
Farel terduduk lemas, ia dan keluarganya menganggap ku ingin bunuh diri karena berpikir aku marah karena Farel ingin menikah.
Aku tidak tahu persis kenapa Farel dan kekasihnya bisa resmi batal menikah, aku tidak tahu harus bersikap bagaimana. Di sisi lain, hati ini , ada rasa senang saat Farel batal menikah, tetapi sisi lain ada bagian hati yang merasa tidak enak hati.
"Aku sangat takut Rin, saat Bi Nur menelepon tadi, katanya kamu ingin melompat dari loteng, aku langsung meminjam motor tukang parkir dan terbang ke sini," ujar Farel, menyeka keringat di dahinya.
“Lagian kamu sudah beberapa kali ini melakukan ini, Ririn"
"Itu bukan bunuh diri, nih aku kasih tahu iya Pak Farel ... aku merasa sangat nyaman saat duduk di ketinggian melihat pemandangan seperti ini, membuat pikiranku tenang, makanya saat aku punya masalah aku akan naik ke atap rumah, panjat pohon atau naik pegunungan dengan begitu, aku sangat tenang"
"Kebiasaan yang aneh dan ekstrim," ujar Farel, masih duduk selonjoran.
Walau hati penasaran kenapa lelaki ini memutuskan pernikahannya , aku menahan diri untuk tidak bertanya.
"Kamu, pasti bertanya kenapa aku bisa membatalkan pernikahan, itu’ kan?”
"Sedikit," ucapku acuh dan duduk di sampingnya, kami berdua duduk santai menikmati udara saat dari gedung atap.
"Aku ingin menjaga anakku dan kamu, aku ingin lelaki yang bisa melindungi keluarga dan aku tidak ingin lelaki lain memiliki kamu dan anakku”
Aku hanya diam tidak mengatakan apa-apa. Farel mengusap perut ini dan ia berkata pada si debaynya.
"Katakan pada ibu agar bisa menerima ayah sebagai suami, dan berhenti bersikap dingin, katakan pada ibu dengan ia bersikap dingin seperti itu, aku sangat marah. Aku marah saat dia bicara pada lelaki yang bernama Virto itu," ujarnya mengarahkan pipinya ke perut, seperti biasa, baby dalam perut akan menendang dan bergerak aktif saat mendengar suara Farel.
Mulutnya bicara dan pipinya masih berada di perut, tetapi matanya menatapku., membuat aku jadi kikuk, ternyata aku bisa merasa malu-malu juga, aku pikir hatiku sudah berubah jadi batu saat bersama Farel. Tetapi saat ini, saat Pak dokter berwajah tampan itu menatap wajahku dengan jarak dekat, ternyata aku merasa wajah ini terasa panas.
Tidak terduga Farel duduk di sampingku dan mengarahkan bibirnya ke bibirku, tubuhku tiba-tiba menegang bagai patung Pancoran, dan otakkku seolah-olah tidak bisa memberi sinyal perintah untuk berhenti pada otak, aku tidak mampu menghentikan diriku, saat ia mulai mengecap dan menikmati bibir ini.
__ADS_1
Tubuh ini seakan-akan, mendamba belain kasih dari pria pemilik bola mata berwarna coklat terang itu, tubuh ini tidak ter kendalikan, aku membalasnya tentu dengan lembut, saat ia tahu aku menerima ciuman darinya, tanpa penolakan. Farel tersenyum manis, mengusap lembut, ujung bibir ini dengan ibu jarinya.
Mempertegas permainan. Tangannya mulai menyusuri bagian indah di dadaku, bukit itu semakin membesar seiring bertambah usia kehamilanku. Kami berdua larut dalam ciuman yang mengairahkan, bahkan saat kami duduk bersandar di gedung atap, desiran angin lembut yang berhembus sepoi-sepoi menambah nikmatnya ciuman yang di berikan Farel.
Jujur di kehamilanku yang memasuki semester akhir, tubuh ini sering sekali menambah sentuhan dari Farel, aku tahu itu tuntutan hormon dari kehamilan, bahkan setiap wanita hamil pernah merasakannya.
Walau aku menginginkannya, tetapi, aku bisa menahan diri mengingat hubunganku yang rumit dengan Farel. Tetapi kali ini, tuntutan hasrat dari tubuhku tidak bisa terbendung lagi, aku menginginkannya, aku berhak karena ia suamiku ….
Tiba-tiba ia menarik dirinya, lalu ia berkata:
"Kita akan melanjutkannya di kamar, aku mengambil jatahku hari ini"
“Haaa?” Wajahku tiba-tiba merah terasa terbakar, aku malu saat ia menarik dirinya dan melepaskan ciumannya.
Seketika kesadaran ku kembali pulih, aku tidak ingin melakukannya lagi.
"A-a-aku mau menemui eyang dulu," kataku terbata-bata, aku menolak
"Kamu akan membuatku sakit kepala, jika kamu pergi Ririn, apa yang kita mulai sebaiknya kita tuntaskan," ujar Farel, membasahi bibir bawahnya dan mengedipkan matanya padaku.
Seolah-olah tidak ingin melepaskan mahluk buruan yang ia jerat dengan ciuman hangat tadi, dengan ototnya yang kuat dan kokoh ia mengangkat tubuh ini dari lantai atas dan membawa ke kamar.
Saat tiba di dalam kamar, ia mengunci pintu, seketika ... aku merasa sangat gugup seperti pengantin baru yang mau melakukan malam pertama.
"Ini, masih siang Pak Farel," ujarku merasakan kulit wajahku semakin terasa panas.
"Justru siang akan memberikan sensasi yang berbeda, Istriku," ujarnya, lagi-lagi memamerkan senyum yang mempesona, mendengar kata istriku tiba-tiba aku merasa sangat bahagia. Karena memang kenyataannya, aku adalah istrinya, rasa canggung sedikit berkurang dan perasaan marah itu tiba-tiba lenyap dari hati ini.
__ADS_1
"Tapi bagaimana kalau eyang memanggil dan-
Belum juga aku menuntaskan kalimatku, ia sudah menyumpal mulutku dengan bibirnya.
"Aku akan katakan pada Eyang kalau kami sedang membuat obat," ujarnya melepaskan jas yang ia pakai dan memperlihatkan otot dada yang sangat kekar dan dada yang bidang, dan ditumbuhi bulu-bulu halus, aku menatap takjub aku menelan savilaku yang hampir menetes dari bibir ini.
'Ah, tubuhnya membuatku berkeringat' ucapku dalam hati, ia menjentikkan jarinya di depanku membuatku malu karena terpergok mengagumi tubuh Farel. Lelaki yang saat ini, berstatus suami untukku dan ayah untuk bayi yang aku kandung.
"Apa kamu tidak merasa geli melihat tubuhku?" tanyaku menutup bagian dada.
"Justru kamu sangat seksi saat hamil seperti ini, sebagai seorang dokter, aku tahu kalau tubuhmu sangat menginginkan hal seperti ini, tetapi dari situ, aku sadar, kalau kamu wanita yang kuat"
"Memang kenapa?" tanyaku penasaran
"Karena kamu bisa menahan tuntutan tubuhmu, kamu tidak pernah menuntut hal itu dari suamimu ini, padahal aku sudah menantikan hal itu, menantikan kamu sendiri yang memintanya padaku," ujar Farel.
Setelah melepaskan pakaian, kini tubuh kami benar-benar polos tanpa sehelai benangpun tidak menempel, saat melihat tubuh Farel membuatku bersemangat, tetapi saat melihat tubuh sendiri, aku jadi merasa geli dan tidak percaya diri, karena perut buncit bagai seorang badut ulang tahun.
Tetapi Farel seorang lelaki yang keren menurutku, untuk hal ini, ia menuntunku ke pangkuannya dan melakukannya dengan gaya yang sangat nyaman untukku sebagai seorang Bumil. Ia tahu, bagaimana melakukanya dengan nyaman.
Menuntaskannya dengan dua gaya yang menurutku kedua gaya itu sangat nyaman, pertama ia memangku, duduk di sisi ranjang, saat melihatku belum mencapai *******, ia meminta menunduk memegang sisi ranjang dan Farel melakukanya dari belakang. Farel seseorang yang ahli dalam hal memuaskan pasangan dalam ranjang, aku mendapat kepuasan tidak merasa sakit.
Aku terkulai lemas setelah terpuaskan, begitu juga dengan Farel, ia terkapar di sampingku.
"Terimakasih istriku, aku sangat puas," ujarnya membantuku membersihkan diri di kamar mandi dan kami tertidur setelah lelah karena olahraga siang.
Bersambung
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA, dukung terus agar level naik dan saya update tambah semangat. Terimakasih kakak semua.
Jangan lupa follow IG @sonat.ha