Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Apa yang Kamu Sembunyikan Dariku


__ADS_3

“Ririn, kamu tidak apa-apa?” wajahnya tampak pucat saat melihatku menunduk memeluk perut.


“Ririn …. Apa kamu masih-”


“Jangan menyentuhku!” aku menghempaskan tangan Farel, aku berjalan menahan rasa sakit dengan tangan memegang perut, meninggalkan Farel yang tampak kebingungan. Matanya masih menatap ke arahku, entah apa yang ia pikirkan tentang aku saat ini.


Aku berjalan ke kamar yang aku tempati, menuangkan segelas air meneguknya sampai habis, aku berharap ia tidak kenapa-kenapa. Tanganku mengelus perut yang masih terasa sakit, gerakan halus sudah mulai aku rasakan.


Janin yang dulunya ingin aku lenyap kan, kini masih bersemayam di dalam rahim ini. Ia si kecil yang paling ajaib, karena sebesar apapun dulu aku ingin menggugurkannya, ia tetap kuat dan bertahan.


Bahkan malam saat aku melarikan diri dari Farel dua bulan yang lalu, ia masih tetap bertahan teguh dalam rahimku. Padahal malam itu, aku berlari dari apartemen Farel sampai ke jalan raya mengejar mobil bak sayur lalu melompat masuk dan aku terhempas hingga pingsan. Aku tidak perduli dengannya janin dalam rahimku malam itu.


Aku sudah berpikir kalau aku sudah ke guguran, rasa marah dan benci pada Farel membuatku ikut membencinya, sampai-sampai aku beberapa kali ingin membuangnya. Tetapi sebesar apapun aku berusaha. Ia tetap bertahan, seolah-olah ia ingin berkata ‘ Ibu biarkan aku melihat dunia ini’


Saat aku pingsan dan di tolong Ibu dokter, wanita itu menyadarkan ku, beliau j juga memberiku nasihat-nasihat yang membuatku berhenti untuk menggugurkan. Dokter berkata malam itu;


“Rin, dia juga berhak untuk hidup.”


“Aku sangat membenci ayahnya Dok, aku di jebak dan-”


“Karena itu, biarkan dia hidup, aku yakin dia yang akan mengusap air matamu suatu saat nanti, dan ia juga yang akan mengubah takdir hidupmu, biarkan dia hidup jangan biarkan kamu melakukan dosa untu ke dua kalinya.”


“Kok dua kali Dok?”


“Kamu hamil di luar nikah saja suah dosa, apalagi kamu akan membunuhnya kamu akan semakin berdosa untuk kedua kali.”


“Tetapi aku dijebak Dok,” ucapku membela diri.


“Ada penyebabnya kita di jebak , kalau kamu berbuat jahat pada orang lain, maka kejahatan juga akan menghampirimu. Oleh karena itu, jangan biarkan penyesalan membuatmu membelenggu mu, kamu harus membuat keputusan yang benar dalam hidupmu, dengan cara besarkan anak ini penuh cinta.”


Nasihat panjang lebar dari dari dokter membuatku sadar, dan merasa bersalah karena ingin membunuh anak yang tidak punya dosa, sejak saat itu aku memutuskan berdamai dengan diri sendiri, berniat membesarkan sendiri tanpa perlu meminta pertanggung jawaban dari Farel.


“Baiklah Dok, aku akan berusaha.”


“Tinggallah di tempat Ibu, kamu akan nyaman dan bisa menenangkan diri di sani. Tetapi ingat ….! kamu harus menjaga janin di rahim mu dengan baik, jangan pernah berpikir untuk menyingkirkannya lagi,” Dokter mengancam tegas.


“Baik Dok,” ujar ku saat itu, lalu ibu dokter dan suaminya mengantarku ke pulau Toro dan aku bekerja di sini dengan nyaman. Lalu kenapa saat bahagia dan saat damai yang aku rasakan hanya sebentar?


Kini lelaki yang aku benci itu datang lagi mengusik hidup ku. Aku berharap kehamilanku tidak di ketahui Farel, aku tidak butuh dia, bahkan aku tidak ingin berhubungan lagi dengannya, aku bisa membesarkan bayi dalam rahimku tanpa dirinya, aku hanya ingin hidup damai tidak ingin di usik siapapun.


Aku masih duduk di sisi ranjang mengusap perutku mencoba menenangkannya, di usia kandunganku saat ini memasuki bulan ke empat lebih dua minggu, masih bisa di sembunyikan lewat pakaian yang lebih longgar. Tetapi, kalau sudah memakai pakaian biasa gundukan kecil sudah mulai terlihat .


Saat sedang duduk mengusap-usap perut, ketukan pintu terdengar dari daun pintu. Aku berpikir kalau itu Farel yang mengikuti ku.

__ADS_1


“Aduh ngapain lagi sih itu orang? mudah-mudahan dia tidak curiga denganku tadi,” gumam ku kecil, sebelum berdiri aku merapikan pakaian seragam yang aku kenakan, memastikan pakaian seragam itu itu tidak memperlihatkan bentuk tubuh ini.


Menarik napas panjang, lalu menghembuskan dari mulut, dengan sedikit keberanian yang aku kumpulkan. Ku arah kan tangan ini menekan handel pintu kamar, aku menarik napas lega ternyata bukan Farel.


“Mbak tidak apa-apa?” tanya Rita menatap wajahku dengan penuh kekhawatiran, beberapa karyawan yang dekat denganku, tahu keadaanku yang sedang hamil.


“Tidak apa-apa, hanya sedikit lemas, boleh kamu menggantikan ku? aku pusing,” ujar ku mencari alasan, sebenarnya aku hanya ingin menghindari Farel.


“Baiklah, tetapi siapa lelaki itu Mbak?”


“Dia hanya teman saja, itu hanya kesalahpahaman.”


“Ya, udah Mbak tidur saja, biar saya saja yang mengantikan.”


“Terimakasih Rit.”


“Tidak apa-apa Mbak, wanita bertubuh ramping itu meninggalkan kamarku.


Aku kehilangan napsu makan malam ini, aku tidak merasa lapar, aku berniat ingin tidur. Baru saja ingin ingin melepaskan pakaian seragam kerjaku.


Tok … Tok ..


Aku hanya menarik selendang menutup bagian dada, karena pakaianku yang aku pakai sudah aku lepaskan bagian kancing atas. ‘Rita lupa meminta kunci’ gumam ku’


Aku terdiam, dugaan ku salah, bukan Rita yang balik meminta kunci. Tetapi Farel berdiri dengan tangan menahan daun pintu.


“Apa kamu tidak apa-apa ….?” Farel menatap tubuh ini penuh penyelidikan.


“Hanya asam lambungku sakit.”


“Biar aku periksa,” Ia mendorong pintu


“Tidak usah, aku sudah minum obat.”


“A-a-aku ingin bicara sebentar.” Farel bicara terbata-bata, ada sesuatu di dalam otaknya yang membuatnya begitu penasaran, matanya masih tertuju ke bagian perut ini.


“Aku ingin tidur.”


“Sebentar saja.” Farel, masih menahan daun pintu dengan satu tangannya.


“Aku sangat capek hari Pak Farel, kita akan bicara besok saja.”


“Kamu akan melarikan diri lagi dariku, aku tahu itu ...”

__ADS_1


Melihat sikap pemaksaan Farel, membuatku merasa jengkel.


“Saat ini, aku ingin mandi Pak Farel, lihat pakaianku sudah aku buka, kamu tidak memintaku keluar tanpa pakaian, kan?”


“Aku hanya sebentar. Apa yang kamu coba sembunyikan dariku?” Lagi-lagi Mata Farel menatap ke bagian perut ini.


Aku berusaha sangat tenang, agar ia tidak semakin curiga.


“Besok saja Pak, aku mau mandi dulu.”


“Baiklah, ayo kita bicara besok kalau kamu tidak melarikan diri.”


Aku hanya mengangguk pelan dan bersikap tenang di hadapan Farel, aku harap dengan aku bersikap tenang, ia tidak curiga lagi denganku.


Setelah menutup pintu kembali aku bersandar lemas di daun pintu, bertemu dengan Farel kali ini membuatku seakan-akan kehilangan energi.


*


Saat pagi tiba, aku bangun lebih pagi seperti kebiasaan ku , aku ingin berjalan pagi di tepi pantai, menikmati pemandangan tepi pantai, itulah yang aku lakukan setiap pagi. Saat aku membuka pintu, Farel ternyata sudah duduk di sana.


‘Apa yang ia lakukan di sini? apa ia menunggu sejak malam?’ aku bertanya dalam hati, karena pakaian yang ia pakai sama dengan pakaian yang ia pakai saat menemui ku tadi malam.


“Apa yang bapak lakukan di sini?” tanganku menarik pakaian yang aku pakai untuk menutup bagian perut.


“A-a-aku menunggumu,” ujar Farel matanya terlihat bengkak, mungkin ia satu malam ini tidak tidur , karena menjagaku agar tidak kabur.


“Aku hanya ingin olah raga, nanti saja bicara.”


“Aku hanya sebentar, kamu membuatku menunggu satu malam.”


“Aku tidak meminta bapak untuk menungguku’ kan?”


“Maksudku bukan seperti itu, kamu hanya perlu menjawab ku.”


“Apa memaksa memang kebiasaan bapak?” tanyaku membalas.


“Aku hanya ingin tahu. Apa yang kamu sembunyikan?”


Bersambung …


Jangan lupa vote,like dan share iya Kakak …! Kasih hadiah juga boleh, biar author nya semakin semangat untuk up tiap hari.


Oh, jangan lupa kasih pendapat kalian dalam setiap bab. Terimakasi , Salam sehat.

__ADS_1


__ADS_2