
Melihat keributan dan kekacauan dalam kamar, seluruh keluarganya ikut masuk ke kamar. Mereka semua penasaran
"Apa sebenarnya yang terjadi?" tanya kakak lelaki tertua Farel dengan tatapan bingung. Lelaki bertubuh tinggi besar itu menatapku.
Aku tidak kuat melihat tatapan semua orang padaku, aku seakan-akan di keliling segerombolan serigala yang sedang marah, yang siap menyerang dan mencabik-cabik tubuhku.
Aku bagai seekor kelinci yang masuk ke sarang serigala yang sedang marah.
Virto berdiri, ia menjauh setelah memberi ku pengobatan. Namun, tatapan tajam Farel padaku belum surut juga,
Padahal saat ini, hanya ia yang aku butuhkan dalam situasi seperti ini, saat semua keluarganya menatapku dengan tatapan intimidasi, bahkan Farel juga marah.
Dari sekian banyak orang, hanya Mas Virto yang menatapku dengan tatapan prihatin, tetapi ia tidak bisa berbuat banyak, dalam situasi saat ini, ia hanya bisa diam.
Merasa sangat pusing lagi, memijit kening yang terasa sangat pening.
"Rin, kamu pasti capek, istirahat saja di kamarku,"pinta Farel membawa ke kamarnya.
Ia meminta asisten rumah tangga membersihkan pecahan piring yang aku pecahkan, ia juga meminta keluarganya keluar, agar aku bisa istirahat.
'Aku berharap saat aku membuka mata nanti, tidak berada di rumah ini lagi' ucapku dalam hati aku memilih tidur.
*
Saat membuka mata, ternyata doaku tidak di kabulkan, aku masih berada di rumah Farel, tepatnya di kamar lelaki pemilik bola mata warna coklat itu, aku bisa tahu, kalau itu kamar Farel, terlihat foto yang terpasang di atas meja dan dinding.
Di dinding terpasang sebuah foto ukuran lumayan besar, foto Farel dengan seorang wanita cantik berwajah khas orang timur, wajahnya sangat cantik dan hidung mancung. Aku yakin wanita itu adalah tunangannya, terlihat dalam foto mereka berdua memamerkan cincin tunangan.
Aku tidak marah tentang hal itu, karena dari awal, aku sudah tahu, kalau lelaki itu sudah memiliki tunangan, ia juga seorang dokter dan aku beberapa kali memergokinya meneleponnya. Aku tidak boleh marah, sekalipun, aku sudah menikah dengan Farel.
Aku hanya berharap wanita cantik itu nanti, dapat menerima anak Farel yang aku lahir kan
Aku mencoba duduk, sebuah infus terpasang di lengan ku, membuatku punya tenaga untuk duduk.
Dalam kamar itu tidak ada siapa-siapa , saat aku bangun aku merasakan sangat kelaparan lagi.
'Oh, aku lapar'
__ADS_1
Mencabut selang infus di tangan dan mencoba memberanikan diri keluar dari kamar, untuk mencari makanan walau asupan gizi dari infus itu ada masuk ke dalam tubuh ini.
Namun, aku masih merasa sangat lapar, tidak ingin mati kelaparan, aku melawan rasa takut itu dan keluar. Namun, saat ingin ke dapur, aku mendengar Farel di sidang keluarganya.
“Apa kamu ingin mempermalukan keluarga ini? Bagaimana mungkin kamu menghamili wanita yang tidak jelas asal usulnya. Kamu itu seorang dokter Farel Taslan!” Teriak ayahnya, di ruang tamu.
Aku mendengar suara lelaki itu, membentak Farel. Seketika tubuh ini gemetaran, mendengar kemarahan itu.
Aku mencari jalan lain untuk turun mencari makanan, tidak ingin melewati keluarga besar yang sedang rapat, rumah Farel sangat luas bagai istana, jadi, untuk turun dari lantai tiga ke bawah punya tangga lain dari bagian samping.
Aku keluar diam-diam dari tangga menuju belakang dan tembus ke jalan raya, untungnya di saku pakaian yang aku kenakan ada uang dua puluh ribuan yang sudah lecek, di seberang jalan ada warung kecil yang jualan bakso.
Keluar diam-diam dengan cara mengendap-endap dan menuju gerbang belang . Akhirnya bisa sampai ke warung bakso.
Meminta abangnya untuk membuat satu bangkok, aku seperti anjing yang satu minggu tidak diberi makan, memakan dengan sangat lahap. Sampai-sampai abang tukang bakso ikut bingung saat melihatku.
'"Aduh, makannya pelan-pelan saja Neng," ujar abang tukang bakso yang melihat memakan dengan rakus.
Tangan yang dipenuhi luka membuat abang tukang jualan menatap dengan iba.
"Kabur dari rumah, Bang," jawabku seenaknya, wajah lelaki berkulit gelap itu, seketika menegang, sepertinya ia takut.
"Kok, kabur?"
"Berantem sama orang -orang rumah, buatin satu bangkok lagi Bang, aku sudah dua hari tidak makan"
"Ha! dua hari? Ya ampun kasihan sekali, padahal Mbak sedang hamil," ujarnya menatapku dengan prihatin.
Aku hanya tertawa kecut dalam hati, saat melihat lelaki penjual bakso itu merasa kasihan padaku.
Aku jadi berpikir. Apa abang -abang itu masih merasa iba padaku, saat tahu siapa aku? tanyaku dalam hati, ingin rasanya aku tertawa terbahak-bahak melepaskan rasa yang berkecamuk dalam hati ini. Mendapat gelar pelakor, membuat perjalanan hidupku bagai di neraka.
Jalan kehidupan yang aku jalani sangat rumit aku merasa hidupku seperti sudah dikutuk. Dikutuk tidak akan bisa bahagia. Sejak dari kecil sudah sengsara, hingga dewasa, masih juga sengsara.
Menghabiskan dua bangkok bakso membuat punya tenaga lagi, keinginan untuk kabur dari Farel, muncul ada kesempatan. Namun, kemana aku akan pergi? Aku tidak punya tempat yang akan bisa menampung-ku.
Kalau aku pulang ke rumah ibu, aku yakin, ibuku akan menendang ku ke jalanan, dengan alasan malu.
__ADS_1
Kalau aku pulang ke rumah bapak anak-anakku, ia mungkin akan menerima, karena aku tahu Dimas masih mencintaiku.
Akan tetapi, hal itu akan melukai hati anak-anak, mereka akan merasa malu karena ibu mereka hamil di luar nikah.
Tekanan demi tekanan akan mereka dengar dari keluarga ayahnya , mereka akan menghinaku di depan anak-anakku dan hati mereka akan terluka.
‘Aku tidak ingin hal itu terjadi, lebih baik, aku mati di jalanan, daripada anak-anakku malu karena aku’ ucapku dalam hati, ingin kabur, tetapi tidak tahu harus pergi kemana.
Kini aku dilanda kebingungan, aku sangat tidak ingin kembali kerumah keluarga Farel, melihat tatapan Marisa membuatku tidak bisa bernapas.
Saat duduk dalam diam, tiba-tiba seseorang memegang pundak ku.
"Sudah kenyang?"
Farel menemukanku di warung bakso, ia mungkin melihat cctv yang terpasang di sekeliling rumahnya.
"Belum, boleh aku memesan satu bangkok lagi, aku masih lapar, tadi uangku tidak cukup"
Farel, menarik napas panjang, lalu ia meminta satu bangkok untukku lagi. Aku tidak menawarinya, aku yakin orang kaya seperti mereka, tidak akan makan, makanan di pinggir jalan seperti yang aku makan.
"Kamu tidak ada niat kabur lagi, kan?" tanya Farel menatapku.
"Tidak, aku hanya kelaparan, aku takut makan di rumahmu," ucapku.
Kini aku menyesali, tadi, kurang cepat untuk kabur, masuk kembali ke rumah keluarga Farel akan membuat hidup ini bagai neraka lagi.
“Makanlah dengan pelan-pelan, nanti kamu tersendak,” ujar Farel menarik beberapa lembar tissu melap kursi yang akan ia duduki. Orang kaya mah Bebas ….
Bersambung ...
JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA, KASIH BANYAK HADIAH JUGA BOLEH.
“ Kasih donk komentar kalian tapi komentar yang membangun iya … Kalau komentar yang julid mending gak usah deh, bikin sakit kepala
Mana tahu dari setiap komentar yang masuk, saya dapat ilham dan punya ide untuk menulis bab selanjutnya.
Jangan lupa follow IG @sonat.ha
__ADS_1