Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Saat dia melantunkan doa penyejuk hati


__ADS_3

“Kamu tidak apa-apa?” tanya Farel di ujung telepon, suaranya tampak khawatir.


“Aku hanya khawatir, tadi eyang memintaku untuk tetap di kamarnya,” ucapku dengan suara bergetar, jujur aku sangat takut saat mengetahui, ketidak warasan Marisa.


Mendengar ia nekat membunuh orang yang mendekati suaminya, sebagai manusia biasa aku sangat takut. Mungkin kalau aku tidak dalam keadaan hamil, ancaman seperti itu sudah biasa untukku. Namun, dalam keadaan hamil besar seperti ini, semakin mudah aku merasa cemas dan merasa takut.


Memikirkan Marisa mengincar nyawaku, tubuhku berkali-kali terasa gemetaran.


‘Bagaimana aku akan melarikan diri darinya, saat ia mengejar, jangankan lari, jalan saja aku susah dalam keadaan perut melendung seperti ini’ ucapku dalam hati.


“Aku baru tiba di hotel, pertemuannya nanti dua jam lagi, tapi kalau kamu menginginkan aku pulang, aku akan pulang,”ujar Farel menahan napas.


“Baiklah, selesaikan pekerjaanmu, aku akan menunggumu di kamar eyang saja,” kataku mencoba bersikap tenang.


“Terimakasih Rin, nanti aku akan cepat pulang, cobalah baca doa pengusir rasa takut agar kamu tenang, mau aku bacakan?”


“Haaa …? Iya” jawabku dengan cepat.


“Allahumma inna naj’aluka fi nuhurihim wa na’udzubika min syururihim." "Farel membacakannya untukku.


Aku tertegun dan terdiam, sesaat, jiwaku terasa tenang dan damai, saat mendengarnya, bahkan aku tidak ingin ia menutup teleponnya.


“Rin, apa kamu masih mendengarku?" Tanya Farel di ujung telepon.


“Iya, a-aku mendengarmu,” ucapku dengan suara bergetar dan buliran air berjatuhan dari mataku, aku tidak tahu, aku menangis untuk apa. Tetapi satu hal yang pasti, aku sangat terharu, saat lelaki berwajah tampan itu, melantunkannya untukku dan ia juga membacakan untuk anaknya, memintaku menempelkan ponsel di perut ini, lalu ia membacakan doa untuk anaknya.


“Jangan takut iya, aku akan pulang cepat,” ucapnya dengan suara lembut.


“Baiklah, terimakasih,” ucapku lembut, lalu mematikan ponselnya dan memberikannya lagi pada eyang. Wanita itu terus saja menatapku saat cucunya meneleponku.


*

__ADS_1


Benar saja, saat tengah malam, ia sudah kembali ke Jakarta, ia benar- benar sangat menghawatirkan diri ini, saat aku terlelap dalam tidur, aku terkejut saat tangan Farel menyentuh pipiku, untuk membangunkan.


“Ayo, pindah kamar,” ucap Farel merentangkan tangannya, untuk aku pegang, wajahnya tampak terlihat lelah.


“Eyang, bagaimana?” tanyaku, menatap wanita tua itu yang terus memelukku sebagai sikap melindungi.


“Eyang … Ririn pindah iya, eyang tidur sendiri,” ucap Farel membangunkan eyang.


Matanya terbuka setengah sadar”OH, kamu sudah pulang , baiklah bawa istri ke kamarmu,”pintanya dengan suara kecil.


Saat Farel tahu kakiku sudah mulai membengkak, ia merendam kaki ini kedalam baskom hangat, walau matanya tampak mengantuk, ia masih menyempatkan memberinya pijatan kecil barulah ia tidur.


Pagi tiba, membangunkan ku dan membawa jalan-jalan pagi, sebelum ia berangkat kerja, akhirnya perhatian itu membuatku luluh juga.


"Jangan lupa vitaminnya diminum, kurangin makan cemilan, sebelum tubuhmu makin membengkak," ujar Farel mengelus pinggangku yang semakin melebar, aku balas dengan senyuman kecil.


Aku tidak mau bersikap manja pada Farel, walau ia ingin selalu memanjakan ku, aku selalu bersikap seadanya.


"Baiklah Pak Dokter, anda boleh berangkat sekarang," ujarku membenarkan bantal di ranjang dengan kepala masih terbungkus handuk, karena aku baru habis mandi setelah jalan pagi dengan Farel.


"Jika bicara dengan orang … baiknya, harus melihat orang itu juga kali, Ibu Ririn," ucap Farel.


"Baiklah, Pak dokter, apa, apa, apa …!" kataku dengan sikap jengkel mendatanginya dan berdiri tepat di depannya, bahkan perutku yang mengembul keluar dari handuk berbentuk jubah itu, menyentuh perutnya. Ia tersenyum kecil, sikapku yang menentangnya membuat pria itu bertindak, ia menangkap tubuhku menuntun duduk di kursi meja rias.


"Eh ... eh, apa yang kamu lakukan," kataku panik.


"Menggigit mu, karena kamu membangunkan singa kecilku," ujarnya membuat menyadari perbuatan ku, bagian dadaku terlihat setengah dan pahaku yang mulus terlihat sangat jelas.


"Eh bukan kah, kamu mau berangkat tadi,' ujarku basa-basi berharap ia melupakan keinginannya, sepertinya aku melakukan kesalahan kecil, karena membangunkan juniornya.


"Tidak, aku harus mengigit mu dulu," ujarnya mengarahkan hidungnya ke cerukan leherku. Ia mengendus-endus hidungnya ke bagian leher ini, membuat gairah dalam tubuhku seketika langsung bangkit.

__ADS_1


‘Dasar bumil gatal .... Baru dipancing sedikit saja sudah langsung mau’ ucapku memaki diri sendiri. Karena tidak bisa menolak keinginan tubuhku yang ikut terpancing dan menuntut lebih dari sekedar ciuman, hingga terjadi begitu saja.


*


"Jaga dirimu baik, baik, ini aku memberikan untuk kamu, karena kamu bersikap baik," ujar Farel, memberikan sebuah Ponsel seketika itu juga hatiku kegirangan, karena akan bisa bertanya kabar anak-anakku.


"Oh, iya ampun ponsel milikku, kenapa kamu mau memberikannya?” tanyaku penasaran, hatiku sangat senang sejak aku menikah dengan Farel, ia tidak memperbolehkan memegang ponsel, tetapi kali ini ia membiarkanku memilikinya. Memeluk benda persegi empat itu dengan perasaan bahagia.


“Itu karena kamu memberikanku vitamin penyemangat pagi ini,” ujar Farel mengedipkan mata nakalnya padaku.


“Ah, gara-gara itu, coba aku tahu kalau kamu akan memberikannya jika aku memuaskan mu, aku akan memberikanmu jatah tiap malam,” ucapku bercanda dan masuk ke kamar mandi membersihkan diri karena Farel membuatnya tubuh ini kembali lengket.


Farel tertawa ngakak saat aku mengatakannya.


"Tetapi, jangan menelepon lelaki itu, aku akan membuangnya jika kamu menghubunginya," ujar Farel.


"Baiklah …. Aku tidak akan melakukanya, Pak Dokter”


Aku mengantar Farel sampai ke pintu, ternyata keakraban kami dengan Farel pagi itu, ada sepasang mata menatap tajam kearah kami, dengan tatapan tajam setajam mata setan. Farel bersikap biasa, saat Marisa menatap tidak suka pada kami, hubungan kakak adik itu tidak akur, saat Farel lebih memilihku. Tetapi hati ini, merasa tidak tenang, setiap kali ber-tatap muka dengan kakak iparku . Tatapan mata itu sangat menakutkan.


“Aku berangkat, jaga diri baik-baik, jangan takut, aku sudah meminta dua orang penjaga untukku kamu, kalau kamu merasa ada yang tidak beres telepon aku saja, iya,” ucap Farel mengecup perut besarku , ia tidak perduli dengan tatapan sinis sang kakak.


“Baiklah, hati-hati,” ucap dengan suara bergetar, aku selalu ketakutan setiap kali Farel berangkat tugas, apa lagi kalau Marisa sudah menatapku dengan tatapan mata setannya. Aku masuk saat Farel berangkat.


Saat aku berpikir hubunganku dengan Farel sudah membaik setelah ia memutuskan memilihku menjadi istrinya, tetapi semuanya tidak semudah yang aku pikirkan, ada banyak duri yang akan aku lalui. Aku tidak tahu apa yang ia rencanakan saat Farel tidak ada, saat aku mengintip ia menelepon seseorang detup jantung ini kembali berpacu tak beraturan.


Bersambung ...


JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA, KASIH BANYAK HADIAH, IYA KAKAK, AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI


Jangan lupa mampir ke karya keduaku iya.

__ADS_1


"Menikah Dengan Brondong"


Jangan lupa follow IG @sonat.ha


__ADS_2