Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Lepas Dari Farel


__ADS_3

"Katakan kamu di mana? aku akan menjemputmu? bukankah kita sudah sepakat untuk menikah hari ini?"


Jangan mempermainkan hidupku Ririn,"


suara Farel terdengar bergetar di ujung telepon.


Farel menggunakan panggilan video call, ia ingin melihat langsung kondisiku.


"Aku sudah keguguran Pak Farel, jadi tidak ada lagi alasan kita untuk menikah, aku berharap kamu memiliki anak dari wanita yang kamu cintai nantinya, bukan dari wanita yang kamu benci dan dibenci keluargamu."


"Mungkin saja karena rasa benci kamu padaku selama ini, makanya aku kehilangan dia, tadinya aku berpikir kalau hati ini baik -baik saja kalau ada dia."


Saat mendengar ku menangis suaranya langsung berubah, ia beberapa kali membuang napas pendek dari mulutnya dan menggigit kepalan tangannya, aku bisa melihat ia terpengaruh dengan sikapku yang pura-pura sedih.


"Tidak apa-apa, katakan alamatnya, aku membawamu pulang," ucap Farel dengan suara parau.


Aku tersenyum getir memperlihatkan wajah yang sangat lemah dan wajah memprihatinkan, mudah-mudahan dengan wajah kesakitan yang aku Perlihatkan, ia benar-benar ikut merasa sakit.


"Kamu tidak perlu lagi melakukan itu Pak Farel," ujar ku dengan menarik napas berat, berpura-pura memperlihatkan wajah yang sangat sakit, aku ingin ia memikul rasa bersalah seumur hidupnya.


" Aku merasa sangat tidak berdaya saat ini, aku tidak punya banyak tenaga untuk bicara," kataku membasahi bibir-ku yang kering dengan menarik napas dengan berat.


"Baik, aku akan mengobati, aku akan membuat mu cepat pulih, aku ini seorang dokter, setelah kamu pulih baru kita bicarakan yang lainnya, Dengar! yang paling utama adalah kesehatan."


"Tidak usah, terimakasih untuk semuanya, terimakasih untuk dua bulan ini, terimakasih berkat kamu aku bisa lepas dari Virto, sampaikan maaf ku untuk kakakmu, aku berharap kita tidak pernah bertemu lagi sampai selamanya."

__ADS_1


"Tolong katakan kamu di mana? Aku mohon ... jangan seperti ini, setidaknya izinkan aku bicara langsung padamu, aku juga salah, kita akan berpisah dengan baik -baik kalau memang harus," ucap Farel.


'Sudah capek capek melarikan diri dari Jakarta ke Sukabumi agar bisa jauh dari mereka semua.


" Tidak perlu Pak Farel, aku hanya ingin mengatakan terimakasih."


"Baiklah, kalau kamu tidak mau aku jemput, berikan saja nomor dokter yang merawat, agar aku bisa memberitahukan resep obat yang bagus, untuk membuat cepat pulih."


Saat ia mengatakan itu aku ingin tertawa, jika aku memberikan pada dokter, sama saja aku memberitahukan keberadaan ku saat ini, lalu ia akan datang dan mengurungku selamanya di apartemennya.


"Tidak usah, lihat, dokter tadi memberikan obat ini, aku menunjukkan salah satu obat yang diberikan dokter agar ia yakin, obat untuk menghentikan pendarahan.


Melihat obat itu, ia menarik napas panjang, dari reaksinya ia mulai percaya.


"Padahal aku sudah memberitahukan keluarga, kalau aku akan menikah hari ini, bagaimana aku menjelaskan pada ayah?


'Iya, itu derita kamu Pak Dokter, bukan urusanku lagi' ucapku dalam hati.


"Katakan saja wanita yang kamu nikahi bukan wanita baik-baik, maka itu, kamu membatalkan pernikahan, gampang' kan?"


Aku melihat sebelah tangannya sibuk mengerjakan sesuatu, sepertinya ia mulai mencari titik keberadaan ku melalui salah satu ponsel pintar di tangannya, aku yakin ia akan melakukan itu karena ia orang yang pintar dan besar di luar negeri, hingga ia menjadi seorang dokter. Untuk hal menemukanku mungkin hal yang mudah untuknya.


"Rin, baiklah begini saja, katakan kamu di mana, aku akan meminta seorang teman untuk menjemput kamu, kalau kamu tidak mau bertemu denganku."


"Maaf, aku menutup teleponnya, kepalaku sangat pusing, aku ingin tidur."

__ADS_1


"Tolong, tolong jangan menutup dulu, please," wajahnya memohon, saat aku menatapnya, aku baru menyadari lelaki benar-benar sangat tampan, hidungnya sangat mancung dan bibirnya merah, aku baru menyadari ia punya bulu mata yang lentik dan alis yang hitam tebal.


Sekilas pikiranku berandai-andai, seandainya dia benar mencintaiku dan kami menikah karena cinta, Mungkin aku akan melahirkan anak-anak tampan, kalau ia lelaki dan cantik kalau ia perempuan.


"Maaf, aku sangat pusing tubuhku sangat lemah, aku harus menutup teleponnya agar aku bisa istirahat," ujar ku dengan mata sendu, aku tersenyum kecil padanya sebagai ucapan perpisahan.


Lalu menutup telepon dan mematikan GPS-nya dan mematikan ponselnya, sebelum ia menemukan keberadaan ku di tempat itu, aku yakin ia sudah sibuk melacak ku saat ini.


Setelah mematikan ponsel aku berniat ingin mengembalikan ponsel mahal itu untuknya, aku tidak ingin punya hutang apapun padanya dan tidak ada satu barang pun yang mengingatkan ku pada Farel, bagiku semua yang aku alami bersamanya sesuatu yang harus di lupakan.


Karena sejujurnya, semua yang berhubungan dengan keluarganya aku tidak ingin terlibat.


Sebab kakak Farel istri Mas Virto sudah menoreh kan luka sangat dalam di hatiku dan trauma.


Aku memang salah, karena sudah menjadi orang ketiga di rumah tangganya, maka itu aku merasa senang tidak jadi berpura-pura menikah dengan Farel, aku berharap di kehidupan mendatang, aku tidak bertemu dengan Farel dan keluarganya, dan berharap tidak bertemu Virto juga.


Aktingku saat menelepon Farel sangat bagus, aku berharap dengan pura-pura tidak berdaya dan terlihat pesakitan, yang aku pertunjukan padanya, bisa membuatnya menyesal dan merasa bersalah.


Aku berharap ia menyesal karena membawaku dan menjebak ku malam itu, kalau ia tidak membawaku malam itu, aku tidak merasakan rasa sakit akibat dipukuli Virto.


Namun, di sisi lain aku merasa senang karena akhirnya bisa lepas dari Virto.


Bersambung ….


Bantu like dan komen di setiap bab nya ya kakak biar semakin semangat punya tiap hari,bantu share juga ya kak biar semakin banyak yang baca.

__ADS_1


Terima kasih ya sudah baca karya saya mudah mudahan kaka suka dan terhibur.


__ADS_2