Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Aku berhak untukmu


__ADS_3

Tetapi, keinginan tahuanku , tentang kabar Farel dikalahkan, keinginan besarku, ingin melindungi putra tampanku Haikal.


Aku memilih diam. Membiarkan waktu yang akan menjawabnya, walau aku tahu, kalau Haikal adalah putranya. Tetapi, kalau ia dan keluarganya berniat mengambilnya dariku. Jangan harap aku tinggal diam.


“Maaf saya ingin tidur, boleh aku melanjutkan tidurku?”ucapku, memegang belakang kepala ini.


Farel mengangguk kecil.


“Baiklah, kalau kamu ingin istirahat, berbaringlah, aku akan menjagamu”


“Aku tidak perlu dijaga, aku tidak akan merasa nyaman kalau ada orang lain di dekatku”


“ Sayang sekali, aku bukan orang lain. Lupa ingatan ataupun tidak …. Dalam hukum agama dan hukum negara, kamu masih istriku, tidak ada yang bisa melarang ku menjaga istriku”


“Terserah Bapaklah, walau tanpa kamu, aku juga bisa hidup,” ucapku tanpa sadar.


“Maksudnya? Kedua alis tebal itu, saling menyatu menatapku penuh tanya.


“Kan, bapak bilang saya ini istrinya, umur saya saat ini, jalan tiga puluh, selama ini, saya baik-baik saja dan tidak pernah tahu kalau bapak suami saya . Jadi, biarkan saja seperti ini,” kilahku berucap dengan tenang.


“Kamu pikir semudah itu, lupa ingatan atau tidak lupa ingatan. Mulai saat ini, aku tidak akan membiarkanmu lepas lagi,” ujarnya. Mendengar itu dengan refleks tanganku aku sembunyikan dari Farel.


Aku takut, ia memakai borgol seperti yang ia lakukan empat tahun lalu.


Melihat wajahnya yang semakin mengeras karena marah, aku mengalah, Bersikap diam adalah pilihan yang paling tepat dan aman.


Merebahkan tubuh ini lagi dan memunggungi Farel yang duduk di sampingku, aku tahu matanya masih menatapku dengan tatapan dalam.


Tatapan mata indah itu terkadang membuatku kikuk hampir salah tingkah, sejak aku bertemu dengannya di bandara siang itu, mata Farel menatapku dengan tatapan sangat dalam. Membuat batin kewanitaanku meronta-ronta, biar bagaimanapun, lelaki tampan ini, pernah melukiskan kenangan indah di hati ini, juga, masih status suamiku, saat ini.


Tidak mau dilihatin terus menerus, aku mematikan lampu lagi dan menarik selimut mencoba memejamkan mata.


Ada Farel duduk di sampingku, membuatku merasa tersiksa, walau tubuhku berbaring dengan diam. Tetapi yakinlah, mataku masih tetap terbuka dan sibuk menghitung banyak domba, berharap mata ini lelah dan tertidur.


Namun saat bibir ini menghitung domba sampai seribu ekor, mataku tak kunjung meram. Justru semakin cerah, karena domba yang aku hitung itu, berulang-ulang, lupa jumlahnya sampai aku bolak -balik menghitung lagi, sampai aku merasa bibirku dower karena komat-kamit menghitung berulang-ulang.


‘Ah, dasar domba kurang ajar’ucapku kesal.

__ADS_1


Lelah menghitung domba, tetapi mataku tidak bisa diajak kerja sama, ‘Bagaimana ini?’ tanyaku dalam hati. Saat aku membalikkan badan, ternyata Farel sudah berbaring di sampingku dengan kursi yang di duduki tadi diubah jadi ranjang lagi, lalu sejajarkan dengan ranjang milikku.


Lagi-lagi ia membuatku kaget, tubuhnya di miringkan menatapku dengan satu tangannya ia jadikan jadi bantal.


‘Iya ampun ...! Apa ia pikir ini rumah nenek moyangnya, berbuat seenaknya’ batinku kesal.


Aku ingin duduk. Namun, satu kakinya di letakkan diatas tubuh ini, menahanku agar tidak bangun.


“Apa yang ingin Bapak lakukan? Ini pesawat”


“Memangnya, siapa bilang ini perahu,” jawabnya santai.


“Orang -orang akan melihat Anda, singkirkan kakimu,” ucapku melotot tajam pada Farel.


“Orang-orang melihat ke sini, karena mereka punya mata,” balasnya lagi membuatku ingin membungkam mulutnya dengan kaos kakiku.


“Tapi apa nanti kata orang , jika melihatmu melakukan hal yang macam-,macam pada wanita lain. Apa aku perlu berteriak,” ujarku mengancam.


“Teriak saja, emang ada larangan di sini tidak bisa berbaring dengan istrinya,” jawabnya dengan sangat santai lagi.


“Tapi, aku bukan istrimu!” kataku marah.


“Tidurlah biarkan seperti ini, jika kamu melawan, aku akan memelukmu nanti,” ucapnya mengancam.


“Kamu melakukan semuanya dengan pemaksaan,” ucapku berontak.


“Aku sudah bilang , kalau kamu tidak terima, teriak saja ... biar ramai, baru aku melepaskanmu” Matanya masih tertutup.


“Tapi, kaki anda berat, itu membuatku tidak bisa bernapas,” ucapku membuat alasan.


“Itu baru satu kaki, Ririn, jika kamu terus mengoceh, aku akan menindih dari atas, tidurlah dan biarkan aku tidur, aku sangat mengantuk,” ucapnya menutup mata itu dengan sempurna.


‘Apa dia bisa tidur dengan perlakuan seperti ini?’ tanyaku mengarahkan telapak tanganku di wajahnya. Benar saja, Farel tertidur dengan posisi tubuh kami saling berhadap-hadapan dan satu kaki di letakkan di atas tubuhku.


“Bagaimana aku bisa tidur dengan keadaan seperti ini” gumamku pelan, melihatnya sudah tidur, aku mencoba ingin menyingkirkan kaki Farel, baru saja aku pegang kakinya matanya terbuka menatapku dengan tatapan dalam, aku menelan savilaku dengan susah payah, dengan cepat aku melepaskan tanganku dari kakinya dan aku menutup mataku.


Aku takut Farel benar-benar menindih tubuhku, kalau aku meneruskannya tadi, mengingat dirinya, orang yang sangat nekat.

__ADS_1


Menatap wajahnya yang tertidur membuat bunyi jantung di dalam dada ini, bergemuruh, ia tidur sangat tenang, melihatnya tidur seperti itu, persis seperti Haikal saat tidur.


‘Kalian berdua sangat mirip’ ucapku dalam hati dan tiba-tiba, aku merasa sangat mengantuk dan ikut tertidur pulas. Padahal tadi aku sangat kesusahan tidur. Tetapi saat melihat Farel tidur, aku jadi ikut tidur.


Aku merasa ada seseorang yang menyentuh pipiku dan menyentuh alis ini, lalu berhenti di bibir sentuhan lembut itu membuatku tersenyum kecil. Aku bermimpi seolah-olah bersama Haikal, anak tampan yang soleha itu yang terakhir melakukannya beberapa hari yang lalu.


Saat aku meletakkan kepala ini, di pangkuannya.


“Haikal ibu cantik, Tidak?" tanyaku sebelum mengantarnya kembali ke Panti.


“Ibu sangat cantik,” ucapnya membelai pipi dan mengelus-elus alisku.


“Haikal, kalau sayang ibu dan ingin bertemu ayah nanti. Haikal harus menurut kata ibu dan rajin mengaji, iya,” ucapku mencium tangan kecilnya.


“Iya Ibu,” ucapnya mendaratkan bibir merahnya di hidungku, dan ia menggigit batang hidung ku, membuatku terkekeh karena merasa geli.


Tapi saat jari-jari itu menyentuh bibir ini, hatikku bertanya ’Tapi tunggu .... Haikal perasaan, tidak menyentuh bibirku deh …. Lalu ini?’


Mataku terbuka perlahan, ternyata Farel yang melakukannya. Saat ini, ibu jarinya menyentuh bibir bawahku, melihat Farel di depan wajahku. Dengan sikap tiba-tiba aku terbangun dan menjauhkan kepalaku darinya.


“Selamat pagi Rin, mari serapan,” ucapnya membantuku merapikan ranjang.


Aku masih diam, mencoba memulihkan kesadaranku, semua orang di dalam pesawat itu sudah bangun, bahkan sudah ada yang serapan, aku melirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku jam lima pagi, itu artinya sebentar lagi pesawat akan mendarat di bandara Paris. Aku masih duduk beberapa menit, butuh waktu bagiku mengumpulkan kesadaranku begitukah kebiasaanku selama ini.


Jika kebanyakan orang bangun langsung ke kamar mandi atau minum, main ponsel. Tetapi tidak untukku, aku akan diam beberapa menit seperti patung.


Farel duduk diam di depanku menatapku dengan senyuman kecil.


“Aku pikir kebiasaan itu sudah berubah, Ibu Ririn, ternyata masih,” ucapnya tersenyum kecil ia terus saja menatapku.


Aku masih diam mode kesadaranku belum pulih, masih loading. Farel menyodorkan gelas air putih untukku.


“Minumlah, biar loadingnya cepat,” ucapnya masih tersenyum hangat.


Bersambung ….


JANGAN LUPA TEKAN FAVORIT VOTE DAN LIKE IYA,

__ADS_1


KASIH BANYAK HADIAH, IYA KAKAK, AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI


__ADS_2