Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Diculik


__ADS_3

Aku berdiri di depan pintu melihat Farel mengeluarkan mobil, wajahnya masih terlihat sangat marah dan matanya menatapku sinis, ia pergi begitu saja, tanpa mengucapkan sepatah kata.


Kini tinggal aku sendiri di dalam rumah, ada banyak perasaan yang berkecamuk dalam dada ini, keinginan untuk kabur kembali muncul di kepalaku.


Aku berpikir menikah akan membuat hidupku akan seperti di neraka, karena baru hitungan minggu menikah dengan Dr. Farel, ia sudah mengaturku.


"Apa yang akan terjadi selanjutnya?"


Berdiri di depan cermin melihat pantulan diriku yang menyerupai badut, aku baru menyadari kalau kehamilanku kali ini, ternyata lebih besar dari kehamilanku yang pertama dan kedua, aku merasakan ia sangat aktif bergerak.


Aku baru nyadar, selama ini, aku tidak pernah memperhatikan asupan gizi untuknya, janin di rahimku, tumbuh begitu saja tanpa aku pernah perhatikan dan tidak pernah memeriksa ke dokter.


Hanya Farel yang selalu mengingatkan ku dan ia sendiri yang memeriksanya. Jika ia memeriksa aku akan sibuk main ponsel seolah-olah janin dalam rahimku hanya milik Farel. tidak pernah protes kalau aku bersikap tidak kurang perhatian, pada kehamilanku.


"Maaf nak, kalau ibu selama ini tidak memperhatikan mu, ibu berharap kamu sehat." Tendangan kecil aku rasakan di perut saat aku mengelusnya.


Masih sisa tiga bulan lagi untuk melahirkan, aku berharap setelah aku melahirkan, Farel menepati janjinya, untuk menjagaku.


Itu artinya dalam tiga bulan ini, aku harus bertahan,


Aku akan melakukan tugasku melayani sebagai seorang istri seperti yang ia harapkan. Aku akan bersikap baik seperti yang ia minta.


Tinggal sendirian di rumah membuatku sangat jenuh, ingin rasanya jalan-jalan di tepi pantai menikmati angin pantai yang menyejukkan. Tetapi aku mengurungkan niat itu, aku takut Farel menjadikan itu alasan untuk marah. Jadi aku menahan diri untuk keluar dari pintu villa, aku hanya melihat dari jendela menikmati pemandangan pantai Bali yang sangat indah.


Aku habiskan waktu hari ini, hanya menonton lalu beres-beres jalan ke depan balik lagi ke belakang, begitu saja seterusnya hingga satu hari berlalu. Saat jam menunjukkan pukul 17:00 WiB.


Aku memasak makan malam untukku dan Farel. Berharap dengan aku memasak makan malam untuknya, ia tidak marah lagi, hampir dua jam berkutat di dapur akhirnya selesai juga, tubuhku sangat capek, mungkin karena sudah lama tidak pernah memasak. Aku sudah selesai mandi dan sudah rapi tinggal menunggu Farel pulang.


Tepat jam tujuh lima belas akhirnya lelaki tampan bertubuh tinggi itu pulang, saat mendengar suara mobil aku merasa riang berdiri, di pintu untuk menyambutnya layaknya seorang istri.


"Selamat datang kembali." Aku meminta tas kantor dan membantu melepaskan jas yang ia pakai.


Kedua alis Farel menyengit bingung dengan perhatian yang aku berikan."Ada apa?"


"Tidak apa-apa, hanya ingin bersikap baik layaknya seorang istri yang melayani suami"


"Jangan memaksakan diri Rin, segala sesuatu yang di paksa kan hasilnya tidak maksimal,"ujar Farel.


"Tidak apa-apa, aku hanya berusaha, mari duduk aku sudah memasak makan malam untuk kita,"kataku berusaha bersikap baik.


"Aku sudah makan," ucapnya dengan tatapan datar, tidak menunjukkan rasa bersalah.


"Tapi aku sudah mengabarimu, kalau kita akan makan malam di rumah," kataku dengan suara bergetar, rasa lelahku memasak ternyata sia-sia.

__ADS_1


"Aku baru melihatnya saat mau pulang. Kalau kamu mau makan , makan saja." meninggalkanku yang duduk lemas.


Apa yang dilakukan Farel, membuatku sangat kecewa, marah, lelah. Ia tidak tahu bagaimana lelahnya aku mempersiapkan menu makan malam .


Farel meninggalkanku duduk di sofa. Tiba-tiba aku merasa sangat panas, rasa lapar yang sedari tadi aku tahan demi makan bersamanya . Kini hilang sendirinya, aku meraih selendang untuk menutup tubuh ini dari terpaan angin malam .


'Aku sudah berusaha bersikap baik, tapi Farel tidak menghargai, sebenarnya yang bersikap labil, Aku apa Dia sih?' tanyaku dalam hati.


Lalu aku keluar dari rumah, berjalan menuju tepi pantai, perasaan sedih yang aku tahan sejak beberapa hari akhirnya tak terbendung lagi. Aku bukan robot, walau aku selalu bersikap kuat dan tegar. Tetapi ada kalanya aku merasa lelah, apalagi dengan tubuh berbadan dua.


Aku sudah mengalah dan mau menikah denganmu, tetapi kamu malah bersikap dingin. Kamu maunya apa sih sebenarnya’ teriakku dalam hati ini.


Bendungan di mataku tumpah sungai kecil mengalir deras dari pipi ini, berdiri di pinggir pantai dengan keadaan malam, sebenarnya di larang , tetapi kali ini aku tidak lagi memperdulikan pantangan atau larangan itu.


Justru aku berharap penjaga pantai itu menarikku ke dasar laut menenggelamkan ku sampai mati.


‘Aku lelah iya Allah’ ucapku dalam hati


Aku menangis bukan hanya karena sikap Farel yang tidak menghargai usahaku , tapi aku merindukan kedua anak-anakku juga, aku ingin sekali memeluk mereka berdua, aku ingin mencium bau tubuh anak-anakku.


Bahuku semakin terguncang-guncang menahan tangisan, hingga aku merasakan seseorang memegang pundakku, belum juga sempat menoleh sebuah tangan menyekap mulutku dan aku bisa merasakan seseorang mengopong tubuh ini membawa pergi. Hingga akhirnya, mataku terpejam dan tertidur pulas.


'Apa ini? bukan ini yang aku inginkan, siapa yang melakukannya, siapa yang menculik seorang wanita yang sedang bunting ' ucapku dalam hati.


Saat aku terbangun dan membuka mata, tubuhku terikat di kursi lagi, ini untuk kedua kalinya, dengan tangan terikat dan mulut dilakban, aku tidak bisa berteriak. Aku membayar harga yang mahal atas jalan hidup yang salah di masa lalu, menjadi Pelakor nyaris membuat hampir mati beberapa kali.


"Farelll … tolong aku!" Teriakku, ketakutan, aku tidak ingin mati konyol seperti ini.


Dua lelaki yang menculikku, memakai penutup mata sampai aku tidak bisa mengenalinya.


'Apa aku akan mati seperti ini'


Saat aku merasa ketakutan , ia juga merasakannya ia menendang-nendang keras sampai-sampai aku merasakan sakit di bagian perut, bahkan untuk menenangkan aku tidak bisa, kedua tanganku di ikat ke belakang..


Dalam hati aku hanya meneriaki nama Farel, aku yakin ikatan batin antara dia dan anaknya akan mendengar teriakan, saat menutup mata tiba-tiba ...


Dooor ...!


Satu lelaki yang berdiri di sampingku tumbang dengan tubuh bersimbah darah, saat melihat kengerian itu, aku ketakutan tubuhku gemetaran, bahkan karena ketakutan aku sampai ingin mengompol di celana.


Satu lelaki yang tersisa itu mendekat dan mengarahkan pistol kecil itu ke arah keningku.


"Jangan mendekat atau aku akan membolongi kepala wanita ini," ujarnya dengan menekan moncong pistol ke bagian kening.

__ADS_1


Tidak lama kemudian dari balik dinding muncul Mas Virto dengan tangan diangkat ke atas kepala.


'Oh, kenapa dia … kenapa dia?' aku menggeleng dengan mulut di lakban..


Pada saat ia meminta Virto berjongkok dan tangan di atas kepala , tiba-tiba.


Gubraaak ...!


Tubuh yang menodong kepalaku dengan senjata terkapar dengan kepala berlumuran darah, aku semakin merasakan kengerian yang luar biasa melihat darah menetes ke wajahnya membuat perutku mual.


Farel juga datang dan memukul tubuh satu lelaki itu dan Virto melumpuhkan satu penculik dengan satu tembakan dan Farel memukul menggunakan sekop.


"Kamu tidak apa-apa?" Wajah Farel ketakutan, ia membuka ikatan tanganku.


“Farel …!" Menghamburkan tubuhku ke pelukannya, "Aku berpikir aku tidak akan hidup lagi"


"Cepat bawa dia dari sini," pinta Virto dengan kembali memegang pistol dan ia mengawasi sekeliling.


"Farel menggendong tubuh ini dan membawa ke dalam mobil. Namun, saat ia ingin memasukanku ke dalam mobil, sebuah tembakan mengenai kaca mobil seketika kaca pecah berhamburan, dan aku merasakan lenganku mengeluarkan cairan.


Farel memelukku dan menjadikan tubuhnya tameng untuk melindungi, aku bisa melihat ketakutan di wajahnya . Ketakutan hal buruk terjadi pada anaknya, aku tahu, para bajingan kejam itu hanya ingin menyingkirkan ku.


Pecahan kaca mobil mengenai wajahnya yang tampan , tetapi ia tidak menghiraukannya, ia tetap memelukku.


Tidak lama kemudian satu tembakan terdengar di ikuti rentetan suara tembakan yang membabi buta, saat Farel memelukku untuk melindungi. Pintu mobil terbuka dan Virto masuk, dengan cepat ia mengambil ali kemudi.


Lalu menginjak pedal gas dan mobil bagai terbang, lalu ingin meninggalkan rumah kosong.


"Tetap menunduk!” pinta Virto meminta kami menunduk.


Dooor …!


Saat mobil melaju dengan kecepatan penuh, sebuah tembakan masih terdengar dan satu peluruh menembus pundak Virto mobil yang ia kendarai tidak stabil.


Bersambung …


“ Kasih donk komentar kalian tapi komentar yang membangun iya … Kalau komentar yang julid mending gak usah deh, bikin sakit kepala


Mana tahu dari setiap komentar yang masuk, saya dapat ilham dan punya ide untuk menulis bab selanjunya”


JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA, KASIH BANYAK HADIAH JUGA BOLEH.


Jangan lupa follow IG @sonat.ha

__ADS_1


__ADS_2