
Setelah kenyang memakan kebab dua potong dengan ukuran yang lumayan besar di tambah setengah milik Farel aku merasa sangat kenyang
“Ayo pulang, aku sudah kenyang.” Aku berdiri mengajak Farel pulang.
Aku mendengus kesal melihat rantai kecil yang terikat di tanganku sebenarnya bukan rantai, seperti tali yang biasa di gunakan untuk anak kecil yang diajak orang tuanya ke mall, agar tidak hilang. Bedanya yang aku pakai menggunakan pengikat yang pakai kunci.
“Kamu mau aku ajak jalan-jalan, gak?” tanya Farel menatapku dengan tatapan bersemangat.
“Tidak, ini sudah pagi, aku sudah sangat mengantuk, sebaiknya kamu singkirkan tali pengikat ini, ini membuatku tidak nyaman,” ujarku, menggerak-gerakkan tali dari tanganku.
“Bagaimana kalau kita melihat pemandangan dari tempat paling tinggi?”
“Tidak mau, aku mengantuk,” kataku masih ada sedikit rasa kesal pada Farel.
“Pemandangan malam sangat indah di lihat dari menara Eiffel"
“Ini, kan sudah malam , mana buka lagi”
“Tenang saja aku bisa melakukannya." Farel yakin.
‘Iya aku tahu kalau orang kaya seperti kamu, tidak perlu di ragukan, pasti bisa melakukan itu’ ucapku dalam hati.
Aku tidak bisa menolak saat dia mengajak melihat pemandangan dari ketinggian. Benar saja, saat kami tiba, pemandangan yang luar biasa terlihat dari bawah. Menara yang sangat mendunia itu terlihat sangat indah. Lampu-lampu yang berwarna-warni menghiasi sekeliling menara.
“Wow keren bangat. Tapi apa kamu yakin kita masih bisa naik ke atas? Apa petugasnya masih memperbolehkan kita. Soalnya kata temanku kalau malam hari, hanya sampai jam sembilan bisa naik lift ke atas”
“Tenang saja, asalkan kamu mau menuruti perkataan. Nanti kalau aku menunjuk ke sini kamu hanya perlu memijit keningmu,” ucap Farel .
“Haaa, itu kode apa?” tanyaku penasaran lagi.
“Ikuti saja,” ucap Farel.
Aku mengangguk setuju. Lalu ia membuka kunci tali pengikat itu dari tangannya dan mengikatnya di kemudi mobil, lalu ia keluar menemui petugas penjaga menara.
Entah apa yang di katakan Farel, ia menunjukku dan ... aku memijit keningku seperti kode yang dikatakan Farel. Lalu ia mengeluarkan kartu dari dompetnya dan memberikan sebagai jaminan.
“Apa lagi yang kamu katakan sekarang?” ucapku pelan, menatap Farel. Sangat penasaran apa yang ia katakan pada penjaga keamanan Menara.
__ADS_1
Hanya butuh beberapa menit untuk ia bicara, lalu ia kembali lagi ke mobil.
“Apa yang kamu katakan? Kamu pasti bilang aku gangguan jiwa, kan?” tanyaku menatapnya dengan serius.
“Tidaklah, masa wanita secantik istriku dibilang gangguan jiwa, mereka juga pasti tidak percaya,” ucap Farel tetapi ia tersenyum.
“Pasti percayalah, orang aku pakai kolor boxer milikmu, terus tidak pakai Bh lagi, pasti percayalah”
Lagi-lagi Farel tertawa mendengar ucapanku.
“Kok, kamu tertawa terus sih, memangnya aku badut, terlihat lucu, kamu lihat” kataku sewot.
“Tidak kamu itu cantik,” jawab Farel singkat dan memajukan mobilnya.
Lalu kita parkir di ujung taman. Farel mengajakku naik keatas setelah seorang petugas membuka pintu lift dan mengantar kami sampai ke lantai tiga, lantai puncak dari menara itu, lantai dua masih ke tutup kaca, tetapi lantai tiga sebagai lantai paling puncak, tampak pemandangan dari sana sangat-sangat luar biasa, tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Lebih memukau, sampai-sampai mataku dibuat melotot dan mulutku tidak berhenti berucap kagum. Farel, kali ini sangat tahu, bagaimana membuatku tidak marah lagi padanya. Pemandangan luar biasa ini sangat membuatku begitu terkesan.
Aku memang wanita yang aneh yang suka sekali melihat pemandangan dari ketinggian, jika kebanyakan orang takut ke tempat tinggi, aku, malah beda sendiri . Aku senang sekali pergi ke tempat tinggi.
Melihat pemandangan dari ketinggian itu, sekejap pikiranku langsung terasa plong seakan-akan terbuang beban pikiran setengah. Bahkan kemarahanku pada Farel.
Farel membawaku ke level tiga, sebagai puncak menara dan level tiga ini ada dua tingkat juga ruangan, sebagai pusat informasi dan sejarah-sejarah menara. Jika ini di Indonesia di Monasnya, maka tempat ini di lantai dasar sebagai pusat sejarahnya, jika kita berkunjung ke Monumen Nasional( Monas)
Farel memilih ruangan yang memakai kaca pengaman.
“Kenapa kita tidak ke lantai tidak ada kacanya?”
“Itu bahaya Rin, angin malamnya sangat dingin walau kamu sudah memakai jaket tebal. Lihat saja dari sini,” ucap Farel.
Jika aku bersikap terkagum-kagum, sedikit norak, karena ini pertama kalinya diri ini menginjak kaki di puncak menara Eiffel. Melihat sekeliling puncak menara. Jadi ingat film Rush Hour 3 yang dibintangi Jackie Chan dan Chiris tucker yang syuting di menara Eiffel. Film Komedi laga yang pernah membuatku tertawa terpingkal-pangkal melihat aksi kocak aktor kawakan Jackie Chan.
“Kenapa tertawa?” tanya Farel saat aku tersenyum-senyum sendiri.
“Jadi ingat film Rush Hour3,” ucapku tertawa.
“Oh, kamu juga pernah menontonnya. Ya, mereka syuting beberapa adegan di sini,” ucap Farel ternyata ia juga tahu.
Jika aku bersikap norak karena kagum, tetapi tidak lelaki tampan itu, ia bersikap biasa, sepertinya ia sudah sering datang ke tempat itu, terlihat dari gayanya yang tahu tentang semuanya. Berbanding hal denganku yang baru melihat dan menaiki puncak menara itu untuk pertama kalinya.
__ADS_1
“Sudah berapa kali ke sini? dari gayanya aku lihat, tempat ini seperti tempat tempat nongkrong tiap bulan, sehabis gajian”ucapku melirik Farel.
Bukannya menjawab, ia malah tertawa.
“Puncak menara Eiffel jadi tempat tongkrongan … Kamu bercanda iya. Kamu pikir ini, Cafe Lucky Cat Coffe,” ucap Farel tertawa. Ia menyebut salah satu cafe paling hits tempat tongkrongan anak-anak muda di Jakarta Selatan
“Iya mana tahu. Iya kan …. Anak Sultan mah bebas,” ucapku.
“Sekali lagi ngomong begitu, menyebut dengan kaya dan anak sultan …. Aku tindih kamu lagi dari atas, sampai kamu jerit-jerit seperti sore tadi” ucap Farel, mendengar itu aku langsung diam.
“Ok, baiklah tidak akan terulang lagi, lalu sudah berapa kali datang ke sini?” tanyaku lagi.
“Tidak sering, hanya enam kali”
“Haaa enam kali! Itu kamu sebut dengan Hanya …? Oh … apa kabar dengan diriku yang baru pertama kali menginjak kaki di sini. Jadi tolong jangan kaget jika aku bersikap norak iya Pak Dokter,” ucapku tiba-tiba merasa seperti bumi dan langit antara aku dan Farel.
“Rin, ayolah aku membawamu ke sini bukan untuk menyombongkan diriku, karena aku berpikir butuh kerja keras untuk mendapatkan hatimu, aku hanya ingin berusaha memperbaiki kesalahan yang pernah aku lakukan,’ ucap Farel.
‘Kesalahan apa, apa ia ingin bilang kalau ia sudah menikah? Lalu meminta anakku?’ aku bertanya dalam hati. Tetapi takut bertanya langsung pada Farel, aku takut apa yang aku pikirkan benar-benar terjadi. Aku butuh mental yang kuat jika ia bilang, datang padaku ingin mengambil Haikal.
“Tolong jangan membahas masa lalu, please berikan aku waktu aku belum siap. Tadi kamu sudah berjanji tidak akan melakukannya,” ucapku memutus pembicaraan aku tidak ingin ia bertanya tentang Haikal walau aku tahu dari sejak tadi ia ingin bertanya. Tetapi aku belum siap.
Aku mengalihkan perhatianku ke tempat lain, menyusuri setiap sudut puncak menara agar Farel berhenti menanyakan Haikal, aku ingin tahu kabar Farel di masa lalu, baru aku jujur tentang anakku
Bersambung ….
Viwersnya tidak naik-naik membuat authornya nangis di pojokan wk …wk banyak yang baca, tapi pelit kasih Like dan tanda hati. Ayolah kakak yang baik. Bantu kasih JEMPOL KALIAN DONK DAN TANDA HATINYA
KASIH BANYAK HADIAH juga AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI
Baca juga:
“Menikah Dengan Brondong”
Follow ig sonat.ha dan
Fb Nata
__ADS_1