
Sebelum aku berangkat ke luar negeri, aku menelepon Darma putra sulungku, aku selalu menghafal nomor ponsel kedua anakku.
"Ibu ...?"Suaranya terkejut, tidak lama kemudian wajah tampan itu terlihat sangat sedih.
Aku sengaja menggunakan panggilan video call untuk melihat wajah mereka berdua, berbulan-bulan tidak melihat wajah mereka, kini keduanya, terlihat sangat berbeda, Darma bertambah tinggi dan Jeny putri cantik ku juga sudah seperti anak gadis.
'Iya ampun kapan mereka sebesar itu, bagaimana putriku menjalani hidup selama ini?' tanyaku dalam hati, menyadari banyak yang sudah aku lewatkan dari anak-anakku, tidak melihat pertumbuhan mereka membuat hati ini sangat sedih. 'Iya ampun. Ibu macam apa aku ini' kataku dalam hati tidak bisa membendung air mataku.
"Ibu dari mana saja? kenapa tidak pulang-pulang." Jeny menangis karena rindu, ia duduk di samping Darma.
"Ibu minta maaf sayang ,suatu hari nanti, ibu akan ceritakan kita akan bertemu, saat ini, Ibu ingin bekerja, ada teman yang ingin membawa ibu bekerja di luar negeri," kataku bersikap tegar.
"Apa ibu tahu ayah sudah menikah lagi?' tanya Darma, wajahnya terlihat sangat kecewa karena sejak dulu, ia yang paling menginginkan aku dan ayahnya untuk rujuk. Namun. untuk rujuk pada lelaki yang sudah membuatku terluka dan sempat hancur saat itu, hatiku masih sulit menerimanya kembali.
Walau aku tahu, ayah mereka masih menunggu ku sampai bertahun-tahun. Namun, tidak bisa untuk bersatu lagi, karena Virto menguasai hidupku sepenuhnya saat itu. Lima tahun lamanya menjadi simpanannya tanpa status yang jelas.
"Baiklah, apa ibumu baik?"' tanyaku penasaran.
Seketika wajah Darma sangat sedih, ia tidak pernah seperti itu
"Kami berdua sangat merindukan Ibu," ucapnya dengan tangisan, hatiku, bagai dibakar dengan besi panas, melihat putraku menangis ia jarang menangis.
Bahkan bibir ini terasa kaku dan tidak tahu harus mengatakan apa-apa lagi. Lalu ia memberikan ponselnya ke adiknya yang duduk di sampingnya.
"Apa ibu tahu nenek juga sudah meninggal," ujar Jeny, aku hanya mengangguk, tidak bisa membendung air mata ini lagi, menyadari banyak waktu yang aku sia-siakan dengan keluarga dan melihat tangisan kedua anakku. Tiba-tiba sangat benci pada Farel, kalau saja lelaki itu tidak mengancam dan menahanku saat itu, aku tidak akan kehilangan segalanya seperti saat ini.
'Aku membenci kalian berdua' ucapku dalam hati.
"Maafkan aku anak-anak," ujarku pelan, aku sudah terlalu banyak menyakiti hati kalian.
"Bu, mama baru itu sangat cerewet, ia sering mengatai ibu," ucap Jeny, putriku orang yang sangat jujur, ia tidak pernah berbohong.
"Baiklah nanti ibu telepon lagi iya," kataku mengucapakan perpisahan lalu menutup teleponnya. Aku menangis berteriak di pinggir jalan, meluapkan perasaan yang panas dalam hati ini.
__ADS_1
Mendengar semua itu, hati ini, panas, aku memutuskan menemui anak-anakku sebelum aku berangkat ke Paris . Dokter Santi mengajakku untuk bekerja untuknya menjaga restaurant miliknya yang buka cabang di Taiwan dan Paris. Tetapi aku memilih ke Taiwan karena punya banyak teman jadi TKW di sana. Tadinya aku berpikir sebelum berangkat, aku menelepon anak-anak, tetapi mendengar semua itu, hati ini, tidak akan tenang untuk berangkat.
Sebelum berangkat, aku meminta waktu satu hari lagi pada Dokter Sinta.
"Izinkan aku pulang menemui anak-anakku sebentar saja Dok, aku ingin pamit dengan mereka sebelum aku pergi.”
"Tapi kamu akan menepati janji' kan?" dr. Santi menatapku dengan tatapan serius.
"Pasti Dok, lagian, aku tidak boleh lama-lama di Jakarta, aku takut wanita itu menemukanku. aku akan berangkat pagi-pagi nanti, bertemu dan pamit pada anak-anak aku langsung kembali”
"Baiklah Rin, aku percaya padamu, aku akan mengurus semua paspor dan tiket, jadi, tinggal berangkat
"Baik Dok”
*
Keesokan harinya aku membuat janji untuk anak-anak untuk bertemu di sekolah.
Setelah istirahat aku baru menemui mereka berdua di salah warung makan di belakang sekolah. Aku sengaja memilih tempat yang sepi, agar aman.
‘Oh putraku sudah besar, ternyata’ ucapku dalam hati.
Banyak waktu yang aku lewatkan bersama mereka berdua hingga melewatkan banyak hal.
“Oh, sayang,” ucapku membalas pelukannya, kedua anak-anakku memiliki paras yang tampan dan cantik.
“Ibu dari mana saja, kenapa tidak pernah mengabari kami, nenek meninggal saja ibu tidak datang,” Jeny menyeka air matanya, aku tahu aku sudah melukai hati kedua anakku.
“Maafkan ibu Nak, ibu ada masalah, makanya tidak bisa menemui kalian berdua. Nanti kalau masalah ibu sudah selesai ibu akan datang tinggal bersama kalian lagi”
“Ayah sudah menikah lagi Bu, wanita sangat jahat dan terus memarahi kami,” ujar Darma dengan wajah sendu.
“ Bertahanlah sayang, ibu nanti akan datang dan memberi pelajaran pada ibu tiri kalian itu , apapun yang di lakukan pada kalian, adukan pada ayah, agar dia tahu kelakuan istrinya”
__ADS_1
“Aku takut ayah berantem Bu,’ ujar Jeny.
“Kami ikut dengan ibu lagi” Darma meminta ikut.
“Dengar … Ibu akan pergi bekerja keluar negeri,” ucapku menatap mereka bergantian.
“Ibu kenapa harus keluar negeri ? tidak bisa kita tinggal bersama lagi seperti yang dulu lagi? Aku ingin seperti anak-anak yang lain yang tinggal bersama dengan ibu,” ujarnya dengan sudut matanya mulai mengeluarkan air mata.
Melihat hal itu hati ini sangat rapuh, tetapi aku belum bisa menuruti permintaan mereka.
“Jen, ibu juga inginnya seperti itu, tetapi jika ibu tetap di sini, akan ada banyak masalah, nyawa ibu dalam bahaya,” ucapku jujur.
Mata kedua anak itu menatapku dengan tatapan mata serius.
“Apa yang terjadi Bu?” Darma menggeser kursi yang di duduki.
Aku pikir kedua anakku sudah mengerti keadaan ibu mereka, jadi bicara jujur akan membuat hati ini, sedikit tenang.
“Kalau Virto mencariku atau bertanya pada kalian berdua, katakan kita tidak pernah bertemu,” ucapku dengan nada tegas dan tatapan serius
“Siapapun yang mengaku kenalan ibu atau teman ibu, jangan pernah beritahu ibu, iya”
“Apa istrinya menyakiti ibu lagi?” tanya Darma dengan tatapan menyelidiki
“Iya”
“Itu, kan, bukan salah ibu, kenapa mereka marah sama ibu, Om Virto yang selama ini yang tidak mau melepaskan ibu,” ujar Jeny mulai Ter isak-isak.
“Jeny, Darma, maafkan ibu, iya … Ibu tidak bisa lama-lama. Jangan khawatir. Ibu akan menelepon jika ibu sudah sampai di sana dan akan mengirim kebutuhan kalian berdua, aku sudah bicara dengan Ibu guru Darma. Ibu akan mengirim melalu ibu gurumu, untuk semua kebutuhan kalian berdua, jangan beritahukan ayah biar ibu yang meneleponnya nanti. Untuk ibu tirimu kalian, sabarlah ... nanti ibu akan datang memberinya pelajaran kalau dia masih jahat. Sekarang masuklah kembali ke kelas, ibu juga akan pulang. Memeluk kedua anak-anakku dan membiarkan mereka pergi, wajah Jeny masih mendung air mata itu, masih menganak sungai membanjiri pipinya yang putih.
Setelah pamit dengan anak-anak, hati ini, akhirnya lega, aku kembali ke hotel bertemu dengan dr. Sinta. Aku putuskan akan pergi menjauh dan meninggalkan Indonesia, dengan begitu aku bisa mencari ketenangan dan berharap bisa berubah dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Bersambung ….
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA, KASIH BANYAK HADIAH, IYA KAKAK, AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI