Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Tidak diberi Kesempatan minta maaf


__ADS_3

Mendengar ibuku sudah tiada, aku hanya diam membatu, pikiranku seakan berhenti berpikir mulutku bagai dikunci, aku tidak tahu harus berbuat apa dan berkata, tubuh ini terasa membeku, air mataku belum kering untuk eyang aku kehilangan Ibuku lagi.


“Mbak tidak apa-apa?”tanya Mba Nur dengan tatapan menyelidiki.


“Kapan ibu meninggal. Mbak Nur?” tanyaku membuka kaca mata hitam yang aku kenakan.


“Eh … siapa?” ujarnya mendekat dan melihat wajahku dari jarak dekat


“Ririn …? Oh iya ampun Teh, kamu dari mana saja?”


Aku memeluk Mbak Nur, meluapkan rasa sesak di dalam dadaku.


“Mbak. Ibu kap-”


“Sini, ikut ibu ke dalam rumah,” ujarnya menatap kanan-kiri.


Ikut masuk ke dalam rumah kontrakannya, dan ia menceritakan semuanya bagaimana ibu meninggal, ibu terkena kangker payudara.


Bahkan sudah stadium empat, penyakit itu menggerogoti tubuhnya sampai kurus, cerita Mbak membuat dada ini bagai di sayat.


“Ibumu selalu menunggu sampai diakhir hayatnya, bahkan matanya sebelah tidak mau tertutup sempurna, saat ia meninggal,” ujarnya kemudian.


Airmataku tidak berhenti mengalir mendengar cerita mbak Nur, ibuku mati dengan sangat tragis.


“Bagaimana dengan Om, suami ibu, apa dia tidak ada, saat ibu sakit?”


“Hmmm … jangan tanya, lelaki bangkotan itu meninggalkan ibumu saat dia sakit”


“Lalu bagaimana nasip ibu?” tanyaku dengan suara bergetar.


“Rin, ibumu sangat menderita saat kamu pergi, berbulan-bulan ia sakit tidak ada yang melihatnya, dan tidak ada yang merawatnya, dia hanya memiliki kamu, kan”


Aku terdiam, ibuku sudah tidak ada untuk selamanya, dia memang bukan ibu baik untukku. Tetapi biar bagaimanapun, ia tetap ibuku, kehilangannya saat ini membuat hati ini kembali terpuruk lagi, tepat di hari kelahiran putraku, ternyata di hari itu juga ibuku meninggal.


‘Kenapa hidup yang aku jalani begitu berat?’ tanyaku dalam hati.

__ADS_1


“Apa ibu tersiksa di hari terakhirnya?” tanyaku, berharap wanita malang itu tidak melalui rasa sakit saat di saat terakhirnya.


“Ibu, meninggal tidak ada yang melihat Rin, dia meninggal di rumah sakit, dia di temukan perawat sudah dalam keadaan dingin, maka itu matanya sebelah tidak bisa ditutup”


Hatiku semakin nyeri mendengar semua cerita Mbak Nur tentang ibuku.


“Itu sangat menyedihkan,” kataku tidak membendung deraian air mataku.


“Pak Virto yang mengurus pemakamannya,” ucap Mbak Nur, membuatku kaget.


“Apaaa? Virto?”tanyaku tidak percaya.


“Dia yang selalu datang ke sini melihat Ibu Rin, kalau tidak ada suamimu, ibumu tidak kan bisa ke rumah sakit dan mendapat pengobatan gratis”ujarnya lagi, kebanyakan tetangga di kontrakan menganggap Virto suamiku bukan selingkuhan.


'Mas Virto? Kenapa dia tidak memberitahuku kalau ibuku sakit, apa karena itu ia memaksaku pulang , apa dia aku tidak ingin aku sedih?’ tanyaku dalam hati.


“Iya dia yang mengurus semuanya dari mulai ibu kamu sakit, saat kami tanya kamu di mana, dia hanya menjawab kerja di luar negeri”


Saat duduk bercerita, tiba-tiba bapak driver mendatangi rumah kontrakan si Mbak Nur.


“Mbak, apa masih lama saya menunggu?” tanya dengan wajah lelah.


Setelah mendengar cerita tentang kematian ibu dan tentang Virto, aku buru-buru pamit pulang. Aku takut lelaki itu datang dan menemukanku di sana.


“Rin, banyak yang ingin aku ceritakan padamu, datanglah lain waktu” ujar Mbak Nur, dia tetangga ibu, sebelah rumah kontrakan ibu, ia mengaku kalau dia yang sering mengurus ibu saat sakit.


Mbak Nur memang dekat dengan ibu, ia juga dekat Virto, karena itulah, aku khawatir kedatanganku di ketahui Virto juga.


“Mba Nur, tolong jangan beritahukan pada Virto kalau aku di sini”


“Lah … apa kalian ada masalah?”


Aku hanya mengangguk saja, tidak ingin hal yang buruk terjadi, aku memutuskan pamit pulang. Oleh-oleh yang seharusnya ingin aku berikan pada ibu, kini, aku berikan pada Mbak Nur.


Aku pamit pulang.

__ADS_1


Tetapi sebelum pulang, aku menyempatkan diri ke kuburan ibuku kuburan umum TPU Pondok Ranggon yang kebetulan tidak jauh dari kontrakan Ibu, hanya diseberang jalan raya.


Aku buru-buru masuk ke dalam mobil, sengaja tidak menyapa tetangga kontrakan dulu, untungnya penampilanku disamarkan membuatku tidak dikenal sama mereka. Jika saja mereka tahu aku Ririn, sekejap saja kabar itu sudah sampai ke telinga Virto.


“Pak, kita mampir ke pemakaman , boleh gak Pak?” tanyaku mengusap buliran air yang kembali menetes deras di mata ini.


Ia menatapku dari kaca, melihatku menangis bapak driver itu merasa kasihan, padahal tadi ia sudah sempat kesal karena aku mengaku sebentar, ternyata karena kelupaan bisa sampai setengah jam. Lalu ia menarik napas panjang dan mematikan aplikasi di ponselnya.


“Baiklah Mbak, saya sudah mematikan aplikasinya, nanti bayar tanpa aplikasi saja, biar mbak punya untuk waktu bebas,” ujarnya lagi.


“Baik Pak terimakasih,” ucapku, lagi-lagi mataku tidak bisa berhenti menangis.


Memikirkan semua ini membuat dada ini terasa sakit lagi, belum juga hilang trauma kehilangan eyang yang meninggal tepat di pangkuanku.


Tenyata nasip ibuku lebih tragis, meninggal sendirian tidak ada keluarga yang menemaninya di saat terakhirnya. Bahkan ia meninggal di hari yang sama, saat aku melahirkan putraku, menurut mbak Nur ia meninggal saat sore dan aku melahirkan pagi.


“Maafkan aku ibu, maaf karena aku anak durhaka,” isakku tidak tertahankan lagi. Aku tidak menghiraukan bapak supir itu lagi. Ia hanya diam, membiarkan aku menangis meluapkan kesedihan di hati ini.


Bahkan saat tiba di pemakaman, ia masih memberiku waktu, ia menghentikan mobilnya di blok tempat ibu dikuburkan, setelah lima menit berhenti, ia baru bicara.


“Mbak kita sudah sampai,” ucapnya mengingatkan.


Aku mendongakkan kepala, menatap barisan kuburan sepanjang mata memandang, TPU Pondok Rangon, tempat ibuku di makamkan.


Berjalan menyusuri deretan kuburan dan tiba di rumah baru milik ibu.


“Ibu, punya rumah baru, ibu tidak perlu lagi memikirkan uang kontrakan tiap bulannya, ibu beristirahatlah dengan tenang,” ujarku meremas tanah yang masih berwarna kemerah-merahan itu, di atas gundukan tanah masih terlihat taburan beberapa bunga yang sudah kering.


“Maafkan aku ibu, karena aku tidak pernah menjadi anak yang baik untuk ibu, maafkan aku karena aku tidak ada saat ibu sakit,” ujarku hanya mencuci wajah ini, di makamnya, tanpa taburan bunga, karena aku lupa membeli, karena sedari tadi, mata ini hanya menangis menyesal.


Aku tidak diberi kesempatan memberi yang terbaik untuk ibuku, tidak diberi kesempatan untuk meminta maaf. Ini kehilangan yang kedua dalam dua bulan ini.


“Ibu ...! aku sudah menikah dan lelaki itu sepertinya mencintaiku, karena aku sudah melahirkan anak yang tampan untuknya, dia baik Bu, walau dulunya aku membencinya. Ibu jangan khawatirkan aku, lelaki itu baik kok percayalah,” ujarku bicara di gundukan tanah merah itu. Ibu beristirahatlah dengan tenang doakan cucumu iya,” ucapku lagi. Tidak ingin Virto datang. Setelah mengucapkan beberapa kata perpisahan pada ibu, aku buru-buru pergi dan masuk ke dalam mobil, aku tidak ingin Virto menemukanku. Walau ia sangat berjasa selama ini memperhatikan ibu, aku berterimakasih untuk itu. Tetapi tidak ada niat untuk bertemu dengannya lagi. Justru dalam saat sedih seperti ini aku merindukan Farel, aku ingin mencurahkan rasa sedih ini padanya bukan untuk Virto lagi.


'Aku ingin menemui Farel, aku ingin mencurahkan semua kesedihan ini padanya, pada suamiku. Tapi bagaimana caranya? bagaimana si Marisa kalau menemukanku?

__ADS_1


Bersambung ...


JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA, KASIH BANYAK HADIAH, IYA KAKAK, AGAR VIWERS NAIK.


__ADS_2