Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Aku akan menemukanmu kemanapun kamu pergi


__ADS_3

PART 36


Aku Akan Menemukanmu


Setelah meninggalkan pulau Rojo, sebuah pulau yang sangat indah, yang terletak di ujung bumi Indonesia. Pulau yang indah itu tadinya, aku pikir bisa untuk tempatku menenangkan diri. Tetapi apa daya, Farel Taslan lelaki yang telah merusak hidupku, menemukanku di sana.


Aku kembali melarikan diri dari Farel, kini aku berada di Bali. Meyakinkan diri ini, kalau semuanya akan baik-baik saja, aku percaya kalau niatnya baik dan ingin bertobat Allah, akan mempermudah segalanya, dengan mengucap Bismillah aku yakin semuanya akan berjalan baik.


Usaha penginapan milik Ibu dokter tersebar di beberapa kota, termasuk di pulau Bali, penginapan di pulau yang sangat indah ini, cabang di sini lebih besar ketimbang kota-kota lain, sebuah restauran berdiri megah di samping hotel, jadi tidak heran, kalau di sini karyawan lebih banyak.


"Aku langsung kerja saja pak, tempatkan aku di mana saja," ucapku, tidak perduli posisi yang akan diberikan padaku, karena melihat keadaan tubuhku saat itu.


"Ibu bilang, kamu akan tetap bagian pengawasan, mungkin hanya sistim rolling, pengawas yang di sini, dipindahkan ke Ancol"


"Oh, baiklah, aku senang Pak, jadi aku tidak merebut posisi orang lain"


"Jangan khawatir, tidak ada yang tahu masalah kamu, ini antara aku dan kamu saja yang tahu, mereka berpikir ini kebijakan perusahaan," ujar lelaki bertubuh jangkung itu membuat hati ini tenang.


"Oh, syukurlah Pak Bayu”


Saat aku menceritakan kisah hidupku yang kelam, Bayu juga akhirnya menceritakan kisah hidupnya, ia juga duda beranak satu, putrinya berusia lima tahun, istrinya meninggalkannya empat tahun lalu, tepat saat putrinya masih satu tahun. Istrinya lari dan menikah dengan pria asing asal Jerman yang liburan ke Bali.


Sejak saat itu, ia enggan mencari istri untuk menggantikan istrinya, Bayu memperlakukanku baik, membuatku tidak terlalu takut saat mulai bekerja.


Saat tiba, aku langsung bekerja, kini seragam yang aku kenakan sebenarnya lebih cantik dari seragam pertama, motifnya terlihat seperti pramugari salah satu maskapai tanah air. Tetapi saat aku memakainya dengan tubuhku seperti ini, terlihat seperti badut Ragunan.


Sudah aku bongkar jahitannya agar buat di tubuhku, Namun yang terlihat, aku malah seperti badut.


"Weh, cantik Bu, kayak pramugari," puji Bayu saat paginya, aku ikut apel pagi di depan hotel.


"Pujian Pak Manager, aku anggap sebagai penyemangat pagiku," ucapku berjalan di sampingnya.


Walau aku sebenarnya tidak percaya diri, saat mendapat posisi baru di hotel Bali. Pertanyaan rekan kerja, baik atasan membuatku ingin kabur.

__ADS_1


“Suaminya di mana?” pertanyaan itu, terlalu sering membuat kepalaku sakit.


Pagi ini, aku memperkenalkan diri pada semua karyawan kalau aku pengawas baru, menggantikan Vita yang di rolling ke pantai Ancol Jakarta Utara.


Setelah apel pagi dan perkenalan diri, kini saatnya langsung bekerja di mulai memeriksa kebersihan kolam hotel, saat melihat para bule mengobrol santai dengan salah satu pegawai hotel, membuatku punya keinginan mengambil kelas C dan ingin mengikuti kursus, agar aku bisa seperti mereka.


'Andai karierku bagus dan aku pintar, mungkin anak-anakku akan bangga pada ibu mereka' membayangkan wajah kedua anakku, dada ini rasanya sesak, aku tidak tahu bagaimana reaksi kedua anakku jika mereka tahu aku hamil tanpa suami.


mereka berdua pasti malu.


Tetapi harus bagaimana? Aku sudah berusaha beberapa kali, menggugurkan bayi yang aku kandung ini, Namun tidak berhasil.


Aku ingin bekerja keras, aku ingin menjalankan tugasku sebagai pengawas dengan baik, sebagai salah wujud syukurku karena sudah diterima bekerja walau hanya tamatan SMP.


Saat jam shift ku hampir habis, aku memilih duduk di balkon hotel menikmati pantai Kuta Bali yang begitu mempesona, bila dilihat dari balkon hotel tampak para peselancar melakukan aksinya menaklukkan ombak besar pantai, mataku sangat takjub saat melihat seorang wanita muda menunjukkan aksinya, menaklukkan ombak besar itu, dan dengan gerakan yang sangat memukau, ia seakan menyatu dengan papan seluncur yang ia pijak, karena ia terus saja melakukan gerak-gerakan jungkir balik, tidak pernah jatuh.


"Gila, hebat, nyalinya sebesar apa sih," kataku berdiri memegang pembatas balkon hotel, Bayu memberikan kamar yang posisi paling enak untuk aku tempati, selama bekerja di Bali.


"Tentunya, sebesar nyali mu." Aku membalikkan tubuhku, seketika jantung ini lagi-lagi ingin melompat keluar dari rongga dada, tanganku hampir saja menjatuhkan gelas kopi yang aku pegang, mataku melotot kaget dengan mulut menganga.


"Pak-Pak kok bisa sampai di sini?" tanyaku masih terkejut, menyebabkan suaraku bergetar bagai kaset rusak.


"Kenapa, kamu terkejut?" Dengan gaya santai, lalu ia duduk di kursi balkon dan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, menjadikan kedua lengannya jadi bantalan kepala.


Melihatnya bersikap santai dan tenang seperti itu, membuat tubuh ini semakin ketakutan.


'Apa dia marah karena aku mengambil kartu miliknya dan sebagian uangnya?' tanyaku dalam hati, otak menimang untuk segala hal yang terjadi.


'Apa dia datang bersama tunangannya atau ia ingin liburan?'


Aku mulai terserang rasa gugup.


"Untuk uang dan kartu Bapak, aku meminta maaf-"

__ADS_1


"Tidak apa-apa anggap saja itu bayaran kamu, bukankah kamu senang dibayar," ujarnya memotong kalimatku, ada rasanya nyeri di ulu hati saat ia mengatakan itu, itulah alasanku tidak ingin bertemu mereka, mengingatkan siapa diriku di masa lalu.


"Oh, Bapak tidak perlu membayar ku ak-"


"Tidak apa-apa, aku tidak suka memakai yang gratisan," ucapnya mecabik-cabik hati ini lagi.


Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, diam, pilihan yang paling tepat, aku diam, ia juga diam, tetapi aku tahu matanya menatapku, saat aku berdiri posisi miring, memperlihatkan bentuk tubuhku yang seperti badut.


aku berdiri, melihat matahari tenggelam yang meninggalkan guratan berwarna jingga di cakrawala.


Aku mengarahkan jari tanganku menghalangi matahari yang berwarna jingga itu, yang menghalangi pandanganku, kalau aku punya ponsel mungkin sudah aku abadikan alam yang sangat indah itu.


Tidak ada kamera untuk memfoto, sesekali bibir ini tersenyum kecil menikmati keindahan alam yang luar biasa.


Tetapi, aku melihat dari ujung mataku, Farel mengeluarkan ponselnya dan memfoto, tetapi yang difoto bukanlah matahari tenggelam. Namun, ia mengarahkan diam-diam ke arahku dan mengambil fotoku.


Sadar fotoku diambil diam-diam, aku membalikkan tubuh ini, membelakangi-nya.


"Apa kamu merasa sangat bangga saat meninggalkanku di motel itu sendirian? apa itu yang aku dapatkan setelah bertarung nyawa demi menyelamatkanmu?”


"Maaf”


"Maaf untuk apa?"


"Semuanya, aku bekerja dulu," ujar ku meninggalkannya.


Namun dengan gerakan cepat ia menangkap tubuhku dan memepetnya di dinding mengarahkan bibir ke bibirku dan ******* bibirku dengan sikap posesip.


"Apa yang kamu lakukan, bagaimana kalau ada orang melihat, aku sedang jam kerja," ujar ku mendorong tubuhnya sekuat tenaga.


“Aku sudah bilang padamu malam Itu ….


RIRIN WULANDARI.

__ADS_1


Aku akan menemukanmu kemanapun kamu pergi, kamu membuatku sangat marah kali ini”


Bersambung....


__ADS_2