Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Suami Idaman


__ADS_3

Waktu berjalan dengan cepat, tidak terasa aku sudah tinggal  bersama keluarga Farel selama  satu tahun, banyak kejadian  di keluarga yang itu yang   sudah kami lalui.


Seperti saat ini, tidak ada yang menduga kalau Indah akan pulang kembali ke rumah setelah hampir satu tahun meninggalkan rumah karena ia tidak suka melihatku datang ke rumah itu. Ia adalah putri pertama Virto dan Marisa, kejadian di masa lalu rupanya masih membekas di hati wanita cantik itu.


Flash Back.


Satu tahun yang lalu.


Samar-samar aku mendengar ia marah pada kakeknya,  karena aku memutuskan tinggal di rumah Farel. Ia mengatakan, kami semua menari dan tertawa di atas kematian ibunya.


“Indah, tolong jangan mengungkit  hal itulah lagi,” ujar kakek Haikal.


“Kek, ibuku mati karena ulah wanita itu”


“Hentikan itu …! Jangan sampai Pamanmu dengar,” ucap sang Kakek sayang Farel mendengar semuanya.


“Aku tidak perduli kek, aku yatim piatu, kerena wanita itu”


“Kamu salah, mami kamu yang salah Nak, dengan berat hati kakek, katakan kalau mami kamu punya penyakit jiwa, harusnya yang di pantas di salahkan  itu,  kakek. Kakek lah dan  nenekmu lah yang memanjakan mami kamu dari dulu,  membuatnya bersikap bebas seperti itu, ia selalu berpikir kalau apa yang diinginkan,  selalu ia dapatkan”


Saat itu ayah mertua  berusaha menjelaskan pada Indah tentang semua yang di lakukan ibunya padaku. Bahkan,  penyebab meninggalnya eyang. Rasa kecewa dan tidak percaya tergurat saat itu di wajahnya ia menggeleng tidak percaya tentang apa yang di lakukan ibu, dulu,  ia  sekolah di pesantren jadi tidak tahu bagaimana ibunya.


Ia  meninggalkan rumah, tidak ada yang melarang dan tidak ada yang  mau mencegah saat itu. Tetapi,  saat ini,  saat kami mau makan malam  wanita cantik itu,  kembali ke rumah, ia membawa beberapa koper besar, selama ini, ia tinggal di  Singapura.


                   *


“Eh, Indah! Mari, mari masuk Nak” Lesa mengajaknya ke meja makan.


“Bibi, saya pulang”


“Mari duduk, simpan tas kamu dulu,  kita makan”


Ia duduk dengan wajah  merasa malu, jelas saja malu, saat ia  dulu meninggalkan rumah ia berjanji tidak akan menginjakkan kakinya lagi di rumah yang sudah menampungnya dari sejak ia   dilahirkan.  Tetapi, entah apa yang terjadi wanita ini sudah datang kembali. Ia heran melihat suasana yang berbeda,  meja makan itu,  bukanlah tempat duduk dalam diam lagi sekarang.  Tetapi semua tampak tersenyum bahagia,  sesekali tertawa  hangat. Ia  mendapati rumah saat ini sudah berubah.


Saat kami duduk si tampan idola semua orang di rumah itu,  baru pulang  dari belajar ngaji.


“Wassalamulaikum!”


“Wallaikumsalam”


Ia berlari ke kamarnya,  mencuci tangan ganti pakaian barulah,  ia duduk, semua ia lakukan sendiri tanpa di suruh.

__ADS_1


“Si tampan baru pulang ngaji?” Lesa mencubit pipi Haikal dengan gemas.


“Iya Bi”


Mata indah itu,  menatap indah dengan tatapan ragu-ragu.


“Jagoan …!Beri salam pada kakak Indah, dia baru pulang,”pinta kakek.


“Halo kak Indah, selamat datang”


“Hai Ikal,’ ucapnya  tersenyum manis. Aku masih diam, aku tidak ingin kehadiran wanita mudah ini menghancurkan semua yang sudah aku bangun dengan susah payah. Tidak mudah menyatukan keluarga Farel  tetapi berkat kesabaran, ,   hal itu bisa berjalan dengan baik.


“Kakek,Paman, Bibi. Indah minta maaf karena saat itu meninggalkan rumah, tetapi, kali ini Indah mau kuliah di Jakarta lagi”


“Oh, baguslah, nanti kita urus semuanya,” ucap Abi.


“Tidak usah Kek, Papi sudah mengurus semuanya”


Kami semua terdiam.


Selama ini, hubungan ia dan papinya tidak baik, sejak  maminya meninggal.


“Oh, bagus sekali bagaimana kabar Papi kamu?” tanya Kak Burak.


Tetapi dari semua orang yang   antusias menyambut kedatangan Indah hanya Farel yang tidak banyak bicara . Lelaki tampan ini, selalu punya pesona  sendiri,  sikap cueknya punya alasan.  Ia bersikap dingin pada keponakannya,   karena, tepat di depannya satu tahun yang lalu Indah meneriakiku, menyebutku pelacur murahan Farel hampir menamparnya, rasa sakit  hati itu,  sepertinya belum hilang walau satu tahun telah berlalu.


Saat semua duduk santai di ruang tamu, Farel naik,   ia  masuk ke kamar.


“Sepertinya Farel, masih marah pada Indah,” bisik Mbak Lesa.


“Biarkan saja Mbak, nanti juga tenang sendiri, berikan ia waktu,” ucapku.


Tidak ingin  Farel sendirian,  aku ikut naik ke kamar.


“Ayah, tidak apa-apa?” tanyaku memiji-mijit betis  kakinya.


“Aku, belum bisa menerima Indah  semudah itu, hati ini masih sakit dengan kata-katanya yang diucapkan dulu,” ucap Farel.


“Jangan karena Indah datang, kamu,  jadi tidak mau bergabung dengan keluarga kita , tidak boleh iya,” ucapku.


Ia menarik napas panjang.

__ADS_1


“Baiklah, walau tidak mudah melakukan hal itu”


“Sayang, anggap saja mereka semua anak-anakmu, tidak baik dendam pada anak sendiri, ia keponakanmu kamu harus lebih menuntunnya”


“Baiklah,” ucap Farel terlihat tidak semangat.


Kedatangan Indah  tidak membuat masalah,  seperti yang aku takutkan sepertinya Indah sudah tahu dan paham kesalahan yang  di lakukan ibunya.


Justru ia yang banyak berubah,  lebih dewasa dan lebih irit bicara, sepertinya ia merasa bersalah karena Farel  diam padanya


                                          *


Setelah kedatangan Indah,  semua berjalan dengan baik, tetapi aku menyadari penampilanku berbeda sendiri, iseng-iseng aku bertanya pada Farel.


“ Ayah, apa kamu tidak marah dengan penampilanku,  seperti ini?” tanyaku suatu malam.


“Maksudnya penampilan yang seperti apa?” Farel mengalihkan matanya dari ponsel miliknya.


“Maksudku di rumah ini,  semua orang sudah pakai kerudung tetapi aku belum?”


“Sini deh,” ucapnya menepuk sisi ranjang, aku duduk di sampingnya.


“AKu sudah  bilang berapa kali padamu, pakai kerudung itu datangnya dari hati, jika hatimu sudah siap dan sudah terpanggil,  baru kamu pakai”


“Lalu apa kamu tidak malu, kalau aku berbeda sendiri di rumah ini?”


“Untuk apa malu? Kamu itu wanita yang hebat dan keren,” ucap Farel, memberi kecupan hangat di pipi.


“Maksudku, apa kamu tidak ingin menyuruhku? Maksudku biasanya para suami, akan meminta istrinya  menutup aurat”


“Sayang, aku percaya padamu, kamu akan memakainya jika kamu sudah siap nanti.  Untuk apa memakainya kalau hanya untuk di puji lebih  alim, tetapi hatinya menolak, ujung-ujungnya sebentar lagi di lepas. Pakai hijab itu datangnya dari hati dan lebih baik jika sesuai dengan perbuatan,  kalau hati sudah benar-benar siap. Tetapi bukan  berarti aku melarangmu memakai, aku akan selalu mendukungmu. Jangan seperti kak Mona, kerudung syariah tetapi mulut tetap tidak bisa di rem,  ia selalu menggosippin  orang, untuk apa” ucap Farel berbisik, ia  kurang suka dengan kakak iparnya.


“Terimakasih Sayangku,  kamu memang panutanku, suami idaman, suami idola semua wanita, tidak mau mengatur istri,  menuntut istri  akan seperti ini dan seperti itu …. Kamu suami masa kini yang berpikiran luas. Baiklah, aku janji akan  memakai hijab,  jika hati ini sudah siap, butuh waktu lama  bagiku untuk memakainya. Aku ingin memakainya jika hatiku sudah benar-benar siap,” ucapku.


“Baiklah sayang, aku mengantuk  sini garuk-garuk kepalaku, agar aku bisa tidur,’ ujar Farel menenggelamkan wajahnya di dadaku, ia selalu begitu kalau sudah capek.  Memintaku menggaruk-garuk kepalanya sampai tidur, posisi tubuh ini miring dengan tangan mulai mengusap-usap pucuk kepala Farel. Sekilas terlihat seperti anak  yang sedang di kelonin ibunya.


Ia sudah lelah minta adik untuk  Haikal, awalnya aku memang menolak, tetapi melihat kebaikan Farel,  aku mau punya anak lagi. Namun,  sudah hampir satu tahun aku tidak kunjung hamil juga, padahal,   aku sudah berhenti minum pil KB,  aku ingin memberinya seorang anak, tetapi walau aku sudah tidak meminum pil KB,  tetapi tidak kunjung hamil, padahal  rutin melakukanya dalam satu minggu bisa sampai empat kali, kecuali kalau datang halangan. Namun, aku belum kunjung hamil. Maka beberapa bulan ini,  aku mulai berhenti berharap mungkin rahimku sudah mulai kering faktor usia atau karena aku sempat beberapa kali menolak.


Bersambung …


Jangan lupa vote dan like kakak kasih hadiah juga iya.

__ADS_1


Jangan lupa baca


“Menikah Dengan Brondong”


__ADS_2