
Saat aku terbangun telah menemukan diriku di kamar yang sangat asing bagiku, kamar bernuansa serba putih. Kamar pribadi Farel.
"Kamu sudah bangun, mari kita serapan." Farel masih bersikap dingin bahkan lebih dingin.
"Apa yang terjadi?"
Farel membalikkan badannya yang sedari tadi ia berdiri di depan jendela kaca menatap arah pantai.
"Kamu bertanya apa yang terjadi?"
"Iya"
"Aku harus mulai dari mana?" wajah dingin itu, membuatku benar-benar merasa muak padanya.
"Kenapa aku di sini?"
"Oh. Ririn Wulandari Taslan, itu sekarang namamu, kamu sudah menjadi istriku saat ini, jadi ... apa yang kamu lakukan dan apa yang akan .... Kamu lakukan, semua harus melalui izinku, kamu paham?"
'Oh, menikah dengan Farel, mimpi buruk itu sudah mulai di hidupku' ucapku dalam hati.
"Kenapa harus seperti itu?"
"Karena saat ini, kamu dibawah kendaliku"
"Terserah ... lakukan apa yang kamu mau," ucapku dengan wajah kesal.
"OH, jadi kamu setuju dengan gagasanku"Farel memegang pergelangan tanganku membawa ke kamar mandi.
"A-a-apa yang ingin kamu lakukan?"
"Terserahku seperti katamu, tenang! aku akan melakukan dengan hati-hati, aku tidak mau menyakiti anakku"
Farel membuka kancing kemejanya dan menariknya sisanya dengan satu tarikan sebagian kancing pakaian itu berserak di lantai.
"Apa yang kamu lakukan, kenapa Bapak jadi kasar seperti ini?"
"Ririn, aku sudah bilang saat ini, aku sudah menjadi suamimu apa kamu dengar itu"
"Lalu?" kataku belum mengerti apa tujuan dia bicara seperti itu padaku.
"Lalu seperti ini." Farel dengan sikap tiba-tiba memegang dagu dan menyambar bibir, mataku melotot terkejut karena serangan mendadak, tidak cukup sampai di situ, ia melepaskan pakaianku semua, tanpa meninggalkan sehelai benangpun menempel di tubuh ini.
Belum sempat berpikir, tubuh kami sama-sama polos tanpa dibalut sehelai benang saat ini, ia menarikku berdiri di pancuran air dan mandi bersamanya ,aku bagai terhipnotis, hanya diam, bahkan tidak tahu harus berbuat apa.
"Kita mulai dari sini "
__ADS_1
"Apa yang Bapak Lakukan? ini masih pagi-pagi"
"Justru ini pagi, aku ingin mengawali pagi dengan indah," bisiknya ke kupingku membuat bulu kuduk berdiri.
Lalu ia membalikkan tubuhku menghadap dirinya, kini tubuh kami yang saling berhadapan, aku merasa sangat kikuk saat lelaki berotot keras itu menatapku, aku hanya bisa menutup mata, tidak bisa terbayangkan tubuhku yang membengkak bagai badut ancol, telanjang bulat di depan Farel, itu benar-benar memalukan.
"Jangan tutup matamu, kamu harus membuka mata, untuk melihat apa yang terjadi," ucap Farel kembali ******* bibir ini dan memeluk tubuh polosku, kulit Farel yang di penuhi bulu-bulu halus, menyentuh kulit membuat tubuh ini, semakin menegang, bagian bawahnya aku rasakan mengeras, menyentuh bagian intiku.
'Oh, ini sangat memalukan' ucapku dalam hati.
Puas dengan bibir dan menyusuri setiap bagian inci dari tubuh ini, tidak lupa juga, Farel meninggalkan banyak tanda kepemilikan di banyak tempat, puas melakukan itu, kini, ia menarik tubuhku. Lalu, ia duduk di kursi yang ia bawa ke dalam kamar mandi, ia mendudukkan di pangkuannya, dan tubuh kami saling menyatu, aku tahu, ia melakukanya dengan sangat hati-hati.
Tetapi, ini bukanlah sekedar memuaskan hasrat bagi Farel. Aku melihat ada kemarahan di wajah tampannya, lebih tepatnya, ia seakan-akan memperingatkan, kalau aku saat ini istrinya dan memberiku peringatan kalau tugasku adalah melayani suami.
Mataku masih tertutup, tidak berani membuka.
"Jangan menutup matamu, kamu harus tetap membuka mata, agar kamu sadar dan melihat kenyataan, bahwa saat ini, kamu sudah jadi milik Farel Taslan bukan lelaki lain. Jangan sesekali kamu memikirkannya, di hadapanku,” ucapnya dengan nada tegas.
"Aku sangat malu Pak Farel, bisa tolong berikan handuk"
Bukannya memberikan handuk, setelah puas menyalurkan hasratnya, ia melepaskan tubuhnya dan ia juga pembantuku membersihkan diri, lalu menarik ke pantulan kaca.
"Lihat Ririn, jangan tutup matamu, mulai saat ini ... wanita yang ada di pantulan kaca itu, hanya boleh memikirkan aku dan tidak ada lelaki lain. Apa kamu paham?"
Melihat tatapan tajam itu, aku hanya mengangguk patuh.
*
Satu minggu setelah menikah dengan Dr. Farel, seiring berjalannya waktu akhirnya aku bisa menerima, kalau saat ini , sudah menikah untuk kedua kalinya . Saat ini, aku sudah menikah dengan Farel, walau hati terkadang belum percaya.
Namun, inilah aku sekarang, terjebak dalam sebuah pernikahan yang tidak aku inginkan, menikah dengan adik lelaki yang rumah tangganya hampir aku hancurkan.
"Kamu di rumah saja tidak usah berangkat kerja." Farel memberi perintah.
"Kenapa? dulu sebelum kita menikah kamu bilang, kalau aku boleh kerja, tetapi kenapa sekarang jadi berubah?"
"Ririn aku tidak ingin kamu kenapa- napa, lihat perut kamu sudah sangat besar"
"Pak Farel , ini kehamilan ketiga, jadi aku sudah berpengalaman"
"Aku tahu, aku tahu ... ! tidak perlu mengingatkanku kalau kamu seorang janda! tetapi saat ini, di rumah ini, kamu sudah istriku tugasmu hanya melayani ku dan menjaga anakku lupakan yang lain"
"Tidak boleh seperti itu, kamu sudah berjanji padaku kalau pernikahan kita hanya sebatas kesepakatan"
"Aku tidak perduli dengan kesepakatan dan sebuah perjanjian, aku hanya ingin dia sehat,"ucapnya dengan sinis.
__ADS_1
'Ada apa dengannya apa ia masih marah padaku?'
Aku duduk terdiam, mimpi buruk itu baru saja dimulai, Farel mengatur hidupku semaunya, tidak boleh ini, tidak boleh seperti itu. Entah apa yang membuat lelaki masih marah padaku.
"Kita sudah menikah, tapi kenapa kamu jadi marah-marah padaku, kamu membuatku jadi takut,” kataku menatap wajahnya.
Farel menghela napas panjang, lalu ia menarik kursi dan duduk di depanku.
"Kita memang sudah menikah, tapi hatimu, masih menyimpan lelaki itu di sini." Farel menunjuk bagian dadaku.
Aku hanya terdiam, tidak ingin salah bicara dan tidak ingin salah memberi jawaban yang membuat Farel semakin marah. Tetapi bersikap diam pun, disalah artikan olehnya.
"Kamu tidak membantah, sikap diam itu, aku artikan jawab iya"
"Aku tidak mengatakan seperti Pak Farel"
"Dengar Ririn! aku sudah jadi suamimu saat ini, jadi tidak Bisakah kamu memanggilku layaknya orang yang sudah menikah!" wajahnya memerah menahan kemarahan.
"A-a-aku harus panggil apa?" tanyaku gugup.
Karena sesungguhnya aku juga bingung mau panggil sebutan untuk Pak Farel, buatku ia hanya seorang atasan .
Farel berdiri menyambar tas kerja miliknya dan ia pergi dengan wajah marah.
'Harusnya kamu ajarin aku untuk bagaimana memanggilmu, sebutan apa yang aku ucapkan saat memanggilmu' ucapku dalam hati.
Aku berdiri di depan pintu melihat Farel mengeluarkan mobil, wajahnya masih terlihat sangat marah dan matanya menatapku sinis, ia pergi begitu saja.
Kini tinggal aku sendiri di dalam rumah, ada banyak perasaan yang berkecamuk dalam dada ini, keinginan untuk kabur kembali muncul di kepalaku.
Aku yakin menikah akan membuat hidupku akan seperti di neraka, karena baru hitungan minggu menikah dengan Dr. Farel, ia sudah mengaturku.
"Apa yang akan terjadi selanjutnya?"
Berdiri di depan cermin melihat pantulan diriku yang menyerupai badut, aku baru menyadari kalau kehamilanku kali ini, ternyata lebih besar dari kehamilanku yang pertama dan kedua, aku merasakan ia sangat aktif bergerak saat ini.
Lalu bagaimana hidupku selanjutnya, kalau Farel masih cemburu? Bagaimana caraku mengambil hatinya?
Bersambung …
“ Kasih donk komentar kalian tapi komentar yang membangun iya … Kalau komentar yang julid mending gak usah deh, bikin sakit kepala
Mana tahu dari setiap komentar yang masuk, saya dapat ilham dan punya ide untuk menulis bab selanjutnya”
JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA, KASIH BANYAK HADIAH JUGA BOLEH.
__ADS_1
Jangan lupa follow IG @sonat.ha