
Setelah puas menyusuri tempat indah itu, aku berhenti.
“Pinjamkan aku ponsel donk, aku ingin mengabadikan momen indah ini, aku tidak tahu, aku masih bisa melihat ini apa tidak suatu nanti”
Tidak banya bicara, Farel memberikan ponsel miliknya. “Passwordnya apa?”
“Tanggal lahirmu, Rin”
Aku tertegun sejenak, mendengar ia masih memakai tanggal kelahiranku sebagai password pembuka kunci layar ponsel miliknya, empat tahun lalu, ia memang mengunakannya, tetapi aku sedikit kaget saat ia sampai saat ini memakainya.
‘Ah, bisa saja dia baru menggantinya baru-baru ini, saat kami bertemu di pesawat mungkin’ ucapku dalam hati.
Aku terpaksa memakai ponsel milik Farel karena tas tangan milikku tidak tahu kemana rimbanya kemarin sore saat Farel menghukumku dengan caranya. Padahal di dalam tas tangan itu ada dompet dan ponsel milikku.
Aku mengambil Foto dari segala sudut dan tidak lupa berselfie ria lalu aku membuka hasil jepretan mengirim ke ponsel milikku. Tetapi tidak sengaja dalam memori ponsel Farel aku melihat beberapa fotoku bersama Vito yang di foto dari jarak jauh.
Benar kata Sinta Farel memang sudah mengikuti dan Farel sejak dari malam itu. Pantas saja ia sangat marah besar. Dalam foto itu aku memegang tangan Virto dan menangis, memang pantas membuatnya marah. Aku tidak ingin membuka isi galeri itu lebih jauh,. aku takut menemukan foo yang membuatku kembali patah hati nantinya.
Farel sejak tadi hanya diam, ia sepertinya ingin mengajukan pertanyaan padaku atau ia ingin mengungkapkan sesuatu wajahnya tampak berat dan beberapa kali menghela napas panjang . Sepertinya pengakuan yang ia akan berikan padaku sepertinya sangat berat.
“Ini, ponselnya aku sudah selesai, aku sudah mengirimnya kembali ke ponselku.”
“Rin … aku sengaja membawamu ke sini aku ingin-”
“Jangan bertanya apa-apapun, aku sedang tidak ingin membahas masalah apapun Pak Farel, biarkan aku menikmati kegembiraan ini’ sebentar.”
“Lalu … kapan aku bisa bertanya?
“Tunggu suasana hatiku baik yang pastinya bukan saat ini,” kataku menghindar aku tahu apa yang ingin di tanyakan Farel pasti tentang anaknya.
“Rin …!
“Pak Farel, aku sudah bilang tidak ingin membahas-”
“Ririn selamat ulang Tahun,” ucap farel sebelum aku menyelesaikan kalimatku. Aku hanya diam, aku tidak menduga kalau Farel juga akan mengucapkan selamat ulang tahun untukku saat itu.
“Maaf kalau aku tadi menyakitimu itu karena aku cemburu dan marah. Itu karena rasa cintaku yang besar untukmu.
Ia membuka kotak dan memperlihatkan kalung berwarna putih dangan gantungan berbentuk bintang.
“Terimakasih, aku terkejut karena kamu masih mengingatnya”
__ADS_1
“Tentu, aku tidak pernah sedikitpun melupakanmu”
Farel memakainya ke leher ini, tidak menduga lelaki tampan itu telah mempersiapkan kado untukku.
“Tapi, kapan membeli ini?”
Farel tersenyum kecil.
”Aku membelinya saat tiba di sini , tadinya saat kamu selesai acara show malam itu aku akan mengajakmu makan. Tapi … gitu dah kamu meninggalkanku. Makanya mulai malam ini aku tidak akan melepaskanmu,” ucap Farel kembali mengikat kembali tangan ini, tadinya sempat di lepas sebentar, saat ingin naik ke atas.
“Hadeeeh, baru saja merasa senang, sudah diikat lagi kayak doggy. Sampai kapan kamu bersikap seperti ini?”
“Sampai kamu mau menerimaku sebagai suami dan kamu mencintaiku”
“Ah itu sulit pak Farel, karena hati tidak bisa di paksakan”
“Iya aku tahu itu sulit, tetapi apa kamu tahu ada ungkapan bijak bilang. Cinta tulus seseorang bisa memecahkan batu yang keras sekalipun”
“Apa kamu juga pernah dengar pepatah bilang; Lelaki yang mengejar cinta seorang wanita, bagai terbatas sebuah gunung dan wanita yang mengejar cinta pria, hanya terbatas kain tipis”
Farel hanya tertawa kecil’ Aku tahu aku akan sulit menaklukkan hatimu, tetapi kerja keras dan ketulusan hati akan mampu melewati itu semua”
“Ok baiklah,” ucapku diam.
“Kita melihat matahari terbit saja dulu baru kita pulang”
“Tetapi apa benar tidak apa-apa sama mereka?
“Tidak apa-apa selagi mereka memegang kartu milikku”
“Widih anak sultan,” ucapku keceplosan, melupakan ancaman Farel tadi.
“Kamu sudah aku bilang jangan bilang begitu sama aku.” Matanya menatap bibirku dengan nakal dan menarik tangan ini ....
“Pak Farel … Pak … itu aku lupa”
“Baiklah begini saja biar kamu tidak lupa lagi.” Farel menarik tanganku dan menyambar dagu ini dan ******* bibir dengan lembut.
“Ummm … Fare-”
“Diamlah dan nikmati saja, anggap saja kita sedang bulan madu,” ucap Farel, ia memang manusia paling nekat dan berani dalam urusan wanita. Aku tidak mau menurutinya, aku mengarahkan satu tanganku ke pinggangnya dan mengkelitik dengan keras.
__ADS_1
“Rin, hentikan jangan mengkelitik. Kamu tidak romantis, saat aku menciummu seperti itu. Harusnya kamu tutup mata dan menikmatinya, itu baru menarik,” ucap Farel mengajari.
“Maaf menganggu imajinasi Pak Farel, sory tapi jaman itu, sudah aku lewatkan jauh puluhan tahun yang lalu, jaman -jaman aku cinta monyet,” ucapku meninggalkan Farel.
“Kamu mau bilang apa yang aku lakukan itu kekanak-kanakan?”
“Iya”
“Lalu kamu mau pacaran yang seperti apa.... Padahal itu sudah kerja kerasku yang paling maksimal”
“Aiiis lupakan yang seperti Farel, aku tidak ingin di gombal-gombalin”
Bibir Farel terlihat mendesis merasa jengkel.
“Baiklah, ayo turun, kita serapan ... menghadapimu dengan segala sikapmu yang keras, membuatku merasa lapar,” ucap Farel aku hanya mengalihkan wajahku menyembunyikan senyum di bibir ini, lucu juga melihatnya kesal seperti itu, karena dia merasa tidak berhasil merayuku.
Saat berada di dalam lift turun, aku penasaran apa yang di katakan Farel pada para keamanan sampai-sampai Farel di izinkan naik.
“Eh, tapi ngomong, kamu bilang apa tadi sama mereka kita di izinkan naik”
“Oh, itu … aku bilang kamu lagi hamil dan mengidam. Karena wanita hamil dan lansia sangat di hargai sekali di negara ini. Mereka tidak akan menolak jika itu permintaan orang hamil asal di dampingi seorang dokter”
“Jadi kamu memberi kode aku memijit kening itu …”
“Oh itu tanda kalau kamu ngidam sampai sakit kepala, itu yanga ku katakan pada mereka,” ucap Farel.
“Oh … iya ellaaa, tak kirain tanda apa tadi itu”
Saat di singgung sola hamil, tiba-tiba aku mengingat aku dalam masa subur karena beberapa hari sebelum Farel memaksaku, aku habis datang bulan, persis saat ia melakukannya saat mengandung Haikal.
'Oh tidak lagi'ucapku dalam hati.
Bersambung ...
KASIH BANYAK HADIAH juga AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI
Baca juga:
“Menikah Dengan Brondong”
Follow ig sonat.ha dan
__ADS_1
Fb Nata