Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Aku akan menikah


__ADS_3

Pernah menjadi pelakor di masa lalu , aku mendapat hukuman berat untuk apa yang aku lakukan.


Siapapun kalian di luar sana, jangan pernah sekalipun jadi perusak rumah tangga orang lain, atau kalian akan mengalami hukuman berat seperti yang aku alami.


Saat mereka sibuk melakukan pertolongan untuk membuatku dan bayi kecil itu tetapi hidup.


Hal yang berbeda aku lakukan saat ini, mataku, aku paksa tertutup, aku sibuk memohon pada Tuhan agar nyawaku ini diambil saja kali ini.


Tetapi rencana Tuhan siapa yang tahu.


"Tolong bangunlah, jangan biarkan aku kehilangan dia, bangunlah Rin, aku mohon.” Suara Farel berbisik di telingaku.


Tangannya sibuk mengolesi minyak gosok ke wajah ini, aku membuka mata karena ia terus mengusap minyak gosok, membuatku leherku kepanasan.


Seketika mahluk kecil aku rasakan mulai menendang dan mulai bergerak.


"Bayinya bergerak aktif lagi, Ayo ajak mengobrol," ujar iparnya Farel yang berprofesi sebagai dokter juga,


Merasakan ia bergerak lagi, aku merasakan perasaan yang bercampur aduk.


Dalam satu sisi, merasakan penghinaan dan kekejaman keluarga ini, aku ingin mati, aku juga sempat berpikir lebih baik bayi ini tiada, dengan begitu aku tidak bertahan bersama Farel dan keluarganya.


Namun, di satu sisi, sebagai seorang ibu, aku tidak ingin kehilangan darah daging sendiri, walau nanti Farel dan keluarganya akan mengambilnya dariku.


Melihatku membuka mata, Farel tampak menghela napas panjang, keluarganya meninggalkan kamar, meninggalkan aku dan Farel, ia duduk di sampingku menjagaku sampai benar-benar pulih.


Belum juga pulih dari segala luka yang aku alami kini goncangan itu datang kembali, setelah beberapa hari ….


*


"Maaf berbuat kasar padamu saat itu, tapi semua itu terjadi karena kamu yang memaksaku melakukan hal itu Rin, aku sudah berusaha dengan kuat melindungi mu, bahkan aku memberanikan diri membawamu ke rumah ini, agar aku bisa menjagamu dan dia, tetapi apa yang kamu lakukan, kamu tidak pernah menganggap ku sebagai suamimu, kamu malah memilih Virto dari pada aku.


Kamu mempermalukan aku, tetapi maaf membuat sampai berlutut," ujar Farel ia duduk di sisi ranjang.


“Tidak apa-apa,” jawabku membaca majalah fashion yang aku pegang


Kali ini, wajah Farel sangat berat, seolah-olah ia ingin mengatakan hal yang buruk padaku. Ia menatapku dengan tatapan dalam lalu berkata;


“ Rin …. Virto, memilih bercerai dengan Marisa,

__ADS_1


Sekalipun wanita itu memohon agar tidak di ceraikan, tetapi Virto tetap bercerai, Aku kasihan padanya, ” ujar Farel menatapku begitu dalam, Pak Dokter ini masih berpikir kalau itu karena ulahku.


“Bagaimana menurutmu?”


“Aku tidak tahu,” kataku bersikap tenang dan bersikap sok tidak perduli.


“Aku ingin katakan padamu …. Kalau aku tidak akan pernah menceraikan kamu, kamu akan tetap tinggal di rumah ini, tidak akan aku biarkan Virto memilikimu,” ujar Farel.


“Aku tidak perduli Pak Farel, aku hanya perduli pada diriku sendiri”


“Apa kamu perduli padaku, Rin”


Aku hanya diam, tidak perduli apapun yang ia lakukan, memang ada lagi yang lebih buruk dari yang mereka lakukan? Di suruh berlutut dan dipermalukan di depan keluarganya.


Melihatku hanya diam, Farel, semakin kesal,


“Rin … dengan berat hati, aku mau katakan padamu, sebenarnya aku sudah bertunangan, tahun ini rencana kami untuk melangsungkan pernikahan, aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi ....


Tiba-tiba pihak perempuan meminta kami untuk menikah bulan ini, aku minta izin mau menikahi tunangan ku, maaf kalau aku menikah dalam situasi seperti ini.


Apa kamu hanya akan diam? Katakan satu hal, walau hanya pura-pura, katakan saja kamu mencintaiku walau hanya kebohongan. Agar aku bisa mendukung dan membela kamu di hadapan keluargaku," ujar Farel frustasi.


"Baiklah, jika seperti itu, jadi selama ini kamu tidak pernah menganggap ku sebagai suami, baiklah."Farel meninggalkan kamar.


Aku tahu, akan ada hal yang besar yang akan terjadi, tetapi aku sudah pasrah dengan hal itu, jika Farel memang tidak mau melepaskan ku dan ingin menjadikanku istri pajangan aku siap, aku juga harus siap melihat ia menikahi tunangannya.


*


Sejak kejadian itu, Farel tidak pernah sekalipun datang ke kamarnya, walau ada rasa rindu terkadang dalam hati ini, tetapi aku tidak berhak sedikitpun merindukannya, aku menghabiskan waktu dalam kamar sepanjang beberapa hari ini.


Hari itu, Marisa datang ke kamar membawa kabar, ia berpikir aku akan terkejut mendengar kabar yang akan ia sampaikan.


"Dengar ... akan ada pesta beberapa hari ini, kamu tahu siapa yang akan menikah?" aku hanya diam membaca majalah fashion di pangkuanku.


"Farel, akan menikahi tunangannya,"ucapnya dengan bersemangat. lalu ia menatapku


"Bagaimana menurutmu?"


"Baguslah, semoga Pak Farel bahagia, ia sudah menghabiskan banyak waktu, dengan sia-sia hanya membalaskan dendam kakaknya padaku," ucapku santai.

__ADS_1


"Apa? kamu tidak merasa sedih, suamimu akan menikah lagi, kamu akan dimadu”


"Untuk apa? dia menikahi orang yang ia cintai, kenapa aku harus sedih, aku dan Pak Farel tidak ada hubungan apa-apa, dia tidak pernah mencintaiku, dia menikahi ku untuk menyelamatkan rumah tangga kakaknya sayangnya itu pun tidak berhasil,” ujar ku.


Mendengar itu Marisa sangat marah.


"Kamu akan mendapat balasan nanti dariku, gara-gara kamu rumah tanggaku hancur.


Kamu pasti belum tahu kalau Farel punya tunangan, kamu berharap nyonya rumah ini' kan?”


"Sudah, aku beberapa kali mendengar mereka mengobrol di telepon"


"Lalu kamu tidak marah?" tanya Marisa menatapku heran.


"Tidak, aku tidak punya perasaan apa-apapun pada Pak Farel, bagiku beliau hanya ayah biologis dari bayi yang aku kandung"


Marisa tampak sangat bingung.


"Itu artinya kamu akan diduakan bodoh!"ucap Marisa kesal.


"Bagiku tidak masalah, selagi dia bahagia untuk apa bertahan denganku kalau hanya membuatnya malu dan ia tidak bahagia, kerena cinta tidak bisa di paksakan kataku"


"Bodoh, munafik, apa kamu tidak marah saat suamimu mengkhianatimu?"Marisa menatap berpikir kalau aku akan marah


"Tidak, mantan suamiku berselingkuh dengan sahabatku, sahabat yang aku besarkan dan sudah aku anggap sebagai adik sendiri, tetapi ia tidur di ranjang yang aku pakai tidur dengan suamiku, hal seperti itu sudah biasa untukku,” kataku bersikap santai di depannya, walau hati ini sebenarnya sangat takut. Takut ia memukulku karena masih berpikir penyebab perceraian mereka,


"Apa kamu curhat padaku, kamu mau bilang kamu selingkuh dengan suamiku karena kamu terlebih dahulu di selingkuhi? apa kamu bangga merebut suami orang?" Marisa menatapku dengan marah.


"Tidak, aku mau bilang, saat suamiku selingkuh, aku baru sadar karena aku kurang perhatian padanya, dan jadi ia mencari pelampiasan, tidak akan ada asap, kalau tidak ada api”


"Gila! apa kamu mau bilang kalau,aku kurang perhatian?" Marisa tampak marah.


"Tidak, ini hanya untuk diriku," kataku meredakan suasana.


“Aku mau bilang, selamat menikmati penderitaan mu,” ujar Marisa meninggalkanku.


Aku menghela napas panjang saat wanita galak itu meninggalkan kamar, aku masih berusaha menenangkan detak jantung ini.


Bersambung.

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA, KASIH BANYAK HADIAH JUGA BOLEH.


__ADS_2