
"Apa kamu ingin melarikan diri lagi?”
“Tidak, aku hanya ingin ke kamar mandi.”
Suara jantungku semakin bergemuruh bagai gendang di palu saat mendengar suara bariton dari lelaki yang memakai setelan baju santai itu, celana pendek di padukan dengan kaos t-shirt, aku meremas ujung jari ini untuk menahan rasa gugup, saat aku membalikkan tubuh ini menatap wajahnya.
Tatapan mata itu lagi-lagi ingin membuatku ingin cepat menghilang dari hadapan ya. Bagaimana tidak? tatapan mata bermanik coklat itu, seolah-olah menyelidiki tubuh ini, menatap diriku dari ujung kaki sampai ujung rambut.
“Apa kabar?”
"Baik Pak," jawabku berusaha sangat keras agar suaraku stabil tidak bergetar.
"Kamu sangat cantik," ujarnya menatapku dari bawah sampai atas lagi, tubuh ini nyaris tumbang saat ia melakukan hal itu, aku semakin kuat meremas ujung jari tanganku untuk menahan diri.
Aku hanya membalasnya dengan senyuman kecil.
"Aku tidak pernah menduga kalau kita akan bertemu di sini, apa kamu bekerja di sini?" ujar Farel, tetapi antara mata dan bibir terlihat sangat berbeda.
Aku menduga ini bukan karena kebetulan, Farel pasti sudah tahu tentang keadaanku dan keberadaan ku di sini, aku bisa melihat tatapan matanya.
‘Iya ampun apa ia datang ingin menghukum ku?’ aku bertanya dalam hati.
"Iya," jawabku singkat , seandainya aku punya kekuatan Magic aku akan menghilang dari hadapan pria itu detik itu juga, kalau tidak , aku akan mengubah lelaki itu jadi semut, agar aku bisa menginjak dan membuatnya menghilang.
"Bagaimana apa kamu sudah meni-"
"Aku masuk Pak, masih banyak pekerjaan yang ingin aku kerjakan," kataku ingin meninggalkan Farel.
"Kamu memang tidak akan pernah berubah lagi, melarikan diri dari masalah memang kebiasaan mu?”
Farel ingin mendekat, saat ia berjalan selangkah, aku mundur selangkah juga.
Aku diam, bibirku seakan di lem bahkan aku merasakan keringat sudah membasahi pakaian seragam yang aku kenakan, bertemu dengan Farel saat ini, membuat hatiku bertanya-tanya. ‘Dari mana dia tahu aku ada di sini? Untuk apa dia datang? Ah … nyawaku dalam bahaya saat ini’
"Apa yang kamu lakukan di sini?” Aku balik bertanya
"Karena kamu tidak pernah memberiku kesempatan untuk bicara Ririn! Walau aku saat itu aku memohon pun , kamu tidak akan mendengarkan ku.
Aku baru kali ini melihat wanita keras kepala sepertimu, tapi tenang … kamu tidak lebih batu dari aku”ucap Farel dengan rahang mengeras tatapan matanya penuh dendam.
__ADS_1
Ia ingin melangkah maju lagi, aku juga mundur.
“Berhenti di situ …!”
‘Ogah, aku tidak bakalan tunduk pada lelaki sepertimu’ ucapku dalam hati.
"Ini masih jam kerjaku Pak Farel, nanti kalau jam kerjaku sudah selesai, jika bapak berpikir masih ada yang akan dibahas tentang kita, aku akan meluangkan waktu pulang kerja,"
kataku berusaha keras berucap dengan tenang.
"Apaaa? kamu berpikir tidak ada lagi yang perlu kita bahas?" ucapnya dengan langkah mendekat.
Aku mundur dengan tubuh hampir tumbang Pertanahan mulai goyah.
"Nanti kita akan bicara lagi Pak," ujar ku berbalik badan ingin meninggalkannya.
"Kamu pikir kamu ingin melarikan diri kemana lagi?."
Tangannya dengan cepat menangkap lenganku lengan kasar.
'Oh Tuhan, mimpi buruk apa lagi ini, jangan di sini aku mohon, Ini tempat kerjaku, ini tempat satu-satunya harapanku untuk bisa menata kehidupanku' aku memohon dalam hati.
"Pak Farel, tolong nanti kita akan bicara lagi, tolong ... aku sudah ada kekasih," ujar ku terpaksa berbohong agar ia melepaskan ku.
"Aku tidak perduli walau kamu sudah menikah" ujarnya dengan nada tegas dan marah.
Lalu dengan kasar menyeret ku pergi, berjalan melewati saung di mana wanita yang bersamanya menatap kami dengan tatapan bingung, semua orang di penginapan bahkan melihat apa yang di lakukan Farel, ia menyeret ku hingga ke tepi pantai.
"Apa yang kamu lakukan? lepaskan! emang kamu siapa? Kamu menyakitiku!” teriakku dengan marah, tubuhku gemetaran, aku merasakan sakit di bagian perut. Aku memeluk perut ini dengan satu tangan.
Mendengar aku bicara seperti itu, ia melepaskan tanganku dan ia berhenti. Menatapku dengan tatapan bringas.
"Aku bukan siapa-siapa kamu, tapi aku ayah dari anak yang kamu bunuh!"
"Pak Farel, tolong jangan membahas itu lagi, itu masa lalu, mari kita menjalani hidup kita masing-masing dan lupakan masa lalu."
"Apa!? kamu menyuruhku melupakan darah daging ku yang kamu bunuh dan tidak memberinya kesempatan melihat dunia ini?"
"Aku tidak ingin membahasnya lagi, tolong."
__ADS_1
Aku hendak meninggalkannya. Demi apapun aku tidak ingin membahas hal itu dengannya.
"Apa kamu se- egois itu dan sekejam itu?"
"Apa yang ingin bapak dengarkan lagi dariku? aku pikir tidak ada apa apa lagi antara bapak denganku, aku sudah melakukan apa yang bapak suruh, aku sudah menjauhi suami dari kakakmu, aku juga sudah menjauh. Lalu sekarang apa yang bapak tuntut lagi dariku?"
"Penjelasan tentang darah daging ku yang kamu singkirkan, aku sudah memohon padamu untuk tidak melakukannya, tetapi kenapa kamu tega …!?”
“Berhenti membahas itu lagi …! saat ini, aku tidak ada hubungan dengan bapak lagi. Mari saling melupakan, itu akan lebih baik dan semua kembali pada tempatnya. Kamu sudah memilki kekasih dan aku juga. Bukankah ini yang kamu inginkan agar aku menghilang dari rumah tangga kakakmu?
Aku sudah melakukannya! Jadi urusan kita selesai, kan!”
Wajah Farel semakin murka saat aku meneriakinya lagi, ia mengepal tangannya dengan kuat.
"Dia manusia Ririn, bukan binatang yang mudah kamu singkirkan begitu saja, dimana hati kamu? aku sudah ku bilang kalau aku akan bertanggung jawab, lalu kenapa kamu harus melakukanya …!?
Aku tidak melepaskan mu! Kamu akan membayar rasa sakit yang aku alami, selama beberapa bulan ini”
“Lalu apa yang ingin kamu ingin lakukan padaku, membunuhku? Atau kamu ingin membawa ke hadapan kakakmu?”
“Ini yang akan aku lakukan padamu ….!” Dengan marah ia menyeret tangan ini dengan kasar berjalan dengan langkah panjang.
“Apa yang kamu lakukan!? Kamu menyakitiku.”
Farel tidak menghiraukan teriakkan ku , wajahnya sudah di penuhi kemarahan.
“Diam lah!” Teriaknya dengan marah membalikkan tubuhnya dan menghempaskan tanganku.
Aku benar-benar kesakitan, tubuhku sampai gemetaran .
“Ah … sakiiit” Tanganku memegang perut ini.
“Ririn, kamu tidak apa-apa?” wajahnya tampak pucat saat melihatku menunduk memeluk perut.
“Ririn …. Apa kamu masih-”
“Jangan menyentuhku!” aku menghempaskan tangan Farel, aku berjalan kesakitan dengan tangan memegang perut, meninggalkan Farel yang tampak kebingungan. Matanya masih menatapku yang semakin menjauh meninggalkannya.
Bersambung ….
__ADS_1
Jangan lupa vote,like dan share iya … Kasih hadiah juga boleh, biar author nya semakin semangat untuk up tiap hari.
Oh, jangan lupa kasih pendapat kalian dalam setiap bab. Terimakasih , Salam sehat.