
Farel menemaniku satu hari itu di rumah, mata itu tidak pernah berhenti menatapku mengawasiku kemanapun aku melangkah membuatku jadi kikuk sendiri. Aku memang istrinya, tetapi setiap kali ia menatapku, aku selalu merasa tidak nyaman, aku berharap hati ini bisa terbuka dan menerima Farel selayaknya seorang suami, saat malam tiba.
"Kamu mau ke mana?" tanya Farel saat aku bergegas.
"Aku ingin tidur dengan eyang"
Farel tertawa, saat melihatku membawa bantal.
"Aku ada di sini untuk menemani tidur Rin, untuk apa kamu pergi ke kamar, eyang?"
"Dia tidak ada teman kasihan,” kataku.
Farel berdiri lalu menutup pintu
,"Duduklah, berhenti bersikap dingin padaku Rin, aku sangat lelah melihat kamu selalu bersikap dingin dan bersikap cuek padaku. Tolong sisihkan sedikit tempat di hatimu untukku. Baiklah aku meminta maaf atas segala, kelakuanku dari waktu lalu, hingga beberapa hari ini”
"Aku baik-baik saja"
"Maksudnya?"
"Sampai saat ini aku masih bisa bertahan”
"Lalu hari esok?”
“Kakakmu memberitahuku, kalau kamu akan menikah besok, ia memintaku meninggalkan kamarmu , karena akan di jadikan kamar pengantin untukmu, aku keluar bukan semata-mata ingin menghindar, tetapi karena disuruh”
"Aku memang sudah membatalkannya, lalu bagaimana kalau aku menikah besok, apa kamu setuju?”
" Aku sebenarnya tidak setuju, lagian wanita mana yang ingin di madu, apa lagi dalam keadaan bunting seperti ini. Tetapi aku kembali pada kenyataan hidup, aku merasa tidak punya hak untukku melarang, karena aku tidak suka dengan seorang pria yang mengingkari janji.
Jika kamu berjanji padanya untuk menikah dengannya lakukanlah dan kamu juga berjanji padaku menceraikan ku setelah melahirkan, tepati juga untuk itu”
" Apa harus panjang begitu jawabannya, tidak bisakah kamu berkata’iya aku ingin kamu …. Apa kamu sudah membuat janji dengan Virto?" Lagi-lagi kami bertengkar karena ia membawa nama Virto.
"Kenapa sih kamu selalu membawa-bawa dia, aku tidak pernah dengannya sejak hari itu, bagaimana aku membuat janji dengannya, kamu sendiri menyita ponsel dan dompetku, kamu memperlakukanku seperti tawanan di rumahmu.
__ADS_1
Aku sudah berbulan-bulan tidak mengabari anak-anakku"
"Virto sudah mengajukan surat cerai, mungkin dalam bulan ini keputusan sidangnya keluar, dan mereka bukan lagi suami istri nantinya, dia akan bebas, aku khawatir dia mengotot bercerai dari Marisa karena kamu”
'Kenapa Mas Virto pada akhirnya memutuskan bercerai sekarang, saat ia ingin mendapat promosi jabatan yang tinggi' tanyaku dalam hati.
"Aku tidak tahu akan hal itu.”Aku bersikap biasa di hadapan Farel.
"Iya, sekarang kamu tahu, kan, aku yakin ia menunggu kamu lagi, tetapi aku tidak akan melakukan hal itu, aku tidak akan menceraikan mu sampai kapanpun mari kita hidup seperti ini sampai tua”
"Lakukan apapun saja yang ingin Bapak ingin lakukan aku bisa apa ,” kataku kembali duduk.
"Berhenti terlalu mendramatisir keadaan Rin, kamu yang tidak membuka hatimu, untuk cinta yang aku berikan, kamu hanya mengharapkan cinta Virto, apalagi lelaki itu sebentar lagi akan status duda, aku yakin kamu sangat mengharapkannya ‘kan?”
"Cinta … apa kamu pernah mencintaiku? kamu tidak pernah mencintaiku Pak Farel, bapak hanya ingin membalas dendam"
"Kamu salah Rin, kesalahpahaman selalu menutup hatimu, dulu niat awal memang ingin balas dendam, tetapi saat ini tidak lagi, kamu tidak bisa membedakan antara cinta dan misi balas dendam, aku ingin kamu melahirkan anakku, tolong mengertilah,” ujar Farel dengan suara memelas.
Tiba-tiba aku naik darah saat ia mengatakan itu.
"Kamu harusnya ada saat aku butuhkan, kamu harusnya ada saat aku merasa ketakutan,"kataku, baru kali ini, aku menangis dengan suara meninggi di depannya.
Farel hanya diam saat melihatku menangis, karena selama ini, tidak sekalipun aku menangis di depannya dengan terang-terangan, tetapi kali ini, semuanya bercampur aduk membuat hati ini merasa terbakar.
"Kalau kamu masih membenciku dan ingin membalas dendam, kenapa kamu tidak membunuhku saja,"ucapku meraih gunting di atas meja. memberikannya ke tangannya dan mengarahkan tepat ke ulu hati.
Farel menahan tanganku dengan kuat dan ia melempar gunting.
"Maafkan aku," ucapnya memelukku dengan erat. Aku tidak tahan dengan tekanan Marisa yang terus meneror hidupku.
Farel menuntun tubuh ini untuk berbaring di ranjang, tangannya mengusap-usap kepalaku dengan lembut, seketika aku merasa tubuhku kehilangan tenaga saat bertengkar dengan Farel. Aku tertidur , saat bangun pagi harinya, Farel sudah tidak ada di sampingku.
‘Apa dia jadi menikah setelah kami bertengkar?’
Karena eyang bilang tepat hari ini, pertemuan dua keluarga besar keduanya, untuk membahas tentang kelanjutan hubungan Farel dengan tunangannya.
__ADS_1
Mungkin Farel dan ayahnya berniat membatalkan pernikahan, lalu bagaimana dengan pihak perempuan, apa mereka bisa menerima semua keputusan Farel? Masalahnya tidak akan semuda itu, karena ada terlibat keluarga besar kedua belah pihak.
'Baiklah, menikahlah dari pada masalah bertambah besar, semoga kamu bahagia' ucapku dalam hati.
Aku keluar dari kamar, suasana rumah besar itu sangat sepi, mereka pasti pergi ke pertemuan keluarga besar ke dua belah pihak, aku memutuskan berjalan-jalan mengelilingi rumah besar itu, untuk pertama kalinya, aku baru tahu rumah Farel, memiliki landasan helikopter di gedung atap.
Berdiri di lantai atap menikmati pemandangan yang sangat indah dan menakjubkan, aku selalu merasa tenang saat duduk di ketinggian.
Aku duduk di pinggir, menatap jauh ke arah jalanan Jakarta, menduga-duga letak rumah mantan suamiku, di mana anak-anakku berada saat ini ..mereka pasti sangat merindukanku mereka pasti khawatir dan kecewa padaku, karena aku tidak mengirim kabar untuk mereka, karena sudah berbulan-bulan lamanya sementara aku terjebak di rumah Farel terkurung dan selalu hidup dalam ketakutan, tidak bisa melakukan apa-apa.
Aku merasa sangat muak dengan kehidupanku saat ini, aku tidak pernah membayangkan kalau aku menjalani kehidupan yang menyedihkan seperti saat ini.
Tapi walau aku muak dengan hidupku yang aku jalani, tidak ada niat sedikitpun untukku untuk bunuh diri, aku masih ingin melihat anak-anakku, saat terbangun dari lamunan, banyak orang berteriak di halaman rumah Farel.
"Apa yang kamu lakukan, jangan lakukan itu, kasihan bayi dalam kandungan mu ia tidak tahu apa-apa," ucap ipar Farel, aku tidak menyadari kalau mereka semua sudah pulang dan berkumpul di halaman depan meneriaki ku, menyuruhku turun.
"Ada apa dengan orang-orang ini, emang siapa yang mau bunuh diri" kataku mendumal jengkel, mereka menyebutku ingin melompat dari atas gedung itu, saat aku ingin berdiri mereka berteriak histeris membuatku kebingungan.
Tetapi tiba-tiba seorang menyeret dari belakang menjauhkan dari pinggir."Apa yang kamu lakukan? kenapa otakmu sedangkal itu!" teriak Farel masih mengenakan jas.
"Apaan sih …?” kataku kesal, meninggalkan Farel yang asih tampak shock.
"Aku membatalkan pernikahanku Rin … aku menghadapi keluarga besar mantan tunanganku untuk membatalkan pernikahan kami, aku hanya ingin kamu, Lalu kenapa kamu malah ingin melakukan hal itu … saat aku memilih kamu dan percaya denganmu," ujar Farel
"Lagian siapa yang bunuh diri sih, aku hanya ingin duduk- duduk …."
"Apa? bukanya kamu ingin bunuh diri tadi?"
"Iya gaklah …. untuk apa? aku tidak mau jadi kuntilanak kali,” ucapku kesal.
Satu keluarga itu menganggap ingin bunuh diri, karena aku duduk di gedung atap, padahal aku punya kebiasaan merasa nyaman dan tenang saat duduk di ketinggian.
Bersambung.
JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA, KASIH BANYAK HADIAH JUGA BOLEH.
__ADS_1
Jangan lupa follow IG @sonat.ha