Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Putramu tampan seperti kamu


__ADS_3

Saat sedang duduk dengan Josua, tiba-tiba  dari ruangan pemeriksaan Farel, keluar dr. Lesa, wanita berkacamata itu menatapku dengan dalam membuatku menelan ludah dengan susah payah.  Jujur aku merasa takut dan tidak percaya diri saat bertemu semua anggota  keluarga Farel.


Aku mempersiapkan diri untuk siap menerima makian dan cacian darinya, seperti yang di lakukan almarhum Marisa padaku, tetapi tiba-tiba ia berkata lembut.


“Terimakasih Mbak Ririn, karena sudah  berhasil meyakinkan Farel,” ucap dr. Lesa dengan suara lembut  membuatku kaget.


“A-a-iya, Dok”


“Jangan panggil aku dengan sebutan dok, panggil aku kakak atau Mbak, kita belum pernah bertemu iya? Saya kakak  Farel” wanita berwajah cantik itu mengulurkan tangganya.


“Halo Mbak Lesa,” ucapku dengan sangat gugup.


“Boleh kita bicara di ruanganku?”


“Tapi Farel …?”


“Tidak apa-apa Rin, dia masih butuh banyak waktu untuk pemeriksaan”


“Baiklah,” ucapku meninggalkan Josua.


Berjalan mengikuti kakak Farel keruangannya,  wanita cantik itu menjadi  kepala rumah sakit di Bali.


Mengikuti  keruangan direktur.


“Duduklah Rin, mau pesan apa?” tanya dr. Lesa dengan lembut.


‘Apa dia aslinya memang baik. Apa ada sesuatu yang  dia inginkan?’ Tanyaku dalam hati.


“Tidak usah Mbak, saya  bawa minum,” ucapku menunjukkan  minum di tangan.


“Ririn, walau kita  belum pernah bertemu tetapi saya,  banyak mendengar tentang  kamu dari kakak iparku,”ucap dr. Lesa.


“Semoga beliau menceritakan ha yang baik,” ucapku dengan suara pelan.


“Iya, berkat kamu Farel bisa hidup,  sebenarnya kalau dia tidak menerima perawatan hari ini, bisa dipastikan dia akan semakin parah”


“Apa separah itu?


“Ia, luka di pundaknya sangat parah , dia seakan-akan ingin bunuh diri, kehilangan kamu dan anaknya membuatnya putus asa dan tidak menghiraukan kesehatannya, bahkan memusuhi kami semua gara-gara selalu mengingatkannya untuk kesehatannya”


Aku terdiam mendengar kakak iparku memulai cerita, akhirnya aku bisa mendapat jawaban kenapa Farel membenci saudara-saudaranya.


“Kenapa tidak di bujuk saat itu Mbak?” tanyaku.


“Kamu tahu sendiri Farel bagaimana keras kepalanya Rin, tidak satu orangpun keluarga yang berhasil mengajak periksa, baik abi sekalipun, hanya kamu orang satu-satunya yang bisa mengajaknya ke sini


”Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkannya yang aku khawatirkan kalau besi penyangga itu sampai  berkarat karena tidak di ganti-ganti, takutnya  mengotori darah dan menyumbat pembuluh darah di dalam hati, karena  menurut  anak-anak dia pernah mengeluh sakit di ulu hati”


“Itu artinya dia sakit parah?”


“Ya, hanya saja ia selalu menyembunyikan  penyakitnya dari semua orang, Rin itulah yang tidak aku suka dari dia”


“Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanyaku tidak bisa membendung rasa sedih di hati ini.


“Kalau dia mau, kita akan melakukan operasi besar untuknya, malam ini kalau tidak besok semua team dokter sudah saya siapkan,  kita akan  lepaskan besi penyangganya lalu cuci darah”


“Lakukan saja Mbak,  kalian,  kan, dokter pasti sudah tahu mana yang lebih baik untuknya”

__ADS_1


“Kami tahu, tetapi rumah sakit selalu melakukan semuanya sesuai prosedur, kami butuh persetujuan dari keluarga dekat untuk saat ini ya  kamu Ririn”


“Saya setuju Mbak lakukan saja,” ucapku dengan panik.


Mendengar kondisi Farel  membuat hati ini sangat sedih, aku tidak pernah menduga kalau  ia sedang sakit.


“Rin tolong bujuk dia agar ia mau  melakukan operasi itu,”ucap dr. Lesa.


“Baiklah Mbak Lesa.”


“Oh satu lagi Rin … Mari lupakan masa lalu, kita hidup yang lebih baik lagi,” ucap Lesa menatapku dengan tatapan dalam. Aku tahu kemana arah perkataanya. Namun aku memilih mengangguk pelan, aku tahu semua orang memiliki masa lalu, tetapi tergantung bagaimana kita memperbaiki diri,  sama hal denganku yang punya masa lalu kelam,  tetapi aku sudah berusaha   memperbaiki.


“Baik Mbak,” ucapku dengan suara pelan.


“Mari keluar Farel sudah selesai di periksa, ucap dr. Lesa memasukkan ponselnya lagi ke jubah   berwarna putih itu.


Mengikuti ia keluar dari ruangannya menuju ruangan Farel,  ia sudah keluar dari pemeriksaan.


Apa yang di katakan sang kakak benar, Farel menolak dioperasi, ia berbaring  di ranjang dengan mata tertutup.


“Apa yang terjadi?” dr. Lesa menatap kakak ipar.


“Kita terpaksa memberinya obat bius, karena ia menolak diperiksa pundaknya, aku menduga  bekas luka itu ada  terinfeksi’


“Apa yang kita harus kita lakukan? Apa kita lanjutkan tanya dr, Bura.


“Baiklah kita lanjutkan operasi, ini “


“Jangan dulu biarkan aku yang akan membujuknya, izinkan  saya bicara dengannya,” ucapku membujuk.


“Iya”


“Baiklah Rin, kami serahkan samamu tolong bujuk suamimu,  agar dia bisa sehat kembali,” akhirnya dr, Burak  , abang Farel buka mulut.


“Baik” ucapku sangat sungkan karena  semua mata para dokter itu menatapku


                *


Farel berbaring di ranjang rumah sakit dengan wajah sangat pucat, ia memakai pakaian  pasien rumah sakit.


Setelah beberapa jam, akhirnya ia bangun kembali, mulutnya meringis menahan sakit, ia tidak meminum obat pereda saki seperti yang biasa ia minum.


“Apa kamu merasa kesakitan?” tanyaku duduk di sampingnya. Tanganku menekan bel tanda darurat.


“Tidak,” ucap Farel setelah ia melihatku duduk di sampingnya, ia berusaha menyembunyikan rasa sakit dariku.


“Farel dengar … kamu harus melakukan operasi agar kamu bisa pulih”


“Rin, tidak usah ikut-ikutan, aku sudah bilang aku tidak apa-apa, bantu aku duduk,  ayo kita pergi dari sini. Ayo kita menemui putraku”


“Putramu sangat tampan Farel, lihat ini,” ucapku menunjukkan foto Haikal.  Ia diam menatap foto anak tampan berusia empat tahun lima bulan itu.


Namanya Haikal Adnan Taslan. Nama pemberian eyang,” ucapku.


Ia terdiam dengan tatapan mata melotot menatap foto putranya, ai mata akhirnya tumpah lagi, tidak lama dari pintu ketiga kakak iparku datang, ikut mendekat.


Ikut melihat foto di tangan Farel.

__ADS_1


“DIa putramu Farel, aku berjanji akan membawamu bertemu denganmu kalau kamu mau dioperasi,” kataku.  Tubuhnya  bergetar menatap foto Haikal.


“Dia lelaki?” tanya Lesa dengan tatapan mata berbinar. Seketika mereka bertiga  mendekat dan bergantian melihat foto si tampan Haikal


“Iya Mbak, dia lelaki,” ucapku.


“Iya Allah tampannya, kakak sini lihat ini mah  Farel waktu kecil!” teriaknya menatap sang kakak dr. Burak.


Farel masih membisu, ia berusaha menenangkan jantung dan perasaanya.


“Rel, wajah putramu wajahmu waktu kecil,” ucap dr Burak, ketiga orang


“Lalu kenapa kamu berbohong padaku?” tanya Farel dengan  suara lemah.


“Aku sudah bilang padamu,  itu caraku untuk melindunginya, tetapi jika kamu mau menerima pengobatan.  Selesai operasi aku membawa dia kesini,” ucapku.


Tiba-tiba ia memeluk dengan tangisan,  ia tidak bisa menahan luapan emosinya,ia menangis di pelukanku aku bisa merasakan tubuhnya bergetar  menahan rindu.


“Biarkan dia  menangis, agar  beban di pikirannya  berkurang,” ucap dr. Lesa, mereka meninggalkan aku berdua.


“Aku , aku mau di operasi Rin, aku mau …,” ucapnya  belum melepaskan pelukannya.


“Anak kamu tampan kan?”


“Iya dia sangat tampan,” ucapnya  ia  menjadi cengeng.


“Jadi apa kamu mau di operasi? Agar kita bisa bertemu dengannya?”


“Iya aku mau”


“Ikhlas?”


“Iya”


“Baiklah, apa kamu mau  menelepon putramu?”


‘APAAA … ?”


“Iya sebelum kamu dioperasi kita akan video call sama putramu, apa kamu mau?”


Wajahnya mendongak menatapku  dengan tatapan tidak percaya. “Apa kamu yakin bisa?”


“Bisa Farel, makanya kamu harus mau dioperasi iya, ini demi putramu. Mau kan  bertemu?”


“Baiklah, katakan pada kakakku aku mau,” ucap Farel mengusap sisa air matanya,  memegang dan menatap terus foto putranya.


               Bersambung ….


KASIH BANYAK HADIAH juga  AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA  SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI


                 Baca juga:


“Menikah Dengan Brondong”


Follow ig sonat.ha dan


Fb Nata.

__ADS_1


__ADS_2