Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Hidup penuh warna


__ADS_3

Aku berperan sebagai nyonya besar di rumah itu yang mengawasi semua seisi rumah dan gaji para asisten rumah tangga dan para supir.


Tangung jawab yang seharusnya di pegang ibu mertua ,kini aku yang pegang. Kepercayaan itu di berikan ayah mertua setelah aku berhasil menyatukan semua anak-anak dan cucu-cucunya.


“Ririn gak bisa Yah, Ririn orangnya ceroboh,” ujarku pada ayah mertuaku malam itu, saat ia menunjukku di depan semua anak-anaknya.


“Ayah percaya padamu Nak, lakukan yang terbaik untuk keluarga kita, kami bergantung padamu untuk semua urusan rumah ini,"ujarnya sambil tersenyum kecil.


Aku tidak bisa menolak, akhirnya jadilah aku nyonya besar di rumah.


“Kamu hebat sayang, sudah lama kak Mona menginginkan  kepercayaan itu dari abi, tetapi tidak berhasil ia dapatkan, Abi percaya padamu." Farel meletakkan dagunya di pundak ini.


“Tapi aku ingin tetap berkarya  aku ingin tetap mendesain pakaian”


“Ok, aku mendukungmu,” ujar Farel.


“Aku ingin di buatkan kantor kecil  di rumah ini  untukku”


“Ok, besok aku akan cari tukang,” ujar Farel  berubah sangat baik dan lebih percaya padaku.


                           *


Enam bulan berlalu rumah kami di penuhi banyak warna. Lebih banyak dari anak-anak gadis keponakan Farel, mulai dari putus cinta tidak mau kembali ke sekolah, lalu ada minta pindah sekolah karena di buli temannya.


Berunding saling bertukar pikiran dan saling membantu, membuat kami bisa melalui semuanya, walau tidak semuanya berjalan mulus. Ada juga hal yang berlebihan dalam menyelesaikan masalah. Termasuk pagi ini.


"Haikal tidak mau kembali ke sekolah,"ujarnya memeluk kakeknya.


"Ada apa?" tanyaku dengan nada tegas, aku memang mendidik dengan tegas apa lagi tentang sekolah. Berbeda dengan ayahnya dan kakeknya yang memanjakannya.


"Kenapa sayang, kok kamu marah? Farel duduk di meja makan.


" Ni, anakmu, tidak mau sekolah, aku tidak tahu apa maunya," ucapku merasa kesal.


"Ibu jangan marah, Haikal tidak salah," ucapnya lagi memeluk kakeknya.


"Iya masalahnya. Apa HAIKAL ... !? Jangan bikin Ibu marah dong, ibu sudah bujuk dari tadi, ucapku emosi, tidak tahu kenapa beberapa Minggu ini aku gampang emosian.


"Sayang, jangan emosi gitu doank ... ada apa denganmu kok marah-marah," ujar Farel menarik tanganku untuk duduk.


"Ibu suka marah, aku tidak suka, aku mau sama kakek." Haikal semakin mengkekap tubuh kakek sampai-sampai duduk di pangkuan abi.


Semua orang di meja makan tampak bingung, melihat sikap Haikal yang tidak biasa.


"Katakan pada kakek ada apa? Kenapa tidak mau sekolah?"


Ia masih bungkam


" Baiklah hari ini Ikal libur," ujar kakek.


"Kakek marah?" Ia mendongak menatap wajah kakeknya.


"Tidak"


"Aku memukulnya ," ujarnya kemudian.


Kami saling melihat.


"Siapa yang Haikal pukul?"


"Rian"


"Kenapa?"


" Haikal bilang Kakek seorang polisi, ia tidak


percaya"

__ADS_1


"Lalu?"


" Dia meledek Haikal, katanya Kakekku lemah, karena duduk di kursi roda, dia bilang ayahnya lebih hebat polisi yang kuat"


Kami semua diam.


"Ayo, ke sekolah. Ambilkan seragam polisi Abi"


"Ayo kita hadapi mereka," ucap Farel ikut-ikutan konyol.


"Gak, usah begini ..., bertengkar dengan teman, hal biasa Abi. ucapan anak-anak jangan diambil hati,"ucapku melarang.


"Tidak, harus dihadapin, tidak boleh ada orang yang bikin cucuku menangis," ujarnya.


" Cari tahu siapa ayah anak itu, dia harus minta maaf sama cucuku"


"Ambilkan jas dokterku, kita harus tunjukkan siapa kita," ujar Kak Burak ikutan gila.


"Aku juga, mana jas dokterku, kita hadapi bapak polisi itu" Lesa dan Burak, ikutan


" Kalian semua mau keroyok anak kecil itu?" Aku memijit keningku yang berdenyut, Aku stres melihat tingkah gila mereka semua.


"Bukan anaknya, tapi bapaknya," ucap Farel.


"Panggilkan asisten Abi"


Kakek Haikal punya jabatan penting di kepolisian, walau ia sudah pensiun, tetapi masih sering menerima tamu pejabat di rumah. Di kepolisian ia masih berperan penting.


"Abi, sudahlah nanti kasihan guru Haikal, jadi takut,"ucapku, hubungan sama ayah mertua sudah baik.


" Tidak Nak, kita harus tunjukkan kehebatan kita pada musuh agar mereka takut"


" Tapi mereka, bukan musuh tapi anak-anak "


" Sama saja sayang, musuh Ikal anak ini"


"Farel. Bujuk ambilah jangan.


Haikal bersemangat melompat kegirangan saat kakek memakai seragam kebesarannya.Ia memberi hormat ala polisi. Haikal orang yang paling berharga untuk ayah mertuaku, karena Haikal satu-satunya yang mau mengikuti jejaknya sebagai polisi,. Farel dan saudara-saudaranya tidak ada yang mau jadi polisi.


Kini, keluarga Taslan berjalan dengan kompak akan mendatangi sekolah Haikal.


"Aku gak mau ikut-ikutan, bersikap berlebihan. Sayang ... pikirkan bagaimana perasaan guru dan orang tua anak itu?"Ujarku sangat cemas.


"Tenang saja ... Ibu, ikut saja bagaimana?"


" Tidak aku tidak mau, aku malu melihat kalian seperti itu"


Mereka berangkat sampai empat mobil, aku memilih di rumah, kepalaku sangat pusing.


Aku menunggu di rumah dengan perasaan gelisah, setelah berjam-jam menunggu, merasa tersiksa akhirnya, mobil ayah mertua dan Mbak Lesa datang.


" Bagaimana Mbak?"


"Abi dan Farel emang sama-sama nekat,"ucapnya tertawa


"Emang Kenapa?" tanyaku nyaris mati, karena penasaran.


"Farel dan abi, bawa Snack dan mengaku hari ini, ulang tahun Abi, bahkan Abi menelepon ayah anak itu, mengundang ayahnya dan menjelaskan di TK Haikal . Abi bilang ia polisi yang hebat"


"Jadi Farel dan Abi, tidak marah?"


"Tidaklah Rin, Abi tahu batasannya, dia orang pintar, makanya aku ikut"


"Oh, syukurlah"


Drama tentang Haikal selesai juga, menurut Lesa, orang tua anak itu, bawahan kakek Haikal.

__ADS_1


Itu baru drama pertama, kali ini, drama yang keduanya.


Saat kami lagi serapan tiba-tiba Haikal berdiri berlinang air mata, ia mengadu sama kakek lagi. Jadi saat ini, apa-apa itu semuanya sama kakeknya , mau makan sama kakek, tidur sama kakek, belajar sama kakek. Kami berdua sudah jarang mengurus.


“Ada apa?” tanya ayah mertua, mendekatkan tubuhnya.


“Haikal  dibilang  anak pungut sama Kakak Oca, aku sedih, aku tidak anak pungut, kan, kakek?”


“Iya tidaklah, kamu itu, cucu kakek”


Farel sempat marah, ingin berdiri saat mendengar  Haikal di candain kakaknya anak pungut.


“Eh, Sayang, mau kemana?”  Aku menarik tangan Farel.


Aku mau tegur Oca dulu”


“Itu bercanda , gak usah di bawa hati,"ucapku.


"Siapapun tidak boleh mengatakan hal itu pada anakku."


"Hidup dalam satu atap bersama keluarga besar, kamu harus siap menerima banyak warna kehidupan, canda, masalah akan ada tapi hari, Dewasalah" ucapku.


"Tapi Rin, Oca sudah besar, tidak seharusnya, membuat candaan seperti itu," ucap Farel.


"Sayang, dia disebut seperti itu, karena dia anak lelaki satu-satunya di rumah ini, percayalah kakaknya, sangat sayang sama dia, aku sudah lihat sendiri"


Farel diam.


"Ocah Turun!" teriak Abi.


"Kakek ...! Oca hanya hanya bercanda, lagian dedeknya, dia pecahin foto idolaku,"ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


" Oca, sudah menabung lama untuk dapatkan, foto aslinya"


"Ikal, kan, sudah minta maaf. Nanti Ikal ganti, pakai uang jajan aku,"ucap Haikal dengan tangisan.


"Tapi itu ... edisi terbatas. Dedek ...! Tidak ada lagi," ucap Ocah dengan tangisan, mereka berdua sama-sama terisak-isak di depan sang kakek.


Melihat mereka berdua sama-sama menangis, kami semua hanya diam, Farel yang tadinya marah, hanya menggaruk-garuk keningnya, saat sang keponakan sama-sama menangis.


Oca anak Marisa dan Virto duduk di bangku SMP kelas delapan. Jadi di rumah itu hanya mereka berdua anak yang paling kecil.


Selebihnya, sudah kuliah, bahkan anak Kak Burak sudah mau jadi dokter. Jadi, saling bercanda sudah hal biasa untuk mereka berdua, kakek mertuaku menyamakan kasih sayang pada semua cucunya, kecuali pada Haikal.


Melihat mereka sama-sama salah, kakeknya tidak membela Haikal, ia meminta menyelesaikan sendiri dan mendiamkan keduanya.


"Kakak minta maaf, tidak bilang lagi seperti itu, kamu adikku," ucap Oca memeluk adiknya.


"Haikal minta maaf, tidak sengaja. Aku sayang sama kakak Oca,"ucapnya memeluk sang kakak dengan tangisan.


Melihat pemandangan yang manis itu, kami hanya tersenyum, tetapi tidak berkata apa-apa.


"Baiklah, mari serapan, jangan bilang seperti itu lagi, kakek sudah bilang, dia adikmu, dia selalu mencontoh apa yang dilihat dari kamu, karena kamu adalah kakaknya. Kasih contoh baik, untuk adikmu"


"Baik Kek," ucapnya masih cecegukan.


Aku kasihan padanya, bukan pada Haikal. Kalau Haikal sudah banyak kasih sayang yang ia terima di rumah. Tetapi, Oca, tidak punya ibu dan ayah.


"Kemarilah sayang, Tante punya banyak yang itu, nanti aku bawakan untuk kamu" ucapku memberi pelukan sebelum ia berangkat ke sekolah.


" Tante serius yang asli?"


" Bahkan Tante punya lengkap, semua untuk Oca"


Wajah sedih itu, kembali mekar, senyum mengembang di wajah cantiknya.


"Aku sayang Tante," ucapnya memelukku dengan erat . Kesabaran akan membuahkan hasil yang indah itulah yang aku rasakan saat ini. Jeny punya koleksi seperti miliknya, Jeny tidak mau lagi, jadi akan aku berikan untuk Oca.

__ADS_1


Bersambung ....


Jangan lupa untuk vote like iya kakak


__ADS_2