
Satu tahun yang lalu, akhirnya aku memberanikan diri menceritakan tentang masalahku dengan ayah dan anak-anak.
Awalnya mereka semua terkejut karena aku menikah dan memiliki anak tanpa mereka tahu.
"Kok, Ibu baru bilang sekarang?" Tanya Darma saat itu.
"Ibu, ingin memberitahukan saat waktunya sudah tepat Nak"
"Terus ... saat ini, apa sudah tepat, Bu?" Tanya Darma.
"Setelah saya pikirkan sudah Nak, karena kasihan anak itu, aku meninggalkan di pantai asuhan."
Aku mengabari mereka setelah tiga tahun lewat beberapa bulan usia Haikal saat itu. Aku butuh waktu lama memikirkan hal itu.
Ada banyak pertimbangan yang aku pikirkan saat itu, salah satunya yang paling terpenting saat itu keselamatan Haikal.
Namun, di satu sisi aku kasihan padanya karena hidup bagai sebatang kara di panti asuhan. Walau aku selalu berkomunikasi padanya melalui videocall. Namun, ia tetap terlihat sedih.
Karena itulah aku memutuskan memberanikan diri untuk memperkenalkannya pada ayah dan Darma. Jeny dan ibuku sambungku tidak bisa ikut karena anak gadisku lagi ada kegiatan di sekolah.
Ayah dan Darma, aku meminta datang ke Taiwan. Aku juga meminta tolong pada dr. Sinta untuk membawa Haikal juga ke Taiwan agar bisa bertemu kakek dan saudaranya.
Ayah tadinya terkejut dan merasa kecewa, tetapi setelah aku menjelaskan panjang lebar dan dibantu dr. Sinta, ayah mengerti dan ia juga merasa bersalah karena tidak ada saat aku mendapat masalah besar, bahkan hampir kehilangan nyawa.
Mendengar semua itu, ayah akhirnya menerima Haikal sebagai cucunya. Darma, saat pertama melihat Haikal juga langsung dekat
Awalnya aku berpikir anakku Darma akan marah karena aku menikah dan punya anak tanpa sepengetahuan mereka.
Ternyata semua dugaanku salah . Anak lajangku ternyata jauh lebih dewasa dari yang aku pikirkan. Saat bertemu adik tirinya ia langsung sayang dan perhatian layaknya saudara tertua.
__ADS_1
" Suami ibu itu orang bule?" tanya Darma menatapku dengan tampang serius. Karena melihat wajah Haikal.
"Iya, ceritanya panjang Nak, butuh banyak waktu untuk menceritakan detailnya. Suatu saat nanti aku akan menceritakan semuanya dan aku hanya ingin meminta izin sama ayah dan Darma untuk membawanya Haikal nanti ke rumah kita, tetapi kalau ayah dan Darma tidak bisa menerimanya sebagai keluarga … terpaksa ibu akan meninggalkannya lagi di panti asuhan,” ucapku saat itu.
"Ibu. Jangan, aku senang kok, punya saudara laki-laki tampan seperti dia."
Darma, memangku adiknya. Sikap baik Haikal, membuat ayah dan Darma jatuh hati pada anak tampan itu. Keahliannya dalam membaca doa makan dan saat Darma ingin sholat dengan cepat ia juga mengikuti Darma dan ayah tanpa di suruh.
“Walau dia ibu tinggalkan di panti asuhan, ia pintar mengaji dan ibu membayar orang untuk guru ngajinya. Aa,” ucapku pada putraku.
“Wah, adik yang pintar ayo Aa ajarin mengaji,” ucap Darma, mendengar itu hatiku sangat senang. Aku yakin anak-anakku nantinya akan membawaku ke kehidupan yang lebih baik dan mengajariku tentang agama. Karena tidak ada kata terlambat untuk belajar.
“Aa Darma, guru mengaji juga loh di komplek rumah kami,” ucap ayah, melirik Haikal.
Haikal menatap ayahku lalu menatap Darma bergantian, ia seakan-akan tidak percaya, kalau ia punya saudara, walau sejak awal aku bercerita kalau ia punya saudara laki-laki dan perempuan juga punya nenek dan kakek.
Namun melihatnya secara langsung, ia masih malu-malu . Namun, setelah satu hari tinggal bersama, ia mulai terbuka dan mulau sangat akrap pada Darma dan ayah.
"Tidak semudah itu Ayah, ada hal yang tidak bisa aku jelaskan pada kalian, satu hal yang pasti, nyawa aku dan anak ini, dalam bahaya, makanya aku menyembunyikannya di panti asuhan,” ujarku saat haikal tidak mendengarnya.
"Kasihan cucuku, kalian berdua mengalami hal yang buruk, tetapi ayah tidak tahu, Ayah pikir saat itu, kamu baik-baik saja, Nak"
Ayah menangis mendengar ceritaku yang beberapa kali hampir kehilangan nyawa karena istri Virto. Ayah menyesal karena selama ini, mengizinkan lelaki itu bersamaku. Walau pada akhirnya ayah mendukungku dengan Virto, karena mereka sudah tahu, kalau Virto sudah berpisah dengan istrinya. Jadi ayah tidak Melda ataupun melarang.
Menceritakan semuanya pada ayah dan Darma, rasanya beban di pundakku hilang setengah.
Satu minggu ayah, Darma, Haikal tinggal di Taiwan membawa mereka bertiga liburan, kebetulan pada saat mereka bertiga datang, saat itu turun salju membuat mereka bertiga menikmati liburan musim salju. Liburan yang dulu sangat aku impikan sebelum bekerja di Taiwan.
"Sayang, Jeny dan Ibu tidak ikut,"ujar Damar ia merasa ada yang kurang saat adiknya tidak ikut.
__ADS_1
"Doakan Ibu dan suatu saat kita akan liburan bersama Ibu, Jeny, ayah dan Haikal,” ucapku satu tahun yang lalu saat mereka datang ke Taiwan.
"Masih kurang satu lagi, Bu," Timpal Darma.
"Siapa?" tanyaku saat itu.
Suami Ibu lah atau mungkin om Virto, aku mendukung karena dia sampai sekarang masih menunggu Ibu,” ucap Darma satu tahun yang lalu.
"Tidak lagi," ujarku santai.
Setelah menghabiskan liburan satu minggu, aku mengantar Ayah dan Damar ke Bandara, sementara Haikal sudah di bawa dr. Sinta dari pesawat yang berbeda menuju Bali.da
Saat ini, aku akan menepati janji pada keluarga dan pada Haikal, yang akan mempertemukannya dengan keluargaku semua, aku kembali ke Indonesia setelah empat tahun aku merantau di negara orang, baru kali aku bisa pulang, waktu yang lumayan lama.
Pesawat yang aku tumpangi mendarat di Bali dan aku membawa bocah tampanku keluar dengan diam-diam dari Panti asuhan seperti biasa, aku selalu menyembunyikannya dan malam hari kami tiba di Jakarta.
Semuanya berjalan dengan baik, Haikal sudah bertemu dengan ibu dan kedua saudaranya, dan aku mengikuti acara perpisahan Jeny.
Setelah beberapa minggu bersama,aku mengembalikannya ke Panti asuhan, sebenarnya sedih melihatnya hidup dalam pengasingan, tetapi semua itu aku lakukan demi kebaikannya.
"Ibu janji kita akan menjemput nanti, kita akan berkumpul kembali," ucapku memeluknya dan menciumi pipinya berulang-ulang.
"Aku akan tinggal dengan Aa Darma dan teteh Jeny?" tanya Haikal saat aku membawanya kembali ke Bali.
"Iya, sama nenek dan kakek juga," ucapku menahan air mata.
"Ibu Janji?"
"Iya sayang, ibu janji" wajahnya kembali ceria. Aku meninggalkannya kembali di panti asuhan dan aku akan kembali ke Taiwan.
__ADS_1
Bersambung ...
JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA, KASIH BANYAK HADIAH, IYA KAKAK, AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI