Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Sebuah Pengakuan


__ADS_3

"Kakak, saat ini, wanita ini sudah menjadi istriku kalau kamu ingin membunuhnya lakukanlah, kalau hal itu bisa membuat kakak puas," ujar Farel dengan suara bergetar tersirat keputus asaan di wajahnya.


Tanpa terduga Virto datang dan ikut berlutut di hadapan Ayah Farel, semua mata mereka tampak melotot panik.


“Mas, jangan lakukan itu atau kamu akan menyesal,” ujar Marisa mengancam suami dengan wajah menegang.


“Virto, ada apa ini, kenapa kamu ikut berlutut?” tanya ayah mereka dengan tatapan bingung.


Wajah mereka semua tampak menegang, seolah-olah, sebuah bom akan meledak di tempat itu.


Ternyata lelaki paru baya yang berprofesi sebagai mantan kepala polisi itu, belum mengetahui yang terjadi dalam rumah tangga putrinya.


“Pak, saya meminta maaf karena telah melakukan kesalahan,” ujar Virto bersikap berani.


Sikap itulah terkadang membuatku mengagumi sosok lelaki yang bertubuh tegap itu. Ia akan berani bertanggung jawab dengan apa yang ia lakukan.


Saat melihatku berlutut menanggung semua kesalahan yang kami lakukan, ia datang mengaku dengan berani. Tentu saja akan berdampak pada karier dan hidupnya nantinya. Tetapi itulah Virto yang aku kenal, berani dan tegas.


“Mas, hentikan aku bilang! Kamu akan menyesal nantinya,” ujar Marisa wajah mereka semua panik di hadapan lelaki paru baya yang bertampang tegas itu.


“Ada apa, ini?” Menatap Vierto dengan tajam.


“Saya telah melakukan jalan yang salah selama ini, saya siap menerima konsekuensinya, Pak,"ucap Virto masih dengan posisi berlutut.


“Ada apa sebenarnya!?”Suara ayah Farel meninggi.


Farel dan Marisa semakin pucat, seperti mayat hidup.


“Abi, a-a-itu-”


Marisa sangat gugup, ia *******-***** jemari tangannya menahan rasa gugup.


“Saya selingkuh Pak,” ujar Virto dengan berani. Ia tidak menghiraukan ancaman istrinya maupun kehilangan karir nantinya.


“Apa maksudnya? Kamu selingkuh dengan siapa?” tanya lelaki berambut sudah beruban itu menatapku dengan mata menajam, aku tidak kalah menegang dari mereka.


“Saya selingkuh dengan Ririn Pak”


“Abi, bu-bu-bukan sepert-”

__ADS_1


“Kamu diam bentak lelaki tua itu, saat Marisa ingin membela suaminya dengan gugup”


“Jadi wanita ini hamil anak kamu atau anak Farel?” tanya Pak Ali dengan wajah yang semakin mengeras


“Itu bayi saya Bi,” jawab Farel dengan wajah menunduk.


“Apa maksud semua ini, saya, bingung, Virto berselingkuh dengan wanita ini, lalu kenapa dia mengandung anak kamu?’


Pertanyaan itu benar-benar mencabik-cabik hati ini.


‘Iya' bagaimana bisa seperti itu? Bukankah itu hal yang memalukan?’ tanyaku dalam hati’


“Risa, meminta Farel membantuku Abi, ternyata Farel menidurinya sampai hamil”


“Astagfirullah.” Ayah Farel menyebut dengan memegang dada.


“Dia hamil karena tidak sengaja dia-”


“Kakak hentikan! Anakku tidak salah jangan katakan apapun,” ujar Farel, ia hanya perduli dengan bayi yang aku kandung.


“Karena itulah Marisa menyewa orang ingin membunuh Ririn, Pak ... saya ingin bertanggung jawab dengan apa yang aku lakukan," Ucap Virto lagi.


“Apa kamu sudah memikirkan konsekuensi besar atas apa yang kamu lakukan? Berani sekali kamu berbuat seperti itu pada anakku, setelah apa yang aku lakukan untuk hidupmu,” ujar Pak Ali dengan angkuh, sikap sombong dan angkuh lelaki itulah, sepertinya yang menurun pada anak-anaknya.


“Abi Mas Virto tidak salah yang salah wanita mura-”


“Saya yang salah,” potong Virto sebelum wanita itu meneruskan kalimatnya.


“Apa yang membuatmu melakukan itu, padahal Marisa sangat mencintaimu?” tanya Pak Ali menatap Virto.


“Saya juga tidak akan melakukan itu Pak, kalau saja Marisa menjaga martabat saya sebagai suaminya, perselingkuhan saya bukan ini yang pertama, itu sudah terjadi pada dua tahun pernikahan kami.


Awalnya saya bertahan, tetapi ada batas kesabaran manusia Pak, dia selalu mengatakan semua yang aku miliki, jabatan, harta, keluarga. Semua pemberian Bapak dia mengatakan itu di depan rekan-rekan kerjaku, harga diri saya terluka sebagai laki-laki"


“Apa harus melakukan itu?"


“Saya tahu, saya orang miskin yang tidak punya orang tua, tetapi Marisa selalu memaki saya dengan kata kata itu dia selalu bilang aku bisa Polisi karena Bapak, saya tahu itu Pak, saya sadar akan hal itu.


Tetapi, tidak seharusnya ia meneriakkan itu di depan rekan-rekan kerja saya dan selalu mengatakan itu, kalau ia sedang marah"

__ADS_1


Mata Farel dan ayahnya melotot pada Marisa, mereka berdua akhirnya tahu kebenaranya.


“Kamu yang membuatku marah, tidak pernah menjemput ku saat aku pulang kerja, tidak pernah membawaku ke acara kantormu, itu membuatku cemburu” Marisa membela.


diri.


“Pak, saya memutuskan bercerai dengan putri anda dan saya siap meninggalkan profesi polisi yang bapak berikan, saya akan kembali ke kampung halaman saya dan akan bertani di sana,"ucap Virto.


Mendengar itu Marisa tampak menggila, wanita itu sangat terobsesi pada Virto, rasa yang terlalu cinta itu membuatnya menjadi aneh.


“Kamu tidak boleh menceraikan ku demi wanita murahan itu!” Teriak Marisa


“Saya janji, saya tidak akan kembali pada Ririn, saya juga akan melepaskannya, tetapi tolong lepaskan dia, dia tidak salah, saya yang salah,” ujar Virto.


“Kenapa kamu tidak bercerai dengan Marisa kalau kamu tidak merasa cocok?” tanya Pak Ali.


“Marisa tidak mau Pak, dia tidak terima bercerai denganku”


“Aku tidak mau kamu menceraikan ku gara-gara wanita sialan itu, berani-beraninya kamu membela dia di depan keluargaku.”


Marisa membawa vas bunga ingin memukul kepalaku. Tetapi dengan cepat Farel melindungi tubuh ini dengan tubuhnya dan Virto memegang tangan istrinya.


Marisa yang sudah dipenuhi amarah, lalu memukul kepala Virto dengan Vas bunga sampai berdarah.


“Ah!” Kepanikan pun terjadi


Kakak ipar Farel sepertinya tidak tega melihatku berlutut di lantai dengan waktu yang lama, ia berdiri dan ingin membangunkan ku. Tetapi Farel masih melindungi ku.


"Kakak ipar, biarkan saja, biarkan ia berlutut memohon ampun pada kakak, agar hati kakak Risa puas," ujar Farel


"Kalian semua kejam, dia sedang hamil anakmu Farel, bagaimana bisa kamu melakukan itu," ujar wanita itu, ia berjongkok


." Bangunlah ...! kasihan bayimu, Oh Tuhan darah, darah ...!" Jerit wanita berkerudung putih ini dengan panik, karena lenganku masih berdarah karena diseret Farel tadi.


Farel menggendong dengan panik, aku melihat matanya meneteskan air, membawa ke dalam kamar, kehilangan banyak darah membuatku lemas, hampir kehilangan nyawa dan pandangan kabur.


'Aku tidak tahan dengan penghinaan ini, aku memang melakukan dosa, tetapi aku tidak ingin seperti ini, ambillah nyawaku, aku sangat lelah' ucapku dalam hati, saat mata ini tertutup rapat air mataku tidak berhenti mengalir, aku masih merasakan tubuh dipeluk erat.


Lalu bagaimana dengan Virto, bagaimana nasibnya?

__ADS_1


Bersambung ….


JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA, KASIH BANYAK HADIAH JUGA BOLEH.


__ADS_2