
Setelah mengurus tiket dan paspor, kami kembali lagi Ke Bali.
Aku menatap wajah mungil bayi berusia satu bulan lewat satu minggu itu, kutatap wajahnya dengan erat, ada perasaan yang aneh di dada ini, saat melihat wajah mungilnya. Menatapnya mengingatkanku pada Farel sang ayah.
“Aku akan meninggalkanmu di sini dulu, bertahanlah sampai aku kembali lagi, aku akan menjemputmu nanti,” ucapku menatapnya. “ Ibu juga meninggalkan kedua saudaramu juga, bukan hanya kamu, Nak. Kalian bertiga harus sabar dan tabah,” ucapku mengecup pipinya dan memberikannya pada suster yang aku gaji untuk merawatnya.
‘Aku akan membesarkan mu dengan baik, kamu milik Ibu, tidak akan biarkan siapapun merebut mu dari Ibu, tidak akan aku biarkan siapapun menyakitimu’ ucapku dalam hati.
Lalu meninggalkannya di panti, dengan membawa luka di hati ini, aku berangkat bersama dr. Sinta. Wanita itu akan mengantarku ke Taiwan di mana ia membuka restaurant di sana bersama sang kakak. Jadi ia memintaku untuk hanya mengawasi para pekerja.
Meninggalkan baby Haikal di panti asuhan sedini itu, sebenarnya tidak tega, hati ini sedih, tetapi , hidup tetap berjalan aku tidak mau menyesali apa yang aku pilih, aku juga tidak punya tempat tinggal untuk kami tempati saat ini. Aku harus mencari pekerjaan untuk bisa menyambung hidup. Uang dalam tabungan masih ada untuk membeli satu rumah masih cukup.
Namun, aku memikirkan untuk biaya hidup selanjutnya dan biaya sekolah anak-anak . Karena itulah aku memutuskan pergi.
*
Bandara Udara Internasional Ngurah Rai Bali
Ladies and gentlemen,
Welcome onboard Flight GA42 with service from Garuda airlines from Bali to Taiwan Tayeoung Airport. We are currently third in line for take-off and are expected to be in the air in approximately ten minutes time. We ask you to please fasten your seatbelts at this time, and secure all luggage underneath your seat or in the overhead compartments. We also ask to make sure that your seats and folding trays are in the upright position for take-off. Please turn off all electronic devices you bring, including mobile phones and laptops. Smoking is prohibited for the duration of the flight on the entire aircraft, including the lavatories.
Thank you for choosing The Airlines. Enjoy your flight
**
Suara bel pemberitahuan di bandara membangunkan ku dari lamunan panjang. Aku berdiri menyeret koper milikku. Tetapi mataku menatap kearah pintu, entah apa yang aku tunggu di sana dan aku juga tidak tahu, kenapa aku harus menatap pintu kearah itu.
Aku berharap pada sesuatu hal yang tidak pasti. Seketika bibir ini tersenyum kecut, aku menertawakan pikiran dan harapan sia-sia itu.
“Rin, jika kamu merasa ragu, kamu boleh membatalkan pergi dan aku akan berangkat sendiri,” ujar dr. Sinta.
Ia menatapku dengan anggukan kecil, memberiku kesempatan memilih, seandainya hidup semudah yang ia tawarkan dr. Sinta. Mungkin jalan hidup yang aku lalui tidak segetir seperti saat ini dan perasaan yang aku rasakan, tidak sesedih ini. Hidup memang selalu ada dua pilihan, tetapi sering sekali kedua pilihan itu sangat sulit sama seperti yang aku lakukan saat ini.
Meninggalkan Indonesia dan bekerja di luar negeri, memang pilihanku, tetapi ini pilihan yang sulit, kalau aku memaksa tetap tinggal, aku takut Marisa menemukanku. Pergi jauh hal yang bisa aku lakukan saat ini, walau aku pergi membawa luka dalam hati.
__ADS_1
“Tidak Dok, aku akan pergi,” ucapku berbalik badan, berjalan menuju pesawat.
‘Selamat tinggal anak-anakku doakan ibumu, agar sehat dan bisa kembali bertemu kalian ‘ujarku, mengusap dada ini, rasanya sesak, seakan-akan ada batu besar menghimpit.
“Baiklah, aku berharap pilihanmu jadi jalan yang terbaik untukmu,” ujarnya berjalan di sampingku.
“Iya. Mudah-mudahan Dok,” ujarku, air dari mataku, menetes deras tanpa permisi, dengan cepat jari-jari ini menyingkirkan buliran air yang mengalir di pipiku.
Aku pergi
Bukan berarti tak setia
Aku pergi
Demi hidup yang lebih baik
Maaf bila
Mungkin kita harus berpisah
Relakanlah
Ku tak ingin di benci
Ku tak ingin ada caci
dst … lirik by Alika
Aku duduk dalam pesawat, Sinta seakan-akan tahu aku tidak ingin di ganggu, ia memberikan handset dan mendengarkan lirik lagu, tanpa terduga satu sebuah lagu yang aku dengar seolah-olah menggambarkan isi hatiku.
Aku tersenyum getir dan membuka mata ini, memberi semangat pada diri sendiri. Tidak lama kemudian pesawat itu akhirnya take off dan meninggalkan bumi Indonesia. Terbang menuju belahan duni lain, tepatnya Taiwan, aku akan ke negara itu mengubah nasip.
‘Selamat tinggal Farel semoga kamu bahagia’ ucapku dalam hati.
*
__ADS_1
Perjalan yang kami tempuh dari Bali menuju Taiwan sekitar lima jam lebih, membuat panggul ini terasa panas dan pinggang terasa encok karena duduk terlalu lama.
Akhirnya aku dan dr. Sinta tiba di kota Taipei di negara Taiwan, negara bagian dari negara Tiongkok itu, berada di Asia Timur.
Kota Taipe ibu kota Taiwan, tempatku memijakkan kaki saat ini, dunia yang terlihat baru untukku . Karena baru kali ini aku keluar negeri, ini pengalaman pertamaku menginjakkan kaki di negara orang.
‘Semangat Rin …! Semangat!’ ucapku dalam hati.
“Jangan takut Rin, di sini banyak orang Indonesia bekerja, lihat itu semua toko-toko orang Indonesia,” ujar dr. Sinta menunjuk beberapa toko saat kami naik taxi menuju restauran miliknya.
“Iya, Dok”
“Rin, aku sudah bilang, jangan panggil aku dengan sebutan Dok. Panggil saja aku Sinta, jangan ada embel-embel Dok di depannya, anggap saja kita ini sebagai sahabat, umurku beda tiga tahun dari kamu,” ujar dr. Sinta.
“Baiklah, aku akan biasakan diri nanti,” ucapku menatap kearah deretan bangunan di kota itu. Melihat kota indah itu, mengingatkanku dengan film romantis yang pernah aku tonton. Taipei Story yang dibintangi Tsai Chin.
Setelah berkendara sekitar dua puluh menit dari Bandara Internasional Taoyuan Taiwan, akhirnya tiba di restaurant milik keluarga Sinta.
Saat turun dari taxi disambut dengan pemandangan indah, buliran putih kecil turun dari langit.
“Apakah ini ...? turun salju?” Sinta mengulurkan tangannya, wajahnya terlihat mekar bagai kuncup bunga di pagi hari.
“Rin, ucapkan permintaanmu, ini salju pertama, jarang loh kita melihat salju pertama di Taiwan, makanya ini sangat spesial," ucapnya memintaku membuat permohonan.
Aku hanya tersenyum kecil, menanggapinya, aku berpikir terlalu banyak permohonan pada Tuhan hingga ia bingung mana yang harus dijawab. Terlalu banyak permintaanku dan permohonan hingga aku tidak bisa memilih mana yang pertama aku minta.
Aku melihat Sinta menggenggam butiran salju di tangannya dan mengucapkan permohonannya.
‘Semoga permohonan mu dikabulkan dokter baik’ ucapku dalam hati.
“Selamat datang di Taiwan Rin, berjuanglah untuk dirimu dan untuk anak-anakmu” gumamku pelan merentangkan tangan.
Bersambung ....
Jangan lupa like dan vote iya Kakak
__ADS_1
Mampir juga ke ceritaku yang baru
"Menikah Dengan Brondong"