Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Haikal Adnan Taslan


__ADS_3

“ Rin, anakmu di kasih nama siapa?” tanya Dr. Santi.


Ia masih menggendong bayi merah berwajah tampan itu.


“Haikal Adnan Taslan, nama pemberian nenek suamiku”


“Nama yang sangat bagus, sesuai dengan paras wajahnya yang tampan”


Kini bayi merah itu menikmati asi pertama yang aku berikan, saat melihatnya wajahnya sangat mirip dengan Farel .


‘Hati ini bertanya-tanya, bagaimana reaksi Farel saat melihat putra tampannya, aku yakin ia sangat bahagia.


Tapi maaf , aku harus mengubur impianmu melihat putramu, saat ia lahir, semua itu aku lakukan untuk kebaikan dan keselamatan putranya kami berdua.


"Kasihan kamu Nak, tidak seharusnya kamu lahir dengan keadaan sulit seperti ini, tetapi bibi kamu wanita yang gila dan kejam," ucapku pada bayi yang masih terlihat merah itu.


*


Satu bulan setelah melahirkan, aku terpaksa mengantarnya ke panti asuhan.


Di bantu dokter Santi.


“Apa harus sejauh ini Rin, kasihan putramu,” ujar Dokter santi menatap putraku dengan tatapan Iba.


“Aku tahu Dok, itu aku lakukan demi keselamatannya, apapun yang terjadi nantinya, katakan itu putramu. Jika suatu saat ada yang mencarinya.


“Baiklah, hatiku jadi sedih sekali, kalau aku tidak banyak kerjaan , aku yang akan merawat putramu, tetapi aku yang sangat sibuk lagi banyak kerjaan, sampai-sampai tidak punya waktu untuk diri sendiri,” ucapnya mengelus wajah Haikal.


“Aku bukanlah ibu yang sejahat dan Setega yang Dokter pikirkan, aku meninggalkan putraku di panti asuhan, itu pesan eyang sebelum ia meninggal. Beliau memintaku melakukan itu, untuk melindunginya.


Aku akan tetap mengawasinya, itu aku lakukan agar ia selamat, jika waktunya nanti sudah tepat aku akan menjemputnya kembali."

__ADS_1


Aku mengantar bayi yang diberi nama Haikal Adnan Taslan ke salah satu Panti asuhan milik keluarga Dr. Santi, di disebuah desa di Bali jauh dari desa Bayu.


"Maaf sayang Ibu menitipkan mu dulu di sini, nanti aku akan menjemput dan kita tinggal bersama lagi dengan dua saudaramu, tapi tunggu ibu mengumpulkan uang untuk beli rumah untuk kita dan mencari uang untuk masa depanmu," ujarku mencium keningnya.


“Dok, aku butuh seorang perawat untuk merawat Haikal, aku akan memberi gaji yang besar untuknya, tetapi yang penting dia merawatnya di dalam Panti “


“Kenapa harus di panti kamu tinggalkan.Kalau kamu punya uang untuk merawatnya, kamu bisa membawanya jauh ke luar negeri," ucap dokter Dokter Santi


“Itu akan sulit, Dok, salah seorang dari lelaki itu, seorang polisi Intel, menemukanku hal yang mudah untuknya dan satu lagi .... Wanita yang ingin menyingkirkan ku itu seolah-olah punya banyak mata di mana-mana, sebab, kemanapun aku pergi ia akan menemukanku dan selalu ingin membunuhku.


Aku tidak ingin ia menyakiti putraku, apapun aku lakukan untuk melindunginya. Aku juga sedih Dok melakukan ini,”ucapku menciumi pipi putraku dengan perasaan sedih.


“Baiklah, mari lakukan seperti yang kamu mau.”


Dokter akhirnya mendukung. Aku merasa beruntung, walau ada orang yang jahat yang ingin menyakitiku,masih ada orang baik yang mau membantu, salah satunya dokter berwajah cantik ini.


Aku harus meninggalkan Haikal di panti asuhan, walau dada ini terasa seperti di remas, saat meninggalkannya, perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


Aku berdiri di samping panti, menarik napas pendek-pendek untuk melepaskan dengan kasar, menyakinkan diri sendiri.


‘Kamu harus kuat Rin demi ketiga anak-anakmu’ ucapku dalam hati menyingkirkan buliran kristal yang berjatuhan dari sudut mata ini.


“jangan khawatir, putramu di rawat seorang perawat yang sudah berpengalaman, aku akan terus mengawasinya,” ucapnya menatap wajahku.


Dari tadi aku bersikap tegar dan kuat, walau sebenarnya aku ingin menangis meluapkan semua kesedihan ini, aku butuh pundak seseorang untuk tempatku menangis, tetapi tidak ada.


Saat aku masuk kembali ke dalam panti, seorang yang bertanggung jawab mengurus pantai baru tiba, ia melihatku dengan senyuman kecil, mereka sudah maklum dengan hal-hal yang seperti itu, banyak wanita muda yang meninggalkan anak mereka di panti ini .


Wanita muda yang melakukan cinta satu malam dengan para turis yang datang ke Bali. Wanita penjaga pantai itu menilai ku salah satu wanita yang seperti itu, apalagi dengan wajah Haikal yang bule.


“Jangan salah menilai Bu, saya melahirkan anak dari lelaki yang menikahi ku, hanya aku tidak ingin menjelaskan secara detailnya, kenapa dan mengapa aku meninggalkannya, tetapi satu hal yang pasti, aku mau bilang … aku dan ayahnya nanti, akan membawa anak ini suatu saat nanti dari sini. Jadi, tolong jaga anakku dengan baik, ini aku berikan ibu ponsel agar aku bisa berkomunikasi dengan ibu dan putraku, aku juga memberikan uang untuk biaya anak ini setiap bulannya," ujarku merasa jengkel dengan tatapannya.

__ADS_1


Wanita itu terdiam, "Tadinya aku berpikir, kalau, ibu seperti orang-orang kebanyakan yang mengantar anak mereka ke tempat ini, lalu meninggalkannya, hanya meninggalkan sepucuk surat lalu kabur.


Lalu beberapa tahun kemudian datang mengaku ingin membawa anak itu, kadang aku berpikir apa mereka semua itu punya hati? mengurus bayi, bayi malang itu butuh biaya dan tenaga, tetapi sebagian dari mereka bahkan mengucapkan kata terimakasih pun tidak mau, kalau mereka seperti itu, biasanya aku langsung menolak anak-anak itu untuk di bawa," ucap wanita itu panjang lebar dia wanita yang di tugaskan, bertanggung jawab untuk mengurus panti.


"Aku akan mengirim uang tiap bulanya Bu, untuk membantu biaya pengelolaan panti . Tapi tolong, siapapun yang datang yang mengaku keluarga atau saudara, jangan pernah kasih tahu tentang Haikal"


"Wajah wanita itu tampak menegang mendengar ucapanku.


"Apa ada masalah, apa anak ini -”


"Hidup anak itu dan aku, dalam bahaya, aku tidak ingin menjelaskan, oleh siapa dan untuk apa, intinya hidup kami berdua dalam bahaya Bu, itulah salah satu alasanku kenapa aku tidak membawanya bersama saya”


"Apa itu dari istri pertamanya?" Wanita bertubuh gemuk itu terlalu ingin mengetahui lebih banyak tentang hidupku.


"Tidak. Tapi tolong jaga dia,” ucapku cepat.


"Baiklah Nak, kalau begitu masalahnya serahkan sama ibu.”


Haikal baby malang berusia satu bulan itu, akhirnya aku titipkan ke sebuah panti asuhan di sana, ia akan lebih aman daripada aku bawa-bawa tanpa ada tempat yang jelas.


Bersambung ....


JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA, KASIH BANYAK HADIAH, IYA KAKAK, AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI.


Jangan lupa Mampir ke cerita baruku iya kakak-kakak


"Menikah Dengan Brondong"


Kasih like dan vote juga.


Jangan lupa follow IG @sonat.ha

__ADS_1


__ADS_2