
Saat Dia Memimpin
Katanya, ayah Farel berteman baik dengan suami ibu dokter pemilik hotel, setelah mendengar pengumuman itu, tubuh ini, kembali membeku dalam diam, aku terjebak dalam pengaruh lelaki ini lagi.
Pantasan, tiba-tiba ada peraturan yang banyak berubah di dalam hotel, sekarang aku baru paham, kalau itu kerjaan Farel.
Salah satunya, peraturan tentang sistem kontrak kerjaku.
Aku dikontrak selama dua tahun, jika selama dua tahun itu aku keluar dari pekerjaan sebelum masa kontrak habis, maka konsekuensinya hukum pidana dan akan dimasukkan ke penjara.
Ia mencegahku untuk melarikan diri lagi.
“Dia, kan, seorang dokter kenapa dia yang jadi presiden juga di sini, apa lagi yang ingin ia rencanakan, apa dia ingin memanggil keluarganya juga kesini?”
Bayu hanya menggeleng lemah.
“Pak Bayu sekali lagi maaf iya”
“Iya tidak apa-apa Rin”
Jika ini milik teman ayah Farel, itu artinya hidupku selama ini, hanya berputar di antara mereka semua' ucapku dalam hati.
kenyataan kalau suami Ibu dokter teman ayah Farel, membuat hati ini kembali rapuh dan sangat sedih.
Aku pikir hidupku sudah berjalan maju beberapa langkah, tetapi kenyataannya, hidupku masi berada di situ-situ saja dan di kubangan yang sama.
Hamil tanpa suami, menyadarkan ku, kalau hidupku hina dan murahan.
Mendengar pengumuman itu, tiba-tiba kepalaku ingin pecah rasanya, aku meninggalkan ruangan aula dan kembali ke kamar, di mana aku tinggal.
Aku merasa kepalaku panas dan badanku terasa sangat lemas.
‘Pemilik kekuasaan dan pemilik hartalah yang selalu jadi pemenang, si miskin seperti Bayu dan aku, akan tetap kalah’ ucapku dalam hati.
Masuk ke kamar mandi, aku mengisi air di badthum hingga penuh, berendam dan menenggelamkan kepalaku untuk mendinginkan kepalaku yang terasa panas dadaku terasa mendidih.
Menutup mata membiarkan kepala ini masuk kedalam air, untuk mendinginkannya, menghitung berapa menit berapa lama aku bertahan di dalam air, baru beberapa detik, tiba-tiba sebuah tangan menarik ku dari dalam bak mandi.
Karena kaget, aku meminum air dan terbatuk-batuk sampai mengap-mengap.
__ADS_1
"Kamu ingin bunuh diri?" Farel menarik ku dari dalam bak mandi.
Wajahnya mengeras dan menatapku tajam.
"Apa yang bapak lakukan di sini?” Aku, menutup bagian dada dengan memeluk tubuh sendiri,
"Aku tahu, kamu akan melakukan itu, saat kamu tahu aku bekerja di hotel ini kan?”
"Siapa yang mau melakukan hal itu," ujarku menarik handuk keluar dari kamar mandi.
"Bagaimana Bapak bisa masuk ke kamar ini, ini kamar yang aku tempati," ucapku protes.
"Aku pemilik hotel ini, jadi bisa masuk ke kamar mana yang aku sukai," ujarnya dengan sombong.
"Oh, iya aku lupa hal itu," ucapku membuka lemari mencari pakaian untuk ganti.
"Kamu tidak boleh tinggal di kamar ini, ini untuk tamu hotel, bagaimana pegawai hotel tidur di hotel, kamu membuat pegawai lain iri," ucap Farel, ia mulai menggunakan kekuasaannya untuk menekan ku.
Aku terdiam, apa yang dikatakan Farel, ada benar juga, tetapi aku sudah berusaha mencari tempat yang bisa terjangkau ke hotel. Namun,belum mendapatkannya, maka itu Bayu memberikan kamar hotel untuk aku tempati sementara, sampai aku mendapatkan kontrakan atau indekos.
"Baiklah, nanti aku akan mencarinya Pak Farel, tapi boleh bapak keluar dari kamar ini, aku ingin mengganti pakaianku," ujarku dengan malas.
"Kamu bilang saat itu, kalau kamu sudah memaafkanku dan tidak memberitahukan apa yang terjadi pada orang lain, lalu kenapa sekarang kamu bertingkah seperti itu"
"Maksud Bapak, apa?"
"Kamu menceritakan semuanya pada Bayu dan kamu mengajaknya menikahi mu, tetapi kamu menolak menikah denganku”
“Lalu apa yang ingin Bapak lakukan pada Bayu?”
“Memecatnya”
“Pak Farel jangan seperti itu, jadi orang jangan terlalu kejam!”
“Aku sudah bilang padamu, kalau aku bisa melakukan apapun, termasuk menyingkirkan Bayu”
"Kamu akan menyesal karena telah memilih lelaki itu dari pada aku"
"Tolong jangan memecatnya, ia tidak bersalah, aku yang mengajaknya menikah”
__ADS_1
"Tidak boleh ada lelaki lain yang menikah denganmu, kamu dan dia hanya milikku, apa kamu paham itu!"
"Apa harus melakukan itu?”
“Harus”
Farel berdiri dibelakangku, tangannya menarik handuk yang aku pakai.
“Apa yang Bapak lakukan, jangan menyentuhku sembarangan!”
Teriakku marah.
Tetapi lelaki berwajah tampan itu, menarikku di depan kaca, memperlihatkan tubuh yang mungil di depan cermin.
Wajahku memerah menahan malu, ingin berbalik membelakangi kaca, tetapi ia menahan tubuh ini, agar tetap menatap kaca. Lalu ia mengusap bagian perutku dan berkata'
"Hanya aku yang berhak untuk tubuh ini dan dia," ucapnya memelukku dari belakang.
Apa yang dilakukan Farel aku anggap sebuah pelecehan. Ingin rasanya aku menghilang detik itu juga dari depan Farel. Aku menutup mata, rasa benciku memuncak atas sikap semena-mena Farel padaku.
‘Aku sangat membencimu, suatu saat aku akan membalasmu” ucapku dalam hati.
“Jangan memecat Pak Bayu, dia tulang punggung keluarganya”
“Apa perduli ku, apa dia perduli saat aku memintanya menjauhi mu?”
“Pak Farel, aku sudah bilang aku yang salah”
“Berhenti membelanya Ririn, apa perlu aku membunuhnya sekalian? Aku tidak suka siapapun yang menghalangi jalanku,” ucap Farel marah.
'Iya Allah, beri aku kekuatan menjalani kehidupanku demi anak- anakku' ucapku dalam hati.
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain diam, Aku takut perkataan ku membuat semakin marah dan menyakiti Pak Bayu lagi.
Bersambung …
JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA
share kasih review, kasih hadiah juga boleh …. Agar cerita ini bisa naik level. Terimakasih Kakak. Kalau bisa naik level kita akan update tiga sampai empat bab perhari. Terimakasih salam sehat untuk kita semua.
__ADS_1
Jangan lupa follow IG @sonat.ha