
Haikal di sambut dengan begitu hangat oleh semua keluarga Farel, aku tidak pernah menduga kalau keluarga Farel akan menerima kami berdua dengan baik seperti saat itu.
“Kamu tidak apa-apa sayang? Jangan marah dengan ucapan kakak Mona iya,” ucap Farel memegang punggung tanganku.
Aku hanya membalas dengan senyuman kecil, jujur aku masih terasa sangat canggung dan rapuh berada di tengah-tengah keluarga Farel, ada omongan seperti tadi dari kakak ipar, membuatku merasa sedikit down
“Kamu marah?” tanya Farel sepertinya ia sangat menjaga perasaanku, ia sangat takut aku marah, tangannya tidak pernah lepas dari telapak tanganku.
“Tidak, aku hanya merasa sedikit gugup ini tidak mudah bagiku Farel, aku merasa bagai berdiri di atas kaca yang tipis”
“Aku tahu, aku tahu, kita akan menjauh dari mereka semua, kita bertiga akan hidup aman, tidak ada bibir yang bergosip tentang kamu lagi,” ucap Farel.
“Lalu apa yang akan …?”
“Kita akan tinggal pisah dari keluargaku”
“Tapi Farel, bukankah ayah ingin kita tinggal bersama Ha-”
“Rin mulai saat ini, aku yang akan menentukan jalan hidupku, dan rumah tanggaku bukan kakakku bukan ayahku,”ucap Farel dengan tatapan mata tegas.
“Farel, aku tidak bilang ingin seperti itu, aku hanya bilang aku harus akan lebih kuat lagi”
Melihat kemarahan di wajahnya, aku memilih diam, tidak ingin kebahagian itu rusak hanya karena hal kecil.
“Farel, aku tidak marah dengan ucapan kakak Mona, bisa kamu tidak usah marah, aku tidak ingin hari bahagia ini rusak karena kemarahan mu,” ucapku membujuk Farel lagi.
“Tidak apa-apa, mulai saat ini, keputusan ada di bawah kendaliku, kamu sudah cukup selama ini memutuskan tanpa persetujuanku,” ucapnya dengan wajah tegas.
Farel jadinya yang tersinggung dengan ucapan kakak iparnya, bukan aku, walau kata-kata itu di tujukan padaku.
‘Aduh Farel jadi marah, bagaimana ini?’
Kakek Haikal terlihat tertawa lepas dan sangat bahagia saat mengobrol dengan cucu laki-lakinya. Mereka berdua seperti sepasang orang dewasa yang sedang mengobrol, terlihat dari wajah antusias sang kakek saat mendengar Haikal bicara dengan bibir cadelnya.
“Rel, kenapa harus marah sepertinya, mbak Mona sebenar tidak bermaksud-”
“Cukup-cukup Kakak, aku bukan anak kecil lagi yang harus dinasehati dan diminta begini dan begitu,” ucap Farel semakin marah pada Lesa.
“Sudah Kak, biarkan saja . Berikan dia waktu menenangkan diri, untuk menenangkan pikirannya,” ucapku menarik dr. Lesa menjauhi ranjang Farel, sepertinya kakaknya melupakan sifat pemarah Farel, jika ia marah dan semakin di tentang ia akan semakin marah, jadi hal yang terbaik mendiamkannya sampai hatinya dingin.
“Aku tidak ngerti dengan sikapnya … masa dia tega merusak kebahagian abi,” ucap dr.Lesa ikut marah.
*
Saat malam tiba, Haikal rencananya akan di bawa ke Villa yang ada Bali dan aku sama Farel tetap di rumah sakit sampai ia pulih. Namun, lelaki yang sedang di landa kemarahan itu, menolak putranya di bawa pergi.
__ADS_1
“Tidak. Aku ingin putraku tetap di sini, agar aku cepat pulih,” ucapnya membuat semua keluarganya terdiam.
Sepertinya Mona sudah memancing kemarahan Farel membuat kegembiraan itu jadi rusak, Farel marah dan tersinggung atas ucapan kakak iparnya yang menyalahkan ku, buatku sih tidak apa-apa ia bawa, asalkan Haikal mau.
“Rel, ini rumah sakit, dia tidak akan nyaman di sini, biarkan dia pulang sama abi”
“Tidak Kak, dia datang untukku,” ucap Farel jadi bersikap protektif pada putranya.
Aku tidak tahu harus membela siapa, di satu sisi apa yang dikatakan Farel tidak begitu tepat, tetapi aku tidak ingin membantahnya dalam situasi marah, seperti itu.
Kebahagian itu sedikit terganggu karena Farel marah-marah pada keluarganya.
“Bagaimana kalau Abi yang bawa dulu Rel, besok abi akan datang”
“Abi, aku minta maaf tidak bisa, biarkan Haikal tetap bersamaku,” ucap Farel menolak permintaan sang ayah.
“Baiklah, abi tidak ingin memaksa, kalau kamu maunya seperti itu, abi akan pulang,” ujar ayah mertua, dengan wajah terlihat sedih.
“Ibu, apa ayah marah?” tanya Haikal saat melihat ketegangan saat itu.
“Tidak, tidak apa-apa sayang, ayah hanya mengobrol degan kakek”
“Tetapi kakek terlihat sedih, apa ayah suka marah?”
Semua keluarga Farel sudah keluar dari ruangan Farel, sesuai permintaannya, ia hanya ingin di jaga oleh Haikal dan aku.
“Mbak, aku minta maaf atas sikap Farel,” ucapku saat mengantar mereka keluar.
“Tidak apa-apa yang penting dia cepat sehat, itu sudah membuat kami sangat senang, tolong jaga dan rawat dia dengan baik iya,” ucap dr. Lesa meninggalkan rumah sakit.
“Baik Mbak”
*
Kini dalam ruangan yang di sulap seperti kamar hotel itu, hanya tersisa aku dan Haikal dan Farel, padahal tadi saat menyambut Haikal ruangan itu rame dan meriah.
Farel tampak bercengkrama dengan Haikal di atas ranjang perawatan, mungkin apa yang di lakukan Farel hanya ingin punya waktu berdua dengan Haikal. Ia tidak ingin keluarganya lebih dekat pada Haikal dari padanya.
‘Apa ini kecemburuan yang bodoh? Apa Farel cemburu pada keluarganya karena Haikal lebih dekat dengan keluarganya?’ tanyaku dalam hati.
Melihat keakraban keduanya, aku tidak ingin menganggu, memberikan mereka berdua waktu melepaskan rindu, aku memilih keluar dan duduk di taman.
Saat duduk melihat keindahan lampu jalan di malam hari.
Notip di ponselku berdering.
__ADS_1
Dari Sinta.
[Rin, apa kamu masih di rumah sakit?] tanya Sinta.
[Masih. Kenapa?]
[Aku ingin ke Kampung]
[Untuk apa?]
[Hanya ingin ziarah ke makam ibu dan ayah]
[Baiklah] Balasku singkat, walau kepulangannya saat ini tidak biasa. Tetapi aku tidak ingin memperpanjang. Sinta pasti tahu, apa yang ia lakukan. Aku berharap Virto baik-baik saja dan Sinta dapat memberinya pengobatan. Aku tahu ia sering berkomunikasi dengan Virto, tetapi aku berpura-pura tidak tahu, aku tidak ingin Sinta salah paham padaku. Baik kepulangannya kali ini, aku tahu ia ingin mengajak Virto mendapat pengobatan. Jauh di dalam hatiku. Aku berharap ia bisa sehat kembali, seperti dulu dan berharap mendapat ke bahagian.
[Rin, apa kamu tidak ingin bertanya lagi, untuk apa aku pulang?] Tanya Sinta.
“Untuk Ziarah ke makam orang tuamu, kan?]
[Salah … Rin, aku ingin mengajak Virto mendapatkan perawatan]
[Oh. Baiklah aku mendukungmu Sinta, tapi aku tidak ingin ikut campur, maaf. Aku ingin fokus ke rumah tanggaku ] balasku lagi.
[Baiklah, aku hanya memberi tahumu Rin, aku akan berusaha mengajaknya melakukan pengobatan] balas Sinta.
Aku sungguh mengagumi sosok Sinta sejak dulu, ia akan selalu membantu orang tanpa mengharapkan balasan, ia wanita yang sangat baik memiliki hati yang tulus. Aku berharap wanita cantik itu, suatu saat nanti mendapat kebahagian dan berharap, bisa membujuk Virto melakukan pengobatan dan aku berdoa yang terbaik buatnya.
[Terimakasih Sin, hati-hati iya]
Balasku lagi.
[Ok]
Saat kembali ke kamar, kedua bapak anak itu sudah tertidur dengan posisi saling berpelukan.
“Dari mana?” bisik Farel saat aku duduk. Ia terbangun
“ Nelpon sama Sinta,” ucapku dengan berbisik juga.
“Sudah makan?” tanya Farel wajahnya terlihat sangat bahagia saat bersama putranya.
“Masih kenyang saat makan sore tadi”
“Sini tidur,” pinta Farel menepuk bantal di sampingnya, ranjang yang Farel ranjang yang ukuranya lebar, muat menampung kami bertiga. Aku memilih menurut dan memeluknya dengan erat, tidur bersama mereka berdua, aku yakin akan tidur nyenyak dan bermimpi indah. Karena tidak ada rasa takut dan rasa bersalah lagi di dalam hati, aku berharap kebahagian ini jangan cepat berlalu dan awet selamanya.
Bersambung ….
__ADS_1