wanita tua yang tadi duduk sebaris denganku. Kini, penghuninya sudah berganti.


“Boleh aku mendekat ke arahmu? Aku ingin mengobrol santai denganmu,” ucap Farel.


‘Hadeh, aku tahu, kamu tidak akan menyerah. Hidupku tidak akan tenang, dimulai dari detik ini’ ucapku dalam hati. Aku diam tidak memberinya jawaban dan ia juga sepertinya tidak menginginkan persetujuanku, sebelum aku menjawab, ia sudah menekan tombol di kursinya dan merapatkan dengan kursiku membuatnya sejajar.


Tanpa permisi , ia juga menekan tombol dinding bidik sekat di kursi milikku. Kini kursi dan kursi miliknya sejajar, tanpa ada pembatas.


“Baiklah, sekarang ceritakan padaku bagaimana kamu kehilangan ingatanmu”


“Apa kita sedekat itu, sampai aku harus menceritakan tentang hidupku untuk anda? Tanyaku santai dan tidak mengalihkan mata ini, dari majalah di tanganku.


“Iya harus, karena kamu istriku,” ucapnya dengan nada serius, ia berusaha keras meyakinkanku, kalau dia suamiku. “Kamu tidak percaya?’ tanyanya lagi, menatapku dengan tatapan serius.


“Bapak lelaki yang keempat mengaku suamiku. Bapak suami ke berapa?” tanyaku, menatapnya sekilas.


“Apa? Empat orang? Lalu kamu percaya?” tanya dengan wajah marah.


“Tentu saja tidak Pak, keluargaku bilang hidupku dalam bahaya, dilarang bicara sembarangan pada orang lain. Kakakku bilang, ada orang yang ingin membunuhku dan ingin melenyapkanku dari dunia ini, maka itu, aku tidak bisa bicara dengan bapak," ucapku.


Farel terdiam, matanya terlihat sedih.


“Tidak lagi Rin, percayalah,” ucapnya lembut. Aku tidak tahu apa arti ucapannya. Sebenarnya aku ingin tahu berapa anak yang ia miliki, aku ingin tahu, apa ia bahagia? Tetapi keinginan tahuanku, tentang kabar Farel dikalahkan, keinginan besarku, ingin melindungi putra tampanku, Haikal. Aku memilih diam menunggu waktu yang menjawabnya.


Bersambung ….


JANGAN LUPA TEKAN FAVORIT VOTE DAN LIKE IYA,


KASIH BANYAK HADIAH, IYA KAKAK, AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI

__ADS_1


__ADS_2