Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Saat hati terbakar cemburu


__ADS_3

Farel izin keluar, mencari udara segar, ia pergi entah kemana.


Saat aku tidur, aku merasakan seseorang menyentuh pipiku dengan lembut, aku membuka mata.


Virto ada di sampingku.


"Apa yang kamu lakukan di sini Mas, cepat keluar," ucapku panik.


"Kamu yang harus pergi Rin, hidup kamu dalam bahaya"


"Apa maksudnya?" tanyaku panik.


“Dengar Ririn, para penjahat itu hanya ingin mengincarmu, mereka ingin menyingkirkanmu, aku akan sangat bersalah seumur hidup, jika kamu sampai terluka karena aku,” ucap Mas Virto dengan tangan memegang tanganku.


Aku tidak menyadari kalau kalau ia memegang tanganku, karena saat itu aku lagi panik, pada saat itulah Farel datang, melihat tangan ini di pegang Virto , aku tahu, ia akan murka, belum sempat menarik tangan.


Paaak …!


Ia datang dari belakang, memukul kepala belakang Virto dengan nampan, seketika tubuh tegap itu tersungkur di lantai.


“Apa yang kamu lakukan!” teriakku panik.


“Ayo kita pergi dari sini.” Farel mengendong tubuhku ke dalam mobil.


Farel, melajukan mobil itu dengan kecepatan yang tinggi, ia menyetir bagai orang gila, wajahnya menghitam karena menahan kemarahan.


'Ya, Allah. Aku tidak ingin mati dengan cara seperti ini, tapi kalau memang ini takdirku, aku pasrah' ucapku dalam hati, memegang kuat pegangan mobil, aku hanya bisa menutup mata.


Membiarkan Farel menyetir bagai kesetanan, aku tidak berani melarangnya dan menghentikannya.


Lagi-lagi ia marah besar karena Virto, hanya untuk membuka mulut saja, aku tidak berani.


Jadi bersikap pasrah akan lebih baik, kalau ia ingin membunuh kami berdua dengan anaknya, biarlah seperti itu. Toh, ia juga yang akan kehilangan.


Ban mobil itu berdenyit panjang di rem mendadak, aku belum berani membuka mata, tetapi teriakan samar-samar terdengar dari pintu mobil. Ternyata Farel ingin menerobos palang kreta api, sedikit saja, sudah pasti badan mobil, akan terpental, kalau tidak, tubuh kami remuk dilindas kreta .


"Aaaa …. !” Teriaknya marah, satu tangan memukul-mukul setir mobilnya. Ia terengah-engah dengan wajah pucat pasih bagai mayat hidup.


Seseorang menggedor pintu kaca mobil, dengan raut wajah masih menegang, ia menurunkan sedikit kaca mobil.


"Dengar bodoh! Jika kamu ingin bunuh diri. Jangan di sini, itu membahayakan orang lain, kalau kamu mau mati. Sono ...! terjun ke laut," ujar seorang lelaki paruh baya dengan nada marah, ia penjaga palang pintu kreta. Aku hanya diam, tanganku memeluk perut dan satu tangan masih berpegang erat pada pegangan mobil.


Farel menutup mata, menarik napas pendek beberapa kali, setelah menenangkan diri, dengan perlahan ia menyalahkan mesin mobil itu kembali berkendara kearah jalan sepi dan menghentikan kendaraanya di tempat itu.

__ADS_1


Ia turun, berdiri menatap jauh kearah laut. Aku memilih bungkam apapun yang ia katakan dan apapun yang ia lakukan aku pasrah.


Tidak bisa dipungkiri aku merasa ketakutan setiap kali bersama Farel, aku selalu membayangkan kalau lelaki itu datang untuk menghabisi ku, ia datang untuk membalaskan dendam kakaknya.


Aku membayangkan kalau Farel itu, si izrail si malaikat pencabut nyawa, dalam versi yang tampan, setiap bersamanya, aku merasakan setengah energiku terkuras habis karena khawatir.


'Kenapa dia harus marah padaku? apa aku meminta Virto datang? aku tidak tahu ia datang, tetapi kenapa ia hampir membunuh kami tadi?' Mataku menumpahkan air mata lagi, tidak terbayang jika ia benar-benar menabrakkan mobil itu ke kreta api yang melintas tadi.


Aku sangat kasihan pada janin yang ada di rahimku, saat aku ketakutan, ia tampak gelisah menendang dengan kuat, seakan-akan ia tahu kalau hidup kami dalam bahaya, aku membiarkan Farel berdiri, aku memilih menyadarkan kepalaku di jok mobil, menutup mata dan satu tangan mengelus si Utun yang sangat gelisah.


Aku tidak mengetahui Farel masuk, mataku terbuka dan kaget saat tangannya dengan lembut mengelus perut bucitku.


“Maaf sayang,” ucapnya, ke arah perut ini, lalu mengelus-elus dengan lembut.


"Kenapa kamu marah pada kami, aku tidak menyuruhnya datang. Kamu hampir membunuh kami berdua," ucapku memberanikan diri.


Ia diam, tatapan semakin dingin, bahkan melebihi dinginnya kutub utara.


'Aku harus bagaimana menghadapi lelaki ini, haruskah aku melarikan diri seperti yang di katakan Virto? haruskah aku lari?' kini pikiran itu muncul lagi di otakku.


"Katakan padaku, apa aku begitu menakutkan untukmu." Kedua tangan Farel memegang wajahku.


'Menakutkan secara fisik sih tidak, bagaimana dibilang menakutkan, justru … KAMU. Terlihat sangat tampan, hidungnya mancung, bola matanya indah, wajahnya tegas, kamu sangat tampan Farel' ucapku dalam hati.


"Lalu kenapa kamu takut padaku?"


"Karena kamu selalu marah padaku, kamu selalu menatap sinis padaku, aku takut,” jawabku seadanya.


"Kamu tidak tahu, aku cemburu Ririn, karena kamu tidak menyisihkan sedikit tempat untukku, di hatimu"


"Bagaimana aku melakukan itu, kalau kamu datang untuk melenyapkan, kamu datang untuk membalaskan dendam kakakmu padaku, bagaimana aku mencintai orang yang akan membunuhku,” kataku dengan suara bergetar.


Wajah Farel menegang, mata yang sempat melembut, kini wajahnya menegang lagi, ia menatap mataku dengan tajam.


"Maksud kamu apa?"


"Penculik yang menangkap ku suruhan kakakmu"


"Jangan menuduh sembarangan," ucap Farel tetap matanya tidak berani menatapku.


"Aku mendengar lelaki itu memanggil nama kakakmu"


Farel terdiam, tangannya mengepal kuat, tatapan matanya tajam, melihat ia seperti itu, aku hanya bisa menahan napas karena takut,

__ADS_1


Aku mengelus perut ini, untuk menenangkan. Farel melihat itu, sedikit demi sedikit wajahnya kembali melembut.


Ia juga menempelkan tangannya di perutku."Tenanglah sayang, Ayah bersamamu tidak akan aku biarkan hal buruk terjadi padamu." Farel mendekatkan wajahnya ke perut ini dan mengelus, penuh sayang. "Kita akan bertemu keluargaku" ucapnya kemudian.


"Apa? kamu gila," kataku panik." Kamu hanya mengantarkan kami ke mulut buaya, kakakmu akan membunuh kami, jangan lakukan itu, aku akan bertahan sampai lahiran"


"Dengan begitulah kamu aman, aku juga ingin hilangkan keraguanmu padaku.”


"Tidak, aku tidak mau bertemu dengan keluargamu Pak Farel, kakakmu dan ayahmu akan menyingkirkan kami, kamu juga akan malu nanti.” Aku menolak.


"Aku akan bersamamu, jangan takut,” ucap Farel, menenangkan. Kini lelaki itu memutuskan memperkenalkan aku untuk keluarnya, padahal tadinya ia enggan melakukan itu, tetapi saat ia melihat virto datang, ia jadi mau.


*


Besok paginya, Farel mengajakku pulang ke Jakarta, aku merasakan jiwaku pergi menjauh meninggalkan ragaku lagi, Saat berada di dalam pesawat menuju pulang ke Jakarta.


“Tenanglah , jangan takut.” Farel menggenggam telapak tanganku, ia juga memakaikan mantel hangat untukku, tetapi aku seperti patung.


'Kenapa hal yang tidak aku ingin kan, selalu terjadi padaku?'


Aku semakin ketakutan saat, kami tiba di Jakarta tepatnya di depan rumah keluarga Farel, aku membayangkan kalau aku menyerahkan hidupku pada sekelompok monster.


"Tenang ... jangan takut." Farel, menyeka keringat membasahi dahiku, walau tangannya memegang erat telapak tangan ini. Namun, aku bagai berjalan sendirian di kabut yang sangat gelap. Tubuhku gemetar, tidak berani melepaskan tangan Farel.


Tiba di dalam rumah, tubuhku hampir tumbang saat melihat wanita jahat itu menatapku dengan sinis dan di sampingnya berdiri Virto yang melihatku dengan tatapan iba.


'Tolong selamatkan aku Mas Virto, tolong, jauhkan aku dari orang-orang yang ingin menghancurkan hidupku' ucapku dalam hati.


Bertemu dengan istri Mas Virto membuatku gemetaran, wanita galak itu meninggalkan trauma yang sangat dalam di hidupku, aku tidak tahu, apa aku masih bisa membuka mata saat di rumahnya atau akan menutup mata selamanya? biarlah waktu yang menjawab.


Bersambung ….


JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE SHARE, KASIH BANYAK HADIAH JUGA AGAR VIEWS NAIK IYA KAKAK.


Jika viewsnya naik aku akan up tiga bab sehari untuk kalian. Jika Levelnya naik , kita akan up 4 Bab.


Oh ada yang DM aku tanya lagi.”Kak itu benaran kisah nyata?"


Aku mau jawab: Kisah ter-inpirasi dari kisa tetanggaku, saat tinggal di Cimanggis Depok, bahkan ada beberapa bab awal kisah dia sebenarnya , tentunya sudah saya bumbuin dan tambahin pemanisnya. Ok, iya sudah saya jawab iya. Lanjut


Jangan lupa beri komentar disetiap babnya iya. Beri tanggapan kalian … Ririn sebaiknya untuk siapa? Farel atau Virto. Karena kedua lelaki ini, pada dasarnya baik dan sangat mencintai Ririn, hanya cara mereka yang berbeda.


Jangan lupa follow IG @sonat.ha

__ADS_1


__ADS_2