Cinta Untuk Sang Pelakor

Cinta Untuk Sang Pelakor
Membantu Bersalin


__ADS_3

“Bertahanlah, aku yakin kamu anak yang kuat,” gumam ku pelan mengelusnya lembut si Utun dalam perut, ia seakan-akan tahu apa yang aku katakan, ia membalas ku dengan tendangan, walau masih pelan, tetapi aku bisa merasakan. Kaos Farel yang yang pakai sudah bisa diperas karena basah kuyup, karena keringat. Farel selalu melirik apa yang aku lakukan.


“Disinilah, kasihan dia ikut terpapar mataharinya langsung,”ujar Farel menarik tanganku ke belakang, menjadikan tubuhnya menghalangi pantulan matahari untukku


.”Tolong jangan protes, ini demi dia,’ ujarnya saat aku menolak segala perhatian yang ia berikan pada kami.


Setelah duduk sekitar sepuluh menit dan cuaca semakin terik membakar kulit, akhirnya sebuah mobil pengangkut rumput ternak melintas, dengan cepat Farel berdiri, merentangkan jari jempolnya untuk meminta berhenti.


"Maaf Bapak, saya dan istri saya tersesat saat jalan-jalan dengan rombongan dia kehausan, boleh kami menumpang untuk mencari penginapan?" tanya Farel.


Bapak melirik ke arahku, ia menatap dengan tatapan iba, karena melihat wanita hamil, dengan pakaian kekurangan bahan, karena sebagian perut buncit ku kelihatan, karena kaos milik Farel yang aku pakai kekecilan ditubuh ini, walau aku menutup bagian perut ini dengan kedua tangan, tetapi tetap saja kelihatan.


"Oh, tapi mobil bapak sampai setengah jalan Nak, tidak sampai ke penginapan"


"Tidak apa-apa yang penting kami bisa menemukan rumah untuk beristirahat, Pak” Wajah Farel memelas.


"Baiklah, naiklah," ujar bapak yang sudah terlihat ubanan itu.


Farel dengan sangat hati-hati mengangkat tubuh ini ke tumpukan rumput, aku duduk di atas gundukan rumput. Karena jok di samping bapak ada banyak barang.


“Hati-hati, Nak,” ujar si bapak melihat dengan takut saat aku naik ke tumpukan rumput. Farel berdiri di pinggir mobil berpegangan kuat pada besi mobil, menjadikan tubuhnya penghalang agar aku tidak jatuh.


“Pegang kuat tubuhku, agar kamu tidak jatuh,” ujar Farel, wajahnya terlihat sangat khawatir saat melihatku duduk ditumpukan rumput. Kali ini aku tidak ingin membantah, karena aku sendiri ketakutan melihat diriku di atas makanan ternak tersebut.


Tidak ada yang kami bicarakan, aku memilih diam menikmati pemandangan desa yang kami lewati dengan kedua tangan ini, memegang tubuh berotot keras itu. Mata Farel sesekali melirik perut buncit ku yang saat itu terlihat sangat jelas, saat aku duduk, aku tidak tahu apa yang dipikirkan Farel saat itu dan aku juga tidak mau ambil pusing apa yang ia pikirkan tentangku. Setelah dua puluh menit berkendara akhirnya si bapak berhenti.


"Maaf Neng bapak bisa sampai di sini, karena kandang ternak bapak ada di sana"


"Tida apa-apa Pak, terimakasih, tapi apa bapak punya air minum? aku sangat haus ," ujar ku tidak bisa bertahan lagi. Farel membantuku turun dengan sangat hati-hati.


"Oh, ada, ada Neng kalau itu mah bisa bapak berikan, kenapa tidak ngomong tadi atuh, sok diminum, memberikan minuman gelas mineral yang ia simpan di dalam kardus di bawah kursi jok depan

__ADS_1


Aku langsung meminum dua gelas sekaligus, meminum seperti seorang yang sudah berminggu-minggu tidak minum, rasa lapar membuatku ingin pingsan.


Mereka berdua saling menatap melihatku minum dengan sikap buru-buru.


"Apa kalian juga lapar? Kasihan si neng lagi hamil”


"Iya boleh dibilang seperti itu Pak," jawab Farel masih menjaga sikap dengan sopan.


"Mari makan ke rumah bapak, rumah bapak tidak jauh dari sini, kebetulan bapak juga belum makan sejak pagi"


Diajak makan rasanya sangat senang, karena aku sudah sangat kelaparan. Masuk ke dalam rumah sederhana, kami hanya di jamu makan sederhana sayur asam, ikan asin, sambal dan lalapan, tetapi rasanya sangat enak, aku tidak tahu efek kelaparan aku makan sampai nambah dua kali.


*


Saat selesai makan, si bapak bercerita, ternyata menantu perempuannya sedang hamil besar juga bahkan menurut dukun beranak akan melahirkan dalam minggu ini dan kebetulan saat itu menantunya merasakan kontraksi.


"Bapak ini seorang dokter Pak," ujar ku meminta Farel memeriksa menantunya,


“Biar saya periksa iya, Bu. Saya memang bukan bidan atau dokter, tetapi saya pernah beberapa kali membantu bidan melakukan persalinan , kasihan si mbaknya nanti takut kenapa-napa,” ujar ku membujuk, menantunya juga, masih sangat mudah sekitar enam belas tahun, mengingatkanku pada pernikahanku dulu.


“Tapi Neng juga hamil’ kan?”


“Tidak apa-apa pak, ini anak ketiga saya, saya sudah berpengalaman”


“Tapi apa benar suaminya seorang dokter?” tanya istri si bapak terlihat sangat khawatir, tetapi ragu untuk percaya. Farel tadinya hanya diam, tetapi mendengar pertanyaan si ibu dengan cepat ia mengeluarkan dompet miliknya, lalu mengeluarkan identitas ke dokteran miliknya, ternyata si ibu bapak tidak bisa baca, untungnya menantunya mengangguk setelah membaca kartu identitas milik Farel.


“Baiklah, silahkan periksa, Nak”


“Biar aku saja, tapi kamu tetap di samping ku agar mereka tidak merasa sungkan,” pinta Farel.


Aku hanya mengangguk tanda setuju.

__ADS_1


“Maaf iya, aku periksa, dengar … jangan panik atau berteriak saat aku memeriksa mu, agar keluargamu tidak merasa sungkan,” ujar Farel, aku melihat sisi yang berbeda darinya, saat melakukan tugasnya sebagai seorang dokter.


Farel bersikap sabar dan kata-kata selalu lembut.


Wanita muda itu hanya mengangguk menatap suaminya yang terlihat tidak suka saat Farel merogoh bagian inti istrinya. “Ini sudah pembukaan tiga, kalau kamu berjalan -jalan persalinannya akan semakin mudah,” ujar Farel memberi solusi.


Wanita muda itu untungnya menurut dan percaya pada perkataan Farel, ia melakukan semua yang dikatakan Farel.


Hingga hari sudah mulai sore, ia mengalami kontraksi hebat.


Farel memeriksanya dan memintanya mempersiapkan ruangan persalinan, butuh usaha keras dan kesabaran membantunya bersalin, hingga malam tiba, akhirnya ia berhasil melahirkan bayi perempuan.


Suara tangisan bayi itu membuat mata Farel berkaca-kaca hampir menangis, karena terharu, ia sangat bekerja keras menolong wanita itu bersalin secara normal, kalau biasanya ia selalu menangani persalinan melalui caesar yang bisa selesai dalam hitungan menit, kali ini ia menggunakan semua tenaga dan pikirannya, berusaha keras menyelamatkan ibu dan anak itu.


“Aku berhasil menyelamatkannya,” ucapnya memelukku,


“Iya, bapak berhasil,” balasku.


Melihat reaksiku, wajahku yang biasa saja, ia melepaskan pelukannya.


“Aku hanya senang karena berhasil menyelamatkan dua nyawa sekaligus, dalam bayangkan ku tadi, itu adalah kamu Rin.” Farel melirik kearah perutku, perut yang terlihat mulai buncit itu sudah tertutup sempurna, karena ibu meminjamkan pakaian miliknya untukku.


Aku hanya menanggapinya dengan santai, tetapi jujur, aku juga sangat senang saat ia menyelamatkan ibu muda itu dan bayinya, melihat perjuangan dan kerja kerasnya membantu bersalin sempat membuatku merasa tegang, karena ia memintaku untuk selalu berada di sampingnya, padahal saat melihat darah membuat lutut ku terasa lemas, tetapi aku sangat senang, saat ia berhasil. Namun rasa senang ku cukup dalam hati saja.


Bersambung.


MOHON DUKUNGANNYA IYA KAKAK AGAR CERITANYA NAIK LEVEL


Jangan lupa kasih Vote, like, share kasih review, kasih hadiah …. Agar cerita ini bisa naik level. Terimakasih Kakak. Kalau bisa naik level kita akan update tiga sampai empat bab perhari. Terimakasih salam sehat untuk kita semua.


Jangan lupa follow IG @sonat.ha

__ADS_1


__ADS_2