
Empat tahun Kemudian
Kota Dinju Taiwan
Tinggal di salah satu kota di Taiwan, restaurant yang diberi nama 'Rasa Sedap' tepat berada di tengah kota, di mana para pekerjanya banyak warga Indonesia.
Tinggal di negara itu dan bekerja selama empat tahun, membuatku bisa melupakan segala yang pahit dalam hati ini.
Haikal Adnan Taslan anak lelakiku berwajah tampan. Kini ia sudah berusia Empat tahun tiga bulan, setiap bulan aku akan melakukan video call padanya.
Walau pada awalnya pada tahun pertama, aku jarang vidio call dengan Haikal, kemarahan pada ayahnya berimbas pada bocah malang itu. Saat melihat bola mata coklat terang itu dan hidungnya yang mancung sering sekali membuatku mengingat Farel.
Tetapi seiring berjalanya waktu, hatiku mulai melunak dan menyadari kalau anak itu tidak bersalah yang pantas di persalahkan itu harusnya aku.
Aku yang menginginkannya ada dalam rahimku, hatiku kembali sedih, bila aku mengingat penolakan yang aku lakukan padanya sejak awal kehamilan, kini hatiku sangat menyayanginya, aku yakin Haikal yang akan membawa diriku ke kehidupan yang lebih baik nantinya.
Sesuai pesan eyang Farel yang memintaku membekali ilmu agama mulai sejak dini, aku melakukannya pada Haikal.
Aku meminta pengasuhnya untuk mecari guru ngaji untuk Haikal. Kini anak tampan itu sangat pasi membaca doa saat makan dan menyanyikan huruf Hijaiyah.
Setiap kali aku menelepon melalui video call dan memintanya menyanyikan huruf Hiyaiyah, hati ini sangat bahagia, saat melihat tumbuh sehat dan pintar, jiwaku selalu tenang, saat mendengar suara lembut dari bibir mungilnya setiap kali ia bernyanyi.
.
"Ibu, kapan pulang?' tanya saat aku melakukan vidio call dengannya.
"Nanti kalau pekerjaan ibu sudah selesai iya sayang," ujarku mencium layar ponsel dan dibalas olehnya, melakukan kecupan di ponsel juga.
"Ibu, mainan yang ibu belikan bagus, aku bermain dengan semua teman-teman dan aku dapat hadiah dari guru ngajiku,” ujarnya dengan suara bersemangat.
“Oh Iyaaa. Kenapa?” tanyaku, ikut bersemangat.
“Karena Haikal rajin datang mengajinya. Bu”
“Oh, pintar bangat anak Ibu,” ucapku.
__ADS_1
“Telus hadianya dapat buku Igra, Bu,’ ujarnya dengan bibir cadelnya. Haikal masih kesusahan bulang ‘R’ . Maka itu setiap kata yang ada huruf R akan terdengar L hal itu membuatku sering tersenyum gemas bila mendengarnya bercerita. Ia dan kedua saudara penyemangat hidupku saat itu.
“Wah, hebat bangat anak ibu. Ibu bangga anak tampan,” ujarku ke layar ponsel, membuatnya semakin bersemangat.
"Baik-baik iya sayang, kalau Haikal baik dan pintar ngaji ibu akan pulang cepat," ucapku membuat janji.
Ternyata kata-kata yang aku janjikan padanya membuatnya sangat bersemangat . Kata pengasuhnya panti, ia sangat rajin ngaji dan menghafal doa makan .
Mendengar itu, hati ini, kembali merasa bersemangat, walau aku meninggalkannya di panti, aku tidak pernah melupakan tanggung jawabku sebagai seorang ibu.
Di masa lalu diri ini tidak pernah di bekali ilmu agama oleh almarhum ibuku, tetapi, aku tidak akan melakukan itu untuk anak-anakku
'Maafkan ibu Nak, karena sempat membenci kehadiranmu, ujarku dalam hati.
Terkadang terbesit di pikiranku, bagaimana kalau Farel dan keluarganya merebutnya dariku, hatiku tidak akan rela, maka aku memikirkan cara agar mereka tidak bisa mengambilnya dariku.
Karena saat ini, aku masih status istri untuk Farel. Karena saat aku pergi meninggalkannya belum ada kata cerai, mungkin ia sudah melupakanku dan bahagia bersama istrinya.
Tetapi … tidak mengapa bagiku, aku juga bahagia bersama anak-anakku.
Kini aku merasa kebaikan langit sedang berpihak untukku setelah melewati hari yang buruk karena, beberapa kali hampir kehilangan nyawa .
Darma yang saat ini sudah duduk di bangku SMP mendapat nilai terbaik di sekolahnya, ia banyak berubah setelah di jaga ayahku dan Ibu sambung ku, dan begitu juga dengan Jeny memutuskan memakai kerudung di kesehariannya, ia menutup auratnya di usia dini.
Menikah di usia 16 tahun, membuatku seperti adik kakak dengan putriku Jeny dan Darma.
Dulu, Jeny sempat bilang kecewa pada kehidupan orang tuanya, ia bilang belum siap memakai kerudung, tetapi kali ini Jeny berkata sudah mantap hati.
"Insya Allah Bu, aku sudah siap memakainya,” ujarnya lembut, mendengar dan melihat hal itu, membuat hati ini sangat terharu.
Ayah dan ibu, membawa anakku ke jalan yang lebih baik hal yang tidak bisa aku dan Dimas lakukan, sebagai orang tua.
"Terimakasih Yah,"kataku menangis terharu mendengar anakku mendapat nilai terbaik di sekolahnya.
"Itu sudah tugas ayah Rin, dia juga guru ngaji untuk anak-anak di Mushola, kamu tahu ... saat namanya di panggil dengan nilai terbaik di sekolahnya, ayah dan ibu di panggil ke sekolah, ayah menangis saat di depan," ujar ayah, ia mengungkapkan kebanggaannya saat di panggil di sekolah sebagai orang tua Darma, saat menerima rapot
__ADS_1
"Iya, ayahmu cengeng, ibu jadi malu," ujar ibu, mereka meledek ayah yang menangis terharu karena bahagia.
Melihat mereka semua bercanda dan bahagia, hatiku jauh lebih bahagia melihat mereka tertawa, aku ikut tertawa, Jenny dari dulu tidak pernah memanggil ayahku dengan panggilan kakek , karena aku memanggil ayah, ia juga ikut memanggil ayah dan Darma ikut-ikutan seperti adiknya, ia memanggil ayahku sebutan ayah dan untuk ibu sambungku, istri bapak di panggil ibu juga.
"Kok kalian masih panggil ayah sih, itu ayah dan ibuku bukan ayah kalian berdua ,"ucapku bercanda.
"Kami sudah terbiasa Bu, jadi sulit berubah-nya, kakek juga tidak keberatan kami panggil ayah," ucap Darma.
"Berarti aku jadi kakak kalian berdua donk," kataku protes, Ibu tertawa.
"Ayah tidak keberatan Rin, bagiku mereka berdua sangat berharga melebihi anak" kata ayah.
Mereka berdua tinggal dengan orang yang sangat tepat yang bisa membimbing dengan hidup yang lebih baik.
Aku merasa sedikit demi sedikit mulai membayar kesalahanku di masa lalu pada kedua anakku, aku berharap kelak bisa melihat mereka berdua bekerja lalu menikah, impianku sangat panjang tidak menyadari, waktu berlalu begitu singkat, kini anakku sudah tumbuh menjadi anak remaja.
Menikah di usia mudah membuatku memiliki anak remaja di di usia memasuki usia kepala tiga. Mungkin jika kami berjalan bersama akan tampak, seperti adik dan kakak , walau umurku sudah memasuki angka tiga puluh.
Namun, wajah ku, masih awet muda, selama di Taiwan, aku rajin merawat diri, jadi masih cantik seperti umur dua puluh lima tahun.
Aku menghabiskan waktu empat tahun bekerja di negara orang , aku hanya ingin kehidupan anak-anakku lebih baik dari hidupku, itulah yang saat ini tujuan utamaku.
Walau beberapa kali rekan kerja banyak yang menaruh perasaan padaku, tetapi aku menolaknya karena statusku saat ini masih istri dr. Farel Taslan.
Walau aku tidak pernah mengharapkan membina rumah tangga dengannya lagi.
Bagiku ia hanya lelaki dari masa lalu, aku juga tidak pernah mencari kabar tentangnya. Namun, tentang Virto menurut ayahku ia beberapa kali datang mencariku dan membantu anakku
Darma mendapatkan sekolah yang ia inginkan, datang ke rumah ayah. Namun, ayah tidak memberitahukan tentang aku. Aku sudah melupakan kedua lelaki itu dan aku berharap di kehidupan saat ini, baik di kehidupan yang datang.
Aku berharap tidak bertemu dengan mereka berdua. Aku hanya ingin meniti hidup yang baru bersama anak-anakku.
Bersambung ….
JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE FAPORIT IYA, KASIH BANYAK HADIAH, IYA KAKAK, AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI
__ADS_1
“ Kasih donk komentar kalian tapi Untuk Babnya juga, iya, Terima kasih.
Jangan lupa follow IG @sonat.ha