
Besok pantai akan ramai dan penginapan kami akan dipenuhi orang-orang yang mengikuti festival, sebuah pertandingan olah raga surfing. Olahraga yang paling di Minati anak-anak muda.
Itu juga yang membuat karyawan perempuan sangat bersemangat pagi ini, karena akan bertemu orang-orang tampan dari seluruh Indonesia, karena festival itu diikuti dari berbagai daerah.
Kemeriahan sudah terlihat di pantai, di mana festival akan diadakan, bahkan penginapan kami sudah mulai dipenuhi tamu yang akan menginap karena festival diadakan besok. Tetapi, entah kenapa hati ini merasa tidak tenang.
‘Tenanglah Rin, tidaka kan terjadi apa-apa, semua akan baik-baik saja,' ucapku dalam hati, mencoba menenangkan hati, tubuhku saat ini gampang merasa capek dan sering pusing jika berdiri lama, aku memilih duduk, meminum segelas susu hangat sebagai serapan, tiba-tiba seorang karyawan mendekat dengan wajah sumringah.
"Kak, aku senang bangat saat ini," ujar Tere dengan wajah greget, menahan perasaan senang.
"Kenapa?"
"Di blok barat tempat tamu anak-anak muda, mereka semua tampan berkarisma, mereka semua ganteng-ganteng barusan datang dari Jakarta."
"Oh,gitu,?"awabku hanya sekedar.
"Kak aku yang bertugas blok barat iya?" ucapnya memohon, biarkan Mira ke blok timur, di sana kebanyakan orang tua, malas aku," ujar Tere dengan mata di kedip-kedipkan tanda memohon.
"Baik, lakukan dengan baik, iya."
"Baik Kak," ujar wanita berambut keriting dengan sangat senang.
Setelah dua bulan, Aku resmi diangkat jadi pengawas tetap, jabatan yang luar biasa untukku, mengingat ijasah yang aku miliki hanyalah tamatan SMP, aku mendapatkan posisi saat ini hanyalah karena sebuah kepercayaan dan karena rasa kasihan ibu dokter padaku.
Karena itu aku akan berusaha menjaga kepercayaan itu dengan baik, karena aku sadar sebuah kepercayaan itu sangat berharga aku juga mencoba dekat dengan semua karyawan.
Aku juga mencoba memaklumi Tere dan anak-anak yang lain, karena mereka semua masih muda, masih ingin melihat yang indah-indah atau cowok tampan, kalau aku tidak lagi
Bagiku cowok tampan itu, putraku Darma foto mereka yamg memenuhi memori ponselku saat ini.
Malam ini kami memasang sebuah panggung di halaman depan penginapan untuk menambah hiburan, jadi kalau ada tamu yang ingin menyumbangkan lagu, akan semakin menambah kemeriahan, bahkan aku di jadwalkan untuk membawakan beberapa lagu.
Aku tidak keberatan , karena dulu aku sempat jadi biduan dangdut, kami selalu mengadakan panggung di berbagai acara, aku juga mantan penyanyi cafe dan memiliki suara yang lumayan bagus. Maka malam ini, aku tidak keberatan menghibur tamu hotel.
Aku juga melakukan tugasku sebagai pengawas dengan baik, memastikan setiap pengunjung tidak kekurangan apapun dan mendapatkan pelayanan yang baik dari hotel kami.
__ADS_1
Saat selesai menyusuri semua kamar penginapan dan hendak turun ke panggung musik. Tiba-tiba Tere menarik tanganku lagi.
"Ayo ikut gabung kak, mereka kekurangan team dalam permainan ada seorang lelaki tampan memintaku mengajak kakak.”
"Permainan apaan? Siapa yang mengajak?”
"Pokoknya ada lelaki tampan.”
Tere menarik ku ke salah satu saung di depan penginapan, di mana tamu penginapan itu berkumpul dengan suara riuh, tamu dari Jakarta yang di dominasi anak-anak muda.
"Kakak Ririn jadi team kami!" teriak Tere, ia ikut dalam permainan dan mengajakku bergabung. Tetapi, saat berada dalam saung itu, aku hampir jatuh ke belakang karena kaget.
Saat aku memohon agar tidak mempertemukan laki-laki itu lagi, kini ia ada di depanku, tetapi ajaibnya saat aku terkejut setengah mati karena bertemu dengannya. Ia menatapku dengan tenang, seolah-olah tidak mengenalku dan seorang perempuan cantik bergelayut manja di lengannya.
Aku menarik napas perlahan untuk menstabilkan jantungku yang masih berdetak dengan hebatnya.
Aku berharap laki-laki ini amnesia selamanya dan tidak mengingat ku,saat aku memohon pada Tuhan agar tidak bertemu mereka lagi, mungkin Tuhan sedang sibuk hingga menghiraukan permintaanku.
Farel Taslan, ia bersikap tenang seolah-olah tidak mengenalku dan aku sangat berharap, ia tidak mengingatku dan aku berpikir kalau dia memang mau melupakanku, karena sudah ada wanita cantik bersamanya. Dari cara wanita itu memperlakukannya, aku berpikir kalau wanita cantik itu kekasihnya.
Aku mencoba bersikap profesional.
"Ok team kita sudah pas," ujar seorang lelaki yang tampak lebih dewasa.
Seorang lelaki tampan mendekati dan memperkenalkan diri bernama Dimas, lelaki tampan ini yang jadi pasanganku dalam permainan mereka.
"Permainan apa ini?" bisik ku pada Dimas yang berdiri di sampingku.
"Tidak tahu, katanya permainan tradisional tali cinta."
Saat mendengar namanya aku tertawa terkekeh, karena mengingatkan dengan permainan tali yang satu ini.
"Apa mbak Ririn tahu?"tanya Tere paling heboh.
Aku mengangguk. "Tapi ini permainan untuk sepasang kekasih masalahnya kita berdua ..."
__ADS_1
Dimas tertawa "Iya mbak benar, abang itu yang pilih mentang-mentang mereka semua bawa pasangan sementara aku tidak."
"Bagaimana kalau kita mundur saja dan kita ke panggung, menyanyikan satu dua lagu?” kataku mengajak lelaki berbadan tinggi itu besar itu menjauh dari Farel.
Dimas mengangguk setuju. "Iya boleh, permainan apaan ini? ikat pakai tali. Aku mundur saja, aku sama Mbak Ririn mau nyanyi saja,” ujar Dimas meninggalkan teman-temanya.
Kami berdua meninggalkan orang-orang yang memiliki pasangan, aku menarik napas lega, karena tidak ikut bergabung dengan Farel. Aku merasa tiba-tiba lutut kakiku bergetar karena bertemu lelaki yang paling aku hindari di dunia ini.
Aku menahan diri bersikap biasa di depannya, tetapi rasanya sangat sulit, aku sudah berusaha tadi, untuk tidak menatapnya atau bertemu mata dengannya. Namun yang terjadi, ia menatapku dengan tatapan penuh makna yang tidak bisa aku artikan membuatku semakin frustasi.
"Apa kita akan bernyanyi di sini?" tanya Dimas menunjuk panggung musik di depan penginapan.
"Iya kamu duluan saja iya, nanti aku akan menyusul aku mau menuntaskan pekerjaanku dulu."
"Ok, ok, Mbak."
Aku menuju kamar mandi dan duduk lemas dia atas kloset,
"Kenapa ….? Kenapa harus bertemu dengannya lagi?" Aku putus asa, berat rasanya bersikap pura-pura tidak kenal dengannya, setelah semua yang kami alami, dua bulan yang lalu ia masih tinggal bersama ku dalam satu atap, tidak mungkin rasanya aku bisa bersikap pura-pura tenang di depannya.
Setelah membasuh wajahku dan menarik napas dari hidung dan menghembuskan dari mulut berharap ritual kecil itu mengurangi rasa gugupku. Namun, hasilnya sama saja, jantungku masih berdetak tidak karuan, bahkan saat aku ingin berdiri lutut ku masih bergetar.
Kedatangan Farel ke pulau Toros, bagai mimpi buruk bagiku. Tetapi, aku harus bisa mengatasinya, aku sudah berjanji pada anak-anakku aku akan menjalani hidup yang baik, setelah bisa menenangkan diri, aku keluar dari kamar mandi.
Lagi-lagi jantung ini, di buat hampir copot olehnya, saat keluar dari kamar mandi Farel, sudah menungguku di pintu kamar mandi.
"Apa kamu ingin melarikan diri lagi?”
“Tidak, aku hanya ingin ke kamar mandi.”
Dag .. Dig ..Dug …
Bunyi detak jantung ini semakin berdendang, bagai gendang yang di palu. Kenapa harus bertemu Farel lagi, setelah aku berusaha keras melepaskan diri darinya? ‘Ya Allah tidak bisakah aku hidup bahagia?’ ucapku dalam hati.
Bersambung....
__ADS_1