
PART 43
Semakin Kamu Memaksa Semakin Aku Benci
Semakin Farel memaksa dan merendahkan ku
semakin aku membencinya.
Cinta tidak menyakiti, cinta itu melindungi dan membuat pasangan merasa nyaman, bukan malah membuat tertekan.
Farel selalu menganggap ku rendah, hanya menganggap wanita pembawa kantung bayi untuknya. Ia tidak pernah menganggap ku layak untuk dicintai, itulah yang aku lihat darinya, jadi, jangan salahkan diri ini jika selalu menolaknya.
Aku melihat ia hanya ingin menyelesaikan obsesi.
Ingin membuktikan kalau ia bisa mendapatkan apa yang ia inginkan, dengan kekuasaan yang dimiliki. Bukankah itu kesombongan?
Bagaimana mungkin aku menyerahkan diriku, cintaku pada tempat yang salah lagi.
“Akan aku buktikan kalau kamu bisa tahluk di hadapanku,” ujar Farel dengan angkuh, "kamu tidak tahu, tidak ada satupun wanita yang lepas gari genggamanku,” ujarnya lagi.
“Lakukan apa yang ingin kamu lakukan pak Farel, dan aku yakin dengan apa yang aku lakukan,” ujar ku bersikap tenang.
Farel meninggalkanku dan ia berjalan ke tepi pantai, berdiri menatap hamparan laut, ia masih terlihat sangat marah.
“Aku juga tidak akan keras kepala seperti ini Farel, jika kamu memiliki sedikit cinta untukku, tetapi kamu selalu memaksa menikah denganku, demi kakakmu.
aku wanita yang gagal dalam pernikahan, bahkan masih meninggalkan luka yang belum bisa aku sembuhkan hingga saat ini.
Kini, kamu datang menawarkan luka yang sama.
Sebuah pernikahan tanpa cinta.
Bagaimana aku menerima itu? Aku tidak bisa,” gumam ku pelan, mataku masih menatap Farel yang masih berdiri di tepi pantai.
Aku tidak ingin pecahan kaca itu melukai kaki orang lain, jadi aku memutuskan membersihkan, saat memungut pecahan kaca Farel memegang tanganku.
“Sudah hentikan, nanti ada pekerja yang akan membersihkan itu"
“Tidak apa-apa, ini tinggal sedikit Pak Farel, kasihan nanti bapaknya ke injak karena tidak lihat,” ujarku memunguti pecahan kaca.
“Kamu perduli pada orang lain. Namun, kamu tidak pernah peduli padaku. Kenapa?apa aku bukan manusia di hadapanmu?”
“Pak Farel, tolong jangan memulai lagi, aku lelah”
“Kamu lelah, tapi aku hampir gila Ririn …!
__ADS_1
Karena berhadapan dengan wanita keras kepala seperti kamu. Aku mati-matian mengajak kamu untuk menikah, tetapi kamu malah memilih Bayu, kamu selalu membuat jarak denganku, tetapi kamu membiarkan bayu memegang tanganmu, bahkan membiarkannya menyentuh anakku!
Bersama Bayu kamu bisa tertawa lepas dan bercanda. Tapi padaku … kamu selalu menganggap ku setan yang menakutkan, itu membuatku marah.
Dengar!Aku tidak akan kalah dari lelaki rendahan seperti dia”
“Cinta tidak bisa dipaksakan Pak Farel, begitu juga dengan perasaan, aku tidak pernah mencintai Bapak, aku sudah berulang kali mengatakan itu. Tolong mengertilah"
“Apa kamu mau bilang, kalau kamu mencintai si Bayu si kurus itu?”
“Aku tidak bilang mencintainya, tapi aku memilih dia menjadi suamiku dan lebih memilih dia menjadi ayah dari anakku”
“Apaaa?” Farel menatapku dengan mata melotot. “Aku akan membunuh lelaki itu, kalau begitu, jangan salahkan aku”
“Pak Farel jangan seperti itu. Bapak bertanya padaku dan aku menjawab. Tapi jangan menyakiti Bayu, ia tidak salah apa-apa, aku sudah bilang aku yang memintanya, untuk menikahi ku”
“Kamu istirahat di sini saja, aku mau pergi” Farel bergegas keluar.
“Pak Farel, mau kemana, jangan seperti itu. Bayu tidak salah apa-apa,”kataku meneriaki Farel, ia mengeluarkan mobilnya dan meninggalkanku di villanya.
Aku masuk lagi ke dalam Villa, mengambil tas dan ponsel, aku ingin menyusul Farel, tetapi kali ini nasip sial menghampiriku, saat ingin memesan kendaraan berbasis aplikasi itu,
ternyata ponsel yang diberikan Bayu untuk aku pakai, kehabisan daya.
Aku memutuskan masuk lagi ke dalam villa, mengisi daya ponsel, sembari menunggu, aku merebahkan tubuhku di ranjang, otakku memikirkan Bayu, memikirkan apa yang akan di lakukan Farel padanya. Otakku lelah untuk berpikir dan tertidur pulas.
Ketukan pintu membuatku terbangun.
Tok … Tok …!
“Non!”
“Iya, siapa?”
“Ini saya Bi Uti,” sahut wanita bertubuh gemuk itu dari balik pintu, si Ibu dan suaminya yang bertugas merawat villa keluarga Farel.
Aku menyeret langkah kakiku dengan mata setengah terbuka, kesadaran ku belum berkumpul sepenuhnya, karena dibangunkan saat lagi tidur pulas.
“Kenapa Bi?”
“Mas Farel, meminta Bibi membuatkan makan malam untuk Non, mau makan di sini, apa di dapur Non?”
“Ha, malam? Ini sudah malam Bi?” tanyaku kaget, menatap jam yang menggantung di kamar.”
Oh sudah jam tujuh malam, bagaimana ini, aku harus pergi”
__ADS_1
“Non pergi kemana ini sudah malam, tadi Mas Farel berpesan untuk menjaga Non Ririn,” ucap Bi Utin dengan sabar.
“Pak Farel pesan apa Bi?”tanyaku penasaran.
“Ia meminta Bapak sama Bibi, agar merawat Non Ririn malam ini”
Melihat wajah takut Bibi Uti membuatku kasihan, ia pasti takut kena marah sama Farel jika aku meninggalkan villa malam Itu.
“Baiklah, ayo kita makan malam Bi, temanin aku, aku akan tidur di sini malam ini.” Aku mengalah, aku tidak ingin semua orang terkena masalah karena aku. Aku berharap Bayu baik-baik saja.
Bali.
Pukul 07:00 WIB.
Aku berangkat kerja dari villa diantar suami Bu Uti, saat tiba, hati ini tidak tenang, kerena semua mata karyawan hotel menatapku dengan tatapan intimidasi.
‘Ini pasti karena kejadian kemarin’, ucapku dalam hati, memilih bersikap tenang, walau hati ini sebenarnya ciut, seperti kerupuk yang di siram air.
Semua karyawan hotel tampak berkumpul di satu aula pertemuan, aku tidak tahu tepatnya, apa yang terjadi.
Semua pegawai dipersilahkan duduk, tidak lama kemudian presiden hotel berdiri di podium yang akan membacakan pengumuman.
Namun, saat Farel Taslan ikut berdiri,aku merasa ada yang tidak beres. Bayu juga datang dan duduk di sampingku.
“Pak Bayu maaf, kamu tida apa-apa?”
Ia mengangguk kecil, sikapnya tampak berubah
'Apa lagi yang akan dilakukan laki-laki ini, apa dia ingin mengumumkan kalau di hotel ini ada virus, lalu hotel akan di tutup' aku menimang semua yang akan terjadi, dengan detak jantung yang semakin memburu.
"Baiklah, kita mulai saja acaranya, pertama saya ingin mengumumkan Direktur baru hotel ini, sekarang, saya serahkan pada Bapak Farel Taslan," ujar pemilik hotel yang tak lain, ia suami ibu dokter yang mempekerjakan ku.
‘Apa-apaan ini …! Dia bekerja sebagai direktur di hotel, untuk apa? Untuk bisa memecat Bayu? Kamu kejam Pak Dokter, jika kamu sampai melakukannya' ucapku dalam hati.
Mataku menatap Bayu, kali ini wajahnya tampak semakin terlihat sedih.
“Iya ampun, apa yang sudah aku lakukan, karena aku Pak Bayu dapat masalah”
Bersambung …
JANGAN LUPA TEKAN VOTE DAN LIKE IYA
share kasih review, kasih hadiah juga boleh …. Agar cerita ini bisa naik level. Terimakasih Kakak. Kalau bisa naik level kita akan update tiga sampai empat bab perhari. Terimakasih salam sehat untuk kita semua.
Jangan lupa follow IG @sonat.ha
__ADS_1