Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Apa Kamu yang Melakukannya


__ADS_3

"Apa kamu yang melakukanya?" Aku berdiri dengan tubuh membeku seketika. Namun, aku berpikir ia tidak boleh lemah.


"Iya, gue pikir malam itu kita melakukanya dengan beberapa ronde, gue berterimakasih untuk malam itu, karena loe sungguh sangat memuaskanku"


Lelaki bertubuh atletis itu menatapku dengan tatapan merendahkan.


Tiba-tiba jantung ini seakan melompat dari dada, aku tidak menduga sama sekali kalau aku datang ke kandang buaya saat ini.


"Aku tidak mengingatnya, maaf," ucapku dengan lidah terasa kaku dan pandangan mata tiba-tiba terasa berkunang.


"Oh, padahal malam itu kamu sangat menguasai permainan dalam ranjang" ucapnya kemudian membuatku semakin rendah dan hina.


"Aku tidak mengingatnya." kataku, tidak bisa menahan diri lagi, ingin rasanya aku terjun ke laut dan menghilang selamanya, ucapan merendahkan seperti itu bukan kali pertama aku dengar. Namun, mendengar dari lelaki ini, rasanya sangat sakit, aku merasa diriku bagai kotoran busuk yang harus disingkirkan.


Saat aku ingin masuk ke penginapan, tiba-tiba ia mendekat dan membisikkan sesuatu ke kupingku.


'****** sepertimu bisa juga memuaskanku, gue sangat menikmatinya, apa kita bisa melakukannya lagi?"


Aku terdiam, tiba-tiba air mataku berlinang tumpah ruah, di saat aku berusaha lepas dari kubangan kenistaan itu, ternyata aku terjerat lagi.


Aku menunduk membiarkan lelaki itu, mengatakan apa yang perlu dia katakan, tiba-tiba tangannya memegang daguku.


"Apa loe menangis? kenapa? ha ..ha ...!! apa loe menyesal bertemu denganku di sini?!"


Aku hanya diam, tidak punya tenaga walau hanya sekedar berdiri, rasa sakit di tubuhku tidak sebanding dengan kata-kata merendahkan dari lelaki berwajah angkuh itu.


Namun, aku tidak tahu aku menangis utuk rasa sakit yang mana, apa hatiku yang sakit atau aku menangis untuk luka fisik yang aku alami.


"Aku ingin masuk, aku mau tidur," ujarku pelan menggunakan sisa tenagaku.


"Kenapa? apa loe tidak mau melayani gue lagi?"


"Aku sak-"


Braak ..!


Tubuhku ambruk, samar-samar aku merasakan lelaki bertubuh tinggi itu menangkap ku.


"Hei, ada apa denganmu?"


Mataku terbuka, karena rasa perih melilit perutku, aku baru menyadari, aku hanya makan pagi di apartemen Iren, itupun hanya ketoprak beberapa sendok.


Saat menoleh kanan kiri, aku berada di kamar yang berbeda, sepertinya kamar milik lelaki bermulut pedas itu.


Aku berharap aku punya tenaga, agar aku bisa keluar dari di sini, tetapi, tubuhku tidak punya tenaga untuk hanya sekedar berjalan.


Melihat lelaki itu tidak ada dalam kamar, aku memutuskan ingin keluar dari kamar, melihat pakaianku utuh, itu artinya lelaki itu tidak menyentuhku, aku bersyukur dia menolong, tetapi demi apapun aku tidak ingin bertemu dengannya.


Dengan tangan memegang perut yang terasa sangat sakit dengan langkah tertatih-tatih, aku mencoba keluar dari kamarnya dan ingin pergi menjauh dari penginapan itu.


Tapi saat berjalan beberapa langkah.


"Apa melarikan diri memang kebiasaan mu?"


Ia berdiri bersandar di dinding di kamar, aku diam, tidak tahu harus berbuat apa.


"Aku hanya ingin mencari makanan," kilahku mencari alasan.

__ADS_1


"Ini sudah tengah malam, tidak ada tempat yang akan buka, kecuali kamu berenang menyeberangi lautan, dan di restauran sana," ujarnya menunjuk restauran yang masih buka di sebrang pantai Ancol.


"Kenapa kamu tidak mencari di dapur saja?"


Aku balik badan dan masuk ke kabinet dapur di penginapan, tetapi dalam laci dapur hanya ada mie instan, tubuhku sudah mulai bergetar tidak tahan merasa lapar.


Bahkan perkakas untuk memasak mie instan aku tidak tahu di simpan di mana.


Aku berpikir dari pada pingsan lagi karena kelaparan, lebih baik mengganjalnya setelah meminum segelas air, aku terpaksa memakan mie instan itu mentah.


Mungkin karena lapar, aku memakannya dengan lahap, memakannya hampir setengah, sebuah tangan besar menariknya dari tanganku.


"Dasar bodoh, kamu mau cari mati iya," ujarnya lagi-lagi dengan tatapan bengis.


"Aku tidak tahu tempat untuk memasak," ujarku membela diri.


"Dasar orang kampung," ucapnya dengan tangan membuka sebuah lemari, lemari yang menyimpan semua perabotan, bahkan menyimpan bahan makanan kering.


Aku terdiam dengan mata menatap laci yang dibuka.


'Kenapa aku tadi tidak melihatnya?' aku membatin dan kembali dalam mode diam.


Lelaki sombong itu lalu mengeluarkan sebuah kotak dan menarik sebungkus bubur sasettan dan menuangkan air panas menyeduh sebungkus bubur.


Lalu menyodorkan gelas bubur itu di hadapkan ku.


"Terimakasih,"ujarku dengan menarik bangkok bubur, baru kali ini aku merasakan kelaparan, aku meniupnya dan memakannya dengan lahap.


"Makanlah dengan pelan-pelan, Loe membuatku jijik, loe kayak monyet kelaparan,"ucapnya.


"Aku bilang-bilang pelan makanya, kamu dengar gak sih? kamu seperti binatang yang kelaparan, itu membuatku geli dan jijik!" ucapnya terdengar marah.


Selain sombong, angkuh, suka merendahkan orang lain, lelaki itu juga punya sikap pemarah.


"Maaf aku hanya lapar," ujarku tanpa menoleh dan hanya terfokus pada mangkok yang tersisa setengah mangkok.


Tetapi tiba-tiba ia datang dan melempar mangkok bubur ke lantai membuat mangkok serta isinya pecah dan berserak di lantai.


"Sikapmu membuatku jijik, gue tahu loe sengaja melakukan itu untuk membuatku kesal, dasar wanita ******!"


Lalu ia meninggalkanku di dapur dan ia berjalan menuju kamarnya.


'Iya ampun ada apa dengannya, kenapa ia sangat membenciku, apa dia punya masalah denganku sebelumnya?' ucapku membatin.


Walau perut ini tidak kenyang sepenuhnya, tetapi aku berterimakasih padanya karena telah menyelamatkanku dari mati kelaparan.


Aku tidak ingin Iren dan teman-temannya melihat kekacauan itu,mencari serokan dan membersihkannya. Namun, saat aku duduk ingin mengutip pecahan, tiba lantainya licin dan tubuhku ingin


terhempas ke belakang dan sigap telapak tanganku mendarat di tumpukan pecahan beling di dalam serokan.


"Aduh! sakit ... auh, meringis menahan rasa sakit dan pecahan kaca masih tertancap di telapak tangan, cairan merah menetes di sepanjang lantai dapur aku membawa tangan ke wastafel mencuci. Namun darah tidak berhenti mengucur, aku akan kehabisan darah kalau aku membiarkannya begitu.


Membuka semua laci untuk mencari kotak P3K. Namun, tidak menemukanya. Badan terasa lemas, karena melihat cairan berwarna merah itu, melihat ada kain lap di dekat kompor dapur aku hanya membungkusnya untuk menghentikan pendarahannya.


Saat membuka laci, tiba-tiba lelaki itu datang memegang gelas. mungkin ia ingin menyeduh kopi. aku menyembunyikan tanganku ke belakang, aku tidak mau ia menghinaku dan memaki dengan alasan apapun.


Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan lelaki ini, kenapa aku harus menerima makian dan hinaan darinya?.

__ADS_1


Membersihkan cairan merah di lantai dengan kain pel, ia tidak mengatakan apa-apa, ia menuju dispenser dan menekan tombol air panas dan tidak melihat cairan di lantai. Lalu ia berbalik badan meninggalkan dapur setelah menyeduh kopi.


Aku bernapas lega karena ia tidak melihat kekacauan itu, aku membuka gulungan kain yang membungkus tanganku, karena rasa sangat sakit saat dibungkus ternyata masih ada pecahan kaca yang masih tertancap, aku tidak berani mencabutnya.


Aku berpikir kalau keluar dari penginapan dan berjalan ke depan mungkin ada apotik atau orang yang aku suruh untuk mencabut, lebih baik aku kesakitan dari pada meminta bantuan lelaki angkuh itu, walau dia seorang dokter sekalipun.


Membungkus tanganku kembali, berjalan buru-buru menuju kamar dan meraih tas tangan milikku membawa dompet untuk membeli obat.


Saat aku keluar dari kamar ia juga keluar dari kamarnya.


"Kenapa mau kabur lagi?"


"Tidak aku hanya keluar sebentar,"


aku menyembunyikan tanganku di belakang, aku tidak mau ia menuduhku yang macam-macam lagi.


"Apa yang kamu sembunyikan di belakangmu, apa kamu mencuri?" Dengan kasar ia menarik tanganku yang terluka.


"Auuuh sakit ...!" Meringis menahan rasa sakit.


"Kamu terluka?"


"Iya aku hanya ingin membeli obat, minggir lah, aku tidak mencuri apa-apa, aku terluka karena bangkok yang kamu lempar tadi"


Saat aku berjalan ingin melewatinya, ia menangkap tangan kiriku dan menyeretnya ke kamarnya.


"Apa kamu tidak tahu kalau juga seorang dokter?"


"Iya, aku tahu, hanya tidak ingin melibatkan mu"


"Bodoh, dengan kamu berjalan ke sana berapa darah yang kamu buang?"


Ia membuka kain yang aku lilitkan membungkus, ia mencabut pecahan yang masih menancap tadi.


"Auuuh sakit! tidak bisakah kamu pelan-pelan, aku punya salah apa padamu hingga kamu sangat membenciku?" teriakku marah


Ia diam, tetapi tangannya dengan sigap membuka koper miliknya dan mengeluarkan kotak obat dan mengobati luka di tanganku.


"Urat bagian dalam terkena pecahan kaca, kita akan menjahitnya untuk mengehentikan pendarahan, untung aku membawa alat-alat ini, ia menunjukkan perkakas dokter miliknya.


"Ta-tapi aku takut dengan jarum suntik," ucapku panik


"Tenanglah tutup matamu"


"Tapi aku sungguh tidak berani"


"Ibu Ririn tenanglah, saya ini dokter, walau aku membencimu setengah mati, tapi pantang bagi dokter mencelakai pasiennya," ujarnya dengan suara tegas.


Ia memberikan bantal untuk menutup wajahku, memintaku untuk tidak melihatnya., aku melakukanya, walau sakit aku menahannya mengigit bantal tanpa suara.


"Sudah selesai," ucapnya kemudian, aku mendongak dari bantal.


"Bisa kamu melepaskan tanganmu dari pinggangku? kamu menyakitiku."


"Oh, maaf" ternyata tanganku mencengkram pinggang sang dokter saat ia menjahit tanganku."Terimakasih dokter."


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2