
Melihatku marah dan terlihat emosi, Farel diam, ia memberiku waktu untuk menenangkan perasaanku. Ia juga berjanji tidak akan bertanya apa-apa sampai aku tenang.
Kalau ia sedang waras, tidak dibakar api cemburu, ia bisa memperlakukan diriku dengan baik.
“Jangan bicara padaku. Aku lagi kesal”
Ia hanya diam menatapku dari ujung rambut sampai ujung kepala dengan tatapan yang biasa ia lakukan, senyum kecil tersemat di ujung bibirnya.
Setelah ia memberi waktu beberapa menit menenangkan diri, barulah ia bicara lagi.
“Baiklah, apa sudah bisa bicara. Kalau kamu memang lapar, mari kita cari makanan di luar”
Aku membalas dengan anggukan kecil, karena aku memang benar-benar lapar.
“Ayo,”ucapku berjalan. Tetapi Farel diam, menatapku dengan datar.
“Apa? Ayo …”
Farel mendesis kesal.”Ririn, kamu tidak pakai Bra dan baju itu hanya mampu menutupi-”
“Kamu yang melakukannya, terus … sekarang aku harus apa?” tanyaku.
“Iya ganti bajulah, masa kamu harus keluar pakai itu”
“Ckkk … tadi kamu yang bilang, tidak mau pinjamkan pakaianmu,” ucapku menatap sinis.
“Itu tadi, tadi Rin, sekarang tidak. Tidak boleh ada yang melihatmu seperti itu.”
“Kamu melihatnya,” ucapku.
“Iya aku suamimu!” ucapnya dengan suara tinggi.
Saat menoleh ke bawah dan meneliti pakaian yang aku pakai.
‘Oh, buset’ ucapku dalam hati. Kedua buah besar, tanpa pengaman itu menantang bebas menonjol ke depan, kemeja putih milik Farel ternyata hanya bisa menutupi bagian sensitifku.
“Ini pakai.” Farel memberikan mantel dan celana pendek boxer miliknya.
“Ini kolor," ucapku protes.
“Hanya itu yang muat Rin, aku sudah coba tadi saat kamu tidur, celana milikku tidak muat kamu pakai. Bagian panggulmu besar”
“Maksudmu aku gendut?”
“Mungkin,” ucap Farel mengangkat pundaknya.
“Tidak … timbanganku tidak naik, tinggiku 170 Cm berat badanku tidak sampai 50 bukankah itu ideal?” tanyaku protes.
“Iya tapi pantat dan dada kamu yang bahenol itu yang membuat celanaku dan kemejaku tidak muat. Sudah pakai ini saja,” pungkas Farel, matanya menatap bagian dadaku sekilas dan mengalihkan wajahnya ke tempat lain, sepertinya ia takut singa kecilnya bangun dan membuat masalah lagi.
Aku merasa malas bolak balik ke kamar mandi, dengan menyeret tangan Farel. Toh juga Farel akan mengekor, percuma. Aku pikir Farel sudah melihat semuanya, jadi aku pakai celana di depannya, ia hanya diam saat melihatku berganti pakaian, ia melihat ke tempat lain.
‘Aku akan menghukummu dengan cara ini dulu. Karena kamu membuatku sakit tadi’ ucapku dalam hati, menganti kemeja itu di depan Farel dan memakai celana pendek itu di depannya. Ia beberapa kali terlihat gelisah, menggaruk keningnya beberapa kali, saat melihatku melakukan itu dan tangannya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Kamu memancingku, Rin?”
“Ckkk, siapa yang memancingmu makannya lepaskan saja rantai pengganggu ini,” ucapku protes.
“Tidak akan, baiklah lakukan saja …” ucap Farel membalikkan tubuhnya, sepertinya ia takut tidak bisa mengontrol diri.
*
__ADS_1
Setelah berganti pakaian, ia membawaku keluar dari hotel.
Kalau tadi sore saat kami masuk hotel itu, wajahnya seperti iblis karena marah, maka kali ini terlihat santai dan tenang saat kami keluar. Aku masih diam, aku sibuk memikirkan cara agar Farel tidak bertanya tentang anaknya. Aku akan memberitahukan padanya jika aku sudah tahu status Farel.
Aku sibuk dalam pikiranku sendiri.
“Mau makan apa, Rin?”
‘Apa Farel sudah menikah? Apa dia juga punya anak? Apa aku harus bertanya sekarang padanya?’ tanyaku dalam hati. Sampai-sampai tidak mendengar pertanyaan dari Farel.
“Ririn! Hei.” Ia menjentikkan jari tangannya di depanku.
“Iya apa?” tanyaku gugup.
“Jangan kebanyakan melamun, jangan khawatir dia akan tiba di Indonesia dengan selamat,” ucap Farel dengan wajah tampak dingin.
“Ah, kamu cari gara-gara lagi, senang bangat membuat kerusuhan”
“Habisnya, kamu melamun terus dari tadi, tubuhmu bersamaku tetapi jiwamu pergi entah kemana.”
“Kamu tidak tahu kalau perut lagi lapar pikiran juga jadi kacau?’
“Aku tidak tahu, karena aku tidak pernah kelaparan,” ucap Farel
“Iya. Iyaaa … Tuan Farel Taslan, tidak mungkin pernah kelaparan,” ucapku acuh, Farel hanya tersenyum kecut, setiap aku melamun di depannya, ia selalu berpikir kalau aku memikirkan Virto. Susah memang, menghadapi tukang cemburu akut seperti Farel. Farel melajukan mobil ke arah taman kota.
“Kamu mau makan apa?” tanya Farel lagi.
“Eh, itu ada mobil jualan, itu aja deh,” kataku menunjuk mobil van yang di jadikan tempat berjualan,
“Tapi itu hanya roti Rin, tidak bisa kenyang “
“Haaa! Sepuluh?” Alisnya menyengit kaget.
“Eh, ini kebab Turki,” kataku langsung duduk.
Farel mendekati mobil dan memesan dua dengan isian sayur-sayur dan kacang-kacangan, memakan satu tidak membuatku kenyang.
“Bagaimana cara mengucapkan dalam bahasa Prancis untuk memesan satu lagi, tapi jangan pakai sayur, tapi pakai daging,” kataku menatap Farel.
“Pesan saja pakai bahasa Sunda”
“Haaa! Jangan bercanda aku lapar”
“Iya pesan saja,” ucap Farel tampak serius tidak sedang bercanda
“Emang dia orang Sunda?” tanyaku tidak yakin menatap ka abang bule penjual kebab itu.
“Coba saja … .” ucap Farel lagi
“Ah masa gak mungkin orang dia bule. Ayo pesan lagi,” kataku membujuk Farel, tetapi ia terus saja memintaku memesan dengan bahasa Sunda.
“Kamu yakin dia mengerti?”
“Hmmm”
“Baiklah,” ucapku berdiri , dengan bodohnya percaya begitu saja pada Farel, mendekati si abang penjual kebab. Farel ikut berdiri di belakangku, ia masih memakan kebab di tangannya.
“Mamang, kuring mesen deui kebab anu dieusi daging, iya!” Ucapku dengan yakin.
Lelaki yang memakai pengikat di kepala itu hanya mengangguk, lalu tersenyum, dengan cepat ia membuatkan pesanan yanga aku minta.
__ADS_1
‘Ha! Benaran dia mengerti?’ tanyaku dalam hati dengan mata masih menyelidiki.
“Kok dia bisa tahu?” tanyaku duduk kembali dengan Farel.
“Iya jawab Farel tersenyum kecil. Melihat ia tersenyum seperti itu membuatku semakin bingung.
Menghabiskan dua potong kebab membuatku merasa kenyang, walau hati ni masih terus bertanya kenapa si Bapak bule penjual kebab itu bisa mengerti bahasa Sunda. Farel tidak mau menjelaskannya. Semakin aku pikirkan semakin aku penasaran, 'Aku akan mencari tahu sendiri'
“Aku aku pesan lagi,” ucapku.
“Haaa!” Farel kaget ia tersendak. “Rin kamu sudah makan dua loh, aku saja makan satu tidak habis,” ucap Farel dengan wajah heran.”Kamu yakin memakan semuanya?” Matanya menatap bawah kursi ia takut aku membuangnya.
“Kamu tidak menghabiskannya karena ini makanan jalanan. Orang kaya seperti kamu pasti tidak biasa makan seperti ini kan, makanya tidak habis," kataku mendengar itu Farel terlihat kesal.
“Rin, berhenti menyebutku orang kaya, orang kaya. Aku ini suamimu … Jika aku kaya maka kamu juga kaya. Ini makan,” ucapnya menyodorkan kebab di tangannya untukku. Lalu ia berdiri, mengajakku pergi.
Tetapi rasa penasaranku belum terjawab.
“Tunggu! aku mau mesan satu lagi,” ucapku menarik tangan Farel.
“Itu yang di tanganmu makan dulu”
“Bukan seperti itu, aku penasaran sama si bapak, apa benar dia bisa bahasa daerahku, apa jangan-jangan kami satu kampung,” ucapku pura-pura ingin mendekati lagi.
“Eeee … Rin, begini -”
“Kamu menipuku iya si bapaknya tidak tahu kan?” tanyaku mendesis merasa jengkel.
“Bukan sebenarnya si bapak tidak bisa bicara”
“Haaa … lah terus tadi aku pesan ia langsung bikin bagai ceritanya? Tanyaku.
“Baik, baiklah begini …” Farel berdiri dan mengeluarkan dompetnya dan bicara menggunakan gerakan tangan. Ternyata si abang-abang bule penjual kebab itu tuna bicara dan Farel menggunakan itu tadi, saat ia di belakangku.
“Iiis …! kamu ini, penipu ulung,” ujarku mendesis kesal pada Farel. Ia tertawa terkekeh melihatku marah.
“Ini ada bacaannya Rin, baca dong” Farel menunjuk papan pengumuman berbahasa Inggris.
“Iya, iya aku tidak bisa bahasa Inggris, aku hanya tamatan SMP kamu puas,” ucapku merasa sangat kesal karena Farel mengerjaiku.
Farel tertawa ngakak, melihatku marah-marah.
“Tamatan SMP tetapi istriku desainer kelas dunia loh, Ucap Farel masih tertawa, lalu ia merangkul pundak ini dan mendaratkan satu ciuman gemas di pundakku. “Kamu itu tegas, keras kepala, galak Rin. Tidak cocok sebenarnya jadi orang Sunda, kalau biasanya orang Sunda itu lembut dan tutur katanya halus, kalau kamu mah, beda. Kamu itu, cocoknya jadi orang Indonesia timur kalau tidak, orang Sumatra Utara. Tegas dan galak,” ucap Farel.
“Iya terserah. Lagian, tadinya aku sudah bersemangat dan sangat senang, karena ada satu suku dengan kita merantau di Paris ini, aku ingin bertanya sama abang bule itu, asal daerahnya dari mana, aku ingin ajak dia mengobrol banyak pakai bahasa Sunda, ternyata kamu mengerjaiku,” ujarku dengan bibir manyun.
Farel lagi-lagi tertawa, melihatku marah-marah.
Suasana menjadi cair dan hangat, terjadi begitu saja tanpa di buat-buat.
Bersambung ….
JANGAN LUPA TEKAN FAVORIT VOTE DAN LIKE IYA,
KASIH BANYAK HADIAH, IYA KAKAK, AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI
“Menikah Dengan Brondong”
Follow ig sonat.ha dan
Fb Nata
__ADS_1