Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Anak itu butuh ayah, ayo kita menikah


__ADS_3

Saat pagi tiba , aku membuka mata karena udara dingin menyapu wajah ini, ternyata Farel membuka jendela kamar, ia baru selesai mandi, wajahnya tampak segar, rambut basah itu jatuh ke kening, menutupi sebagian keningnya, satu tangan dimasukkan ke dalam kantong celana dan satu tangan lagi ia gunakan memegang gelas kopi, menatap ke arah jendela.


Siapapun yang melihatnya, tidak akan bisa menolak segala pesonanya dan ketampanannya. Tetapi tidak untukku, sebesar apapun ia berusaha, hatiku belum bisa terbuka untuknya. Karena aku merasa, Farel memiliki banyak rahasia.


Aku menghembuskan napas panjang dengan menutup mata, ini hari keduaku di rumah sakit, baru dua hari rasanya sangat jenuh, aku hanya bisa berbaring di ranjang rumah sakit sepanjang hari, untuk pemulihan.


“Kamu sudah bangun ternyata, mau serapan apa?” Farel mendekat.


“Boleh milih, memang?”


“Iya, aku sudah memesan koki untuk memasak untukmu”


“Boleh pesan soto gak?”


“Baik, tapi soto bening saja iya, jangan yang pakai santan, tidak bagus untuk lambung kamu”


“Iya, baiklah, tapi apa aku sudah boleh mandi, rambutku gatal,” kataku menggaruk kepala.


“Baiklah aku akan memandikan mu”


“ Tidak usah, aku akan mandi sendiri saja”


“Gak usah bantah, aku sudah bilang aku akan merawat kalian berdua”


“Tapi bukan untuk mandi juga kali, aku ingin mandi sama suster saja.”


“Aku yang tahu bagaimana melakukannya, agar perut kamu, tidak banyak gerakan.


Aku merasa sangat malu jika yang melakukanya dia, tetapi aku tidak diberi pilihan, karena Farel yang merawatku sendiri.


Bahkan kamar yang yang kami tempati saat ini, sudah mirip seperti kamar hotel, kamar VIP tipe A yang menyediakan semua fasilitas layaknya kamar hotel bintang , Farel ingin aku dia merasa nyaman saat di rumah sakit.


Farel membantu turun dari ranjang dan mengangkat tubuh ini ke kamar mandi, bahkan kamar mandi itupun sudah disulap seperti salon yang di lengkapi dengan sofa untuk mencuci rambut.


“Duduklah, aku akan mencuci rambutmu”


“Bagaimana kalau Bapak meminta seorang suster untuk melakukanya, karena aku merasa tidak nyaman saat Bapak yang mencuci rambutku’


“Kenapa? kamu masih malu denganku? Jangan khawatir, aku sudah bilang padamu, aku sudah melihat semuanya dan melihat bentuk dan bahkan kamu sudah mengandung anakku’ kan? Untuk apa malu lagi?”


“Tetap saja Pak, tidak masalah jika aku sudah istrimu, bila aku istrimu, jika aku tidak suka, kamu bisa melakukannya, karena kamu berhak. Namun, saat ini, aku merasa tidak nyaman”

__ADS_1


“Sudah ngomongnya, naiklah”


‘Percuma juga protes didengar juga tidak’


Aku duduk di kursi dan Farel mencuci rambutku yang panjang, sesekali tangannya memijit kulit kepala, membuatku sangat nyaman, hal itu membuatku bertanya. ‘Selain dokter, apa ia juga bekerja di salon?’ soalnya tangannya sangat terampil saat mencuci rambutku.


“Sudah, sekarang buka bajumu,” pintanya lagi.


“Ha, untuk apa?”


“Biar tubuh kamu dilap sekalian”


“Tidak usah, aku bisa melakukannya”


“Tidak usah membantah, aku sudah bilang kalau aku sudah melihat, bentuk dan ukuranya aku sudah tahu semuanya …. Jadi tidak perlu merasa malu lagi, ini aku lakukan agar kamu merasa nyaman saat tidur’


Hilang sudah semua harga diriku di hadapan Farel yang tersisa hanya rasa malu.


“Biar aku yang melakukannya, kalau melakukan itu, aku masih bisa”


“Baiklah” Farel mengalah, tetapi ia masih tetap berdiri di sana.


“Jangan berdiri di sana, keluarlah, kalau sudah selesai aku memanggil Bapak, wajahnya tampak sinis dan dingin, setiap kali aku memanggilnya bapak dan setiap kali aku bersikap sungkan dengannya.


“Baiklah,” jawabnya dengan wajah datar.


Tiga hari lamanya aku mendapat perawatan di rumah sakit selama tiga hari itu juga, Farel yang merawat ku dengan baik, walau aku masih belum bisa menerima perhatiannya sepenuhnya. Hari ini kami memutuskan untuk pulang.


**


"Aku meminta untuk tinggal di rumahku, agar aku bisa mengawasi mu,” ucap Farel saat kami di dalam mobilnya untuk pulang.


"Sebenarnya aku tidak membutuhkan hal yang seperti itu, aku sudah terbiasa hidup sendiri.


” Aku belum siap secara mental tinggal satu atap dengan Bapak, ada banyak pertimbangan dan rasa takut di hati ini.”


"Bukan untuk kamu, tetapi untuk anakku ,aku akan menjaganya, tidak akan kubiarkan kamu menyakitinya lagi, seperti saat itu”


"Bagaimana mungkin kita tinggal satu rumah tanpa pernikahan," ujar ku protes.


"Sudah, tidak usah sok suci, kamu dengan Virto hidup bertahun-tahun juga tanpa ada ikatan, kan, apa aku salah?"

__ADS_1


Lagi-lagi aku di ingatkan tentang siapa diri ini,


"Bisa kamu tidak mengungkit masa laluku lagi ….! itulah satu alasanku juga kenapa aku selalu menjauh darimu, karena kamu selalu mengingatkanku tentang masa lalu yang buruk itu."


“Kamu membuatku marah, apapun yang aku lakukan padamu, kamu selalu menolaknya”


"Sampai kapan kamu akan mengingatkanku siapa diriku, apa kamu tidak akan membiarkanku melupakan masa laluku?"kataku dengan marah.


Farel menghela napas panjang, lalu ia menghentikan mobilnya dan ia menatapku dengan tatapan bersalah.


"Aku meminta maaf aku terbawa emosi?"


"Bersamamu seperti ini, terkadang membuatku membenci diriku sendiri, kamu memaksaku untuk mengingat semuanya.


"Aku tidak akan melakukannya aku janji, bisa kita pulang sekarang?” Farel menatapku.


"Sebenarnya, kalau bisa jujur, aku tidak pernah sekalipun ingin menikah denganmu, aku tidak ingin menjadi bagian dari keluargamu, aku sebenarnya bisa menjaga sendiri anak yang aku kandung ini, coba kamu pikirkan lagi rencana kamu untuk menikah denganku.


"Kamu tidak punya pilihan lain, selain menikah denganku, itu sudah jadi pilihanmu, jadi menurut saja dan bersamaku,” ucapnya tegas.


"Tujuanmu dulu mendekatiku, ingin membalas dendam, bahkan saat ini aku masih menyimpan dendam pada Irene dan mami., karena menjebak ku. Bukankah tujuanmu untuk menyingkirkan dan menjauhkan dari keluarga kakakmu, semua itu sudah berhasil, bisa kita ubah lagi tujuan kita, maksudku kita jangan menikah.” Aku memintanya mempertimbangkannya lagi.


“Tidak, kamu harus tetap tinggal di rumahku dan menikah denganku”


“Pak Farel apa kamu mau memperkenalkanku pada keluarga, sebelum kita menikah? Pada ayahmu dan kakak perempuanmu Marisa?”


Farel diam wajahnya tampak tegang mendengar permintaanku.


‘Tuhanku, aku harus bagaimana? Jalan mana yang harus aku tempuh, haruskah aku bersikap pasrah menerima semuanya sesuai kemauannya?’ tanyaku dalam hati.


“Kamu dan anakku, hanya membutuhkanku tidak perlu keluargaku”


“Itu artinya kita menikah tanpa diketahui keluargamu?”


“Anak itu butuh ayah sebelum lahir, makanya kita harus menikah”


Mendengar itu hati ini bagai di tusuk ribuan jarum.


‘Sebenarnya apa yang kamu rencanakan padaku Farel? Apa setelah aku melahirkan anak ini, kamu mengambilnya, lalu kamu melenyapkan ku?’ hatiku terasa sangat sakit memikirkannya.


Bersambung ….

__ADS_1


Bagaimana dengan bab ini Kakak? Kasih dong komentar kalian … Mana tahu dari setiap komentar yang masuk, saya dapat ilham dan punya ide untuk menulis bab selanjutnya.


JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA, KASIH BANYAK HADIAH JUGA BOLEH.


__ADS_2