
Ketukan pintu itu semakin keras, wajahku semakin ketakutan.
Eyang memintaku bersembunyi di dalam lemari. Lalu meminta suster membuka pintu.
“Ada apa iya, Pak?” tanya suster.
“Kata pembantu di belakang, Ibu Ririn ada di sini, kami diminta Pak Farel membawa istrinya ke rumah sakit, kenapa anda berbohong,” ucap lelaki itu dengan suara tegas.
“Tidak ada Pak”
"Boleh kami cek ke dalam?"
"Eh, bapak kok maksa sih," Lelaki berpakaian rapi itu memaksa masuk,
“Kami hanya melakukan perintah, kamu jangan menghalangi,” katanya dengan suara tegas.
“Perintah siapa?” tanya si suster dengan suara bergetar.
“Itu bukan urusan kamu,” bentak lelaki itu mendorong pintu dan menerobos masuk.
Tetapi, tanpa terduga, eyang mendorong kursi rodanya keluar dan menyerang kedua lelaki itu dengan tongkatnya, karena merasa terancam si pelaku tidak sengaja mendorong kursi roda neneknya Farel, hingga tubuh tuanya terbentur ke tembok dan Kepalanya belakanngya terbentur ke ujung meja. Darah, segar membanjiri lantai, wanita tua yang malang itu terluka parah.
Melihat kengerian itu, kedua lelaki itu melarikan diri. Melihat eyang terjatuh aku keluar dari dalam lemari menghampiri.
“Eyang! Eyang! Maafkan aku … maafkan aku,” ucapku memeluk tubuhnya yang sudah terkulai lemas. “Panggilkan bantuan!”teriakku panik.
“Rin, terimakasih telah memberiku cinta,maaf aku tidak menempati janjiku untuk mengendong anakmu,” ucap Eyang, mengelus perutku, si kecil dalam perut menendang dan berputar gelisah seakan-akan ia tahu neneknya sedang sekarat. Apa yang aku takutkan tadi, akhirnya kenyataan.
“Eyang, maaf tidak mendengarkanmu tadi … maaf,” ucapku memeluk tubuhnya, cairan merah dari kepalanya, mengotori pakaianku, melihat cairan merah di tanganku dan di lantai, tubuhku gemetaran.
“Pergilah, sebelum mereka menyalahkanmu atas semua yang terjadi,” ucapnya dengan napas tersengal-sengal, bahkan akhir hayatnya, eyang masih ingin melindungiku
__ADS_1
“Jika aku lari, mereka akan menuduhku pembunuh Eyang, harus kuat eyang, kita akan ke rumah sakit” ucapku masih memeluk tubuhnya yang tidak berdaya.
“Tuduhan itu tidak akan berarti, jika kamu dan bayimu selamat, aku hanya bisa menyelamatkanmu sampai di sini Ririn.” Tangannya mengusap perutku dan berkata; “ Haikal Adnan Taslan, itu namanya, dia akan mengusap air mata kesedihanmu nanti,” ujar Eyang, lalu ia menutup mata setelah memberikan nama untuk anak yang aku kandung. Menutup mata untuk selamanya, aku masih belum percaya semua begitu cepat terjadi …. Ini seperti mimpi bagiku, tadi pagi eyang masih bercanda denganku. Tetapi, kini wanita malang itu, sudah tidak bergerak lagi. Aku masih terus mengusap wajahnya, mataku terasa gelap mulut ini bagai di sumpal dengan batu, tidak mampu berucap sepatah katapun.
‘Eyang …! Ya Allah, Inalillahi wa inna ilaihi raji’un,” ujar suster dengan tangisan membuatku tersadar, Kalau wanita yang memberikan aku banyak cinta dan kasih sayang itu, telah berpulang ke pangkuan Sang Pencipta.
“Eyaaang! Eyaaang!”Tangisku pecah, memeluk tubuhnya, hati ini terasa sangat sakit, bagai ribuan jarum menusuk ulu hati ini. Begini rasanya di tinggal mati orang yang kita sayangi sesak dan masih seperti mimpi “Surga menantimu Eyang” bisikku pelan,
“Non, pergilah dari sini,” ujar suster.
“Fareeel Tolong aku, kamu di mana saat aku membutuhkanmu,” ucapku gemetaran.
Virto datang lagi degan telapak tangan berlumuran darah, entah apa yang terjadi dengannya dan Marisa.
"Ririn, ayo kita pergi dari sini, nyawa kamu tidak akan aman, selama kamu di rumah ini, percaya padaku," ujar dengan tatapan semakin panik saat melihat eyang terbujur kaku.
"Mas ….! Eyang,” ucapku gemetaran dan aku masih memangku kepala eyang terluka. “Bagaimana Abi melihat ini nanti,” ujarku semakin sedih, aku tahu ayah mertuaku pasti sangat terpukul, melihat ibunya yang tua renta meninggal karena ulah putrinya. Ia meninggal demi melindungi. “Oh … Eyang.”
“OH astaga Eyang … Inalillahi wa inna ilaihi raji’un’ maafkan kami Eyang,” ucap Virto. Membantu meletakkan tubuh eyang di lantai.
“Biarkan aku menelepon Farel,” ujarku masih berharap ia menolongku saat itu.
“Tidak ada waktu, kamu harus keluar dulu dari sini, nanti kita akan menghubunginya,” ujar virto dengan sikap memaksa.
“Tapi-”
“Kamu kelamaan Rin, kamu mau pilih mati atau membiarkan aku menyelamatkanmu.” Virto, menarik tanganku, keluar dari pintu dapur eyang, mengendap-endap menuju gudang di lantai bawah tanah. Virto membongkar pakaian lama yang tersimpan dalam kardus, meminta berganti pakaian karena seluruh pakaianku berlumuran darah, mata ini masih terus saja meneteskan air, bayangan eyang terluka dan meninggal membuat dada ini terasa sangat sakit.
‘Bagaimana Abi melihat itu nanti, aku berharap dia tidak menyalahkan ku atas kematian Eyang’ aku membatin.
Duduk mematung, menunggu sekitar lima menit. Lelaki bertubuh tinggi tegap dan berambut cepak itu mondar mandir mengawasi keadaan di luar, setelah merasa aman. Lalu Virto mendorong lemari besi yang menempel di dinding dan terlihat, sebuah dinding yang di lubangi tembus menuju ke kali saluran pembuangan. Pak polisi ini sengaja melubangi dinding untuk jalan keluar
__ADS_1
“Kita kemana?”
“Kita akan mengambil jalan pintas, hati-hati jalannya licin karena ini kali saluran pembuangan,” ucap Virto menuntun tanganku membawaku keluar dari lubang, saat kami berhasil keluar ia menutup lubang itu kembali dengan menarik pakai kain yang sudah di ikat ke lemari, akhirnya tertutup kembali.
“Apa kita akan meninggalkan rumah?”
“Rin, apa kamu ingin kembali ke sana? Di sana ada bahaya yang mengintai”
‘Bagaimana dengan suamiku? Bagaimana dengan Farel, ia akan terluka lagi, Eyaaang maafkan aku’ jeritku dalam hati air mata menganak sungai melintasi pipi ini lagi, menyadari Eyang pergi dengan cara tragis membuatku merasa sangat sedih, melihat semua yang terjadi hari ini, aku sempat berpikir kalau aku akan pingsan, kalau tidak, aku akan mengalami kontraksi. Ternyata ia anak yang baik, ia tidak rewel saat aku dalam keadaan panik.
Aku masih berjalan menyusuri kali bersama Virto, hingga tembus ke sebuah taman kota dan lapangan kosong, di sebrang rumah Farel.
“Kita akan kemana Mas?” tanyaku saat Virto mengeluarkan ponsel miliknya.
“Kita akan cari tempat untuk persembunyian untuk kamu”
“Kalau begitu pinjamkan aku ponselmu, aku akan menelepon Farel”
“Rin, apa yang ingin kamu katakan padanya? Memintanya membawamu kembali ke rumah itu? Ngapain aku susah-susah membawa kamu dari sana, kalau tetap kamu akan kembali ke sana”
“Tapi dia suamiku saat ini Mas”
“Iya aku tahu, dia memang suamimu, ayah dari bayimu, tetapi apa kamu pikir dia bisa menyelamatkanmu?”
“Tentu, aku percaya pada Farel," ucapku dengan yakin. Aku tidak ingin bersama Virto, aku tidak ingin melakukan kesalahan lagi, aku hanya butuh Farel saat ini.
Bersambung ....
Jangan lupa like dan vote iya.Tetap dukung iya, biar tambah semangat authornya.
Mampir juga ke ceritaku yang lain.
__ADS_1
"Menikah Dengan Brondong"
Di jamin seru ceritanya.