
Selepas dari ulah kedua perawat itu, aku hanya menegur mereka berdua dengan tegas.
Aku tidak ingin menambah masalah atau memperpanjang masalah, apalagi melaporkan keduanya pada Lesa, kesenanganku terlalu berharga di rusak oleh kedua perawat yang tidak profesional itu, karena itu aku memilih menasehati dan bicara tegas pada mereka agar tidak mengulangi pada pasian yang lain.
Setelah mereka berdua meminta maaf dengan wajah takut, ke duanya keluar dari ruangan Farel dan aku duduk di samping Farel.
Farel masih tertidur pulas efek bius di tubuhnya, wajah tampak pucat dan bibirnya kering, tetapi dalam tidurnya di tangannya masih melekat foto putranya Haikal, karena hal itulah ia di ledekin kedua perawat yang tidak punya akhlak itu tadi.
“Terimakasih karena kamu kuat,” ucapku duduk di samping Farel. “Tidak apa-apa kamu ditertawakan para perawat kurang ajar itu, tetapi kamu aan bertemu putramu nanti”
Saat duduk di samping Farel, tiba-tiba l dari luar, Burak datang dengan istrinya.
“Rin, abi dari tadi, nanya terus kapan cucunya mau dijemput”
Kedua pasangan suami istri itu, menatapku dengan tatapan dalam.
“Saat Farel sudah sadar dan dia bisa memeluk putranya nanti, itu permintaanya dia ingin yang pertama yang melihat Haikal”
“Rin, palingan beberapa jam lagi, dia akan sadar”
“Iya nanti aku akan kabarin biar diantar ke sini”
“Rin, apa jauh dari sin? biar aku yang menjemputnya katakan saja di mana alamatnya,” ucap Burak, ia tidak sabar bertemu Haikal.
“Nanti mereka akan datang Kak. Kita tunggu di sini saja”
Keduanya tampak senang saat aku meminta Haikal datang langsung ke rumah sakit .
“Iya, iya itu sangat bagus, kita akan buat kejutan untuk Farel” Mona menatapku dengan wajah berseri. Ia menelepon anak-anak yang di Jakarta.
Aku tahu Haikal akan jadi idola besar di keluarga Farel, karena ia cucu satu-satunya laki-laki dari keempat anaknya, ketiga kakak Farel memiliki anak perempuan semua. Maka Haikal , akan jadi cucu laki-laki satunya untuk ayahnya.
**
Aku mendongak saat seseorang menyentuh kepalaku saat aku bangun ternyata Farel sudah sadar.
“Uaaam.”Aku bangun, setelah menguap beberapa kali dan kali ini, kembali bengong seperti patung seperti biasa, butuh waktu sekitar sepuluh menit untukku menormalkan pikiranku.
“Sudah bangun Rin, tadi kita mau bangunin kamu, tetapi, tidak tega bangunin. Kamu tidurnya sampai ngorok,” ucap dr.Mona.
Farel tersenyum geli melihatku yang belum konek, hanya ia dan eyang di keluarganya yang tahu kebiasaan ku.
“Kamu tidak apa-apa Rin?” dr. Lesa mendekat.
__ADS_1
Aku hanya menggeleng dan kembali mematung.
“Kakak tolong kasih dia minum,” ujar Farel pada sang kakak.
“Apa kamu mimpi buruk?” tanya wanita itu dengan tangan menyodorkan gelas .
“Kasih dia waktu sebentar untuk memulihkan kesadarannya Kak,” ucap Farel masih tersenyum kecil.
Mata semua keluarganya menatapku dengan tatapan bingung, mungkin mereka, berpikir aku habis mimpi buruk karena melihatku mematung seperti seseorang yang kehilangan kesadaran.
“Ada apa?” Bisik Mona pada Farel.
“Tidak apa-apa Kak, dia memang begitu kalau bangun tidur, berikan dia waktu sendiri, mengumpulkan kesadarannya sekitar sepuluh menit,” ucap Farel.
“Haaa? Emang kenapa Rel, kok dia seperti orang dihipnotis sih …,” ucap sang kakak.
Saat saudara dan keponakan Farel menatapku degan heran, aku hanya bisa diam, duduk seperti patung, aku juga tidak ingin seperti ini, tetapi sudah kebiasaan sejak dari orok dan sulit untuk dihilangkan.
Aku tidak tahu apa yang di pikirkan saudara- saudara Farel, tentang aku, tetapi itulah yang terjadi.
Setelah sekitar sepuluh menit semedi, barulah aku hidup kembali, aku seperti manusia.
“Sudah?” tanya Farel tersenyum hangat.
Saat menoleh ke sekeliling, ternyata ruangan Farel sudah di sulap seperti sebuah ruangan pertemuan, di sediakan sofa dan berbagai jenis makanan ringan dan banyak mainan.
‘Oh, iya ampun Kal, kamu sudah seperti tamu penting, Nak’ ucapku dalam hati.
“Rin, sudah sadar?” tanya dr. Lesa mendekat.
“Sudah Mbak,” ucapku merasa malu.
“Apa memang selalu begitu?” tanya dr. Mona ikut duduk di sisi ranjang Farel.
“Dia akan seperti itu setiap kali baru bangun,” timpal Farel.
“Jangan-jangan Haikal juga seperti itu,” ucap dr. Burak, tangan sibuk memasang balon untuk penyambutan Haikal.
“Iya, lebih parah,” kataku.
“Haaa.” Mereka semua tertawa.
Tatapan dalam Farel membuatku salah tingkah, entah apa yang dipikirkan ayah Haikal padaku, membuat matanya terus menatapku.
__ADS_1
“ Terimakasih karena kamu kuat, tapi, tolong berhenti menatapku seperti itu, membuatku jadi malu dan salah tingkah,” bisikku pada Farel.
“Berkat kamu dan Haikal itulah sebabnya aku kuat dan harus sehat, tapi apa seorang Ririn bisa salah tingkah juga?” Farel tertawa.
“Bisalah. Aku juga manusia Pak Farel,” ucapku mendesis merasa kesal melihat tatapan mata nakal itu lagi, seakan-akan ia tidak merasakan rasa sakit sehabis operasi.” Tapi ngomong-ngomong bukankah ini berlebihan?” tanyaku melihat ke sekeliling ruangan Farel.
“Tidak, ini tidak seberapa, kalau aku tidak berbaring sakit aku akan mengundang seluruh artis Indonesia,” ucapnya dengan wajah bersemangat. ”Bantu aku berganti pakaian, Rin, aku tidak mau terlihat penyakitan di depan putraku,” ucap Farel melepaskan infus dari tangannya.
“Tapi, apa kamu sudah kuat”
“Kuatlah, itu hanya luka kecil,” ujarnya dengan yakin.
“Tapi bekas operasinya apa sudah tidak sakit lagi?” tanyaku , merasa ngilu membayangkan luka sayatan di pundaknya.
“Masih sakit, tetapi masih bisa di tahan”
Sesuai permintaan Farel, aku membantunya melepaskan pakainya dan menggantinya dengan pakaian kemeja berwarna merah.
Saat aku sedang membuka pakaian Farel, dari pintu datang ayah mertua dan tiga cucunya yang datang dari Jakarta juga.
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
“Jangan bengong … salam sana paman kalian,” pinta orang tua yang duduk di kursi roda itu pada cucunya.
“Siapa ?” tanyaku belum pernah melihat gadi-gadis muda itu.
“Kedua yang pakai kerudung anak kakak Lesa selama ini tinggal di Jerman dan yang agak tomboi anak kaka Marisa yang mendorong kursi Abi itu, anak kakak Burak, satu lagi tidak datang dia anak sulung anak Kakak Marisa.”
“Oh,” kataku tiba-tiba merasa sangat gugup saat mendengar nama Marisa dan sangat gugup melihat anak-anak gadis kakak Farel yang semuanya perempuan cantik dalam balutan hijab, cucu ayah mertuaku yang datang ada lima orang, semua pakai kerudung kecuali satu orang ia agak tomboi anak dari Marisa dan Virto.
‘Apa mereka semua mau menerimaku dan menerima Haikal juga?’ tanyaku dalam hati.
Bersambung ….
KASIH BANYAK HADIAH juga AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAllP HARI
Baca juga:
“Menikah Dengan Brondong”
Follow ig sonat.ha dan
__ADS_1
Fb Nata