
“Rin, setelah meninggalkan anakmu di panti, apa yang ingin kamu lakukan?” tanya dokter saat kami duduk di taman di depan panti asuhan.
Kini, bayi berusia satu bulan itu sudah dijaga seorang pengasuh yang aku gaji khusus untuk merawat baby Haikal.
Tubuh ini duduk bersama sang dokter, tetapi, seolah-olah jiwaku serasa melayang entah kemana, aku duduk bersama dokter, bagai raga tak bernyawa, duduk diam, kata-kata dan pertanyaan yang di lontarkan dokter cantik itu, menguap begitu saja , tanpa meresap sedikitpun dalam otak ini. Bau wangi tubuh putraku masih menempel di tubuh ini, ingin rasanya aku mendekatnya dalam pelukanku setiap saat, memberinya asi layaknya seorang ibu. Tetapi keinginan itu rasa berat untuk aku lakukan.
Aku merasa seakan-akan kehilangan satu anggota tubuh saat meninggalkan Haikal di sana, bersamanya selama sembilan bulan melewati banyak rintangan hidup, dan lolos dari kematian. Karena dirinyalah, aku mendapat perhatian besar dari Farel, ku raba perut ini … Tidak ada lagi drumband besar yang selalu aku bawa.
“Rin …!”
Panggil sang dokter membangunkan ku.
“Iya, Dok?”
“Kalau kamu berat hati meninggalkan putramu. Kenapa kamu tidak bekerja di panti saja, sekalian untuk mengurus Haikal,” ujar Dokter Sinta, sepertinya ia mengerti apa yang aku pikirkan.
“Tidak Dok, itu sama saja aku tidak melindunginya kalau kami bersama-sama,” ujarku dengan suara lemah.
“Lalu apa yang kamu ingin lakukan?”
“Aku akan bekerja Dok, untuk menghidupi ke tiga anak-anakku”
“Oh, baiklah, tetapi, apa kamu sudah punya tujuan?” Tanya dokter menatapku dengan penasaran.
Aku hanya menggeleng, untuk saat itu aku belum menentukan tujuanku untuk pergi.
“Aku belum tahu Dok, sejauh ini aku hanya ingin menjaga keselamatan Haikal dulu, mungkin aku akan mencari pekerjaan di daerah Bali saja, pekerjaan apa saja yang penting halal”
“Itu Bagus Rin, tetapi, kalau bisa jangan bekerja di ruang publik, carilah pekerjaan yang tidak berhadapan langsung dengan orang banyak, misalkan koki, bekerja di PT jangan jadi kasir supermarket atau pelayan restaurant. Kalau kamu bekerja di bagian itu, seminggu juga kamu pasti akan di temukan”
“Baik, Dok”
“Tapi bagaimana kamu kalau ikut denganku, ke Taiwan Rin, kebetulan aku dan kakakku baru buka restaurant di sana,” ujar Dr. Sinta.
__ADS_1
“Dari dulu banyak orang yang mengajakku jadi TKW di sana Dok, tetapi aku takut, berat rasanya meninggalkan anak-anak”
“Oh, baiklah aku tidak ingin memaksa, aku hanya ingin menawarkan pekerjaan untukmu, keputusannya ada di tanganmu,” ujar Dokter.
*
Setelah melahirkan Haikal, tidak tahu kenapa, pikiranku selalu saja teringat ibu yang melahirkan ku ke dunia ini. Aku ingin meminta maaf padanya, satu kata yang ingin ungkapkan padanya setelah aku melahirkan Haikal. Tidak tahu kenapa, saat melahirkan Haikal sendirian, sosok ibuku juga aku rindukan saat itu. Rasa sakit seperti sepuluh tulang rusuk dipatahkan sekaligus, itulah yang aku rasakan saat melahirkan Haikal, berbeda saat melahirkan kedua saudaranya, aku memikirkan hal yang sama dirasakan ibuku saat melahirkan.
Walau ia bukan seorang ibu yang baik, untukku, tetapi biar bagaimanapun, ia tetaplah ibuku.
Maka sebelum mencari pekerjaan, aku memutuskan kembali ke Jakarta untuk menemui ibu, mungkin hanya sekedar menyapa dan memberi sedikit uang untuknya.
Karena saat ini, aku masih memiliki rezeki lebih. Uang dan perhiasaan yang di berikan Eyang sudah aku jual dan aku jadikan uang, hanya sebuah kalung yang aku tidak jual yang ia berikan untuk Haikal . Saat di jual nilai nominalnya lumayan.
Karena itu, aku berniat membagi untuk ibuku, aku tahu betapa susahnya kehidupan wanita itu, saat aku tidak ada.
Ibu selalu mendapatkan uang dariku, ibuku hanya memiliki satu anak dari pernikahan.
Saat pernikahan dari pertama sampai ke enam, ibu tidak memiliki anak lagi. Jadi boleh di bilang aku satu-satunya keluarga ibu.
Saat melahirkan Haikal, saat itulah bayangan ibu yang selalu tampak dalam pikiranku. Melahirkan Haikal, sama halnya saat ibuku melahirkan ku.
Melarikan diri ke desa karena takut dari istri pertama ayah. Menurut cerita ibu, saat beliau melahirkan ku ke dunia ini, tidak di dampingi suaminya karena ayah saat itu lagi kerja di luar kota.
Aku membayangkan rasa sakit yang dialami ibuku saat melahirkan ku juga.
Maka, hari ini, aku akan pulang ke Jakarta, berharap ibuku baik-baik saja. Untuk menjenguk ibu tentu dengan penyamaran yang sempurna, Jika waktu memungkinkan aku juga akan menjenguk anak-anakku nantinya.
Sepuluh bulan lamanya aku tidak mengetahui kabar ibuku, ada rasa rindu yang menyapa hati saat mengingat sosoknya. Aku akan pulang menggunakan penerbangan malam dari Bali.
Sengaja aku mengambil penerbangan malam, agar penyamaran ku tidak ada mengetahui.
“Rin, apa kamu yakin untuk pulang dalam situasi seperti itu?”
__ADS_1
“Tidak apa-apa, aku sudah tampil seperti Lady Gaga ni,” kataku menunjuk wig warna kuning yang aku pakai.
Dokter Santi terkekeh saat melihat penampilanku yang mirip bule kesasar.
“Cocok kok Rin, kulitmu putih bersih badanmu tinggi semampai jadi tidak ada yang menyadari kalau kamu itu adalah Ririn Wulandari,” ujar Dokter Santi memuji.
“Tapi bagaimana badanku yang melar ini,” ucapku menarik lipatan perut yang belembir pasca melahirkan.
“Tidak apa-apa Rin, umur kamu masi muda angka dua lima masih, masih bisa di perbaiki kalau kamu pintar merawat diri,” ujarnya lagi.”
Ini pakai untuk menutupi bagian lemak.” Dokter Sinta, memberikan kemben elastis untuk menutup bagian lemak yang menjimbun
Dokter muda berwajah cantik itu malam itu mengantarku sampai ke bandara.
“Terimakasih Dok, mau mengantarku sampai ke sini”
“Tidak apa-apa Rin, pergilah temui orang tuamu ... hati-hati.”
“Baik Dok, titip Haikal iya, aku hanya sebentar di Jakarta, melihat keadaan ibu, aku langsung pulang”
“Bagaimana dengan anak-anakmu yang lain?” Dokter cantik itu menatap wajah ini dengan serius.
“Kalau waktunya memungkinkan, aku akan diam-diam menemui mereka di sekolah, tetapi itu berbahaya, aku takut Virto mengawasi mereka demi mencari
ku. Tapi untuk anak-anakku nanti saja, aku ingin menemui ibu dulu”
“Baiklah lakukan yang terbaik untuk ibumu sebelum terlambat, kamu masih bersyukur masih punya Ibu Rin, dari pada aku sudah tidak ada Ibu,” ujar Dokter. Aku hanya mengangguk.
Berjalan meninggalkan dokter berambut panjang itu, menuju ruang check in di Bandara Bali. Aku berharap saat menemui Ibuku, tidak bertemu dengan Virto apa lagi Marisa.
Bersambung ....
JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA, KASIH BANYAK HADIAH, IYA KAKAK, AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI
__ADS_1
“ Kasih donk komentar kalian tapi Untuk Babnya juga, iya, Terima kasih.
Jangan lupa follow IG @sonat.ha