Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Ingin bertemu Dengannya


__ADS_3

Setelah makan siang, aku langsung mandi aku ingin terlihat cantik bertemu Farel, walau hati ini masih terasa sangat sedih. Tetapi aku harus tetap cantik, kalau bertemu dengannya.


“Rin, terkadang apa yang kita harapkan sering sekali, tidak sesuai harapan,” ujar Dr sinta, dengan suara lembut, ia berdiri di belakangku dengan tatapan iba, aku bisa melihat wajahnya dengan jelas dari pantulan kaca.


“Apa kamu sudah siap menerima hal itu?” Ia menyentuh pundakku.


“Iya,” jawabku, meneruskan memoleskan gincu berwarna merah hati itu ke bibir ini.


Memoles wajah ini, dengan sedikit sentuhan riasan membuat wajah ini terlihat berseri.


“Baiklah, kalau kamu sudah yakin," ucapnya lagi.


Tetapi sejujurnya, aku tidak yakin dengan jawabanku sendiri, aku tidak tahu apa aku masih kuat atau tidak. Tetapi, untuk saat ini, aku hanya ingin mengurangi beban hidup yang terasa menyiksa hati ini.


“Aku harus pakai yang mana, Dok?’ tanyaku memperlihatkan dua gaun.


“Rin I-”


“Dok, tolong mengerti aku, aku hanya ingin menemui suamiku, bukan selingkuhan, apa lagi suami orang. Aku hanya ingin memiliki kehidupan yang lebih baik lagi Dok. Aku hanya ingin bertobat, keluar dari lumpur kenistaan yang ditaburkan ibuku di hidupku selama ini, demi ketiga anak-anakku.


Aku tidak ingin hidupku seperti ibuku yang mati masih dalam keadaan terbalut dosa. Tadi aku sempat berpikir ... itu hukuman Allah atas dosa ibuku selama ini,” ucapku panjang lebar, memotong kalimat sang dokter.


Dokter cantik itu menghela napas panjang menghembuskan dengan kasar.


“Baiklah Rin, aku pilih yang biru lebih sopan”


“Baiklah, terimakasih Dok,” ucapku masuk ke kamar mandi dan memakai dress berwarna biru model Tusla dengan ciri khas bergelembung di bagian pundak.


PIlihan sang dokter sepertinya sangat tepat, saat aku memakainya terlihat cantik dan elegan apalagi dipadukan dengan lipstik berwarna nude aku terpaksa menghapus warna merah tadi, karena terlalu mencolok. Jadi aku memakai lipstik warna natural warna nude lipstik milik dokter cantik itu serasi ke dress yang aku pakai.

__ADS_1


Ia hanya diam menatapku berdiri di pantulan kaca, aku tidak bisa mengartikan arti tatapan Dr. Sinta.


“Ayo, kamu pakai ini agar tidak ada yang mengenalmu,” ujarnya memintaku memakai wig berwarna pirang itu lagi dan memakai kaca mata dan satu tahi lalat besar di samping hidung dan ia membuka koper mini miliknya mengeluarkan jubah dokternya dan memintaku memakainya.


“Loh … aku pakai ini?” tanyaku menunjukku jubah berwarna putih itu.


“Iya Rin, untuk bisa masuk ke bagian staf dokter. Harus dokter,kan dan staf rumah sakit itu sendiri. Tenang saja, nanti aku bilang kamu teman dokterku, dari Bali.


“Oh, baiklah,” ucapku setuju.


Setelah melakukan penyamaran yang sempurna, kami berangkat ke satu rumah sakit swasta, rumah sakit elite itu tempat Farel bertugas sebagai dokter. Rumah sakit itu juga tujuan Dr Sinta,. Apa semua ini, satu kebetulan atau takdir yang menuliskannya? Biarlah waktu yang menjawabnya nantinya.


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Dr. Sinta tiba-tiba jai irit bicara, ia kebanyakan menatap keluar jendela. Mobil bewarna biru itu melaju cepat dari jalan tanpa hambatan, hanya butuh tiga puluh menit saja akhirnya kami tiba.


Saat turun dari mobil berlogo burung tersebut, aku mulai merasa gugup antara senang takut bercampur jadi satu.


“Rin, cobalah bersikap tenang, jika ada yang bertanya kamu dokter apa, katakan saja dokter bagian saraf nama kamu Linda, aku punya teman seorang dokter bernama Linda yang bertugas di bagian saraf. Dengar … rumah sakit ini, milik orang tua tuna-”


“Baiklah, aku barusan, bertanya ruangan Farel ada di lantai lima. Suamimu bagian bedah kan?” tanya Dr. Sinta. Aku hanya menggeleng.


“Aku tidak tahu Dok, aku tahunya ia pernah membantu orang bersalin,” ucapku dengan suara kecil, aneh memang ... saat aku mengaku sebagai istri, tetapi tidak tahu di bagian apa Farel bertugas dan tidak tahu berapa Nik kedokteran.


Karena Sinta membutuhkannya untuk mengakses jadwal piket Farel hari itu.


‘Oh, jangankan nomor Nik kedokterannya Dok, tanggal kelahirannya saja aku tidak tahu' ucapku dalam hati.


“Tidak apa-apa Rin, kita akan bertanya nanti pada kakak. Data pribadi para dokter di sini sangat di jaga kerahasiaannya, tidak sembarangan orang bisa mengaksesnya. Aku dengar dokter yang bertugas di sini kebanyakan lulusan luar negeri,” ujar Dr. Sinta setengah berbisik.


Dengan cara diam-diam aku dan dia menyelinap masuk melalui lift khusus para staf rumah sakit. Dr. Sinta sibuk dengan ponselnya sepertinya, ia sibuk catingan dengan sang kakak yang bertugas bagian administrasi. Butuh kerja keras membawaku kerumah sakit untuk bertemu Farel

__ADS_1


Saat ingin masuk ke bagian lantai lima, setiap orang harus menggunakan card. Kami hanya punya satu, milik dokter Sinta.


“Bagaimana ini, kita tidak bisa masuk kalau tidak punya card untuk mendapatkannya kita harus melapor adanya di lantai dasar dan harus menunjukkan kartu identitas.


Bagaimana iya …?” wanita cantik itu berpikir keras. “Oh, kamu tunggu di sini duduk menghadap arah jendela aja, agar tidak ada yang mengenali kamu. Aku akan minta punya kakakku,” ujarnya ia terpaksa turun lagi ke lantai satu untuk meminjam punya sang kakak.


Beberapa menit kemudian wanita itu sudah datang kembali dengan napas terengah-engah ia berlari kecil dari depan lift.


“Ada …?” tanyaku penasaran.


“Iya ada, kita akan menuju ruangan Farel,” ucapnya kemudian. Detak jantung semakin berdetak kuat saat kami naik ke lantai lima menuju ruangan Farel. Saat berjalan menyusuri koridor rumah sakit , aku semakin merasa gugup.


“Aku akan ke kakamar mandi dulu sebentar , iya,” ucapku.


“Apa kamu merasa gugup?” tanya Sinta menatapku, ia melihatku mengusap telapak tanganku yang berkeringat.


“Iya, tidak tahu kenapa aku sangat gugup saat ingin bertemu dengannya. Tetapi tidak apa-apa aku akan melawan rasa gugup ini, aku akan ke kamar mandi dulu”


“Baiklah Rin, aku akan melihat dia ke ruangannya kamu nanti tunggu di sini. Dengar … jangan bicara dengan siapapun. Di dalam rumah sakit ini, artinya kamu lebih banyak musuh pihak tunangan Farel dan Marisa jadi hati-hatilah”


“Baik Dok,” ujarku patuh.


Aku masuk ke kamar mandi dan Sinta berjalan mencari ruangan Farel di lantai lima itu.


Aku memastikan penampilanku di depan kaca besar di kamar mandi itu.


‘Saat bertemu Farel nanti, aku akan mengejutkannya membuka wig ini, terlebih dulu lalu melepaskan kaca mata, habis itu hapus tompel besar ini, pasti ia akan terkejut melihatku’ ucapku dalam hati, aku menarik napas beberapa kali membuangnya dari mulut ritual kecil itu, aku lakukan untuk menghilangkan rasa gugup yang datang menyerang.


Lumayan lama aku menstabilkan diri di kamar mandi, setelah merasa tenang barulah aku keluar. Dr. Sinta belum datang, tetapi aku memutuskan menunggunya sesuai permintaan Dr. Sinta.

__ADS_1


Bersambung ....


JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA, KASIH BANYAK HADIAH, IYA KAKAK, AGAR VIWERS NAIK, AGAR AUTORNYA SEMANGAT UNTUK UPDATE TIAP HARI


__ADS_2