Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Hanya ingin hidup tenang


__ADS_3

PART 35


Hanya Ingin Hidup Tenang


Aku terpaksa pergi lagi dari Dr. Farel, berharap lelaki itu tidak bertemu lagi denganku.


Aku berharap pada Tuhan, jika kami suatu saat bertemu ia lupa denganku dan anak yang aku kandung.


Aku tidak sedikitpun mengharapkan Farel menjadi bagian dari perjalanan di hidup ini.


Kenapa kamu selalu melarikan diri dari Farel padahal dia sudah baik menjaga kamu? Mungkin ada pertanyaan yang seperti itu.


Begini; Karena aku kehilangan kepercayaan pada banyak orang, termasuk pada Farel, karena saat hati ini mulai mempercayai ada banyak hal yang membuatku ragu.


Salah satunya sang kakak yang berniat ingin melenyapkan ku.


Akhirnya mobil minibus berwarna hitam itu meninggalkan motel. Aku meninggalkan Farel yang masih tidur pulas, karena pengaruh minuman yang aku berikan padanya.


Mobil yang kami tumpangi akan membawa sampai pelabuhan yang jaraknya lumayan jauh, setelah berkendara sekitar satu jam, akhirnya tiba di pelabuhan.


Saat turun dari mobil, kami di suruh buru-buru masuk kapal kecil.


"Kenapa mereka semua bersikap buru-buru dan ketakutan seperti itu?"tanyaku penasaran.


"Mereka menghindari preman di kampung ini, lihat saja nanti kalau tidak buru-buru pergi, beberapa preman kampung akan datang dan meminta jatah"


Saat kami semua masuk dalam kapal dan mesin kapal dihidupkan, benar saja beberapa orang lelaki berlari ke pelabuhan, bahkan berteriak meminta berhenti, untuk berhenti, mengejar sampai ke tepi pantai.


Mataku langsung melotot panik, orang yang menyekap ku malam itu ada di sana juga, aku tidak bisa melupakan wajah bringas para preman gila yang membuat hampir kehilangan nyawa.


Sangat bersyukur, karena bisa menghindar dari mereka, sedikit saja terlambat, mungkin mereka juga akan mengangkut ku juga bersama beer yang akan mereka jarah.


"Syukur kita selamat," ucap nahkoda kapal setelah di tengah laut. Di iringi wajah gembira wanita-wanita cantik yang ada dalam kapal.

__ADS_1


"Siapa namamu, kita belum sempat kenalan tadi," ucap seorang wanita memiliki tato kupu-kupu dipundak kiri, ia terlihat senior di antara perempuan-perempuan itu.


"Aku Ririn Mbak,” jawabku santai, berhadapan dengan wanita-wanita seperti mereka sudah hal biasa untukku.


“Lu lagi bunting?” tanya seorang wanita yang memegang rokok.


“Sewa rahim?


Dibayar berapa?,”timpal seorang terlihat seperti preman.


"Di over ke mana sama mami, bunga apa?"


"Tidak Teh, saya bukan anak-anak mami, kebetulan hanya ingin numpang ikut ke Bali dan membayar lebih pada pemilik motel itu,' ujarku berusaha ramah walau wanita itu terlihat songong.


Kalau saat itu aku tidak membawa drumband kecil diperut ini, sudah kuajak duel mereka semua, berhubung karena sedang bunting Jadi aku memilih jalan aman, bersikap sopan dan mengalah demi kebaikan bersama.


Mereka semua berpikir aku kupu-kupu malam seperti mereka, aku sudah tobat, dulu memang aku dari dunia yang sama seperti mereka, tetapi saat ini lebih parah … bunting tanpa suami bahkan di kejar istri orang lain.


Tetapi melihat keadaanku saat ini, aku tidak tahu disebut apa diri ini.


Bunting tanpa suami hal yang tidak aku inginkan sejak dulu, tetapi suratan takdir melukis hal yang berbeda, aku hamil dari seseorang lelaki yang menginginkanku lenyap.


"Oh, aku pikir sekuntum bunga juga," ujarnya dengan sinis.


Panggilan bunga biasa di tujukan pada mereka, wanita penghibur atau wanita malam, biasanya ada panggilannya tergantung harga tarif, dan berapa pelanggan yang bisa ia layani dalam satu malam.


Saat seorang wanita panggilan mendapatkan banyak pelanggan, ia akan diberi julukan khusus, tentunya akan mendapat perlakuan khusus dari sang mucikari selaku bos, atau yang biasa dipanggil mami.


Biasanya kalau ia cantik, mami mereka, akan memberinya nama mawar merah, kalau ia bookingan para pejabat akan di beri nama anggrek biru.


Aku bisa mengerti kode dan simbol yang mereka gunakan dan dipakai karena aku sudah pernah dari sana.


Setelah naik kapal beberapa jam, akhirnya, tiba di Bali.

__ADS_1


yang pertama aku cari adalah hotel milik Ibu dokter, beruntung pak Bayu manager cabang sudah mengenalku.


"Hei Liburan Rin?"


"Tidak Pak, tolong pinjamkan aku ponsel bapak sambungan pada Ibu, aku tidak mau beliau khawatir, karena aku menghilang tanpa kabar,” ucapku buru-buru.


Lelaki berkaca mata itu hanya diam melihatku.


Setelah menceritakan pada Bayu, akhirnya lelaki itu memberikan ponsel miliknya, benar saja wanita paru baya itu sangat menghawatirkan ku, saat ia tahu aku menghilang.


"Jadi sekarang apa kamu baik-baik saja Rin?”


tanya ibu dokter di ujung telepon, aku beruntung, karena mendapatkan seorang Bos yang sangat baik .


"Iya, saya baik Bu,, saya ingin bekerja di sini saja, takut preman itu, mencariku lagi," ucapku.


"Baiklah, kamu disitu saja, barang-barang kamu, nanti aku kirim, jaga bayimu dengan baik" balas ibu dokter mematikan sambungan telepon.


Setelah pergi dari Dokter Farel, kini aku berada di Bali, aku akan bekerja dan mengadabtasikan diriku kembali di pulau Dewata.


Berharap pelarian ku kali ini, tidak ditemukan Farel, ini sungguh dari dalam hati, aku tidak ingin lelaki itu, menyakiti diri ini dan bayiku, bagiku Farel


luka yang susah untuk disembuhkan.


Bukan ingin bersikap munafik, tetapi, aku hanya ingin melupakan masa lalu yang suram.


Tadinya, kalau aku tidak bunting, aku ingin kehidupan baru. Di mana orang mengenal-ku Ririn janda muda beranak dua, cukup sampai di situ.


Tidak ada embel-embel mantan kupu-kupu malam, mantan simpanan orang, mantan pelayan bar, mantan penyanyi bar.


Aku ingin membuang semua predikat buruk itu dari hidupku. Tetapi, rasa akan sulit karena saat ini, di tubuh ini ada nyawa yang aku harus jaga dan aku harus lindungi


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2