Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Tidak berjalan sesuai rencana


__ADS_3

Tak Berjalan Sesuai Rencana


Berjalan hampir satu jam melewati hutan, akhirnya kami tiba dipinggir hutan.


"Apa itu suara mobil?"tanyaku bersemangat, aku sudah kelaparan.


"Sepertinya tidak, ini masih di pinggir hutan, kita harus berjalan menaiki bukit itu, naiklah pelan, aku akan memegang tanganmu.”


Farel menurunkan ku dari gendongannya, saat mendengar aku yakin sudah dekat jalan raya, tetapi harus mendaki bukit.


Dengan perjuangan berat akhirnya kami mampu melalui semua rintangan.


"Aku lapar bangat," kataku memegang perut. "Dari tadi malam belum makan." Aku duduk.


"Apa para penjahat itu tidak memberimu makan?"tanya Farel menatap dengan tatapan prihatin


"Tidak, jangankan kasih makan, ngasih minum juga tidak”


"Apa kamu merasakan sesuatu yang sakit …. maksudku apa dia masih bergerak.” Farel menatap perut ini.


“Jangan khawatir kami baik-baik saja.


“Rin, kenapa kamu melakukannya padaku? Maksudku kenapa kamu bilang kalau kamu keguguran, padahal kamu masih hamil”


“Aku tidak ingin membahas tentang anakku”


“Apa kamu pikir itu hanya anakmu?” Wajah Farel mengeras.


“Jangan membahas tentang dia, kamu tidak berhak”


“Apaaa …? Tidak berhak katamu?


Kenapa kenapa bisa begitu”


“Karena kamu tidak punya hubungan dengannya”


“Kamu tidak akan hamil kalau aku tidak menghamilimu!”Teriak Farel.


“Iya aku tahu,anggap saja itu sebuah kecelakaan dan kamu tidak berhak”


“Ada apa sih denganmu?


Kenapa kamu begitu aneh?


Aku akan bertanggung jawab, kenapa kamu tidak mau?” tanya Farel, kali ini wajahnya terlihat menghitam.


“Karena aku tidak pernah menyukaimu dan aku sangat membencimu,”ujarku merasa kelelahan.

__ADS_1


Farel membalikkan tubuhnya, ia terlihat beberapa kali menghembuskan napas pendek dari mulutnya.


“Tapi dia darah daging ku,” ujar Farel dengan suara pelan.


“Apa kamu lihat burung yang terbang itu, dia akan berak di sini, di hutan ini dan dari kotorannya akan tumbuh tanaman. Apa kamu pikir tanaman yang tumbuh itu akan jadi milik burung itu?”


“Apaaa …? kamu mengibaratkan ku dengan burung? Aku bukan burung, aku bukan hewan, aku manusia, kamu merendahkan ku”


“Iya anggap saja kamu buang kotoran di tubuhku, bukankah malam itu kamu meniduri ku untuk menghukum ku, anggap saja kamu berhasil melakukanya”


“Lalu apa yang ingin kamu lakukan sekarang?” Farel menatapku dengan tatapan putus asa.


“Kalau aku masih hidup keluar dari hutan ini, aku akan pergi dan membesarkan anak ini sendirian”


“Aku sudah berjanji padamu aku akan melindungi kalian berdua, kenapa kamu tidak percaya padaku!”


“Aku tidak percaya pada siapapun lagi di dunia ini, aku tidak punya seorang pun yang bisa aku percaya.


Karena mempercayai seseorang lah makanya hidupku seperti saat ini.


Aku percaya pada mantan suamiku, ternyata dia selingkuh dengan sahabatku, aku percaya pada sahabatku Irena, ternyata ia menjebak ku, membuatku hamil seperti ini, aku percaya kata-kata ibuku ternyata dia membohongiku, dia bilang Mas Virto belum punya istri, memintaku tetap bersamanya, nyatanya, aku menjadi orang ketiga untuk rumah tangga seseorang.


Jadi jangan memintaku hal itu, karena aku tidak akan bisa lagi,” ucapku lemah.


“Katakan apa yang harus aku lakukan, agar kamu bisa memaafkan ku, tapi jangan memintaku untuk meninggalkanmu, Tolong.”


“Kenapa? Apa aku tidak pantas?”


“Karena aku tidak pernah suka pada Bapak”


“Tidak bisakah kamu mengalah demi dia”


“Aku bisa mengurusnya, jangan khawatir”


Berdebat dengan Farel membuat perutku terasa kram, ditambah lagi rasa lapar yang semakin menyiksa, Farel seakan-akan kehabisan kata-kata, ia memilih diam, suasana menjadi hening, perkataan ku membuatnya membisu.


Tidak ingin mati kelaparan, saat mataku mencari kanan kiri, melihat apa yang layak di makan, ternyata alam masih baik, tidak sengaja mataku menemukan buah ciplukan yang sudah matang, buah berwarna kekuning-kuningan itu membuat hatiku sangat gembira, bagai mendapat sebongkah emas.


Memetik semua buah yang sudah ranum, memakannya dengan sangat lahap, karena rasa lapar yang aku rasakan membuat buah ciplukan begitu terasa enak, melebihi manisnya rasa apel, bahkan lebih segar dari buah anggur sekalipun, setidaknya itulah yang aku rasakan saat itu. Bahkan sampai memungut yang berjatuhan di tanah.


“Apa yang kamu makan, jangan makan buah sembarangan dari hutan, bisa jadi berbahaya untuk bayimu,” ujar Farel ia ikut mendekat dan berjongkok melihat pohon ceplukan.


“Orang kota sepertimu tidak akan tahu buah apa ini Pak, tenang saja, buah ini sudah aku makan sejak aku masih anak-anak”


“Bisa gak kita tidak usah berdebat”


“Baiklah, aku tidak akan melakukanya,” jawabku memakan dengan lahap.

__ADS_1


Farel mencoba memetik satu biji buah sebesar kelereng itu, lalu memasukkannya ke dalam mulut, wajahnya tampak aneh saat mencicipi.


“Ini buah physalis angulata, kalau dalam bahasa kedokteran, ini banyak manfaatnya buat jantung, asma, menurunkan tekanan darah tinggi, di Jerman ini mahal harganya,”ujar Farel melepeh buah kecil itu, dari mulutnya.


“Mungkin banyak manfaat untuk kesehatan, tetapi saat ini, manfaatnya hanya satu untukku, untuk mengenyangkan perutku yang kelaparan, dan di sini dapat secara gratis di kebun,” ujar ku santai.


Aku memakannya dengan lahap, tidak memperdulikan tatapan Farel yang menatapku dengan tatapan iba, ia juga membantu memetik dan memberikannya untuk ku.


“Kamu lapar, tunggulah di sini, aku akan mencari makanan untuk kamu”


“Ini hutan Pak Farel, di sini tidak ada mall ataupun supermarket”


“Memang yang mengatakan di sini ada mall siapa Ibu Ririn …?” Farel sangat kesal, saat aku mengatakan itu.


“Aku pikir anak orang kaya sepertimu, tidak akan bisa menemukan makanan di hutan seperti ini Pak Farel, tidak apa-apa, tidak usah repot, aku sudah kenyang”


“Dengar, aku tidak suka siapapun yang meremehkan ku, sekalipun itu kamu!” Ia mengepal tangannya dengan kuat.


“Aku tidak meremehkan Bapak , hanya mengingatkan saja”


“Apa kamu se benci itu padaku?”


“Entahlah, aku tidak berhak membenci seseorang dan itupun tidak akan ngaruh pada orang lain, aku hanya ingin berdamai dengan takdir hidup”


“Aku juga tidak menginginkan hal ini terjadi Rin, berhentilah menghukum ku.” Farel meremas tangannya.


“Iya, mungkin tidak sesuai dengan rencana balas dendam yang kamu inginkan”


Farel diam, ia menggigit bibir bawahnya pundaknya tampak naik turun menahan perasaan.


“Aku hanya ingin kamu tidak menganggu rumah tangga kakakku saat itu”


“Aku tahu.


Kamu datang jauh-jauh dari Jerman untuk menghukum ku. Aku pikir aku sudah mendapatkannya Pak, hamil tanpa suami , satu aib yang sangat memalukan, kalau ibuku tahu, mungkin ia akan memaki-makiku habis-habisan dan membotaki rambut ini.


Mantan suamiku akan tertawa dengan keadaanku yang memalukan ini, aku juga tidak akan berani bertemu anak-anakku selama aku bunting, mungkin aku akan menghilang dari mereka semua, setidaknya selama sembilan bulan ini.


Bapak sudah berhasil menghukum ku,” ujar ku berusaha bersikap tenang.


“Aku tidak pernah menghukum Ririn, aku hanya ingin menempatkan dirimu di tempat yang seharusnya aku hanya ingin-”


“Menyingkirkanku, iya’ kan?”


“Tidak, hanya ingin memintamu tidak mengganggu keluarga mereka,” ujar Farel dengan suara pelan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2