
Farel meninggalkanku di tepi pantai, dengan marah, padahal aku sudah mengalah untuk menikah dengannya, demi kebaikan semua orang. Namun, ia meninggalkanku tanpa memberiku jawaban.
Kini hatiku bertanya; Apakah ia mau menikah denganku, apa tidak?
Aku masih berdiri di tepi pantai menghabiskan waktu menikmati alam, menatap desiran ombak pantai, menikmati udara pantai, tetapi dada ini masih terasa sakit.
“Apa yang harus aku lakukan! Aku ingin bertobat, tetapi aku tidak bisa menemukan jalan untuk keluar. Aku Harus bagaimana?” tanyaku menatap langit, aku tidak tahu untuk siapa kata-katak aku tujukan.
Aku putus asa, sampai-sampai ingin melompat ke dalam lautan itu, agar bisa lepas dari semua masalah ini. Namun, bayangan kedua anak-anakku membuatku mengurungkan niat melakukan.
Tidak terasa waktu sudah sore, aku memutuskan keluar dari hotel mencari tempat tinggal, karena Farel sudah memberiku peringatan tidak boleh lagi menempati kamar hotel yang kosong.
Aku berjalan keluar, berharap menemukan tempat tinggal yang dekat dengan tempat kerjaku, tetapi sepanjang aku berjalan, hanya bangunan hotel yang berderet, tidak semudah menemukan kontrakan seperti di Jakarta.
Berjalan mengitari banyak tempat untuk mencari tempat tinggal dengan membawa drumband di perut, membuat kaki terasa pegal, saat duduk di warung menikmati es dingin untuk menyegarkan tenggorakan yang terasa kering, perut juga terasa kram, karena berjalan berputar-putar, sangat berat rasa menjalani kehidupanku, hidup sendiri tidak masalah bagiku asalkan aku tidak hamil.
"Huuu ... Kamu kenapa harus bertahan di perutku, sih," kataku menatap perut ini putus asa. Namun, aku menyesali kata-kataku lagi.
"Maaf, Ibu putus asa, Nak"Aku mengusap perut.
Saat duduk menikmati air kelapa dingin, satu tangan memijit kening yang terasa sangat pusing, saat menoleh kearah jalan, tidak sengaja mata ini melihat seseorang yang tidak asing, melihatku dari mobil.
‘Ah, Farel, apa kamu mengikuti? Baiklah aku tidak akan kabur lagi saat ini, tetapi tidak tahu nanti’ ucapku dalam hati mengarahkan padangan mataku ke tempat lain.
Saat sibuk dengan pikiran sendiri tiba-tiba ….
“Bu, satu iya!”
Farel sudah duduk di depanku memesan satu es kelapa muda. Tatapan mata itu, kini, tidak setajam tadi lagi.
“Kamu tidak perlu melakukan itu, ini kunci villaku, aku tahu kamu belum mendapatkan rumah, jadi tinggallah bersamaku"
"Aku bisa menemukannya jangan khawatir"
"Mencari rumah di sini, tidak sama seperti di Jakarta, jadi berhenti keras kepala, ayo"
"Kemana?"
__ADS_1
"Aku sudah katakan pada semua pegawai kalau kamu istriku dan sedang mengandung anakku"
"Apaaa ...? kenapa melakukanya"
"Aku tidak ingin mereka menggosipimu karena kamu hamil dan tidak pernah bekerja kebanyakan keluyuran"
"Iya aku minta maaf akan hal itu, aku hanya mencari rumah, makanya aku keluar dari hotel di saat jam kerja"
"Mereka tidak akan perduli walau kamu punya banyak masalah atau banyak beban pikiran. Namun, pekerjaan tanggung jawab utama. Jadi dari pada mereka bergosip buruk tentangmu, sekalian saja aku umumkan kalau kalau kamu istriku, agar mereka berhenti menggosip dan kamu bisa tenang bekerja. Bukankah kamu bilang tadi ingin menikah denganku?”
“Apa? Ja-jadi bagaimana denga-”
“Jangan khawatir dia akan baik-baik saja”
“Maksudnya baik, apa kamu jadi memecatnya?”
“Tidak”
“Ah, syukurlah. Terimakasih,” ucapku legah.
“Tapi dia aku pindahkan ke cabang Jakarta, aku tidak mau dia dekat-dekat denganmu lagi”
“Boleh aku meneleponnya?”
“Tentu, pakai punyaku saja.”Farel memberikan ponselnya untuk aku gunakan.
“Pak Bayu ini saya Ririn aku-"
“Rin, terimakasih, karena kamu, saya tidak jadi dipecat, aku dipindah tugaskan, dan Alhamdulilah bangat saya di promosikan naik jabatan.
Rin, apa kamu tahu … kamu bagai malaikat untuk hidupku, ini berkat kamu, saya promosi naik jabatan dua kali dalam satu tahun ini”
“Saya senang mendengarnya, selamat bertugas di tempat yang baru Pak Bayu, maaf, sempat membuatmu dalam masalah”
“Tidak Rin, justru saya merasa bersalah karena tidak bisa membantumu. Jaga kesehatanmu Rin, aku berdoa yang terbaik untukku,” ujar Bayu di ujung telepon.
Mendengar ia senang, hati ini, juga ikut senang walau masih ada bagian hati ini yang masih terasa sakit. Aku menutup teleponnya dan memberikannya kembali pada Farel.
__ADS_1
“Sudah?” tanya Farel menatapku dengan tatapan dalam.
“Aku tidak sejahat yang kamu pikirkan Ririn, jadi tolong jangan memperlakukanku seperti itu,” ucap Farel.
“Iya,” kataku mengangguk kecil.
Aku memilih diam, menatap jauh ke arah jalanan kota Bali, aku tahu, sepasang mata bermanik coklat itu terus menatapku, tetapi, aku tidak pernah peduli padanya.
“Apa kamu suah makan?” tanya Farel saat aku memilih diam seribu bahasa.
“Belum, aku belum merasa lapar”
“Baiklah, sebelum kita pulang ke villaku, baiknya kita makan dulu di sana.” Farel menunjuk sebuah restaurant yang berasal dari negara Sakura itu, terkenal dengan masakan shabu-shabunya.
“Sepertinya, aku belum lapar.”
“Tetapi aku dan dia merasa kelaparan.” Farel menunjuk perut ini.
Aku baru ingat, pagi aku hanya serapan roti gandum satu lembar hingga saat ini sudah pukul 14:00 aku belum makan juga”
“Baiklah, ayo makan siang, aku berdiri”
“Makan sore Rin, ini sudah sore, ayo. ”Ia merentangkan telapak tangannya, meminta tanganku untuk digandeng. Tapi aku memilih berjalan sendiri.
‘Tidak perlu melakukan itu’ ucapku dalam hati, melongos melewati Farel.
Ia megedikkan pundaknya melihat penolakan yang aku lakukan, berjalan kira-kira dua ratus meter kami berjalan menuju resto, Farel meninggalkan mobil miliknya di samping warung, ia berjalan di sampingku bertindak seperti suami siaga yang menjaga istrinya yang sedang hamil.
Saat tiba di restaurant Farel bersikap sangat baik, entah itu karena kasihan padaku atau ia merasa bersalah, aku tidak tahu, tetapi perlakuannya sangat baik, tetapi hatiku bertanya sampai kapan Farel bisa tahan bersikap baik sepertu itu padaku.
Aku kadang berharap ada temannya dari Jakarta yang melihat kami. Apakah ia berani memperkenalkanku sebagai calon istrinya atau berkata jujur kalau aku hamil anaknya?
Aku penasaran dengan hal itu, Farel bersikap sangat baik dan perhatian saat kami tiba di restaurant mulai dari memotong-motong daging steak yang ia pesan untukku, di sela-sela kami sedang makan doa kecil seakan terjawab tiba-tiba teman Farel dari Jakarta mendatangi meja kami.
Kini, hatiku harus bersiap untuk menikah dengan Farel, seperti yang sudah aku setujui.
JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA
__ADS_1
share kasih review, kasih hadiah juga boleh …. Agar cerita ini bisa naik level. Terimakasih Kakak. Kalau bisa naik level kita akan update tiga sampai empat bab perhari. Terimakasih salam sehat untuk kita semua.
Jangan lupa follow IG @sonat.ha