
PART 31
Hatiku Tersakiti
“Pak, aku sudah melakukan apa yang kamu minta dan aku sudah menjalani hukuman yang kamu berikan padaku, apa masih kurang?” tanyaku dengan suara lemah, jujur hatiku sangat sedih jika membahas tentang bayi yang aku kandung.
Tetapi aku mencoba bersikap tegar di depan Farel, walau sebenarnya hati ini terasa di tusuk-tusuk ribuan jarum.
Farel kembali diam, ia duduk menatap kosong ke arah pohon.
Tidak ingin berharap banyak pada Farel, aku memilih berjalan .
“Kamu mau kemana? hati-hati jalanan ini licin”
“Aku akan mencari jalan untuk pulang, jika berhasil, walau kemungkinannya kecil, karena aku tidak tahu bahaya datang dari mana nantinya,”kataku meninggalkan Farel yang masih duduk.
“Tetaplah bersamaku, aku akan melindungi mu,”ujar Farel dengan wajah memohon.
“Tidak, aku akan berjalan sendiri Pak”
“Jangan keras kepala IBU RIRIN WULANDARI! Ini hutan ada bahaya di mana-mana!”
“Apa kamu tahu bahaya terbesarku? Itu kamu!
Penjahat yang ingin melenyapkan ku.
Kamu dan kakakmu yang menyuruhnya.
Jadi berhenti untuk sok peduli padaku!
Apa kamu tahu luka di lenganku ini, yang melakukanya preman yang tadi itu, mereka memukuliku kakakmu yang menyuruh mereka.
Apa kamu masih membantah tidak terlibat …!?
buang saja topeng mu!” teriakku marah melepaskan kaos yang ia ikatkan di bawah perutku, melemparkan ke padanya.
Aku menahan napas karena bagian perut ini terasa sangat sakit, Ia melihatnya, tetapi takut mendekat karena melihat kemarahan ku.
“Aku harus bilang apa? agar kamu percaya.
Aku tidak terlibat Ririn, aku tidak melakukanya,” ujar Farel dengan suara putus asa.
“Kamu tidak usah bilang apa-apa, cukup diam dan tinggalkan aku”
“Ini masih di tepi hutan Ririn, tolong jangan keras kepala”
“Persetan denganmu,” ujar ku kesal, lalu berjalan meninggalkan Farel
__ADS_1
Berjalan pelan dengan satu tangan menahan bawah perut yang terasa sangat sakit, Farel mengikuti dari belakang.
“Jangan seperti itu kasihan dia.” Farel memegang tangan ini lagi, lalu berjongkok di depanku mencoba mengikat kain itu kembali.
“Menjauh dariku!
Aku membencimu!
Aku membenci kakakmu!”
Paaak …!
Aku menampar wajahnya dengan keras, namun, ia tidak menghiraukannya, ia meneruskan mengikat kain itu.
“Ini, gunakan ini jika kamu belum puas,” ujar Farel memberikan sebuah pena yang bahannya terbuat dari besi.
“Jangan memancingku, aku bisa membunuhmu nanti …!”
“Lakukanlah.
Tusuk di sini , jika itu membuatmu puas.”
Farel menantang ku, ia mengarahkan tanganku yang memegang pena ke arah jantung, tanganku gemetar menekan kuat, ingin rasanya aku menusuk jantung sampai mati.
Tetapi bayangan kedua anakku membuatku menghentikannya, Aku tidak ingin jadi seorang pembunuh.
“Apa kamu ingin menjadikanku jadi pembunuh?”Aku melemparkan pena dari tanganku.
“Aku ingin membuktikan padamu kalau aku tidak terlibat”
Aku menghiraukannya dan berjalan meninggalkan Farel yang masih duduk, aku menggigit bibir bawahku untuk menahan rasa sakit di perut ini, Aku menyingkirkan buliran air dari pelupuk mataku dengan kasar, aku tidak ingin menangis lemah di depannya.
Aku meremas kuat bagian perut ini, walau hatiku takut hal buruk terjadi padanya, tetapi aku tidak punya jalan lain, aku sudah pasrah jika harus kehilangannya, aku terus berjalan.
‘Maaf Nak, jika nanti aku tidak bisa menyelamatkanmu’ucapku dalam hati.
Tapi tiba-tiba Farel mengendong tubuhku, mengangkat ku seperti mengendong anak kecil, wajahnya marah.
“Lepaskan!
turunkan aku!”
Kataku marah, ia menghiraukannya.
“Lepas … lepaskan, jangan sok perduli” Tanganku memukul dan mencakar wajahnya, tetapi ia tidak menghiraukannya aku berhenti karena kelelahan dan perutku semakin sakit.
Ia menurunkan ku saat tiba di pinggir jalan, tubuhnya bermandikan keringat, tetapi tidak ada satu katapun ucapan terimakasih yang keluar dari mulut ini, aku diam duduk membelakangi Farel.
__ADS_1
Jalan itu sangat sepi, tidak ada orang yang melintas membuatku merasa putus asa,, kalau aku di minta berjalan menyusuri jalan itu lagi, aku yakin aku tidak akan kuat lagi, aku merasa sangat haus.
Mataku melirik kanan kiri, hingga ada kubangan kecil di samping sawah, merentangkan tangan untuk menampungnya.
Tapi tiba-tiba Farel menampar kan air dalam telapak tanganku
"Jangan meminumnya, itu beracun, padi ini baru di semprot pakai racun hama, air itu pasti kena"
"Bertahanlah, sebentar lagi pasti ada orang yang melintas, tunggu di sini aku akan cari air bersih untukmu”
“Tidak usah, aku tidak haus lagi,” kataku menolak.
Farel menghela napas atas sikapku, ia tidak menghiraukan ku dan berjalan agak jauh, melihatnya pergi menjauh ingin rasanya aku meminum air kubangan di samping sawah tadi, rasa haus ku membuat ingin mati.
Aku diam, mencoba merasakan suara jantung si kecil dalam perut, aku panik, karena tiba-tiba detak jantungnya berhenti, tanganku terus saja meraba dan mengusap-usap perut ini.
“Apa yang terjadi, kenapa tidak berdetak lagi jantungnya?” tanyaku panik dan tangan mengusap perut.
“Tidak apa-apa, jangan panik, ia merasa lelah, makanya detaknya lemah, ini minumlah.”
Farel tiba-tiba datang membawa air di dalam daun talas.
Aku tidak perduli walaupun yang di bawa air, atau air kencing kuda nil, aku sangat haus, meneguknya sampai habis, sampai lupa menyisahkan untuk Farel, ia hanya menatapku tidak mengatakan apa-apa.
Setelah minum, aku duduk di batu yang agak jauh dari Farel. Aku tahu ia selalu mengawasi ku dan selalu melihatku.
Tetapi aku tidak perduli dengannya, aku hanya memikirkan nasibku dan nasib bayi yang aku kandung, aku tidak perduli dengan perhatian palsu dari Farel.
Beberapa kali ia mencoba menyalakan ponsel miliknya, baru nyala mati lagi, dari sejak pagi ponselnya sudah sekarat karena kehabisan daya.
“Apa kamu masih kuat untuk berjalan?” tanya Farel menatapku.
“Jangan hiraukan aku, kalau kamu ingin pulang duluan saja, aku akan menunggu di sini,” kataku lagi-lagi menolak.
Farel menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, urat lehernya kembali saling bertarikan.
“Aku capek, tolong jangan membuatku tambah capek, orang yang lapar dan capek sering sekali gelap mata,” ujar Farel dengan suara lembut tetapi makna dari kalimatnya sangat dalam,terdengar seperti ancaman.
Aku memilih diam, sesekali tanganku mengelus perut, akhirnya ia mulai bergerak. Benar kata Farel, ia hanya lelah karena kami berjalan jauh menyusuri hutan, walau setengah perjalanan Farel yang menggendong ku.
“Bertahanlah, aku yakin kamu anak yang kuat,”
gumam ku pelan mengelusnya lembut, ia seakan-akan tahu apa yang aku katakan, ia membalas ku dengan tendangan, walau masih pelan, tetapi aku bisa merasakannya.
Kaos Farel yang aku pakai sudah bisa diperas karena basah kuyup karena keringat. Farel selalu melirik apa yang aku lakukan.
“Disinilah, kasihan dia ikut terpapar mataharinya langsung,”ujar Farel menarik tanganku ke belakangnya menjadikan tubuhnya menghalangi pantulan matahari untukku .
__ADS_1
”Tolong jangan protes, ini demi dia,’ ujarnya saat aku menolak segala perhatiannya.
Bersambung....