Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Balasan yang setimpal


__ADS_3

Panas hati ini, saat Farel terus mengerjaiku, maka aksi nekatpun terjadi begitu saja.


“Ibu, bapak! salaki kuring dijual saha wae anu hoyong?” ( Ibu, Bapak, suamiku dijual ada yang mau?) Teriakku bertingkah gila. Walau bahasa daerahku tidak begitu bisa tetap melakukannya.


“Rin, Hei! … Hei ngomong apa? Hei please jangan teriak-teriak begitu ... orang gak akan mengerti apa yang kamu bilang,” ucap Farel wajahnya panik bercampur malu.


Ia memegang tangan ini dan sebelah tangannya ia pakai untuk menutupi wajahnya, ia menunduk.


“Bodoh amat! Tahu tidak tahu, bukan urusanku, aku juga tidak mengerti apa yang aku ucapkan tadi,” kataku berdiri.


“Hayu, aya anu hoyong nyandak?” teriakku lagi. Kedua mahasiswa asal indonesia itu itu tertawa ngakak melihat ulahku.


Lalu salah seorang dari mereka, menyahut :


“Teteh, ngan pikeun urang!” (Teteh, buat kita saja!) Teriak mereka berdua sambil tertawa terpingkal-pingkal.


“Sok, atuh ka dieu ”( Boleh ke sinilah) jawabku.


Karena mata orang semakin banyak melihat ke arah kami, Farel semakin panik, ia benar-benar merasa sangat malu karena ulahku.


“Rin, Rin sudah, sudah …Ok, ok aku minta maaf,” ucap Farel ia berdiri dan mengancingkan mantel bulu yang aku pakai sampai keatas menutup mulutku lalu ia memakaikan topi mantelnya, niatnya agar aku berhenti berteriak.


“Sudah … sudah nekat bangat sih,” ujar Farel menyeka keringat di dahinya.


“Lagian orang gila kamu ajak ribut … Rusuh, kan!” ucapku lalu mengibaskan rambut panjangku, kebelakang dengan bangga, bertingkah seperti seorang pemenang.


“Iya, iya aku salah. Ayo pulang!”


“Belum aku belum puas, awas. Hatiku masih panas,” ucapku melepaskan jaket itu lagi dan meletakkan diatas meja. Hatiku jengkel saat Farel mengerjaiku untuk ke sekian kalinya.


“Ririin kamu gila apa! Apa yang kamu lakukan, lihat pakaianmu!” teriak Farel dengan cepat memungut jaket dan menutup bagian dadaku, karena sejujurnya di balik kemeja Farel yang berwarna putih dada ini tanpa pembungkus.


Kain pembungkus mirip kaca mata kuda itu, terkena muntahanku, jadi Farel memasukkannya ke baju kotor. Jadi saat aku melepaskan mantel tebal itu, dada ini menonjol bebas bahkan sebagian mengintip dari sela-sela kancing kemeja berwarna putih itu, karena bagian dada kemeja Farel kekecilan saat aku pakai,


“Kamu ngapain!” Wajah Farel tiba menegang saat banyak mata pria bule melirik ke arahku, aku juga niat tidak ingin membuat masalah apa lagi cari perhatian pria, tetapi merasa di kerjain terus-menerus membuatku kehilangan kesabaran dan kehilangan kendali.


"Ririn hentikan! Kamu nekat bangat" Mata itu, menatapku dengan tatapan mata melotot.


"Katakan kamu mau mengerjaiku lagi gak? Jangan cari gara-gara pada orang gila sepertiku. Karena kamu akan pusing sendiri"


"Iya, Iya ...Iya Rin aku salah, dasar keras kepala"


Tidak mau pusing, Farel menutup dengan jaket itu lalu memelukku.


Aku, aku minta maaf. Ok .. ok kita beli ayo”


Aku berhenti dan memakai jaket itu lagi.


“Ayo!" Kataku langsung berhenti.

__ADS_1


Farel hanya menggeleng menghembuskan napas panjang dari mulutnya, ia menyeka keringat di dahinya.


Apa yang aku lakukan sangat membuat Farel panik bercampur malu dan itu akan jadi pelajaran untuk Farel, aku berharap ia tidak mau mengerjaiku lagi.


“Aku tidak pernah menduga kalau kamu bisa bertindak nekat seperti itu,” ucap Farel.


Kami berjalan ke menuju pintu apotek untuk membeli obat yang aku inginkan tadi.


“Makanya jangan membuat gara-gara dengan aku, kamu gak tahu aja kalau aku lagi kesal bisa tak tak terkendali"


“Iya, seperti orang gila”ucapnya ketus.


Lalu ia mengajakku kembali ke apotek, kali ini ia tidak bercanda lagi, wajahnya benar-benar serius.


Dari apotik ia membawaku ke butik dan memilih pakaian sendiri untukku.


“Ini, ini saya pilih,” ucap Farel.


Apa yang aku lakukan saat di kafe tadi membuat jadi parno, ada lelaki yang melihatku ia langsung melirikku dan menutup jaket yang aku pakai sampai ke atas hidung.


"Jangan buka, awas kamu "pintanya kesal


"Aku kayak badut seperti ini," ucapku protes.


"Jika kamu buka, aku akan perkosa kamu lagi di, depan semua orang. Jika kamu gila, aku lebih gila lagi, karena tatapan para pria brengsek itu membuat hati ini panas lagi. Aku sudah bilang padamu Rin, aku seperti orang gila, jika sudah cemburu pada kamu"


"Baiklah, aku tidak akan buka. Aku masih takut kamu perkosa. Dasar orang cabul," Ujarku kesal.


Wajahnya tampak serius meneliti pakaian yang ia pilih untukku.


Tidak usah memilih pakaian untukku, izinkan aku pulang ke rumah Sinta di sana banyak pakaianku. Masa penjual pakaian membeli pakaian dari tempat lain saat ia punya di tokonya sendiri"


" Pakai tinggal pakai Rin, aku yang beli sendiri"


"Sayang loh ... Pak Farel, kalau tidak dipakai, selera pakaianku bukan seperti ini"


"Uuuhs ... kamu ribet Rin, Ini aku pilih"


“Eh, ini bukan pakaian seleraku,” ucapku . Rasanya sangat sayang jika pakaian yang di beli tidak buat juga.


“Itu akan muat”


“Setidaknya izinkan aku mencobanya dulu," ucapku.


“Tidak usah Rin, ribet lama”


“Farel lepaskan dulu tali ini"


"Muat Rin, yakin deh ..."

__ADS_1


"Tau dari mana ukuran tubuhku?"


"Hadeeh ... karena aku suami. Aku juga sudah melihat setiap inci bagian tubuhmu,"bisik Farel ke kuping ini dan mengendusnya.


"Aku juga tidak punya ****** *****," bisikku pelan.


Farel mengajakku ke bagian ****** *****, ia hanya berdiri memainkan ponselnya.


Aku berpikir ia malu makanya tidak mau manatap.


Keisenganku muncul lagi, ingin mengerjai Farel biar impas.


"Pilih satu biru, apa hitam?" tanyaku padanya.


"Hitam," jawab Farel pada hal tidak melihat.


"Putih apa ungu?"


"Putih" Padahal matanya menatap ke ponselnya.


Merasa di cuekin, aku menempelkan jari telunjuk di bibirku, lalu melihat ke arah para karyawan butik. Lalu aku memakai kolor warna putih ini dari luar.


"Ini bagusan mana?"


Matanya teralihkan dari ponsel lalu menatapku dengan panik bercampur malu.


"Gila ...! Apa yang kamu lakukan?" Matanya terbelalak kaget. " Rin, kamu pikir pasar Loak bisa di cobain! Buka, buka cepat," Pinta Farel malu.


"Lagian kamu cuek, padahal kamu bilang mau menuruti semua keinginanku tadi"


"Iya gak gini juga kali Ririn, emak.aku cowok apaan diajak beli bagian ****** *****"


"Iya lelaki baik itu harus bisa menyenangkan wanitanya"


"Baiklah putih,hitam yang ini Sudah," ucap Farel cepat, lalu meminta pegawai membungkus.


Lagi-lagi aku tersenyum puas, aku menang lagi jadi impas aku mengerjai dua kali.


"Baiklah, Ayo bayar," ucapku Farel menurut dan ia lebih kalem.


Bersambung..


JANGAN LUPA LIKE DAN VOTE


KASIH BANYAK HADIAH juga AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI


Baca juga:


“Menikah Dengan Brondong”

__ADS_1


Follow ig sonat.ha dan


Fb Nata


__ADS_2