Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Sampai Kapan dia mengejarku?


__ADS_3

Saat membantu persalinan menantu bapak. Farel juga memeriksa istri si bapak, ibu juga sakit, tetapi karena masih percaya dukun membuat penyakitnya tidak kunjung sembuh.


"Ibu sakit mag kronis Pak, bukan di guna-gunai orang, apalagi Di santet, bawa ke dokter saja, berikan ini ke dokternya, ia akan mengerti"


Si bapak masih berpikiran kuno, istrinya sakit di pikir di gunai-gunai, tetapi setelah Farel menjelaskan dan memberi pemahaman bapak itu mengerti dan mau membawa istrinya ke dokter.


"Terimakasih Dok, berkat dokter ibu saya dan istri saya dapat penanganan yang baik dan ibu bisa dirawat, selama ini bapak maunya diobati dengan obat kampung, kami semua anak-anaknya sudah membujuk bapak, agar ibu dibawa ke dokter tetapi tidak mau,” ujar putra sulung si bapak.


"Apa semua orang di sini masih percaya dukun?"


"Iya Dok ini desa kecil, tidak ada rumah sakit dan tidak ada bidan yang ada dukun beranak untuk melahirkan dan dukun sakti untuk mengobati penyakit,” ucapnya menuturkan,


“Kami berada sangat jauh dari kota,"lanjut lagi.


“Selamat untuk kelahiran putrinya, iya,”


ujar ku memberi ucapan selamat pada lelaki yang terlihat masih muda itu. Melihat lelaki itu mengingatkanku dengan Dimas mantan suamiku. Saat kami menikah dulu umurnya juga hampir sama dengannya dan umurku masih tujuh belas tahun kami menikah karena aku hamil di luar nikah. Tetapi, saat aku menyandang status janda, aku juga mengalami hal yang sama, hamil di luar nikah, saat ini.


‘Ah, jalan hidupku memang berliku, aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan hidupku nantinya’


“Aku berharap teteh juga melahirkan anak yang tampan seperti ayahnya kalau laki-laki dan cantik seperti ibunya kalau perempuan,”Ia menatap Farel dengan wajah sumringah, wajahnya tampak sangat gembira, saat putri cantiknya lahir ke dunia. Farel hanya membalasnya dengan senyuman kecil juga.


Malam semakin larut, rumah si bapak sempit tidak akan bisa menampung kami semua, bapak tinggal bersama dengan menantu dan anak-anaknya. Jadi tidak akan ada ruang yang akan tersisa untuk aku dan Farel, jadi kami memutuskan akan mencari penginapan terdekat.


"Apa daerah sini ada penginapan?" tanyaku penasaran.


"Ada Teh di bawah arah kota, lumayan jauh mah dari sini, tetapi ada yang dekat, tapi hotel esek-esek"


"Tidak apa-apa yang penting bisa istirahat, kalau itu mah ada di atas lagi, kalau mau, mari saya antar,” ujar lelaki berkulit hitam itu dengan semangat.


Anak bapak itu mengantar kami ke hotel kecil di ujung di desa. Tetapi sebelum aku turun di memberikan aku bag hitam isinya pakaian istrinya dan sarung untuk pakaian ganti untukku dan satu botol minuman keras tradisional yang mereka biasa minum saat cuaca sedang dingin.

__ADS_1


Karena saat tiba di rumah si bapak siang tadi, aku tidak berhenti menggaruk karena rumput yang kami duduki dalam mobil membuat seluruh badan ini gatal, aku ingin sekali mengguyur tubuh ini dengan air dingin.


"Terimakasih, tetapi ini apa?” Tanyaku saat kami turun dari mobil


"Ibu memintaku memasukkan pakaian istriku untu dipakai untuk baju ganti. Hati-hati iya teh dan terimakasih, dalam tas itu aku memasukkan obat gosok dan satu botol minuman untuk menghangatkan tubuh untuk Pak Dokter”


"Oh, makasih"


“Aku yang harus berterimakasih Teh, berkat kalian mampir ke rumah kami, istriku dan ibu dapat selamat, kalau Pak Dokter itu tidak menolong istriku, aku tidak tahu apa yang akan terjadi,” ucapnya dengan tulus.


Saat kami mengobrol Farel sudah jalan ke dalam penginapan, untuk membooking satu kamar.


Setelah pamitan pada Farel, ia pulang meninggalkan aku dan Farel di halaman penginapan.


*


"Untung dompetku masih ada, tidak diambil para bajingan itu',”ujar Farel, memulai pembicaraan.


“Kamar tersisa hanya satu, untuk kita malam ini, kita akan tidur satu kamar.” Farel menatapku, membawa ke salah satu kamar penginapan


Aku merasa lelah dan sangat mengantuk. Aku melalui jalan hidup yang sangat sulit dari kemarin malam, diculik di sekap dan terdampar di hutan yang penuh lintah dan masuk ke desa, membantu anak si bapak bersalin, semua berjalan begitu saja tanpa rencana dan kini, berada di sebuah penginapan bersama Farel, entah apa yang akan akan aku alami lagi malam ini, aku tidak tahu biarlah semua menjadi takdir Sang Pencipta, aku hanya lelah, ingin beristirahat walau hanya sebentar.


“Baiklah,”kataku lemah.


“Apa kamu sudah mengantuk, apa kamu lapar? Aku akan membelikannya untukmu di depan ada yang jual nasi goreng,” ujar Farel.


“Tidak usah Pak Farel, aku hanya lelah saja, ingin istirahat,” kataku mengurut leher bagian belakang.


“Apa badanmu sakit? Aku bisa mengurut.” Lagi-lagi Farel menawarkan jasanya.


‘Hadeeeh ini orang bisa diam tidak sih … aku semakin merasa lelah mendengar dia bicara’ aku membatin.

__ADS_1


“Tidak usah. Aku mandi dulu, tadi anak bapak itu membawa pakaian istrinya untuk aku pakai aku sangat gatal karena rumput tadi siang.”


Aku masuk kamar mandi.


Saat keluar dari kamar mandi Farel menatapku dengan alis menyengit, karena pakaian ganti yang diberikan lelaki itu hanya daster berlengan pendek memperlihatkan pundak dan sebagian dada ditambah lagi perutku seperti balon ditiup, aku terlihat seperti, emak-emak komplek.


Farel mencuri-curi pandang padaku, tetapi aku cuek akan hal itu. Farel mengisi daya ponselnya dan saat berhasil dinyalakan mata bermanik coklat itu, menatap dengan serius benda pipih berwarna hitam tersebut, sesekali ia mengusap layarnya ke atas.


Sementara aku sibuk membaluri tangan dan kaki, dengan minyak gosok yang di berikan anak si bapak tadi. Farel sibuk dengan ponselnya dan aku sibuk dengan minyak gosok di tanganku.


Mata ini sudah tidak bisa diajak kerja sama lagi, sekuat apapun usahaku menahan rasa kantuk. Namun, tidak berhasil.


“Aku tidur duluan, aku sangat mengantuk.” Meminta izin pada Farel.


“Iya, kamu duluan saja nanti aku akan menyusul”


Farel membawa ponselnya keluar dari kamar, karena ada panggilan telepon, mendengar ia menyebut’ Iya kakak’ membuatku tiba-tiba merinding. Rasa ketakutan ku muncul lagi.


Tiba-tiba jantung ini berdetak sangat keras, bahkan mengalahkan rasa kantukku.


“Apa yang mereka rencanakan lagi? Aku lelah Ya Allah, sampai kapan wanita itu mengejar ku”


Aku mengikuti Farel diam-diam keluar, ia berjalan agak jauh dari kamar. Namun, dari ekspresi wajahnya aku bisa melihat mereka membicarakan hal yang serius.


‘Apa yang ia katakan pada kakaknya, apa yang mereka rencanakan?’ otakku jadi sakit memikirkannya.


Aku merasa nyawaku dalam bahaya saat Farel menelepon kakaknya, aku harus kabur dari Farel lagi, sebelum perempuan galak itu datang membawa preman lagi.


Bersambung.


MOHON DUKUNGANNYA IYA KAKAK AGAR CERITANYA NAIK LEVEL

__ADS_1


Jangan lupa kasih Vote, like, share kasih review, kasih hadiah …. Agar cerita ini bisa naik level. Terimakasih Kakak. Kalau bisa naik level kita akan update tiga sampai empat bab perhari. Terimakasih salam sehat untuk kita semua.


Jangan lupa follow IG @sonat.ha


__ADS_2