Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Apa kamu menangis karena dia?


__ADS_3

“Apa perduli ku, apa dia perduli saat aku memintanya menjauhi mu?” Farel menatapku dengan sinis.


‘Tetapi aku peduli, karena aku masih memiliki hati, bukan seperti kamu, manusia tidak punya hati dan perasaan’ aku membatin.


“Pak Farel, aku sudah bilang aku yang salah”


“Berhenti membelanya Ririn, apa perlu aku membunuhnya sekalian?Aku tidak suka siapapun yang menghalangi jalanku dan aku akan menyingkirkan semua orang yang mencoba menghalangi jalanku” ucap Farel marah.


Mendengar semua itu, aku merasa geram padanya. Aku keluar dari kamar, setelah berpakaian dan meninggalkan Farel masih duduk santai di kamar.


“Kamu mau ke mana?” tanya Farel, aku Menghiraukannya.


Hatiku tiba-tiba sangat sedih, mengingat Bayu, kemarin ia bilang ingin membawa ibunya yang sudah tua ke dokter, untuk mendapat perawatan, karena kakinya sakit.


‘Iya ampun bagaimana ia menjaga putrinya dan bagaimana ia membawa ibunya yang sakit, jika ia harus dipecat, Bayu satu-satunya tumpuan keluarganya, jika ia tidak bekerja bagaimana ia memberi makan ibu dan putrinya?’ aku bertanya dalam hati.


Aku mencarinya di area hotel, tetapi tidak ada.


“Apa kamu melihat, Pak Bayu?” tanyaku pada seorang pegawai hotel yang berpapasan denganku.


“OH, saya tadi melihatnya sedang berdiri di tepi pantai, di depan hotel, Bu”


“Ok, makasi, iya”


Berjalan dengan sikap buru-buru, mencari Bayu.


‘Bayu pasti sudah tahu, kalau ia akan dipecat, ia pasti sangat sedih dan memilih menyendiri’ ucapku dalam hati.


Aku berjalan ke bagian depan hotel, berjalan menyusuri tepi pantai, kira-kira dua ratus meter dari hotel, aku melihat Bayu berdiri menyendiri menatap jauh kearah lautan. Melihatnya seperti itu hati ini, sangat sedih.


‘Iya ampun, kenapa hatiku merasa sangat bersalah melihatnya seperti itu, itu semua karena aku’


Aku berjalan menghampiri. ”Rin, ada apa?”


Melihat wajahnya yang sendu seakan-akan ia sedang memikul beban berat, membuatku sangat sedih. “Pak Bayu saya meminta maaf,” ujar ku terisak-isak dengan tubuh bergetar.


Biasanya aku tidak pernah menangis untuk hal apapun. Tetapi melihat Bayu, aku merasa sangat sedih sampai-sampai tidak bisa membendung air mataku.

__ADS_1


“Rin, tidak apa-apa bukan salah kamu”


“Pak Bayu, ini salahku harusnya aku tidak melibatkan mu dalam masalahku, aku menghancurkan hidupmu, maafkan aku pak Bayu,” kataku semakin menangis.


“Rin, jangan menangis, kamu wanita yang kuat, tidak pernah menangis untuk masalah apapun, aku tahu itu, tolong jangan menangis,” ujar Bayu, menenangkan ku. Aku menangis meluapkan semua perasaan yang aku tahan sejak kemarin.


“Pak, bagaimana kamu membawa ibu ke rumah sakit, kalau kamu dipecat, bagaimana kamu membiayai keluargamu. Oh Tuhan maafkan aku …” Aku semakin menangis di hadapan Bayu, ikut merasakan, rasa sakit yang di alami bapak satu anak itu, aku tahu bagaimana sakitnya perasaan lelaki itu.


Aku menundukkan kepalaku di hadapannya, aku bahkan rela berlutut di hadapan Bayu sebagai rasa penyesalanku atas apa yang dialaminya.


“Rin, apa yang kamu lakukan? Jangan seperti itu” Bayu ikut menundukkan tubuhnya yang tinggi, mengimbangi tubuhku, ia menundukkan kepalanya di depanku, kedua tangannya memegang pundak ini.


“Maafkan aku Pak Bayu, aku tidak tahu akan seperti ini jadinya, bagaimana kamu membawa ibu yang sakit ke rumah sakit, bagaimana kamu merawat putrimu,” ucapku semakin menangis.


“Tidak apa-apa, selagi Allah masih memberi kesehatan, saya yakin, pasti ada jalan,” ujar Bayu membawa pundak ku untuk berdiri tegak.


“Aku berjanji, aku akan membalaskan sakit hati kita, pada keluarga kaya itu, aku membuat mereka merasakan rasa sakit seperti yang kita alami,” ujar ku masih dengan tangisan.


“Tidak Rin, kamu tidak boleh melakukan itu. Dia melakukan itu karena ia mencintaimu”


“Anda salah Pak Bayu dia hany-”


Kalimatku terpotong, karena tiba-tiba ada suara dari belakang kami, Farel berdiri dengan santai kedua tangan melipat di dada.


“Rin, tidak apa-apa, semua pasti akan baik-baik saja, aku pergi dulu,” ucap Bayu, sepertinya, ia takut pada Farel. Lelaki itu meninggalkanku dengan Farel berdiri di tepi pantai.


Aku masih berdiri menatap lautan luas dan menikmati angin sejuk, ombak menari indah ke sana-kemari, seakan-akan menertawakan penderitaan yang aku alami.


Aku menghapus sisa air di ujung mataku , aku tidak ingin menangis di hadapan Farel.


*


“Bapak ingin pernikahan, kan? Baiklah ayo kita menikah,” kataku membuka mulut.


Farel menatapku dengan tatapan sinis.”Apa ini karena lelaki kurus itu?”


“Tetapi sebagi gantinya, biarkan Bayu tetap bekerja”

__ADS_1


“Apaaa? Kamu melakukan itu demi dia?”


Wajah Farel tampak menegang, tangan dikepal kuat urat-urat rahangnya saling bertarikan.


“Pak Farel aku tidak ingin orang lain menderita karena aku”


“Oooh …. Mulia sekali hatimu, Ibu Ririn! Lalu bagaimana denganku …? Kamu membuatku patah hati, apa kamu tidak menganggap ku manusia juga?”


“Pak Farel, Mas Bayu itu tulang punggung keluarganya”


“Aku tidak perduli”


“Iya! orang kaya seperti tidak akan tahu bagaimana sakitnya, jika kamu ingin makan tapi kamu tidak punya uang, saat ada orang yang kamu sayangi sakit, tetapi kamu tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak punya uang, kamu tidak pernah mengalami itu,” kataku marah.


“Apa kamu mau bilang, kamu melakukan semua ini demi dia?”


“Iya!” Kataku tegas.


“Kenapa?”


“Karena aku merasakan apa yang dirasakan Bayu, kamu tidak akan tahu bagaimana sakitnya hati orang tua saat anaknya meminta jajan tetapi kamu tidak bisa memberikannya karena tidak punya uang, Kamu tidak tahu bagaimana sakitnya melihat anak-anak yang lain jajan, tetapi anak-anakmu hanya menonton karena ibu mereka tidak punya uang, kamu tidak pernah tahu itu, karena kamu lahir memegang sendok mas di tanganmu. Tetapi aku merasakannya Pak Farel …. Saat aku bercerai dengan suamiku dan aku tidak bekerja saat itu, aku merasakan semua itu.


Aku merasakan sakit itu …. Aku memukuli putri kecilku, saat ia meminta boneka barby seharga sepuluh ribu, ia ingin sama seperti tetanggaku dan aku mengurung putraku saat ia meminta semangkok bakso. Karena aku tidak punya uang. Aku tidak ingin Bayu pengangguran dan merasakan apa yang aku rasakan juga,” kata dengan tangisan.


“Aku tidak pernah melihatmu menangis. Apa kamu menangis karena lelaki itu”


“Aku tidak menangis karenanya, tetapi aku menangis karena takdirku. Kamu selalu menganggap ku rendah, hanya karena aku melakukan kesalahan. Tetapi kamu tidak pernah tahu, kenapa aku melakukan itu. Kamu hanya perduli dengan gelar Pelakor yang menempel pada diriku,” kataku menangis.


“Baiklah, kalau kamu ingin pernikahan mari kita lakukan, aku tidak perduli apapun yang kamu rencanakan padaku. Tetapi tolong lepaskan Mas Bayu, biarkan ia bekerja kembali”


“Jangan lakukan itu padaku Ririn, aku sangat marah, saat melihatmu menangis karena pria lain. Aku membenci hal itu,” ujar Farel meninggalkanku.


Tembok pertahanan ku akhirnya runtuh juga, aku menangis di depan Farel, aku menyerah, aku setuju menikah dengannya, aku tidak perduli apapun yang akan terjadi nantinya.


Bersambung …


JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA

__ADS_1


share kasih review, kasih hadiah juga boleh …. Agar cerita ini bisa naik level. Terimakasih Kakak. Kalau bisa naik level kita akan update tiga sampai empat bab perhari. Terimakasih salam sehat untuk kita semua.


Jangan lupa follow IG @sonat.ha


__ADS_2