
“Ada apa denganmu sayang, tenanglah jangan berputar-putar seperti itu. Ibu jadi ikut kesakitan, Aaaa ….” Aku mengelus-elus perut ini dengan lembut.
“Bertahanlah, kita sebentar lagi sampai di rumah sakit,” ujar Farel ia sangat ketakutan.
Satu tangannya menyentuh perut ini, aku bisa rasakan tangan Farel bergetar karena panik, aku tahu, ia terlihat sangat merasa bersalah.
“Aaaa aku tidak tahan lagi,”ujarku meremas lengan Farel, menahan rasa sakit.
“Buka saja kancing celana mu, Rin”
“Tolong cepatlah, aku tidak tahan lagi, aku mengalami kontraksi"
“Bertahanlah sayang! please .... aku mohon,” ujar Farel mengelus dengan lembut.
Perjalanan terasa sangat lama, saat menuju rumah sakit, aku melepaskan celana seragam kerja yang aku pakai, memberinya ruang gerak yang lebih luas. Tetapi, sakitnya melebihi orang yang akan melahirkan normal, perut mulas tidak karuan, karena ia terus bergerak gelisah.
Kini aku hanya menggunakan ****** ***** berwarna hitam, aku tidak menghiraukan lagi rasa malu dan tidak memikirkan rasa malu lagi di depan Farel.
Yang aku pikirkan, hanya rasa sakit dan keselamatan Si Utun di perut, baik Farel juga demikian, aku melihat matanya tampak berkaca-kaca dan wajahnya pucat pasih melihatku meringkuk kesakitan.
“Tolong berhentilah Nak berputar-putar, perut ibu jadi sakit,” ujar ku berjongkok di samping tubuh Farel, tanpa sadar aku memeluk sebelah pundak, ayah dari anak yang aku kandung itu.
Satu tangan Farel menggenggam tanganku, ia memegangnya dengan kuat. seakan-akan memberi kekuatan.
“Bertahanlah,” ujarnya dengan suara bergetar rambutnya tampak berantakan menutupi keningnya. Penampilan kami berdua sangat berantakan.
“Aku tidak tahan lagi, rasanya sakit sekali,” bisik ku pelan.
Akhirnya mobil sport berwarna hitam itu, berhenti di salah satu rumah sakit terdekat.
Dengan cepat Farel membuka pintu di sebelahku dan membuka jaket miliknya untuk menutup bagian bawahku, karena aku melepaskan celana kerja yang aku pakai tadi.
Menggendong dan membawa langsung ke ruangan dokter kandungan, tanpa permisi tanpa izin, ia menerobos ruangan pemeriksaan. Seolah-olah rumah sakit itu, punya nenek moyangnya.
“Eh, Pak saya masih ada pasien, main serobot saja,” rutuk seorang dokter wanita menatap Farel dengan tatapan marah. Tetapi Farel menghiraukan ocehan sang dokter, ia meletakkan tubuhku di ranjang. Ia sendiri yang merawat ku, dokter dan perawat itu hanya diam saat Farel melakukan semuanya sendiri tanpa berkata apa-apa.
Ia memasang infus di lenganku dan ia menggunakan peralatan dokter itu tanpa izin tanpa mengatakan apa-apa pula.
‘Farel apa kamu memang selalu bersikap songong seperti ini’ ucapku dalam hati.
__ADS_1
Dokter wanita itu hanya diam, akhirnya ia paham lelaki yang bersikap kurang ajar itu adalah seorang dokter.
“Texnoksinya lagi habis Dok, pakai saja Sanaxaksin," ujar wanita itu membuka kotak obat.
Farel masih diam, ia mengeluarkan obat yang di berikan dokter dan menyuntikkannya ke infus .
Melihat Farel bercucuran keringat, akhirnya dokter itu mengalah dan berbaik hati.
“Biarkan saya saja, Dok.” Farel memundurkan tubuhnya dan membiarkan dokter wanita itu memeriksa aku selanjutnya.
“Usia kandungan 25 minggu, mengalami kontraksi dini.” Farel menjelaskan semuanya.
“Apa dia ada penyakit mag?”
Farel menatapku, aku membalas dengan anggukan kecil, aku memang ada penyakit mag akut.
Tidak lama kemudian, seorang perawat wanita mendorong sebuah alat pemindai atau disebut juga Ultrasonografi dalam bahasa ke dokteran atau di sebut alat USG.
Wajah Farel saat tegang, saat dokter wanita mulai mengolesi cream di perutku dan menggerakkan alat pemindai nya ke sana-kemari. Farel mengigit kepalan tangannya dan mata terfokus serius menatap layar monitor.
Matanya tampak berkaca-kaca, saat layar monitor itu memperlihatkan debay dalam rahimku.
“Ibu, bayinya laki-laki, ini, monas sudah kelihatan jelas, nih,” ujar dokter menatapku, aku hanya mengangguk biasa saja. Tetapi sangat berbalik dengan Farel, wajahnya sangat bahagia luar biasa, saat ia mendengar detak jantung bayinya laki-lakinya.
Setelah dipasang infus dan diberi suntikan, akhirnya ia tenang dan aku memilih menutup mata. Bertarung menahan rasa sakit sejak tadi membuatku kehabisan tenaga. Aku memilih tidur membiarkan Farel dan dokter yang mengurus semuanya.
Saat aku mulai tidur samar-samar aku merasakan Farel mendaratkan bibirnya di keningku dan mengelus perutku dengan lembut.
“Maaf,” ucapnya dengan suara bergetar.
Tetapi aku enggan membuka mataku, rasa ngantuk itu sangat kuat, sampai-sampai aku tidak mampu membuka mata. Aku tidak tahu apa lagi yang dikatakan Farel dan apa yang ia lakukan, aku sudah masuk ke alam mimpi dan tertidur sangat pulas.
*
Saat membuka mata, aku melihat kanan-kiri, Farel tertidur di sebelahku, kepalanya ia letakkan di sisi ranjang dan satu tangannya menggenggam satu tanganku. Mungkin, ia takut aku kabur lagi, mataku menatap wajah Farel.
‘Oh, betapa tanpannya lelaki ini, alis matanya tebal berjajar rapi bagai semut beriringan, Oh .. hidungnya bisa dijadikan pelosotan, Oh, dagumu bersih habis di cukur aku kagum dengan ketampanan lelaki ini. Tetapi tidak ada niat sedikit pun untukku, niat bersamanya.
Bukan hanya wajahnya yang tampan, Farel juga sangat pemilih soal pakaian, terlihat dari pakaian yang selalu ia gunakan, selalu menggunakan merek tertentu dan pastinya yang branded di setiap penampilannya. Ia lelaki berkelas. Saat aku, asik meneliti setiap inci dari wajahnya tampannya, ia membuka mata, menatapku dengan tatapan mata merah.
__ADS_1
“Oh, kamu sudah bangun, Apa kamu mau makan?” Farel duduk menegakkan tubuhnya dan mengerakkan lehernya kiri-kanan.
“Apa yang terjadi padanya?”
Farel menarik napas panjang, menatapku dengan sangat dalam” Kamu hampir membunuhnya”
“Kenapa?”
“Rin, apa dari pagi kamu tidak makan?”
“Aku memakan sepotong roti”
“Perut kamu kosong, tetapi kamu meminum minuman bersoda, membuat asam lambung mu naik, perutmu di penuhi gas, itu membuatnya tidak leluasa bernafas dan gas itu juga menekan rahimmu membuatnya terhimpit”
‘Kasihan si Utun, pasti ia sakit tadi’ ucapku mengusapnya lembut.
Farel, lebih pendiam dari biasanya, bahkan ia tidak berani menatap wajahku. Wajahnya tampak murung seakan-akan memikirkan hal yang sangat penting.
‘Apa yang membuatnya berubah menjadi pendiam seperti ini? Apa dia merasa bersalah bersalah atas penolakan yang ia lakukan tadi. Apa dia berubah pikiran untuk menikah? Kamu susah di tebak .... Anak muda!' ucapku dalam hati
“Baiklah, aku sudah merasa baikan, mari kita pulang,” kataku ingin duduk. Farel dengan sigap membantuku duduk, ia tidak mengatakan apa-apa. “Apa kita bisa pulang Pak Farel?" tanyaku saat ia diam.
Farel menarik napas berat, ia akhirnya menatapku.
“Aku melakukan itu tadi ... untuk melindungi mu, jangan salah paham,” ujar Farel.
“Baiklah,” jawabku santai, tidak ingin berdebat untuk hal-hal yang menurutku tidak penting.
Aku tidak perduli, ucapan penolakan yang dilakukan Farel tadi, untuk melindungi atau karena merasa malu, hanya ia yang tahu. bagiku semua sama saja.
Aku justru berpikir, apakah ia akan terus memaksaku untuk menikah, lagi?
Bersambung ….
JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA
share kasih review, kasih hadiah juga boleh …. Agar cerita ini bisa naik level. Terimakasih Kakak. Kalau bisa naik level kita akan update tiga sampai empat bab perhari. Terimakasih salam sehat untuk kita semua.
Jangan lupa follow IG @sonat.ha
__ADS_1